Pria berjas hitam yang tadi menolong Miranda kembali masuk ke lift. Ia baru keluar dari sana ketika lift berhenti di lantai 7. Dengan langkah gagah, ia berjalan menyusuri koridor. Wajahnya tetap terlihat tampan walaupun bagian dagunya dipenuhi bulu yang lebat. Mengabaikan tatapan pengunjung lainnya, ia tetap melihat ke depan.
“Rey, dari mana saja kamu?” Seorang pria berambut cepak menghampiri sambil bertanya dengan nada berbisik.
“Habis dari bawah, tadi ada cewek yang lagi butuh pertolongan.” Reynard menyahut, juga dengan suara pelan.
“Reynard … Reynard, kita ada acara jamuan makan malam kamu malah ngga tahu pergi ke mana.” Pria itu geleng-geleng sambil berjalan bersama Reynard.
“Mike, cewek tadi butuh pertolongan. Ia hampir saja dijual oleh temannya sendiri. Ada-ada saja pergaulan zaman sekarang,” sahut Reynard menjelaskan.
“Rey, sejak kapan kamu peduli sama hal seperti itu? Acara makan malam kita tadi ‘kan penting banget,” keluh Mike, asisten Reynard.
Reynard tak menjawab, ia mempercepat langkahnya. Tepat di depan pintu sebuah kamar, ia menempelkan kartu ke sensor. Begitu pintu terbuka, Reynard segera masuk. Ia tak memedulikan apa yang dikatakan Mike.
“Rey, aku terpaksa harus berbohong tadi.” Mike masih terus mengoceh di belakang Reynard. Ia kesal karena sahabatnya itu terlalu menggampangkan urusan bisnis demi seorang perempuan yang belum dikenal.
Reynard masih mengabaikan Mike. Ia membuka jas hitam yang sejak tadi melekat di tubuhnya. Berdiri di depan cermin, Reynard membuka janggut lebat serta rambut palsu yang sengaja ia kenakan untuk menyamarkan identitas dirinya yang sebenarnya. Dengan kelima jarinya, Reynard merapikan rambut lurus hitamnya.
“Rey, dari tadi aku bicara malah dicuekin.” Mike menghempaskan tubuhnya di ranjang yang empuk. Tanpa melepaskan sepatunya, ia berbaring di sana.
“Mike, cewek tadi mau dijual sama temannya sendiri. Apa aku harus diam saja?” tanya Reynard setelah beberapa waktu diam saja.
“Pasti dia cantik, makanya kamu peduliin.” Mike menebak.
“Ya, cewek itu cantik, tapi aku membantunya bukan karena itu. Coba seandainya cewek itu adikmu sendiri. Apa kamu diam saja?”
Mike mengaku kalah. Ia akhirnya dapat memaklumi alasan Reynard yang tidak bisa ikut acara jamuan makan malam. “Kamu kenalan ngga sama cewek tadi?” tanya Mike.
Reynard menggeleng. “Cewek itu gugup banget, Mike. Mana mungkin aku ajak dia kenalan,” sahut Reynard malas. Ia kemudian mengambil sebuah botol air mineral berukuran tanggung dan membuka penutupnya, lalu menenggak separuh isinya.
“Aku jadi penasaran sama cewek itu. Reynard Martin saja mengakui kecantikannya. Berarti dia memang benar-benar cantik.” Mike sengaja memancing Reynard. Ia ingin sahabat sekaligus bosnya itu bisa melupakan Nayla yang sudah pergi entah ke mana. Reynard tak menjawab. Ia berbaring di ranjang, bersebelahan dengan Mike. Sebuah guling menjadi pemisah antara mereka.
“Cantikan mana sama temannya Mita?” pancing Mike.
“Mita siapa?” Reynard bertanya sambil mencoba mengingat gadis mana yang sedang dimaksud Mike.
“Restoran Gracia.” Mike menjawab pendek. Ia yakin Reynard mengerti apa maksud dari jawabannya.
“Oh, cewek berambut ikal itu maksudmu?” Reynard memastikan.
“Iya, benar, cewek itu maksudku,” sahut Mike. Ia bersemangat karena Reynard mau diajak berbicara mengenai seeorang perempuan.
“Cantikan kamu,” jawab Reynard malas. Ia mengelak tak mau menjawab pertanyaan Mike.
Mike memandang Reynard dengan tatapan asing. Ia mengangkat kedua bahunya, geli akan apa yang dikatakan bosnya. “Rey, jangan bilang orientasi seksualmu berubah semenjak ditinggal Nayla,” ujar Mike. Cepat ia turun dari ranjang dan pindah berbaring di sofa.
Reynard tertawa keras melihat reaksi yang ditunjukkan oleh sang asisten. Ia memang belum ada niat untuk mencari pengganti Nayla yang masih ia nanti kedatangannya.
Mike tak lagi melanjutkan usahanya. Ia tahu bahwa Reynard adalah pria tulen, hanya saja bosnya itu tidak mau membahas mengenai gadis lain selain Nayla.
***
Miranda masih duduk termangu di dalam taksi yang ditumpanginya. Kedua tangannya memegang erat dompet dan ponsel di atas pangkuannya. Tatapan aneh dari sang supir membuatnya merasa jengah. Ia kemudian menutupi dadanya yang terbuka dengan rambut panjangnya yang kini menjadi lurus.
Tak berapa lama kemudian, taksi yang membawa Miranda tiba di depan gang rumahnya. Ia tak mau sang supir mengantarnya sampai ke depan rumah. Setelah memberikan sejumlah uang, gadis itu segera turun dari taksi.
Taksi melesat meninggalkan Miranda yang masih berdiri mematung. Gadis itu memutar otak agar mamanya tak curiga dengan penampilannya yang terlihat sangat terbuka. Sebuah ide muncul di benaknya.
Miranda membuka kunci layar ponselnya. Ia kemudian menelepon Mario untuk meminta pertolongan darinya.
“Rio, Kakak lagi di gang depan rumah. Kamu datang ke sini ya,” ucap Miranda setelah Mario menjawab panggilannya.
“Oh, iya, Kak,” sahut Mario tanpa banyak bertanya.
“Rio, bawain jaket kamu, ya.” Miranda hampir lupa mengatakan hal penting yang sebenarnya ingin ia sampaikan.
“Jaket? Iya, Kak. Kakak tunggu sebentar, ya.” Mario menjawab lalu menutup sambungan telepon.
Miranda menengok ke kiri dan ke kanan sambil menggigit bibirnya, takut ada orang yang mengenalnya. Tak berapa lama, senyuman mengembang di bibir indahnya, setelah melihat Mario datang menghampiri.
“Kakak?” Mario melihat Miranda dengan ekspresi heran. Penampilan Miranda jauh berbeda dari biasanya.
“Rio, sini jaketnya.” Miranda tahu bahwa Mario terkejut melihatnya.
“Iya, Kak,” jawab Mario cepat. Ia melepaskan jaket yang sedang dipakainya, lalu memberikannya kepada sang kakak. “Kakak habis dari mana, pakai baju kayak gitu?” tanya Mario, tak tahan akan rasa penasarannya.
“Dari pesta ulang tahun teman,” jawab Miranda cepat sambil mengancing jaket Mario yang kini ia pakai.
Mario kembali menilik sang kakak, dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Pandangannya berhenti di kaki telanjang Miranda.
“Sepatu Kakak tadi copot tumitnya, jadi Kakak tinggal saja di tempat pesta.” Miranda terpaksa harus kembali berbohong agar Mario tidak curiga kepadanya.
Kakak beradik itu pun berjalan berdampingan menuju ke rumah. Sepanjang jalan, keduanya tak bicara. Miranda memang sengaja diam agar Mario tidak mengajukan pertanyaan lagi kepadanya.
“Kamu pulang, Mir?” tanya Tina saat melihat Miranda berjalan di ruang tamu. “Bukannya kamu mau menginap di rumah temanmu?” lanjutnya.
“Eh, iya, Ma. Aku … aku ngga jadi nginep, karena besok harus masuk kerja lagi,” jawab Miranda asal. Ia menyesal karena harus membohongi mamanya.
“Sudah jam sebelas malam, kamu langsung istirahat saja.” Tina berkata setelah melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam yang menempel di dinding.
“Iya, Ma. Aku ke kamar dulu, ya, udah capek banget. Mama juga tidur, ya.” Miranda bersyukur karena mamanya sama sekali tak mempermasalahkan riasan yang masih menempel di wajahnya.
Setelah pamit kepada mamanya, Miranda segera masuk ke kamar. Sarah, adik bungsunya sudah tertidur pulas. Pelan, Miranda membuka pintu lemari pakaian dan mengambil baju tidur. Ia kemudian beranjak ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan membersihkan wajahnya.
Sebelum tidur, Miranda memberanikan diri untuk menghubungi Merry yang sudah berkali-kali mencoba meneleponnya.
“Kak Mer,” sapa Miranda ketika sambungan teleponnya sudah diterima oleh Merry.
“Kamu dari mana saja sih, Mir? Calon tamu kamu jadi marah sama Kakak. Banyak cewek yang mau dekat sama dia, kamu malah kabur. Kamu lagi butuh duit, ‘kan?” Merry langsung menumpahkan kekesalannya.
“Kak, aku ngga bisa ikut permainan Kakak. Mulai sekarang kita lebih baik ngga berteman, Kak.” Miranda menyahut dengan suara yang bergetar.
“Apa? Apa Kakak salah dengar?” Suara Merry terdengar meninggi. Ia tersinggung dengan apa yang dikatakan Miranda.
“Kak, ternyata aku salah menilai Kakak. Selama ini aku pikir Kakak tulus berteman denganku. Ternyata Kakak malah mau menjualku.”
“Kakak cuma mau nolongin kamu, Mir.”
“Kalau begitu, Kakak ngga perlu bantuin aku. Biar aku cari cara lain supaya mama bisa berobat.” Miranda menjawab dengan tegas. Kebimbangan yang sempat ia rasakan hampir membuatnya menjadi seorang gadis panggilan.
“Baiklah, aku akan lihat siapa yang nantinya bisa menolong kamu. Kalau suatu hari nanti kamu minta tolong, jangan harap aku bersedia.” Suara Merry terdengar sinis.
Miranda tak ingin lagi mendengar kelanjutan kebohongan Merry. Tanpa basa-basi, ia segera memutuskan sambungan telepon dengan kasar.