bc

Canduku Wanita Malam

book_age18+
29
FOLLOW
1K
READ
one-night stand
HE
mafia
bxg
brilliant
like
intro-logo
Blurb

Mendapatkan hadiah ulang tahun yang tak terduga, Raja tidak menyangka jika hidupnya akan berubah 180 derajat setelahnya. Adalah Kembang, gadis cantik seorang wanita malam yang dijadikan hadiah oleh sahabatnya karena meragukan kejantanan sang rekan, akhirnya masuk dalam hidup Raja terlalu dalam. Putri kecilnya salah mengenali orang yang mengira Kembang adalah mamanya yang selama ini hilang. Lantas, apakah kisah mereka akan berlanjut karena sama-sama saling membutuhkan? Raja karena butuh sosok mama untuk sang putri, sedangkan Kembang butuh biaya untuk orang tuanya. Namun, di balik pertemuan yang diatur semesta, ada rahasia besar di belakang mereka.

chap-preview
Free preview
Bab 1 – Hadiah Ulang Tahun
“Mbak … biayanya tiga ratus dua puluh juta.” “Apa?” Kembang hampir tersedak asap vape yang ia isap saat mendengar angka itu. Jumlahnya terdengar seperti lelucon yang kejam. Bahkan jika ia bekerja sampai vaginanya robek, uang sebanyak itu mustahil terkumpul dalam waktu dekat. “Itu baru uang muka,” lanjut sang adik. “Kata dokter, totalnya bisa sampai lima ratus … atau enam ratus juta.” Naya menambahkan penjelasan, seolah-olah itu masih kurang menyakitkan. Kembang tak lagi punya tenaga untuk sekadar menanggapi. Bapaknya memang sudah mengusirnya. Pria itu bahkan tak tahu apakah anak sulungnya ini masih hidup atau sudah mati. Namun mendengar kabar bahwa jantung lelaki itu bermasalah, sampai harus menjalani operasi bypass, rasa tanggung jawab tetap menampar Kembang tanpa ampun. Mungkin saja sedikit banyak sakit jantung itu adalah ulahnya juga. “BPJS nggak bisa cover?” tanya Kembang akhirnya, setelah memaksa suaranya terdengar normal. “Antreannya panjang, Mbak. Kata dokter … takut Bapak nggak bisa bertahan lebih lama.” Kembang memejamkan mata. Balkon sempit itu terasa makin sesak. Ia menyandarkan punggung ke tembok yang dingin, mengembuskan sisa uap dari bibirnya. Lalu kembali mengisap vape di tangannya. Wanita itu belum bisa memberi jawaban. Uang di tabungannya hanya tersisa sekitar tiga puluh juta. Itu pun hasil dikumpulkan pelan-pelan dari ngelonte, dari berdiri berjam-jam sebagai SPG mobil, dari tubuh dan senyum yang dipinjamkan pada orang asing. Lalu, dari mana ia harus mencari ratusan juta lagi? Kembang menurunkan tangan yang memegang vape. Lampu kecil di alat itu masih menyala samar, seperti napas terakhir yang dipaksa bertahan. “Ya, sudah. Aku akan usahakan,” katanya akhirnya. Janji yang bahkan ia sendiri tak tahu akan ditepati dengan cara apa. “Iya, Mbak. Makasih ya, Mbak. Aku tutup teleponnya.” “Hmm.” Tut—tut—tut. Sambungan terputus. Kembang meletakkan ponselnya di kursi kayu di sebelahnya. Tatapannya kosong. Karena terlalu banyak yang harus dipikirkan, tapi tak satu pun jalan keluar terlihat. Tangannya menggenggam vape itu erat. Sampai akhirnya suara Seruni terdengar memecah keheningan. “Ngapain bengong di sini?” tanyanya santai. Wanita itu mengempaskan bobot tubuhnya ke kursi kayu, tepat di samping Kembang yang masih melamun. Dadanya yang mengkal bergoyang pelan saat ia duduk dengan kasar, lalu menyilangkan kaki jenjangnya begitu saja. “Lagi butuh duit banyak, Run,” jawab Kembang singkat. “Buat apa?” “Operasi bokap.” Seruni menoleh, lalu tersenyum kecil. Ia meraih dompet dari tas selempangnya, mengeluarkan sebuah kartu ATM, lalu melemparkannya ke pangkuan Kembang. “Pakai duitku dulu. Ada tiga puluh lima juta di situ.” Kembang ikut menoleh. Tindik di hidungnya mengilap tersapu cahaya lampu balkon yang remang. Ia menatap Seruni sambil menggenggam benda plastik pipih itu, lalu mulai bicara dengan suara yang sudah kelelahan. “Thanks atas tawarannya, Run. Tapi aku butuh lima ratus juta.” “Hah? Banyak amat.” “Bapakku harus operasi bypass jantung. Ya segitu kebutuhannya.” Kembang mengembuskan napas kasar. Seolah-olah seluruh keputusasaannya akhirnya ia lepaskan lewat udara, setelah dadanya terlalu lama terhimpit oleh angka yang baru saja ia ucapkan. “Kembang … Kembang.” Seruni menggeleng pelan. “Bapakmu aja nggak pernah mikirin nasibmu. Kenapa masih kamu urusin, sih?” Seruni yang sejak lama paham bagaimana ritme hidup Kembang tak bisa menahan protes. Ia tahu Kembang sudah lama tak diterima lagi di keluarganya. Namun perempuan itu tetap saja mati-matian mengusahakan apa pun untuk mereka. Bahkan sampai sekarang. “Ya.” Kembang menggantungkan suaranya sebentar. “Bagaimanapun, dia tetap bapakku, Run.” Seruni membuang rokoknya ke asbak, lalu mengusap pelan bahu Kembang. Ia paham, anak tetaplah anak, orang tua tetap orang tua. Namun jalan hidup tak pernah ada yang benar-benar tahu. Pada akhirnya, pilihan selalu jatuh ke tangan masing-masing. “Iya, aku paham,” ucap Seruni kemudian. “Udah, jangan sedih. Kita bisa pinjam ke bos besok. Kali aja dikasih, kan.” Kembang hanya mengangguk lemah. Selama ini ia tak pernah meminta apa pun pada Tuhan, merasa dirinya terlalu hina untuk berharap. Namun kali ini, di sela anggukan ragu itu, sebuah kata lolos dari bibirnya pelan, nyaris tak terdengar.Semoga. Semoga ada jalan. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Nama Sultan terpampang di layar. Bos pengusaha beberapa kelab malam dan karaoke, orang yang kenal betul Kembang dan Seruni, karena di sanalah mereka biasa menjajakan diri. Tanpa menunggu lama, Kembang mengangkat panggilan itu. “Ya, Bos.” “Siap-siap. Aku butuh kamu malam ini. Langsung ke VVIP Room. Ajak Seruni juga,” kata Sultan di seberang sana. “Tambahin bayarannya, ya, Bos. Lagi butuh duit,” tawar Kembang tanpa basa-basi. “Gampang,” sahut Sultan ringan. “Asal kamu bisa bikin temanku ngaceng, bayaran kamu dua kali lipat.” Mendengar itu, Kembang langsung setuju. Ia menoleh pada Seruni dan memberi tahu agar bersiap. Malam ini, mereka akan membuat teman Sultan kehabisan tenaga. Setidaknya, inilah satu-satunya cara yang ia punya untuk sedikit demi sedikit menambah pundi-pundi uang demi operasi bapaknya. *** Muse Entertainment Center begitu meriah malam ini. Ketika Kembang dan Seruni masuk, mereka sudah disambut oleh music live DJ yang menghentak. Tubuh mereka otomatis ikut bergerak bersama orang-orang yang ada di sana. Namun, tujuan mereka ada di atas. Jadi tanpa menunggu lagi, keduanya menaiki tangga menuju ke VVIP Room seperti instruksi Sultan. Saat mereka sudah sampai, Sultan langsung menyambutnya dengan pujian. “Wow, Kembang, kamu luar biasa malam ini,” katanya. Malam ini, Kembang mengenakan gaun merah menyala. Potongannya rendah di d**a, memperlihatkan lekuk payudaranya yang penuh tanpa perlu dipamerkan berlebihan. Kain itu jatuh mengikuti bentuk tubuhnya. Memeluk pinggang rampingnya sebelum turun lurus, menyisakan belahan tinggi di belakang paha yang membuat setiap langkahnya tampak sengaja menggoda. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, jatuh membingkai wajah dan punggungnya yang jenjang. Kilau lembutnya kontras dengan kulit Kembang yang hangat, membuatnya terlihat semakin hidup di bawah lampu malam. Sebuah tindik kecil di hidungnya berkilat setiap kali ia menoleh, detail kecil yang justru menambah kesan liar yang tak dibuat-buat. Tubuh Kembang adalah perpaduan antara dosa dan keindahan. Bahunya tegap. Namun feminin, pinggulnya penuh dan seimbang, pahanya padat berisi. Terbentuk dari hidup keras yang dijalani tanpa pernah benar-benar diberi pilihan. “Ih, Kembang doang yang dipuji. Aku nggak, nih?” protes Seruni dengan wajah dibuat-buat kesal. “Oh, astaga,” sahut Sultan sambil mengusap pipi wanita itu, “malam ini kamu juga sangat cantik, Sayang. Kamu milikku malam ini. Tapi Kembang ....” ia melirik ke arah wanita bergaun merah itu, “ ... dia punya tugas istimewa.” “Yang mana orangnya, Bos?” tantang Kembang santai. “Yang harus aku bikin lemes malam ini?” “Dia ada di dalam. Kita masuk sekarang.” Sultan menggiring keduanya menuju sebuah ruangan VVIP. Ruangan itu remang dan tertutup. Lampu ungu keemasan berkelindan, memantul di dinding gelap, bercampur dengan aroma alkohol mahal yang mengendap di udara. Sofa kulit hitam mengelilingi meja kaca penuh botol minuman, sementara dentuman musik dari luar hanya terasa sebagai getaran samar di d**a. Segalanya dibuat nyaman, intim, dan rahasia. Sebuah ruang kecil tempat malam jarang berakhir sederhana. Di sana duduk seorang pria dengan kemeja yang masih rapi. Tatapannya tajam, alis tebalnya menjadi bagian dari pahatan Tuhan yang terasa nyaris sempurna. Bahunya tegap, dadanya bidang. Sosok yang tampak hangat sekaligus berjarak. Raja memilih menyisih dari rekan-rekannya. Sejak tadi ia sudah merasa tidak nyaman berada di ruangan itu. Sultan berjalan mendekat ke arahnya, diapit oleh Seruni dan Kembang. Begitu jaraknya cukup dekat, senyum lebar merekah di wajah Sultan. “Happy birthday, Bro. Malam ini, aku punya hadiah spesial buatmu.” Ia mendorong pelan tubuh Kembang ke depan, memperlihatkannya begitu saja pada Raja, seolah-olah perempuan itu adalah bagian dari dekorasi pesta. “Malam ini, Kembang bakal bikin kamu puas,” ujar Sultan mantap. Raja mengernyit. Ia menggeleng lemah, lalu bangkit dari duduknya. “Apa-apaan sih, Tan? Aku nggak mau.” Sultan mengembuskan napas kasar. Ia mendekat, lalu merangkul bahu sahabatnya dengan erat. “Ja, plis dah. Gue ini sebagai temen ikut cemas lihat keadaan lo kayak gini. Udah bertahun-tahun lo sama sekali nggak mau deket sama cewek. Takut aja ini linggis jadi kagak fungsi,” katanya setengah bercanda, setengah menekan. “Malam ini gue mau lo lupain semua kerjaan. Fokus ke kesenangan lo. Biar temen-temen yang lain juga nggak mikir macem-macem ... kalau lo itu belok.” Nada suara Sultan merendah di akhir kalimatnya. “Aku normal, Tan. Udah cukup. Aku harus balik,” tegas Raja, berusaha melepaskan diri. Dan di sanalah Kembang akhirnya paham situasinya. Jika pria itu tidak mau menyentuhnya, berarti tidak ada uang. Maka, seperti biasa, ia bekerja profesional, tanpa membawa perasaan. Kembang menghadang langkah Raja yang hendak menuju pintu. Ia memposisikan tubuhnya sedemikian rupa, membiarkan lekuknya berbicara lebih dulu sebelum mulutnya terbuka. “Kenapa buru-buru, Bos?” katanya rendah, menggoda. “Yakin nggak mau … nyobain dikit? Ini enak, loh.” Telunjuknya menyentuh d**a Raja, ringan tapi sengaja. Seolah-olah ingin mengingatkan bahwa dirinya selalu mudah diinginkan. Seperti malam-malam sebelumnya. Namun Raja menepis dengan singkat tawaran wanita itu. “Saya tidak tertarik.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook