Bab 7 – Senjata Makan Tuan

1157 Words
“Ganteng banget,” bisik Kembang. Wanita itu kembali ke kamarnya dengan senyum semringah. Entah apa yang ada dalam pikirannya tadi. Bisa-bisanya ia membuat bos besar kagok, bahkan wajahnya sampai merah hingga ke telinga. Hanya karena ketahuan ngaceng di depannya. Kembang sendiri tak tahu, kenapa ketika tadi tiba-tiba Raja mengunci tubuhnya, debaran dalam dadanya meningkat pesat. Sayangnya, ia terlalu profesional untuk memperlihatkan ketertarikan itu di depan Raja. Sementara bos besar, mungkin tidak punya pengalaman dengan wanita seperti Kembang. Usai menutup pintu kamarnya, Kembang berjalan pelan menuju ranjang, lalu melempar tubuhnya begitu saja ke kasur empuk itu. Ia menatap langit-langit ruangan yang didominasi warna putih gading yang hangat. Bayangannya mampir ke kejadian beberapa saat yang lalu, ketika ia begitu dekat dengan Raja. Bahkan napas pria itu terasa meremangkan kulitnya. Kembang menyentuh dadanya yang masih bergemuruh. Ini pertama kalinya ia merasakan yang seperti ini. “Ini … cuma sensasi sesaat, kan?” bisiknya. Namun, hatinya tak lagi bisa dikendalikan. Sesuatu yang ia bilang sensasi sesaat itu adalah awal dari hal yang lebih besar. Sementara di ruang kerjanya yang dingin, Raja tak lagi bisa fokus pada angka-angka di layar laptopnya. Semua pekerjaan itu terabaikan gara-gara satu gangguan yang bahkan … sampai sekarang masih menyisakan ketegangan. Kembang memang berbeda dan Raja tidak bisa memungkiri hal itu lagi. Sejak awal, wanita itu telah mencuri sesuatu yang telah lama mati dalam pikiran Raja. Kesenangan, kasih sayang, bahkan ketegangan yang nyaris ia lupakan. Nyatanya, Raja tak bisa memungkiri jika hanya Kembang yang bisa membuatnya terperosok dalam pesona wanita malam seperti dirinya. “Fokus, Raja,” bisiknya pada diri sendiri, lalu kembali menekuri laptopnya. *** Matahari pagi baru saja mengintip dari celah gorden ruang tengah saat Raja melangkah keluar dari ruang kerjanya dengan sisa-sisa kantuk yang dipaksa hilang oleh kafein semalam. Namun, langkah kakinya terhenti seketika saat aroma bawang putih tumis dan mentega yang gurih menyerbu indranya, bercampur dengan suara senandung rendah yang merdu dari arah dapur. Raja berdiri mematung di ambang pintu dapur, dan pemandangan di depannya sukses membuat jakunnya naik turun. Ia menelan ludah dengan susah payah. Di sana, di balik meja island dapur, Kembang sedang sibuk memotong sayuran. Ia hanya mengenakan tank top sutra tipis bertali spageti yang mengekspos bahu mulusnya secara terang-terangan, dipadukan dengan celana pendek satin yang saking pendeknya hampir tertutup oleh celemek transparan yang ia ikat di pinggang. Rambutnya dicepol asal-asalan ke atas, memperlihatkan tengkuknya yang jenjang dan berkeringat tipis karena uap masakan. Kembang bergoyang pelan mengikuti irama lagu yang ia nyanyikan sendiri, seolah-olah tidak sadar ada sepasang mata yang sedang "menikmati" setiap lekuk tubuhnya dari belakang. Raja berdehem keras, berusaha memecah sihir yang mulai menguasai kepalanya. Ia melangkah mendekat, sengaja mengeraskan langkah kaki di atas lantai marmer. “Kembang,” tegur Raja, suaranya terdengar serak khas orang baru bangun tidur atau mungkin karena desakan dari dalam dirinya. Kembang menoleh, memberikan senyum cerah yang tampak terlalu polos untuk pakaian seseksi itu. “Oh, selamat pagi, Bos. Sudah lapar? Sebentar lagi sarapan Adel dan Bos siap.” Raja tidak melihat ke arah masakan. Matanya tertuju pada tali tank top Kembang yang sedikit melorot di bahu kiri. “Pakaian macam apa ini? Kamu sadar ini di rumah siapa? Bagaimana kalau Adel bangun dan melihatmu berpakaian seperti … ini?” Kembang justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti denting lonceng. Namun terasa sangat provokatif di telinga Raja. Ia meletakkan pisaunya dan berputar sepenuhnya menghadap Raja, menyandarkan pinggulnya pada pinggiran meja dapur yang tinggi. “Adel masih tidur lelap, Bos. Aku cuma pengen ngerasa nyaman saat memasak. Lagipula…,” Kembang melangkah satu langkah lebih dekat, aroma bunga lili dan bumbu dapur menyatu dengan cara yang anehnya sangat memikat. “Sekarang cuma ada kita berdua di dapur. Kenapa Bos sewot banget? Apa baju ini ganggu … konsentrasi Bos pagi-pagi begini?” Ia merapikan celemeknya, sebuah gerakan yang justru membuat bagian d**a pakaiannya semakin menonjol. Matanya menatap Raja dengan binar jenaka, seolah-olah tahu persis bahwa pria di depannya sedang berjuang keras untuk tetap bersikap otoriter. Raja menyipitkan mata, berusaha menjaga jarak meski tangannya gatal ingin menarik wanita ini menjauh dari kompor. “Ganti pakaianmu setelah ini. Aku nggak mau melihatmu berkeliaran dengan kain seminim itu … lagi.” Kembang mencebik kecil. Ia menyilangkan lengan di d**a dan mencoba bernegosiasi. “Aku harus pakai pakaian yang kayak gimana? Satu lemari modelan gini semua, Bos. Lagian aku nggak yakin, kalau aku ganti yang lebih tertutup detak jantung bos bisa kembali normal,” goda Kembang di akhir kalimatnya. Raja benar-benar tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Wanita di depannya jauh lebih mengerikan daripada monster. Bisa-bisanya ia terus menggoda secara terang-terangan seperti ini. Jika tidak karena Adel, Raja pasti sudah mengusirnya dari sini. Saat itu, Nita datang dan melihat ketegangan di antara keduanya. Namun, ia tak berani ikut campur. Raja menoleh ke arah pengasuh Adel itu, lalu membuka suara. “Nita, berikan seragam yang sama seperti yang kamu pakai itu kepada Kembang. Biar dia bisa lebih sopan dalam berpakaian,” titah Raja yang akhirnya memilih berlalu dari dapur. Kembang hanya tersenyum kecil melihat sang bos dengan muka merahnya. Sementara Nita menyenggol lengan Kembang pelan. “Mbak Kembang, suka banget bikin Pak Bos marah,” katanya. “Dia nggak marah, Nit. Dia cuma … kesel aja soalnya harus nahan-nahan diri.” “Nahan diri kenapa, Mbak?” Kembang hanya menggendikkan bahu sambil tersenyum. Ia lantas meminta pakaian yang sama yang dikenakan Nita. Sesuai dengan perintah Raja tadi. *** Raja keluar dari kamar dengan kemeja slim-fit yang sudah rapi dan tas kerja di tangan. Saat itu, ia berharap Kembang sudah mengganti pakaiannya dengan seragam yang sama seperti Nita. Namun, begitu kakinya menginjak lantai ruang makan, langkah Raja mendadak lumpuh. Kembang sedang menata piring di atas meja. Seragam yang pada tubuh Nita terlihat longgar dan membosankan, justru berubah menjadi bencana visual di tubuh Kembang. Karena ukuran tubuhnya yang lebih sintal dan proporsional, kain katun itu tertarik kencang di bagian d**a, menciptakan ketegangan pada kancing-kancing kecilnya yang seolah-olah hampir menyerah. Rok selutut yang biasanya terlihat sopan, kini tampak lebih naik karena pinggul Kembang yang berisi, menonjolkan sepasang kaki jenjang yang tetap terlihat menggoda meski tanpa alas kaki. Raja menelan ludah. Ia merasa seperti baru saja masuk ke dalam jebakan yang ia buat sendiri. Alih-alih meredam gairahnya, seragam itu malah memberikan kesan forbidden fantasy yang jauh lebih berbahaya. Kembang menyadari kehadiran pria itu. Ia berbalik, tangannya yang memegang serbet bergerak merapikan pinggiran roknya yang terus-terusan merosot naik. Namun gerakan itu justru semakin menarik perhatian Raja. “Bos?” Kembang menghampiri, menatap Raja dengan ekspresi yang dibuat seolah-olah sangat polos. Ia berdiri cukup dekat sehingga Raja bisa melihat bagaimana kain seragam itu memeluk lekuk pinggangnya dengan sempurna. Kembang memutar tubuhnya perlahan, memamerkan bagaimana seragam itu membungkus tubuhnya dari belakang hingga depan. “Aku udah pakai seragamnya seperti permintaan Bos. Tapi sepertinya ukurannya sedikit … menantang?” Raja hanya diam, tangannya mencengkeram pegangan tas kerja hingga buku jarinya memutih. Alih-alih ingin jantungnya aman, tapi kenapa rasanya seperti senjata makan tuan. “Sialan! Umpatnya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD