“Pa … ini Mama.”
Tanpa menunggu lagi, bocah kecil itu menghambur ke pelukan Kembang. Hangat dan begitu menenangkan. Sepersekian detik lamanya, Kembang hanya bisa terdiam. Tubuhnya kaku karena merasa ada sesuatu yang tiba-tiba menghangatkan hatinya. Refleks tangannya terangkat dan mengusap punggung Adel lembut.
“Mamaa ….”
“Adel lepaskan! Itu bukan Mama.”
Raja mengikis jarak dengan keduanya. Dengan hati-hati, ia menarik lengan Adel agar melepaskan dekapannya pada Kembang. Namun, tangan mungil itu malah makin erat memeluk lehernya.
“Ini Mama, Pa. Ini Mama Adel.”
“Bukan, Adel!”
Gadis kecil itu pun mulai terisak. Kembang lalu menatap Raja sekilas. Mencoba memberi kode pada pria itu untuk tidak memaksanya melepas dekapan. Dan biarkan insting wanita yang berkerja.
Raja akhirnya manut. Ia mundur sejengkal dan membiarkan bocah kecil itu memeluk Kembang sampai puas. Hingga beberapa waktu kemudian, Adel melepaskan dekapannya.
“Mama jangan ke mana-mana lagi. Adel nggak mau ditinggal lagi.”
Isaknya masih terdengar. Bahkan membuat hati Kembang tersayat tanpa sadar. Jemarinya kemudian terulur pelan, mengusap air mata di pipi putih gadis itu pelan.
“Sayang, Tante bukan Mama. Tante cuma … temannya Papa kamu,” jelasnya singkat.
“Bukan teman. Ini Mama.”
“Adel, dia bukan Mama. Masuk ke kamar sekarang!”
Raja sedikit membentak. Membuat tangis Adel makin kencang. Kembang yang melihatnya jadi tidak tega. Namun, ini benar-benar salah jika diteruskan.
Raja lantas memberi perintah pada pengaruh untuk membawa Adel masuk ke kamar.
“Sayang, ayo masuk. Kita harus ke sekolah,” katanya.
“Sus, itu Mama. Itu Mama Adel.”
“Bukan, Sayang. Itu temennya Papa.”
Melihat gadis itu masih terisak, hati Kembang makin tak keruan. Ada sesuatu yang tiba-tiba mencubit hatinya dengan keras.
Setelah gadis itu berlalu, Kembang mulai bicara.
“Tega banget, Bos. Misahin anak sama Mamanya. Dia sampai nangis kayak gitu.”
Raja membuang napas kasar, lalu menimpali dengan cepat.
“Bukan urusan kamu. Naik ke mobil. Aku antar kamu pulang,” katanya lebih seperti perintah.
Kembang tak bisa berkata-kata lagi. Ia mengekor pada Raja dan sesekali masih menengok ke belakang. Ke arah lorong yang kosong.
***
Mobil melaju meninggalkan kompleks elit itu. Pagi Samarinda masih sepi. Di dalam kabin, sunyi terasa berat. Kembang menyandarkan punggung, menatap keluar jendela. Wajah Adel terus terbayang.
Raja memecah keheningan setelah sekian kilometer perjalanan. “Kalau Sultan tanya,” katanya datar, matanya tetap ke jalan, “bilang aja kamu baru pulang pagi ini.”
Kembang mengangguk. Tanpa menoleh ia menimpali dengan dehaman. “Hmm.”
Ia masih kesal. Bukan hanya pada Raja semata. Melainkan pada rasa yang tiba-tiba tumbuh dan tak ia undang. Rasa yang membuat pekerjaannya terasa jauh lebih rumit pagi ini.
Setelah beberapa waktu, mobil berhenti di depan Mall Robinson.
“Di sini,” ucap Raja singkat.
Kembang mengangguk lemah, lalu membuka pintu. Sebelum turun, ia menoleh setengah badan. “Makasih … udah dianterin. Kalau boleh kasih saran, Bos. Bocah sekecil itu, sebaiknya tinggal sama Mamanya. Bukan pengasuh atau Papa galak seperti kamu. Mentalnya nggak bagus.”
Raja tak menimpali.
Merasa terabaikan, Kembang akhirnya turun. Ia menutup pintu dengan kasar. Ya, ia tahu. Saran dari wanita seperti dirinya pasti tidak akan berarti.
Wanita itu berdiri sejenak, seraya menarik napas panjang. Sebelum akhirnya menyebrang jalan dan masuk ke gang.
Malam itu ia datang sebagai pekerjaan. Pagi ini, ia pulang membawa sesuatu yang tak bisa ia beli dengan uang.
***
Siang itu, Samarinda terasa begitu berisik. Mobil Raja berhenti di depan gedung Rajawali Borneo Corp setelah mengantar Kembang. Kaca gedung memantulkan cahaya matahari yang dingin dan angkuh. Persis seperti kesan yang selalu orang lihat dari sang pemilik.
Raja turun dari mobil dengan langkah seperti biasa, tegas dan penuh perhitungan. Beberapa karyawan menunduk demi menyapa bos mereka. Sapaan pagi terdengar serempak, tapi Raja hanya membalas dengan anggukan kecil. Bukan sombong, ia memang terbiasa seperti itu.
Lift membawa pria itu naik ke ruangannya. Begitu ia masuk, Raja langsung tenggelam oleh pekerjaannya sampai beberapa jam kemudian ketukan di pintu terdengar.
Pria itu mendongak sedikit. Merasa tidak punya janji temu dengan siapa pun hari ini. Lantas, siapa tamunya?
Pintu ruang kerja Raja dibuka tanpa permisi. Sultan masuk sambil nyengir, jaket disampirkan di bahu, wajahnya terlalu cerah untuk ukuran siang di Samarinda yang terik. .
“Wah,” katanya sambil duduk seenaknya di sofa. “Aura kantor hari ini beda, ya.”
Raja bahkan belum sempat mempersilakan rekannya itu masuk, tapi Sultan sudah menyapa dengan kerandomannya. Ia menutip map di meja, lalu melirik Sultan singkat.
“Kamu mau apa hari ini ke sini?”
Sultan tertawa kecil. “Santai. Aku cuma mau memastikan kabar.”
Ia mencondongkan badan lebih dekat dengan Raja yang duduk menyandar pada bahu kirinya. “Katanya semalam kamu bawa Kembang pulang?”
Raja menegakkan bahu, lalu balik bertanya.. “Dari siapa kamu dengar?”
“Dari semua orang,” jawab Sultan cepat. “Satu Samarinda kayaknya ikut penasaran, Ja,” kelakarnya.
Raja mendengkus agak kesal, lalu menimpali. “Nggak terjadi apa-apa.”
Nah, di situlah Sultan justru tertawa lebih keras. Kejujuran sang rekan benar-benar membuat perutnya tergelitik hebat.
“Justru itu!” katanya sambil menepuk lutut. “Gila, Ja. Cewek secantik itu, dan kamu cuma ngajak tidur. Secara … tidur beneran.”
Raja menatapnya tajam. Agak terganggu dengan tawa keras Sultan yang berlebihan. “Kalau mau ngejek, mending keluar.”
“Tunggu dulu!” Sultan mengangkat tangan. “Aku cuma mau bilang satu hal.”
Ia lantas menyeringai dan menyudahi tawanya yang kencang. “Setidaknya sekarang orang-orang tahu, burung kamu masih ada gunanya.”
Raja membeku. “Apa maksudmu?”
“Bukan buat dipakai,” jawab Sultan santai. “Tapi buat bukti. Bukti kalau kamu bisa, cuma nggak mau aja.”
Beberapa detik sunyi. Lalu Raja menghela napas panjang.
“Kamu keterlaluan.”
Sultan berdiri, masih dengan tawanya yang makin berderai. “Mungkin. Tapi aku nolong reputasi kamu, Bos. Lain kali, kalau mau pura-pura normal, jangan kebablasan kelihatan suci.”
“Bacot!”
Sultan masih terkekeh. Ia merasa sangat terhibur dengan ekspresi wajah Raja yang demikian kesal karena ulahnya. Sampai akhirnya, ponsel pria itu berdering. Nita–pengasuh Adel–yang menelepon.
“Iya,” sahut Raja cepat.
“Pak, Adel demam tinggi. Dia ngigau manggil mama terus. Ini saya bawa dia pulang ke rumah dan sudah panggil dokter,” katanya.
“Oke, aku pulang sekarang!”
Melihat sang rekan panik, Sultan akhirnya melempar tanya.
“Ada apa, Bro?”
“Adel sakit. Aku harus balik sekarang,” kata Raja.
“Aku ikut!”
Sultan meraih jaketnya, lalu berjalan cepat di belakang Raja yang langsung menuju ke parkiran. Keduanya bersama-sama menuju ke kediaman Raja demi melihat keadaan Adel.
Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya mereka tiba. Keduanya lari ketika melihat dokter sudah sampai lebih dulu dan memeriksa bocah kecil itu. Setelah beberapa saat, baru dokter menemui Raja yang berdiri di depan pintu.
“Gimana, Dok?”
“Demamnya cukup tinggi, Pak,” jawab dokter lugas. “Kemungkinan besar karena infeksi virus. Saya sudah kasih obat penurun panas dan vitamin. Tapi ada satu hal.”
Raja menegang.
“Adel mengalami emotional distress,” lanjut dokter itu. “Dia gelisah, tidurnya tidak nyenyak, dan terus memanggil satu sosok yang dia rasa sebagai sumber rasa aman.”
Raja terdiam.
“Secara medis, demamnya bisa turun. Tapi secara psikologis, anak ini butuh ditenangkan. Kalau tidak, demamnya bisa naik lagi malam nanti.”
Sultan yang sejak tadi bersandar di dinding, melipat tangan di d**a, ia akhirnya bersuara, “Dia manggil mama terus, ya, Dok?”
Dokter mengangguk. “Iya.”
Sultan mengangguk. Ia bertanya hanya untuk memastikan pendengarannya masih normal. Adel memang manggil Mama sejak tadi.
Setelah dokter pamit, suasana di lorong mendadak sunyi. Raja menunduk, mengusap wajahnya kasar. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menghantam tanpa aba-aba setelah tadi ia membentak gadis itu.
Sultan lantas memecah keheningan.
“Mama yang dia maksud … Kembang?”
Raja tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Lalu ia mengangguk pelan.
“Nggak heran,” gumam Sultan. “Anak kecil itu bukan bodoh. Dia ngerasa aman sama orang yang lembut ke dia.”
Raja menoleh tajam. “Jangan mulai.”
“Aku serius,” balas Sultan, kali ini nadanya turun. “Dia kesepian. Terus paginya dia ketemu perempuan yang hangat. Ya jelas otaknya nyantol ke situ.”
Raja terdiam lagi. Pandangannya mengarah ke pintu kamar Adel yang tertutup. Sementara Sultan mendekat setapak.
“Ja,” katanya lebih pelan, “kalau cuma buat nenangin anak sakit, harga diri kamu nggak bakal runtuh.”
Raja menghela napas berat, lalu menoleh ke arah Sultan. “Dia bukan siapa-siapa.”
“Justru itu,” sahut Sultan cepat. “Dia bukan siapa-siapa, jadi nggak ribet.”
Ia menyeringai tipis, lalu memberikan usul pada sang rekan.
“Panggil aja Kembang ke sini. Kalau Adel butuh mama versi sementara, ya sudah. Tinggal kasih kontrak kerja. Beres.”
Raja menatap lantai. Ada perang kecil di kepalanya. Antara logika, ego, dan wajah bocah kecil yang terisak sambil bilang ini Mama Adel.
Beberapa detik berlalu. Akhirnya, Raja merogoh ponselnya. Sultan lantas tersenyum kecil.
“Tenang,” katanya. “Sekali-sekali, burung kamu nggak cuma jadi bahan gosip. Bisa juga jadi keputusan waras.”
Raja lantas meliriknya tajam.
“Bacot.”