Diselamatkan Reynard

1590 Words
Beberapa jam dihabiskan Selin untuk mendandani wajah Miranda. Rambut ikal gadis itu kini sudah berubah menjadi lurus. Wajah polosnya pun sudah dilapisi berbagai jenis alat kosmetik. Ada harga ada rupa. Harga mahal yang dikeluarkan Merry setimpal dengan penampilan Miranda yang terlihat sangat berkelas. Selin bertepuk tangan setelah ia selesai mendandani Miranda. Gaun hitam polos semata kaki berlengan spaghetti menempel di tubuh Miranda yang tampak sempurna. Belahan rendah mencetak jelas bagian depan tubuh gadis itu. “Sempurna!” seru Selin sambil terus bertepuk tangan. Hal itu diiyakan oleh pegawai dan pengunjung salon yang lain. “Miranda, kamu terlihat seperti seorang bintang film!” Merry sangat puas akan penampilan Miranda. Miranda hanya mampu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata yang membulat sempurna. Gadis itu hampir tak percaya kalau sosok di dalam cermin adalah dirinya. “Mir, aku yakin, pria itu akan menambah bayaranmu setelah melihat penampilanmu ini,” bisik Merry. Miranda bergidik ngeri. Ia tak percaya kalau dirinya akan segera melepas mahkota yang selama ini dijaga dengan baik. “Ya, Kak,” sahut Miranda pelan. “Kamu tunggu di sini. Kakak bayar dulu.” Miranda kembali duduk di sofa. Setelah selesai mengurus masalah pembayaran, Merry duduk di samping Miranda. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. “Mir, pria ini yang akan membantumu.” Merry menyodorkan ponselnya agar Miranda dapat melihat foto pria yang akan ia layani. “Kaya, ganteng, dan masih muda. Ia adalah seorang CEO di perusahaan A.” Merry memberitahu identitas pria dalam foto. Miranda terpana melihat sosok yang ada di dalam foto. Ia sempat menduga bahwa pria yang akan ia layani adalah seorang pria tua bertubuh tambun. Namun, walaupun pria itu terlihat tampan, Miranda tetap merasa berat hati. “Kak, aku masih takut,” ucap Miranda pelan sambil mengembalikan ponsel kepada Merry. “Mir, yang perlu kamu ingat adalah kondisi mamamu. Lagipula, pria itu tidak buruk, ‘kan? Justru kamu beruntung bisa menghabiskan malam dengannya. Dia itu adalah pria idaman para wanita,” sahut Merry mencoba meyakinkan Miranda. “Sekarang, telepon mamamu dan bilang kalau kamu akan bermalam di rumahku.” “Baik, Kak,” jawab Miranda patuh. Ia mengambil ponsel dari tas lusuhnya dan menelepon mamanya. “Sudah?” “Sudah, Kak. Mama kasih izin,” jawab Miranda. Ia menyesal karena harus membohongi mamanya. “Sekarang kita akan menemui pria itu,” ujar Merry pelan. Miranda mengikuti Merry meninggalkan salon. Sepatu heels yang dipakai Miranda membuat gadis itu berjalan dengan lebih hati-hati. Sudah jam tujuh malam ketika kedua perempuan itu masuk ke mobil Merry. Di dalam perjalanan, Merry mengajari banyak hal kepada Miranda. Ia meminta agar Miranda bisa relax dan menikmati permainan pria yang akan ia layani. Miranda yang masih sangat polos tentu saja tak bisa menutupi kegugupannya. Jalanan yang ramai membuat Merry berkali-kali harus menghentikan laju mobilnya. “Ahh … bisa-bisa kita terlambat,” keluh Merry saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Satu jam kemudian, mobil Merry tiba di sebuah hotel bintang lima. Terburu-buru, ia mengajak Miranda keluar dan memberikan kunci mobil kepada petugas valet. “Ayo cepat, Mir.” Merry menggandeng lengan Miranda agar gadis itu bisa berjalan lebih cepat. Beberapa saat kemudian, Miranda dan Merry sudah menginjakkan kaki di lantai lima. Sebuah ruangan terlihat ramai oleh pengunjung yang duduk sambil menikmati makanan dan minuman yang tersedia di meja berbentuk lingkaran. Alunan musik romantis menjadi pemanis, menambah kesan mewah di ruang tersebut. “Mir, kamu jangan gugup, ya. Santai saja,” ucap Merry sambil melepaskan genggamannya pada lengan Miranda. “Tak akan ada orang yang mengenalimu di sini, jadi jangan khawatir,” lanjutnya. Miranda menganggukkan kepalanya pelan. Ia mengamati isi ruangan dan benar saja, tak ada wajah yang dikenalnya di sana. Merry meninggalkan Miranda sebentar untuk berbicara dengan seorang resepsionis. Ia terlihat menganggukkan kepala saat resepsionis menunjuk pada satu arah. Setelah itu, ia kembali mendekati Miranda. “Meja yang dipesan untuk kita ada di pojok sana, Mir. Ayo, ke sana,” ajak Merry. Miranda semakin gundah gulana. Dengan langkah pelan, ia mengekori Merry dari belakang. Melewati para tamu yang lain, Miranda menunduk karena merasa malu dan minder. Miranda duduk berdampingan dengan Merry. Ia menggenggam tas kecil yang sebelumnya sempat dipinjamkan Merry untuk menunjang penampilannya. Lain dengan Miranda yang gugup, Merry mulai gelisah karena orang yang ditunggu tak kunjung tiba. Ia mengamati jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Kok belum datang juga, ya?” gumam Merry. “Ngga biasanya dia terlambat,” lanjutnya lagi. “Kakak sudah sering ketemu orang itu?” tanya Miranda. “Beberapa kali aja sih, Mir,” sahut Merry sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. “Kakak kenalin gadis-gadis juga ke orang itu?” Miranda mulai curiga kepada Merry. “Iya, kenapa memangnya, Mir?” Merry kembali menjawab tanpa melihat Miranda. Ia sedang mencari nomor kontak orang yang akan dilayani Miranda. “Ngga ada apa-apa, Kak,” jawab Miranda. Ia yakin bahwa Merry adalah seorang mucikari. Dalam hati, Miranda mengutuki dirinya sendiri karena terlalu polos dan mau mengikuti perkataan Merry. Miranda mendengar Merry yang sedang berbicara melalui panggilan telepon. Dalam percakapannya, Miranda dapat mendengar bahwa pria itu akan datang sekitar setengah jam lagi. “Miranda, betapa bodohnya dirimu. Bagaimana mungkin kamu bisa terjebak oleh perempuan licik seperti Merry? Pergilah, jangan termakan bujuk rayunya.” Suara hati kecil Miranda berbisik. Miranda mulai memutar otak, bagaimana caranya agar ia bisa meninggalkan tempat itu sebelum pria yang akan membelinya tiba. Sebuah ide muncul di gadis cantik itu. Ia meminum jus yang baru saja diletakkan seorang pelayan di atas meja. Dengan cepat, ia mengosongkan gelas itu. “Habis, Mir?” tanya Merry heran. “Iya, Kak. Kalau sedang gugup aku sering merasa haus,” bohong Miranda yang dipercayai oleh Merry. Lima menit berselang, Miranda memulai sandiwaranya. Ia memegang perut dengan kedua tangannya. Wajahnya dibuat meringis agar terlihat seperti orang yang kesakitan. “Kamu kenapa, Mir?” Merry mengamati Miranda sambil mengernyitkan dahinya. “Aku … aku … sakit perut, Kak. Aku butuh pergi ke toilet,” keluh Miranda. “Mau buang air besar?” “Iya, Kak,” jawab Miranda sambil mengangguk pelan. “Kenapa harus sakit perut sekarang sih, Mir? Sebentar lagi tamu kita datang loh,” decak Merry kesal. “Ngga tahu, Kak. Habis minum jus itu aku sakit perut.” Miranda kembali berbohong untuk menyempurnakan skenario yang ia buat. “Ya udah, kamu ke toilet sana. Kalau ngga tahu tempatnya, kamu bisa tanya pelayan.” Air muka Merry berubah masam. “Iya, Kak. Kakak tunggu di sini, ya. Jangan tinggalin aku.” Miranda mengambil ponsel dan dompetnya dari tas kecil yang dipinjamkan Merry. Ia lalu mendekati seorang pelayan untuk menanyakan di mana toilet berada. Setelah itu, ia mencoba melangkah cepat meninggalkan area makan malam. Di depan pintu ruang makan malam, Miranda melepaskan sepatu heels yang sejak tadi menyulitkan langkahnya. Ia membuang sepatu itu di sebuah tong sampah yang berada di dekat lift. Dengan terburu-buru, ia menekan tombol lift tanpa memerhatikan apakah tombol yang ia tekan mengarah naik atau turun. Pintu lift terbuka dan Miranda melesat masuk ke sana. Namun, gadis itu terkejut karena ia menabrak seseorang bertubuh tinggi dan tegap dengan stelan jas berwarna hitam. “Lain kali harus lebih berhati-hati.” Suara bariton seorang pria mengejutkan Miranda. “Ma-maaf,” ucap Miranda. Perlahan ia mengangkat kepala untuk melihat wajah sosok pria yang ada tepat di depannya. Pria itu berkulit putih berhidung mancung dengan rambut ikal berwarna hitam. Area dagunya ditumbuhi janggut yang lebat. Pupil matanya yang berwarna coklat membuatnya terlihat seperti orang asing. Miranda bernapas lega karena pria yang berada di dalam lift bersamanya sama sekali tak mirip dengan pria yang akan datang untuk ia layani. Keduanya pun terdiam sambil menunggu lift membawa mereka ke lantai dasar. “Kamu tak memakai sepatu?” tanya pria asing yang berdiri di samping Miranda. “Aku kesulitan jika harus memakai heels.” Miranda menjawab jujur. “Apa kamu sedang terburu-buru?” tanya pria itu lagi. “Ya, aku sedang menghindar dari seseorang yang tak ingin aku temui,” jawab Miranda. Tak butuh waktu lama dan lift sudah berada di lantai dasar. Kedua orang itu segera keluar dari dalam lift. Namun, Miranda sangat terkejut karena sosok pria yang ia lihat di dalam foto ternyata sedang berjalan ke arahnya. Spontan, Miranda memegang lengan pria asing yang tadi satu lift dengannya. “Tolong aku, pria itulah yang sedang kuhindari. Temanku ingin menjualku kepadanya.” Miranda berbisik sambil menunduk. Pria asing tersebut sedikit terkejut. Merasa iba, ia menuruti permintaan Miranda. Ia bahkan merangkul dan membenamkan kepala gadis itu di dadanya, sehingga Miranda merasa aman. “Dia sudah masuk ke lift,” bisik pria itu, “Tapi biarkan aku merangkulmu seperti ini sampai ke pintu lobi.” Miranda dan pria asing itu berjalan pelan. Ketika sudah tiba di lobi, barulah pria itu melepaskan Miranda. “Terima kasih, Tuan,” ucap Miranda sambil membungkukkan tubuhnya. “Sama-sama. Nona, lain kali kamu harus lebih berhati-hati.” “Baik, Tuan,” sahut Miranda. “Aku akan selalu mengingat kebaikan Tuan.” Pria itu mengangguk lalu meninggalkan Miranda yang sedang sibuk mencari taksi online di aplikasi ponselnya. Tak lama kemudian, sebuah taksi berwarna biru tiba di depan lobi. Setelah mengamati plat nomornya, Miranda mengetuk kaca jendela dan masuk ke taksi itu. “Ayo, cepat jalan, Pak. Aku sedang terburu-buru.” “Baik, Non,” sahut si pengemudi taksi. Melihat wajah Miranda yang tegang, ia langsung mengemudi taksinya dengan cepat. Dalam perjalanan, Miranda tak henti bersyukur karena Tuhan mengirimkan malaikat penolong tepat pada waktunya. Ia sangat penasaran akan sosok pria yang tadi membantunya. Berkali-kali mencoba mengingat, tetapi ia sama sekali tak tahu siapa pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD