Bab 5 – Suapan Penuh Debaran

1309 Words
“Hah? Sumpah? Demi apa?” Seruni terkejut bukan main ketika mendengar penuturan Kembang barusan. Wanita itu sedang berkemas karena sesuai kesepakatan ia akan tinggal di rumah Raja untuk merawat Adel. Ya … setidaknya begitu isi kontraknya. “Gila! Pak Bos beneran rela keluar duit segitu banyak buat anaknya. Dia pasti sayang banget sama tuh bocah,” imbuh Seruni. “Ya, gitulah, Run. Dia bahkan nggak ragu sama sekali pas aku kasih nomer rekening Naya ke dia. Saat itu juga. Habis aku selesai tanda tangan kontrak, dia langsung transfer,” jelas Kembang. Wanita itu kembali sibuk memasukkan beberapa pakaiannya ke tas. Sementara Seruni masih melongo keheranan. Ia menggeleng, lalu mengambil duduk di tepi ranjang Kembang. “Semesta emang nggak bisa ditebak. Kemarin kamu butuh uang dan Tuhan … Dia langsung kirim sepaket sama keluarga kecil yang butuh kasih sayang dan belaian. Tuhan Maha Baik.” Seruni mengusap dadanya. Seolah-olah ia adalah ahli ibadah yang sedang menasihati para pendosa. Sementara Kembang hanya menggeleng lemah, lalu menimpali. “Nggak waras,” bisiknya. Selesai mengemas pakaian, Kembang buru-buru turun usai pamit pada Seruni. Taja sudah menunggunya di bawah. Untuk kemudian kembali ke kediamannya menjalankan pekerjaannya. *** Malam turun perlahan. Rumah itu kembali sunyi, tapi kali ini tidak setegang siang tadi. Adel sudah terbangun. Demamnya turun, pipinya mulai berwarna, meski tubuh kecilnya masih tampak lelah. Ia duduk bersandar di ranjang, memeluk bantal kecil sambil menonton kartun tanpa suara. Kembang duduk di sisi ranjang. Tangannya sesekali mengusap rambut Adel, memastikan bocah itu benar-benar baik-baik saja. “Laper?” tanyanya lembut. Adel mengangguk pelan. “Iya, Ma.” Kembang menoleh ke arah pintu. Pengasuh Adel standby di sana seperti biasanya.. “Mbak Nita?” Pengasuh itu muncul tak lama kemudian. “Iya, Mbak.” “Bisa tolong ambilin makan buat Adel?” pinta Kembang. Nita mengangguk, lalu keluar. Tak sampai lima menit, ia kembali membawa dua boks makanan katering lengkap dengan sendok plastik. Kembang melirik isinya. Nasi putih, ayam saus entah apa, sayur pucat yang terlihat terlalu rapi untuk disebut masakan rumahan. Ia membuang napas kasar, lalu menggeleng lemah. “Makanan kayak gini mana enak,” gumamnya tanpa sadar. Nita tersenyum kaku. Ia mencoba menjelaskan semuanya dengan perlahan. “Biasanya memang pesan catering, Mbak. Pak Raja nggak pakai ART buat masak. Soalnya nggak mau banyak orang ada di rumah. Adel juga nggak nyaman.” Kembang mengangguk paham, lalu menoleh ke Adel. Ia menurunkan nada suaranya ketika bicara pada gadis itu. Lembut dan dibuat ceria. “Adel mau makan apa?” tanyanya. “Mama–” ia berhenti sepersekian detik, lalu melanjutkan, “—aku masakin.” Mata Adel langsung membesar. “Beneran?” “Iya. Adel maunya makan apa?” tanya Kembang lembut. “Telur ceplok sama kecap,” jawabnya cepat. “Terus sop.” Kembang tersenyum. Senyum yang kali ini terasa lebih tulus dari sebelumnya karena bocah itu sudah bisa kembali ceria. “Oke. Tunggu sebentar, ya.” Ia berdiri, mengambil boks katering itu, lalu menyerahkannya kembali ke Nita. “Biar aku aja yang masak malam ini. Ada bahan makanan, kan, di kulkas?” tanya Kembang pada Nita. “Ada, sih, Mbak. Tapi nggak lengkap. Soalnya saya juga jarang masak. Pak Raja udah pesenin catering sama semua penghuni rumah. Termasuk Adel juga,” jelas Nita. Kembang membuang napas dengan kasar lagi. Kali ini, ia benar-benar yakin jika semesta sedang bercanda. Bagaimana mungkin ada keluarga yang demikian tidak terurus dan ia masuk secara tiba-tiba untuk memperbaiki semuanya. Wanita itu lantas bangkit, lalu menyingkap lengan kausnya hingga ke bahu. Dengan telat kuat, ia berkacak pinggang. “Ya, udah. Let's go kita cek kulkas. Adel sayang. Tunggu di sini sebentar, ya.” Adel mengangguk lemah. Senyum gadis itu benar-benar terbit sempurna. Rona bahagia muncul setiap kali ia melihat interaksi Kembang yang menyenangkan. Kembang membuka pintu kulkas pelan. Bunyi dengung mesin menyambutnya dengan menyedihkan. Ia menunduk, memeriksa isinya satu per satu. Sepasang telur, seikat daun bawang yang sudah mulai kering di ujungnya, dan beberapa botol air mineral. Itu saja. “Ya ampun,” gumamnya lirih. “Ini kulkas apa etalase penderitaan, sih?” Ia menutup pintu kulkas, lalu menoleh ke arah Nita yang berdiri tak jauh darinya. “Mbak, di depan kompleks sini ada supermarket nggak?” tanyanya. Nita mengangguk. “Ada, Mbak. Jalan dikit. Biasanya orang sini belanja ke sana.” “Oke. Aku ke sana sebentar.” Tanpa banyak bicara, Kembang meraih tas kecilnya. Ia hanya mengganti sandal rumah dengan sandal jepit. Mengenakan kaus longgar yang tadi ia pakai, kaus pria, panjang sampai menutup setengah pahanya. Lalu melangkah keluar. Tak lama kemudian, ia kembali dengan dua kantong belanja. Sayur segar, ayam, tahu, dan beberapa bahan lain. Napasnya sedikit terengah ketika sampai di halaman. Dan di sanalah Raja berdiri. Pria itu baru turun dari mobilnya. Tatapannya otomatis jatuh ke arah Kembang. Rambut wanita itu terikat asal, wajahnya polos, tapi langkahnya mantap. Kaus longgar itu jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan cara yang … mengganggu fokus. “Dari mana kamu?” tanya Raja. “Belanja buat masakin Adel.” Raja memperhatkan penampilan Kembang lebih lama dari yang seharusnya. Wanita itu … benar-benar di luar pikiran Raja. Mana bisa ia pakai kaus begitu dan keluar dari rumah. “Lain kali,” katanya akhirnya, suaranya rendah, “jangan keluar rumah tanpa seizin saya.” Kembang menoleh cepat. Alisnya terangkat sedikit heran. “Aku cuma belanja, Pak.” “Di kompleks ini bukan cuma orang baik,” jawab Raja datar. “Dan penampilan kamu … bukan penampilan orang yang seharusnya jalan sendirian malam-malam.” Kembang tersenyum kecil. Bukan malu, tapi geli memdengar ucapkan Raja. Seolah-olah pria itu begitu kuno. “Catat,” katanya ringan. “Dasar bos batu bara protektif.” Wanita itu mencebik, lalu berjalan masuk lebih dulu meninggalkan Raja. Sementara pria itu masih mematung di halaman. Ia menoleh kiri dan kanan, berharap tidak ada tetangga kompleksnya yang melihat penampakan Kembang yang tak lazim. Lalu masuk dan mengekor pada Kembang. Dapur kecil itu mendadak hidup. Kembang bergerak cekatan, seperti sudah akrab dengan ruang sempit dan peralatan seadanya. Pisau beradu dengan talenan, minyak mendesis pelan, aroma bawang tumis mulai menyebar. Ia bahkan bersenandung kecil. Lagu lama yang nadanya naik turun, suaranya ringan, tanpa beban. Raja duduk di ruang tengah usai mengganti pakaiannya. Laptop terbuka berisi berkas-berkas di pangkuannya. Jemarinya sesekali bergerak, seolah-olah sibuk. Padahal pandangannya lebih sering melayang ke arah dapur. Ke cara Kembang mencicip masakan, mengerutkan hidung sebentar, lalu menambah garam. Ke caranya menyibakkan rambut ke belakang telinga tanpa sadar. Tak lama, Kembang memanggil Adel. Ia membantu bocah itu duduk rapi, lalu menyuapkan suapan pertama dengan sabar. Adel yang biasanya pilih-pilih makanan, kini tampak lahap. Mulut kecil itu bergerak cepat, matanya berbinar usai mengunyah makanannya. “Enak, Ma. Mama masaknya enak,” katanya. Kembang tersenyum, lalu menimpali dengan anggukkan. “Pelan-pelan, nanti keselek.” Sementara itu, di ruang tengah, Raja menelan ludah. Ia pura-pura menatap layar, padahal telinganya siaga. Saat itu, Adel berhenti mengunyah. Ia melirik ke arah ayahnya yang duduk di sofa. “Papa liatin kita terus,” celetuknya polos. “Papa pengen, ya?” Raja tersentak. Ia segera mengalihkan tatapannya ke laptop, lalu menjawab dengan tenang.“Papa udah kenyang,” jawabnya cepat, Kembang menoleh. Senyum jahil menyelinap di sudut bibirnya. Ia bangkit, membawa sendok berisi nasi dan lauk, lalu melangkah mendekat. Tanpa aba-aba, ia berdiri di samping Raja dan menyodorkan sendok itu ke depan mulutnya. “Aaa ….” “Kembang, apa-apaan kamu ini?” ucap Raja agak panik. Tapi kemudian Adel memberi instruksi. “Buka mulutnya, Pa.” Masih dengan agak bingung Raja akhirnya manut. Ia menatap Kembang yang tersenyum seraya mengunyah suapan dari wanita itu. “Enak, kan?” Raja menelan suapan itu. Hening sejenak. Ada yang terasa berbeda. Bukan di lidahnya, tapi di dadanya. Bagaimana mungkin ia yang seorang bos besar diperlakukan sedemikian rupa? Raja menatap Adel dan Kembang sekilas, lalu berkata pelan pada dirinya sendiri, “Sejak kapan aku nurut sama orang lain?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD