Kembang akhirnya memakai pakaian sopan seperti yang Raja minta. Namun, yang dia punya hanya celana training dan Hoodie warna senada yang memang kelihatan longgar, tapi tetap saja terasa berbeda di mata Raja. Sementara rambutnya yang panjang diikat ke atas sekenanya.
Wanita itu menyiapkan Adel yang harus bersiap pergi ke sekolah pagi ini. Membantunya mandi, hingga memakai seragam sekolahnya. Juga bersiap dengan sepatu dan tas ransel gambar boneka Barbie kesukaanya.
“Kita sarapan dulu, baru berangkat,” kata Kembang kemudian.
“Suapin, ya, Ma.”
Kembang mengangguk lemah. Ia menggenggam satu tangan Adel dan gadis itu melompat dengan riang dari atas ranjang menuju ke meja makan. Sementara Nita, sang pengasuh mengikutinya dari belakang dengan membawa tas ransel milik gadis kecil itu.
Sesampainya di meja makan, Raja tampak sibuk dengan tablet di tangannya. Kembang membantu Adel duduk dengan baik, lalu menawari gadis itu, apa yang hendak ia makan pagi ini.
“Em … Adel mau s**u dan sereal,” katanya ceria.
“Siap Nona kecil. Aku akan siapkan,” kata Kembang.
Wanita itu dengan cekatan melakukan tugasnya menyiapkan sarapan yang dimau Adel. Kembang dengan sangat menuang sereal dan s**u untuk bocah itu. Ia bergerak luwes, sesekali bersenandung kecil yang membuat suasana pagi di meja makan terasa lebih hidup. Setelah tugasnya untuk Adel selesai, matanya menangkap sosok Nita yang berdiri mematung di dekat pintu sambil memeluk ransel Barbie milik Adel.
"Nit, sini. Duduk, kita sarapan bareng," ajak Kembang sambil menarik kursi dengan kaki telanjangnya, gerakan yang terlihat santai sekaligus nakal.
Nita tersentak, wajahnya pucat pasi sambil melirik Raja yang masih memasang wajah tembok.
"Eh, nggak usah, Mbak Kembang. Saya ... saya nanti saja di dapur."
Kembang tertawa kecil, suara tawanya sengaja dibuat sedikit manja agar memancing perhatian Raja. Ia menoleh ke arah pria itu, lalu kembali menatap Nita dengan kerlingan mata.
"Duh, jangan takut. Bos kamu ini memang mukanya kaku kayak kanebo kering, tapi dia nggak gigit, kok. Ya kan, Bos?"
Raja hanya berdehem berat. Namun jemarinya di atas tablet tampak sedikit menegang.
"Ayo duduk, Nita. Aku masak banyak banget pagi ini. Kalau nggak habis, nanti aku yang makin gendut, terus kalau aku gendut nanti Bos makin nggak betah lihat aku di sini," celetuk Kembang sambil menyendokkan nasi goreng ke piring dengan gaya yang sangat luwes.
Ia mendekat ke arah Raja, meletakkan secangkir kopi dengan gerakan yang sangat pelan hingga ujung jarinya nyaris menyentuh lengan kemeja pria itu.
"Makan, ya, Bos. Energi buat kerja itu penting, biar nggak cuma bisa melotot terus dari tadi."
Kembang mengedipkan sebelah matanya pada Nita, memberi isyarat agar pengasuh itu segera duduk sebelum Raja benar-benar mengeluarkan perintah dinginnya.
Setelah semua selesai sarapan, Adel bersiap pergi ke sekolah dan Raja ke kantor. Kembang mengantar mereka sampai ke garasi mobil demi melambai pada Adel yang kelihatan cemberut.
“Kenapa, Sayang? Kok, cemberut gitu?” tanya Kembang ketika ia membantu Adel naik ke mobil.
“Aku mau dianterin Mama ke sekolah,” katanya lirih.
“Eh, kan, ada Mbak Nita. Udah, ya. Jangan nakal. Nanti Papamu ngambek.”
“Mau Mama yang anterin.”
Gadis kecil itu kembali merengek. Ia benar-benar mau Kembang yang mengantarnya ke sekolah karena ia mau sedikit pamer pada teman-temannya. Namun, Raja sepertinya tak berniat memberikan izin. Ia hanya melirik sekilas ke arah Kembang dan langsung memberi titah.
“Adel duduk yang benar. Papa antar kamu ke sekolah,” katanya tegas.
“Adel nggak mau sekolah. Maunya diantarin Mama.”
Gadis kecil itu benar-benar merajuk. Ia menghentak-hentakkan kakinya sebagai ganti protes bahwa ia mau Kembanglah yang mengantarnya. Bukan sang papa. Adel hampir menangis ketika kemudian Raja memejamkan mata dan mengambil keputusan.
“Ya sudah. Jangan merajuk lagi. Kembang cepet naik.”
“Hah? Pak, aku pakai training begini. Masak keluar rumah,” katanya.
“Nggak ada waktu buat ganti baju. Lagi pula, itu lebih aman daripada pakakainmu yang lain.”
Kembang mencebik. Ia lantas masuk ke kamar dan mengambil tasnya. Tak lupa memakai masker wajah demi menutupi identitasnya di hadapan banyak orang.
“Adel, Kembang hanya akan ngantar kamu. Kamu tetap sama Mbak Nita nanti di sekolah,” kata Raja setelah semua siap berangkat.
Bocah kecil itu hanya mengangguk lemah. Tak masalah baginya, yang penting ia bisa pamer dulu pada teman-temannya jika ia telah mempunyai Mama.
***
Mobil mewah Raja membelah jalanan Samarinda menuju ke arah perumahan mewah di wilayah Samarinda Utara. Tujuannya adalah TK Al-Azhar Samarinda, salah satu sekolah terbaik yang menjadi tempat Adel menimba ilmu. Di dalam mobil, suasana terasa unik. Bocah kecil itu tampak sumringah sambil memeluk lengan Kembang. Sementara Raja tetap fokus pada kemudi meski sesekali melirik spion tengah untuk memperhatikan wanita bermasker di kursi belakang.
Sesampainya di lobi sekolah yang megah, Raja turun lebih dulu, disusul Kembang yang menggendong tas Barbie milik Adel. Nita mengekor di belakang dengan wajah tertunduk. Ketika kaki mereka menginjak koridor sekolah, perhatian wali murid lain langsung tersita. Raja yang biasanya datang sendiri atau hanya mengutus Nita, kini membawa sosok wanita dengan hoodie dan celana training longgar. Meski memakai masker dan berpakaian sangat santai, cara jalan Kembang yang tetap terlihat anggun dan tatapan matanya yang tajam tidak bisa membohongi siapa pun bahwa ia memiliki daya tarik yang kuat.
Di depan pintu kelas, Ibu Maya, wali kelas Adel, menyambut mereka dengan wajah berseri.
"Selamat pagi, Papa Adel. Wah, pagi ini ramai sekali ya," sapa Ibu Maya.
Pandangannya kemudian beralih ke arah Kembang yang berdiri agak kikuk di samping Raja.
"Dan ini … Mamanya Adel?"
Kembang sempat terdiam sejenak. Ia melirik Raja yang juga tampak mematung. Namun, sebelum suasana menjadi makin canggung, Kembang segera mengambil inisiatif.
Ia menurunkan sedikit masker wajahnya, lalu memberikan senyum yang sangat manis. Namun sopan.
"Pagi, Bu. Saya Kembang," katanya dengan nada suara yang hangat dan mencairkan ketegangan.
Ia sengaja mengusap pundak Adel dengan lembut. "Maaf ya, Bu, saya datang pakai baju olahraga begini. Soalnya Adel tadi mendadak manja sekali, minta ditemani sampai kelas kalau tidak dia mau mogok sekolah."
Kembang tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus dan keibuan.
"Namanya juga anak-anak ya, Bu. Kalau keinginannya tidak dituruti, dunianya serasa mau kiamat."
Raja yang berdiri di sampingnya merasa dadanya berdesir aneh. Ia terkejut melihat betapa mudahnya Kembang memerankan sosok ibu yang elegan sekaligus ramah, meski hanya dalam balutan pakaian olahraga.
Ada perasaan bangga yang terselip secara tidak logis di benak Raja saat melihat wali murid lain berbisik-bisik mengagumi ‘istrinya’ yang tampak sangat membumi, tapi tetap berkelas.
Pria itu baru menyadari bahwa Kembang memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa, mengubah suasana kaku menjadi sangat santai hanya dalam beberapa detik.
Setelah berpamitan dan memastikan Adel masuk ke kelas dengan riang, mereka berdua kembali ke mobil. Raja masih belum bisa menghilangkan ekspresi terkejut di wajahnya. Namun, memilih bungkam tanpa berniat bertanya.
Keduanya sudah masuk ke mobil ketika ponsel pria itu berdering. Buru-buru Raja mengangkat panggilan yang agaknya begitu urgent dari salah satu stafnya di kantor.
“Iya.”
“Pak, klien dari Kalbar sudah tiba pagi ini di kantor. Beliau mau bertemu secepatnya karena harus pergi ke lagi ke Jakarta jam 10 nanti.”
Mendengar penjelasan itu, Raja tak lagi membuang waktu. Gegas ia memacu sedan hitamnya menutup ke kantor Rajawali Borneo Corp untuk menemui klien.
Sementara Kembang yang sadar bahwa kendaraan itu tak menuju ke rumah utama, segera melempar tanya.
“Lah, kita mau ke mana, Bos?”
“Kantor.”
“Serius? Aku lagi pakai training, nih,” protesnya.
“Diamlah.”
Kembang mencebik, memilih mengedarkan pandangan pada deretan toko dan rumah yang berkelebat di sepanjang jalan.
Setelah sampai di sana, Raja buru-buru keluar. Diekori Kembang yang masih memakai masker wajah di belakangnya. Saat itu, hampir semua karyawan menatap wanita itu dari atas ke bawah. Membandingkan penampilan bos mereka dengan wanita yang ia bawa.
Sebelum naik ke lift, Raja menoleh ke arah Kembang dan memberi titah.
“Naik ke ruanganku. Tunggu di sana dan jangan melakukan apa pun.”
Kembang mengangguk-angguk. Membiarkan Raja bersama seorang staf yang menyambutnya pergi ke ruang meeting. Sementara ia diminta menunggu di ruangan kerjanya. Ketika kemudian ia mendengar bisik-bisik laknat soal dirinya dari beberapa karyawan.
“Itu siapa sih? Dekil banget pakai training kedodoran gitu,” bisik seorang wanita dengan rok span ketat dan riasan tebal.
“Palingan simpanan baru atau saudara jauh dari kampung. Lihat saja, mukanya ditutup masker begitu, mungkin malu karena nggak selevel sama Pak Raja,” timpal yang lain sambil terkekeh sinis.
Suara bisik-bisik soal ‘wanita kampung’ dan ‘penampilan dekil’ yang mulai merayap masuk ke telinganya.
Tanpa menoleh, Kembang menarik napas dalam. Ia tidak langsung memaki. Sebaliknya, ia memutar tubuhnya dengan sangat lambat, memberikan efek dramatis yang membuat beberapa staf yang sedang bergosip di meja resepsionis langsung terdiam kikuk.
Dengan gerakan yang sangat sengaja dan penuh percaya diri, ia meletakkan tasnya di atas meja marmer. Tangan kanannya kemudian meraih resleting hoodie longgarnya. Ia menariknya turun perlahan, cukup rendah untuk memperlihatkan sedikit bahu mulusnya dan tank top sutra hitam yang melekat ketat di tubuhnya.
Semua orang yang ada di meja itu terdiam. Aksi wanita yang dibawa pak bos pagi ini begitu berani dan terang-terangan.
"Ada masalah dengan baju training saya?" tanya Kembang dengan suara rendah yang sangat tenang. Namun terasa dingin menusuk tulang.
Tidak ada yang menjawab. Mereka semua hanya saling pandang karena tiba-tiba atmosfer lobi itu mendadak mencekam.
"Penampilan bisa diatur dalam lima menit, tapi kualitas otak dan tata krama kalian sepertinya butuh waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.”
Kembang kemudian membuka maskernya perlahan. Memamerkan wajah cantiknya yang tampak angkuh, tapi menawan. Ia menyugar rambutnya yang diikat ke atas sekenanya, membuat beberapa helai jatuh membingkai wajahnya dengan sempurna.
"Sampaikan pada bagian HRD, kalau kalian lebih sibuk mengurusi privasi Pak Raja daripada mengurusi laporan kerja, mungkin besok kalian tidak perlu repot-repot datang lagi," tutupnya dengan senyum sinis yang sangat elegan.
Kembang lalu kembali menutup resleting Hoodienya dan masuk lift menuju ke ruangan Raja. Sebelum pintu tertutup, ia mengacungkan jari tengahnya dengan sedikit gerakan elegan pada kerumunan tadi.
***
Satu jam kemudian, Raja yang baru saja mengantar kliennya sampai ke lobi akhirnya naik ke ruangannya. Ia telah mendengar apa yang terjadi di bawah tadi. Jadi, ketika ia masuk ruangannya dan melonggarkan dasinya, pria itu langsung melempar tanya.
“Apa yang kamu lakukan di bawah tadi, Kembang?”