Bab 2 – Mama Pulang

1200 Words
“Apa?” Kembang terhenyak mendengar ucapan pria maskulin di hadapannya. Tidak tertarik, dua kata yang hampir tak pernah ia dengar dari pelanggan. Biasanya, sekali ia bergerak, bahkan pejabat beristri pun akan runtuh dalam godaannya. Namun Raja berbeda. Kembang memindai pria itu dengan saksama. Wajahnya terlalu tampan untuk diabaikan begitu saja. Posturnya rapi, pembawaannya tenang, sorot matanya dingin tapi tidak kasar. Tak pernah terlintas di benaknya jika pria seperti ini adalah penyuka sesama. Namun dari cara Raja menolak dengan halus, tegas, dan menjaga jarak, jelas terlihat bahwa ia tahu bagaimana cara membentengi diri. Sultan segera menengahi. Ia menepuk bahu Raja, seolah-olah takut suasana berubah canggung terlalu lama. “Ja, seriusan?” katanya setengah tertawa. “Ayolah, Bro. Coba aja dulu. Aku yakin Kembang nggak bakal ngecewain kamu.” Raja tetap diam. Rahangnya mengeras. Telinganya menangkap bisik-bisik samar dari arah belakang. Rekan-rekan eksekutif muda yang hadir atas undangan Sultan. Tatapan mereka tak lagi sekadar penasaran. Sudah mengarah ke penilaian. Fix belok, mungkin itu yang mereka pikirkan. Padahal Raja punya segudang alasan kenapa ia menjauh dari perempuan beberapa waktu terakhir. Alasan yang tak perlu diumbar ke siapa pun. Raja menoleh ke Sultan. Pria itu mengangguk kecil, seolah-olah berkata, satu malam saja. Hanya untuk menutup mulut orang-orang. Setelah itu, semuanya selesai. Melihat keraguan itu, Kembang melangkah maju lagi. Kali ini lebih hati-hati. Ia bermain cerdas. Ia tidak langsung menyentuh. Hanya berdiri cukup dekat hingga aroma parfumnya menyusup pelan ke indra penciuman lawan. “Bos,” ucapnya lembut, suaranya direndahkan, “aku nggak gigit. Tenang aja.” Sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum profesional yang sudah terlatih membaca situasi. “Kalau kamu nggak nyaman, kita bisa cuma pergi dari sini,,” lanjutnya. “Nggak ada paksaan. Aku tahu caranya bikin orang santai.” Jarinya bergerak pelan, merapikan lipatan kemeja Raja yang sebenarnya sudah rapi. Sentuhannya singkat, sekadar isyarat jika ia bersedia membawa pria itu ke lembah yang paling nyaman.. “Sayang kalau malam ulang tahun dilewatin gitu aja,” bisiknya. “Aku bisa jadi hadiah yang … menyenangkan.” Raja menelan ludah. Bukan hanya karena gairah, tapi juga tekanan yang terasa. Semua mata seperti menunggu keputusannya. Di sisi lain, Kembang tahu betul, sekali pria itu luluh, bayaran malam ini akan mengalir. Dan ia sangat membutuhkan uang itu. “Kita bisa ke mana aja, Bos. Aku akan ikut,” katanya manis. Tatapan Kembang lurus mengunci Raja. Bukan sekadar menggoda, tapi ia meminta, dengan caranya sendiri. Malam itu, baginya bukan cuma soal harga diri, tapi juga bertahan hidup. Raja akhirnya melunak. Ia menatap Kembang lebih lama dari sebelumnya, seolah-olah menimbang sesuatu yang tak ingin ia ucapkan. Lalu bibirnya bergerak pelan. “Ikut denganku.” Bingo. Kembang mengangguk lemah, menahan senyum agar tak terlalu kentara. Sukses besar. Setelah ini, akan ada dana tambahan untuk operasi bapaknya. Tak masalah jika ia harus berhadapan dengan pria sedingin ini. Yang penting, imbalannya jelas, cuan. Raja melangkah lebih dulu, diikuti Kembang yang sempat mengedip sekali ke arah Seruni. Di belakang mereka, Sultan yang merasa berhasil langsung bersorak senang. “Yeay, have fun, ya!” Raja tak menimpali. Tubuh tegapnya berjalan lurus menuju pintu keluar, melewati deretan penghuni dunia malam yang masih tenggelam dalam hiruk-pikuk. Kembang melangkah mantap di belakangnya. Senyumnya terkembang sempurna. Ia tak lagi peduli apakah Raja benar-benar penyuka sesama atau tidak. Yang jelas, malam ini harus ia selesaikan dengan sempurna. Ketika tiba di parkiran, Raja membuka pintu mobil lebih dulu. Sedan hitam itu tampak bersih, rapi, dan dingin. Persis seperti pemiliknya. Kembang masuk dan duduk di kursi penumpang, lalu menyilangkan kaki dengan anggun. Mobil melaju meninggalkan Muse Entertainment Center, menembus jalanan malam Samarinda yang lengang. Kembang melirik ke arah Raja, mencoba mencairkan suasana yang dianggapnya sangat mencekam. Di sampingnya ada pria tampan yang begitu dingin dan kaku. Jadi, ia harus jadi penghangat suasana. “Bos … mau langsung ke hotel, atau mau aku rekomendasiin tempat yang nyaman?” ucapnya lembut, sedikit manja. Raja tetap fokus ke jalan. Tangannya mantap menggenggam setir. “Nggak perlu.” Nada suaranya datar. Kembang hanya bisa mengangguk pelan, walau alisnya sedikit berkerut. Mobil terus melaju, bukan ke arah hotel-hotel pusat kota, melainkan berbelok ke kawasan yang semakin sunyi dan rapi. Jalanannya lebar, lampu taman tertata rapi. Dengan deretan pohon. Beberapa menit kemudian, gerbang besar dengan penjagaan ketat terbuka. Kembang spontan menegakkan tubuhnya. CitraLand City Samarinda. Matanya membulat. Jantungnya berdegup tak keruan ketika sadar bahwa Raja membawanya ke sebuah hunian keluarga, bukan hotel. “Bos.” Kembang terkekeh kecil, mencoba menjaga profesionalisme, “aku cuma teman tidur. Nggak perlu dikenalin ke keluarga segala, kan?” katanya. Pria itu tak langsung menimpali. Raja memarkir mobil di depan salah satu rumah besar bergaya modern yang terlalu sunyi untuk ukuran tempat singgah. Pria itu mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Kembang. “Turun.” Hanya itu perintahnya, tak nada membuka ruang tawar-menawar. Kembang mengekori pria itu, lalu masuk melalui pintu utama. Begitu tumit sepatunya menapak marmer mahal rumah tersebut, ia hanya bisa terdiam. Rumah ini terlalu besar untuk dihuni seorang diri. Namun terasa begitu sunyi jika memang ada penghuni lain. Raja membuka pintu sebuah kamar tamu di ujung koridor, lalu memberi isyarat agar Kembang masuk. “Tidurlah di sini malam ini. Besok pagi-pagi sekali kamu bisa pulang,” katanya dingin. Kembang melangkah masuk, meneliti interior kamar itu sekilas. Ranjang besar, lampu temaram, aroma bersih yang asing, lalu ia menoleh ke arah Raja yang masih berdiri di ambang pintu. “Serius? Aku cuma disuruh tidur?” ujarnya heran. “Job desk-ku bukan ini, Bos.” Raja tetap diam. Ia tak berniat menimpali. Ia tahu, wanita itu akan kembali membuka suara. “Sultan bayar aku gede buat bikin kamu puas,” lanjut Kembang, mencoba memastikan. “Ya sudah, ambil uangnya,” jawab Raja akhirnya. “Aku tidak berniat melakukan apa pun denganmu malam ini. Tidur dan pergi pagi-pagi sekali.” Tanpa menunggu jawaban, Raja menutup pintu dari luar. Tegas dan tanpa ada celah. Dan ia tak merasa perlu mendengar apa pun lagi. Ditinggal sendirian, Kembang mengembuskan napas panjang. Malam ini ia bebas tugas. Kembang merebahkan tubuh ke ranjang empuk itu, memejamkan mata sejenak menikmati kenyamanan yang jarang ia rasakan. “Hari ini adalah hari keberuntunganku,” bisiknya pelan. Ia melepas sepatu, menarik selimut, dan terlelap tak lama kemudian. *** Cahaya matahari menyelinap dari sela tirai ketika Kembang terbangun. Ia mengerjap, lalu mendongak ke jam dinding. “Sialan!” gumamnya panik. “Aku kesiangan!” Ia langsung bangkit, lalu meraih heels, dan menyambar tasnya. Rambutnya dirapikan sekadarnya. Tak ada waktu berdandan. Yang penting pergi, sesuai perintah. Wanita itu membuka pintu kamar dan melangkah cepat menyusuri koridor. Rumah itu masih sunyi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan normal. Ia hampir mencapai pintu ketika suara kecil memecah keheningan. “Mama?” Langkah Kembang terhenti. Ia menoleh sejenak. Di ujung lorong, berdiri seorang anak perempuan sekitar enam tahun. Rambutnya dikuncir dua. Gadis itu mengenakan piyama kecil bergambar kartun. Mata bening itu menatap Kembang tanpa ragu. “Mama?” Kembang membeku. Jantungnya serasa jatuh ke perut ketika mendengar panggilan itu untuk yang kedua kalinya. “Mama jangan pergi lagi.” Ucapan gadis itu mencubit hati Kembang sejenak. Ia refleks berlutut sedikit. Lalu menatap gadis itu lekat. Namun, ketika ia hendak membuka suara, Raja mendekat dan langsung memberikan ultimatum. “Dia bukan mama, Adel,” katanya dingin dan singkat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD