Raja membanting pintu ruang kerjanya dengan keras, suara debuman itu bergema di ruangan yang biasanya tenang. Napasnya memburu, sedangkan tangannya bergerak kasar melonggarkan dasi yang terasa kian mencekik lehernya.
Pikirannya masih tertuju pada tatapan penuh tanya dan bisik-bisik para staf di lobi saat ia mengantar klien tadi. Segala wibawa yang ia bangun seolah-olah terkikis hanya karena ulah satu wanita.
Ia melangkah lebar menghampiri Kembang yang sedang duduk diam di kursi kerjanya, lalu melempar tanya dengan nada rendah yang berbahaya.
“Apa yang kamu lakukan di bawah tadi, Kembang?”
Kembang terdiam. Ia berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam di depan tubuhnya. Hoodie yang ia pakai masih sama, wajahnya tanpa riasan, tapi sorot matanya jelas waspada.
“Aku cuma–”
Kembang baru saja hendak membuka mulut, tapi Raja memotongnya dengan telunjuk yang terangkat tajam.
“Aku sudah bilang, diam di sini dan jangan melakukan apa pun! Tapi kamu malah membuat keributan yang menarik perhatian semua orang di kantor ini.”
Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Kembang. Tangannya menumpu di permukaan kayu itu, telapak tangan mengepal.
“Kamu tahu apa artinya aku bawa kamu ke sini?” lanjutnya. “Ini kantor. Ini ruang profesional. Dan kamu berdiri di tengah lobi, bikin orang menoleh, bikin sekretarisku ditanya-tanya.”
“Jangan merasa punya kuasa untuk mengajari stafku hanya karena aku membiarkanmu duduk di meja makan bersamaku. Kamu di sini untuk bekerja, bukan untuk pamer harga diri yang bahkan sudah tidak kamu miliki.”
Kembang tertegun. Kata-kata itu jauh lebih tajam daripada sindiran para karyawan di bawah tadi. Ia tahu posisinya. Ia selalu tahu. Hanya saja, mendengarnya diucapkan seterang itu tetap menyisakan perih.
Rasa sesak mendadak memenuhi dadanya, membuat matanya terasa panas, tapi ia menolak untuk menangis di depan pria arogan ini. Kesadaran itu menghantamnya keras. Benar, bagi Raja, dia tetaplah barang yang disewa.
“Maaf, Bos,” sahut Kembang lirih, suaranya hampir tak terdengar. Ia menunduk dalam, menyembunyikan luka di matanya di balik helaian rambut yang mulai berantakan.
“Aku lupa posisiku. Aku nggak akan mengulanginya lagi.”
Raja terdiam melihat perubahan drastis itu. Namun ego dan kekesalannya masih terlalu tinggi untuk sekadar merasa bersalah.
***
Beberapa hari berlalu. Namun, atmosfer di rumah mewah itu terasa jauh lebih dingin daripada AC sentral yang selalu menyala. Kembang benar-benar berubah menjadi sosok yang berbeda. Tidak ada lagi senandung kecil saat ia menyiapkan s**u dan sereal untuk Adel, tidak ada lagi godaan nakal atau kerlingan mata yang biasanya membuat tensi Raja naik.
Kembang menjadi sangat pendiam dan hanya bicara jika memang diperlukan untuk urusan Adel. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar atau di taman belakang bersama Adel, seolah-olah sedang membangun tembok tinggi yang tak kasat mata. Setiap kali Raja masuk ke ruangan yang sama, Kembang akan segera mencari alasan untuk pergi. Menghindar seolah-olah kehadiran Raja adalah polusi bagi udaranya.
Raja, yang awalnya merasa sudah memberikan ‘pelajaran’ yang tepat, kini justru dirundung rasa bersalah yang tidak nyaman.
Keheningan Kembang jauh lebih menyiksa daripada kecerewetannya. Meja makan terasa mati meski ada makanan enak di sana. Ia merindukan bagaimana wanita itu dengan berani memutar-mutar bolpen di meja kerjanya atau sekadar menyentuh lengan kemejanya dengan ujung jari.
Malam itu Raja tidak bisa lagi menahan diri. Ia merasa harus memperbaiki sesuatu yang retak, meski egonya masih sedikit menghalangi. Dengan langkah yang tidak sepasti biasanya, ia berjalan menuju kamar Kembang.
Raja berhenti di depan pintu kayu yang tertutup rapat itu. Tangannya terangkat, hendak mengetuk. Namun gerakannya terhenti saat ia mendengar suara Kembang dari dalam. Rupanya, wanita itu sedang menelepon seseorang.
Raja mematung di depan pintu jati yang masih tertutup. Perlahan, ia menekan kenop hingga perabot kayu itu terbuka sedikit. Pria itu melihat Kembang sedang duduk di ambal dengan ponsel yang menyala memperdengarkan suara seorang pria yang sedang marah-marah.
"Jangan pernah kirim uang lagi!" bentak suara di seberang telepon. "Aku lebih baik mati karena penyakit jantung ini daripada harus menyambung nyawa pakai uang haram hasil kerja kotormu!”
Raja mematung mendengar ucapan kasar itu. Ia mengerutkan dahi, mengira-ngira bahwa uang kontrak yang kemarin Kembang minta, sepenuhnya ia gunakan untuk membiayai operasi ayahnya.
"Tapi Pak, ini buat operasi Bapak. Kembang cuma mau Bapak sembuh."
Suara Kembang terdengar gemetar, pecah oleh isak tangis yang berusaha ia tahan mati-matian.
"Ndak! Kamu sudah mempermalukan keluarga. Jangan hubungi keluarga ini lagi. Kamu bukan lagi anakku!”
Tut-tut-tut. Sambungan terputus.
Keheningan yang menyusul setelahnya jauh lebih menyakitkan daripada bentakan tadi. Raja bisa mendengar suara isak tangis tertahan yang sangat memilukan. Kembang menunduk, menenggelamkan wajahnya di ceruk lutut yang saat ini ia peluk erat-erat.
Ia tak tahu ada sepasang mata yang memperhatikannya di ambang pintu dengan hati yang sama perihnya. Raja merasa seperti pria paling jahat di dunia. Kata-katanya tentang ‘harga diri’ tempo hari pasti terasa seperti cuka yang disiramkan ke atas luka yang sedang menganga.
Ia baru menyadari bahwa keceriaan, godaan, dan keberanian Kembang selama ini hanyalah topeng untuk menyembunyikan kerapuhan yang sangat dalam.
Tanpa sadar, Raja mendorong pintu perlahan. Usai menutupnya kembali, ia mendekati Kembang yang masih terisak dan menunduk.
Kembang tersentak kaget. Ia segera menghapus air matanya dengan gerakan kasar, berusaha menarik kembali topeng ketangguhannya yang baru saja hancur berkeping-keping. Dengan napas yang masih sedikit sesak, ia menoleh ke arah Raja, mencoba mengatur raut wajahnya agar terlihat biasa saja.
“Ngapain bos ke sini?” tanyanya dibuat sedikit ketus.
Raja tak langsung menjawab. Ia malah menikmati rinai hujan yang turun dan terlihat dari balkon kamar Kembang, lalu menjawab lirih.
“Aku nggak bisa tidur,” katanya.
Kembang tersenyum kecil. Senyum getir yang ia lempar ke arah Raja. Senyum yang lebih menyakitkan daripada tangisannya barusan.
“Bos dengar aku teleponan tadi?” tanyanya.
Raja tetap diam. Namun diamnya adalah sebuah pengakuan. Bahwa ia sedikit banyak tahu apa yang dirasakan oleh wanita di sampingnya.
“Kayak ginilah kehidupan, Bos. Satu kesalahan aja bisa bikin nama kita rusak seumur hidup. Kalau udah gini, ya, udah. Bikin makin rusak aja.”
Kembang menjeda ucapannya, lalu menoleh ke arah Raja yang saat ini menatapnya dengan intens.
Pria itu terdiam cukup lama setelah mendengar kalimat pasrah dari bibir Kembang. Ia merasa atmosfer di kamar itu terlalu menyesakkan untuk paru-parunya yang sedang dihantam rasa bersalah. Tanpa kata, Raja perlahan bangkit dari tepi ranjang, berniat memberikan ruang agar wanita itu bisa menenangkan diri atau mungkin sebenarnya ia sendiri yang butuh melarikan diri dari perasaan yang tidak ia pahami.
Namun, baru saja ia berdiri, sebuah tangan halus menahan lengannya untuk tetap di tempat. Kembang berdiri dari amblas. Tatapannya fokus pada Raja yang saat ini juga memindainya dengan saksama.
“Mau nemenin aku malam ini?” tanyanya penuh harap.
Tidak ada jawaban dari Raja yang masih terpaku. Rasa sakit hati dan kebutuhan untuk dicintai meledak menjadi satu dorongan impulsif. Kembang menarik tubuh Raja hingga mereka berdua jatuh ke atas permukaan ranjang yang empuk.
Lengannya melingkar erat di leher pria yang kini menumpu bobot tubuhnya dengan siku, menyisakan jarak yang tinggal sejengkal dengan tubuh wangi Kembang yang hangat.
Mata mereka masih saling mengunci sebelum akhirnya keduanya larut dalam pagutan panas yang melenakan. Tangan Raja yang besar naik, mencengkeram pinggang Kembang dan membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama besarnya, seolah-olah melalui persatuan ini, ia bisa menghapus semua kata-kata tajam yang pernah ia lontarkan.
Raja mendongak usai merasa jika napas Kembang memburu. Ia menatap manik mata cokelat wanita itu, lalu berbisik.
“Kamu yang mulai, Kembang,” katanya.
Kembang tersenyum kecil, senyum yang menunjukkan bahwa ia sudah tidak peduli lagi pada luka atau statusnya. Lalu menarik wajah Raja lebih dekat lagi dengan dirinya.
“Iya, Bos. Aku yang mulai dan aku nggak mau berhenti sekarang,” katanya.
Raja menggeram kasar. Suara yang menandakan bahwa pertahanannya akan segera runtuh saat ini. Dan iya, wanita inilah yang membuatnya tak bisa lagi menahan diri.
“Sentuh aku, Bos,” bisik Kembang ketika Raja mulai menghancurkan dinding kewarasannya.