Bab 4 – Mama Hasil Kontrak

1448 Words
Pintu kontrakan berderit pelan. Kembang mendorong benda berbahan kayu itu usai memutar kuncinya. Ia berharap bisa langsung melempar tubuhnya ke kasur demi membuang perasaan aneh dalam dirinya usai bertemu dengan bocah kecil bernama Adel. Bocah yang tiba-tiba langsung menangis dan memeluknya. Bocah yang entah kenapa membuat dadanya bergemuruh tanpa permisi. Dan sialnya, ia sampai kepikiran sampai sekarang. “Kembang.” Ketika ia melepas heels, tiba-tiba suara cempreng terdengar dari kamar sebelah. Seruni berlari kecil usai mendengar pintu kontrakan Kembang terbuka. Dengan hanya memakai tank top dan celana pendek di atas lutut, wanita itu menghampiri teman seperjuangannya yang kini sibuk membuang tubuhnya ke ranjang. “Gila. Sampai pagi. Bos besar ngobrak-ngabrik kamu semalaman?” tanyanya antusias. Wanita itu mengambil duduk di tepi ranjang untuk kemudian mendengar cerita Kembang. “Aku masih utuh,” sahut Kembang cepat. “Apa? Serius? Ya ampun. Dia beneran hombreng?” Kembang tak langsung menjawab. Ia hanya menggendikkan bahu karena tak tahu harus mengatakan apa. Kalau Raja penyuka sesama harusnya tidak ada bocah kecil bernama Adel yang memanggilnya papa. Namun, masak iya ada cowok normal ditawarin tubuh sebagus ini malah nolak? Atau dia tipe pria setia? “Aku nggak tau, Run. Tapi tadi ada anak kecil di rumahnya yang manggil dia Papa,” jelas Kembang. “Sial! Laki orang?” “Nggak tau lagi, itu bocah malah manggil aku Mama. Kan, aneh.” Seruni mengernyit, tapi kemudian tertawa keras. Asumsi di kepalanya mulai berontak. Banyak sekali kemungkinan gila yang ia pikir bisa menjadi alasan kenapa itu bocah manggil Kembang mama. “Ngakak kamu.” “Kembang, mungkin Mamanya itu bocah mirip sama kamu. Makanya kamu dipanggil Mama sama dia. Itu juga sebabnya Pak Raja nggak mau nyentuh kamu. Berasa nyentuh bininya kali?” jelas Seruni. “Ngaco ah. Kebanyakan baca novel fiksi kamu. Udah ah, sana balik. Aku mau mandi,” kata wanita itu mengusir sang rekan. Kembang lantas beranjak dari rebahnya dan bersiap mandi. Sementara Seruni memilih kembali ke kamarnya setelah itu. Air hangat mengguyur tubuh Kembang. Uap memenuhi ruang sempit itu, membawa serta kelelahan dan sisa malam yang belum sepenuhnya pergi. Kembang menempelkan punggung ke dinding keramik, memejamkan mata. Ini cuma kerjaan, batinnya. Harusnya ia tidak terbawa perasaan sampai demikian memikirkannya. Namun, siapa yang tahu jika kejadian tadi mengendap begitu saja di kepalanya seperti sebuah kenangan indah. Baru beberapa menit ia berdiri di bawah shower, suara ketukan terdengar dari luar. Kembang mengernyit. Ia mencoba menajamkan telinganya demi bisa mendengar lebih jelas. “Run?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Ketukan terdengar lagi, kali ini lebih tegas. Ia buru-buru mematikan shower, lalu meraih handuk, dan membalut tubuhnya seadanya. Rambutnya masih basah ketika ia melangkah ke pintu kontrakan. Begitu pintu dibuka Kembang langsung membeku. Raja berdiri tepat di depannya. Tegap, rapi, dengan ekspresi yang sama dinginnya seperti pagi itu. Di sampingnya, Sultan berdiri sambil menyeringai lebar, jelas menikmati situasi yang terjadi saat ini. Saat itu, pandangan Raja terhenti sepersekian detik pada handuk yang melilit tubuh Kembang, lalu cepat beralih ke wajahnya. “Kamu nggak bisa dihubungi,” ucap Raja datar. Sultan menyenggol lengannya pelan. Memberi kode agar sang rekan setidaknya memberikan basa-basi sedikit untuk mengulur waktu. “Pagi-pagi dapet bonus visual. Lumayan.” “Tan,” dengus Raja. Kembang menelan ludah. Ia sendiri merasa terkejut dengan kedatangan pria yang harusnya tidak lagi berhubungan dengannya setelah semalam. “Bos…?” “Pakai baju. Kita perlu bicara,” kata Raja singkat. Nada itu membuat Kembang paham. Ini bukan soal kerjaan semalam. Jadi ia mengangguk dan menutup pintu dengan cepat. Gerakannya lincah meraih kaus seadanya dan rok jin dalam lemari. Sementara itu, Raja dan Sultan mengambil duduk di bangku kayu yang ada di parkiran kontrakan. Mereka menunggu dengan sabar sampai akhirnya Kembang datang dengan rambut yang masih sedikit berantakan. Wajahnya tanpa riasan, kaus oblong kebesaran dan rok yang membungkus pahanya tampak pas. Sultan yang melihat Kembang berjalan ke arah mereka menyenggol lengan Raja pelan. “Versi rumahan juga nggak kalah seksi, Ja,” bisiknya. “Bisa diem nggak?” sahut Raja. Sultan mengangkat tangan tanda menyerah, lalu bersandar di bahu kursi. Raja maju selangkah, langsung ke inti persoalan. “Ada apa?” “Adel nyari kamu,” katanya. “Nyari aku?” “Sejak pagi dia demam tinggi. Dan dia terus manggil mama,” jelas Raja, kaku dan dingin. “Tapi … job desk-ku bukan itu, Bos.” “Aku akan bayar,” potong Raja cepat. “Sesuai tarifmu. Atau lebih.” Sultan mengangguk mantap. Ia ikut membantu sang rekan membujuk Kembang yang tentu saja merasa agak keberatan. “Deal gede, Kembang. Ini bukan tiap hari bos batu bara ngemis kayak gini.” “Tan, diam.” Kembang terdiam cukup lama. Ia bukan wanita yang mudah baper. Hidup sudah terlalu keras untuk itu. Tapi menyebut Adel, entah kenapa rasanya berbeda. Wanita itu berpikir sejenak, lalu dengan sedikit rasa iba yang tersisa, ia mengangguk pelan. “Oke. Aku ambil jaket dulu,” katanya. Raja mengangguk lemah. Ia membuang napas lega karena akhirnya wanita itu mau ikut. Walaupun jelas, ada sesuatu dalam dirinya yang mendadak jadi canggung. *** Kembang melangkah pelan mendekati ranjang. Adel masih terbaring lemas, keningnya berkeringat, bibir kecilnya bergerak tanpa suara yang jelas. Ngigau. Nama yang sama terus berulang. Tangan wanita itu terulur demi mengusap pipinya yang memerah. Saat itu juga, Adel membuka mata. Cahaya yang awalnya hilang dari wajahnya kini seolah-olah kembali. Adel membuka matanya lebar-lebar, lalu tersenyum kecil. “Mama ….” Tubuh kecil bangkit dari rebah seolah-olah ada yang menggerakkan otot motoriknya dengan hebat, lalu melingkarkan lengannya di leher Kembang. Wanita itu terdiam sesaat, lalu membalas pelukan Adel dengan erat. “Mama jangan pergi lagi,” kata gadis itu. Kembang benar-benar merasa hatinya seperti teremas mendengar dan melihat gadis kecil itu meminta untuk tetap tinggal. Panas tubuh Adel bahkan sampai menjalar dan membuat Kembang merinding. Sungguh, ia baru sekali ini bertemu dengan bocah itu, tapi rasanya sudah sangat kenal dekat. Sementara itu, Sultan dan Raja yang memperhatikan keduanya dari ambang pintu hanya bisa terpaku. Adel benar-benar seperti kembali menemukan cahaya dalam hidupnya yang hilang selama ini. Sultan melirik Raja sekilas. Lalu membuka suara. “Kalau ini placebo, mahal banget efeknya, Ja.” Raja masih geming. Ia sendiri merasa sangat heran melihat hal itu. Selama ini, Adel selalu menutup diri dengan orang baru. Namun, dengan Kembang dia bisa langsung dekat. Bahkan terlihat sangat nyaman. Lantas, apa ide Sultan benar-benar harus ia jalankan? *** Adel tertidur setelah obat bekerja. Napasnya pelan, wajahnya jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam lalu. Kembang duduk di sisi ranjang, mengusap kening bocah itu dengan gerakan lembut. Hangatnya masih ada, tapi tidak lagi mengkhawatirkan. “Selama saya ngurus Adel.” Suara Nita terdengar lirih dari belakang, “baru kali ini saya lihat dia setenang ini. Biasanya demam begini rewel, nangis, teriak-teriak.” Kembang menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis. Tidak menjawab. Ia sendiri tak paham apa yang barusan terjadi. Perlahan ia bangkit, meraih tasnya, lalu melangkah keluar kamar. Di ruang tengah, Raja sudah menunggu. Ia berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku celana, wajahnya serius seperti biasa. “Aku pamit, Pak,” kata Kembang singkat. Raja menoleh cepat. “Tunggu.” Langkah Kembang terhenti. Ia menoleh ke arah Raja yang kini maju selangkah lebih dekat. “Aku mau kamu tinggal di sini,” ucap Raja tanpa basa-basi. “Ngurus Adel.” Kembang tersenyum kecil, nyaris terbahak. “Itu bukan pekerjaan, Pak.” Ia berbalik lagi, hendak melangkah meninggalkan ruang tengah. Namun suara Raja kembali menghentikannya. “Aku bayar dua ratus juta,” katanya. Kembang berhenti. Wanita itu terdiam seraya mengeja angka yang tadi disebutkan oleh Raja. Angka itu menggantung di udara. Dua ratus juta. Otaknya langsung bekerja. Ia ingat sang Bapak yang perlu operasi jantung. Ia juga ingat angka ratusan juta yang disebutkan adiknya kemarin. Kembang memejamkan mata sepersekian detik, lalu menoleh setelah menghitung kemungkinan. Senyumnya terangkat. Sengaja dibuat tenang dan terukur. “Lima ratus juta, Pak,” katanya ringan. “Aku langsung pindah ke sini hari ini.” Raja membeku. Rahangnya mengeras usai mendengar nominal yang disebutkan oleh Kembang. Itu jelas bukan angka yang sedikit. “Kamu mau memeras saya?” nadanya rendah, jelas terdengar kesal. Kembang menggeleng pelan, senyumnya tak luntur meski wajah lawan bicaranya menegang. “Nggak. Aku cuma tahu harga yang pas aja.” Ia mengangkat bahu kecil, lalu melanjutkan. “Kalau nggak cocok, nggak apa-apa. Aku pulang.” Sunyi sejenak menyelimuti ruang tengah itu. Dua kepala keras saling berhadapan. Yang satu terbiasa memberi perintah. Yang satu terbiasa bertahan hidup. Saat itu Raja sadar, wanita di depannya bukan sekadar perempuan yang bisa ia bayar semaunya. Ia hendak menolak permintaan Kembang yang kelewat batas itu, tapi ketika tangis Adel kembali meraung memanggil mamanya, Raja seolah-olah tak punya pilihan lain. “Ok, deal. Kita buat kontrak untuk kesepakatan ini,” ucap Raja kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD