Godaan Carla

1363 Words
Reynard masih berada di lokasi syuting. Ia duduk di sebuah sofa sambil menunggu Mike menjemputnya. Lama menunggu membuatnya sedikit kesal. Ia kemudian mengambil ponsel dari sakunya dan menelepon Mike, akan tetapi sambungannya gagal. Operator menjawab bahwa ponsel Mike sedang tidak aktif. Kesal, Reynard memukul lengan sofa yang empuk. Perutnya keroncongan, minta diisi. Mengingat menu yang dipesannya kian membuat Reynard lapar. Tak lama kemudian, seorang wanita cantik berbaju minim mendekati Reynard. Ia duduk di hadapan Reynard dengan posisi yang sengaja mengundang. “Lagi nunggu jemputan, Rey?” tanyanya dengan nada sedikit menggoda. “Iya,” jawab Reynard malas. Sengaja, ia membuka ponselnya dan sama sekali tak menatap wanita itu. “Emm … mau pulang bareng aku?” tawar wanita itu. “Ngga usah,” sahut Reynard. Ia sengaja memainkan game di ponselnya untuk menghindari wanita itu. Wanita itu beranjak dari kursinya dan duduk di lengan sofa yang diduduki Reynard. Dengan berani, ia memegang pundak pria tampan itu dan sedikit meremasnya. “Carla, apa-apaan sih kamu?” Reynard menghindar dari Carla dan berpindah ke sofa yang ada di sebelahnya. “Rey, kamu pasti kesepian ya?” tanya Carla masih dengan nada manja. “Bukan urusanmu!” Reynard mendengus kesal. “Sejak Nayla pergi, kamu belum pernah dekat sama siapa pun. Kamu sudah dewasa, Rey, pasti perlu pendamping, ‘kan?” Carla duduk di sofa yang tadi diduduki Reynard. “Carla, jangan coba-coba dekatin aku. Aku ngga mau kamu sakit hati nanti,” sahut Reynard. “Tapi, Rey, kalau kita lagi syuting kamu sepertinya tertarik sama aku.” Carla tidak mau menyerah. Ia sudah lama menyukai Reynard, bahkan sebelum Nayla menghilang. “Carla, kamu itu seorang aktris. Seharusnya tahu batasan, mana akting mana dunia nyata. Kalau kamu tertarik sama aku, maaf, aku tidak tertarik sama kamu. Jadi, percuma saja kalau kamu coba menggodaku.” Reynard menatap Carla tajam. Ia lalu bangkit dari sofa dan pergi meninggalkan Carla yang kesal. Reynard menghentikan sebuah taksi dan pulang ke rumahnya. Ia masih kesal karena Mike yang lupa menjemput, juga karena Carla yang dengan terang-terangan menggodanya. Ia memasang wajah masam dan mengabaikan sang pengemudi taksi yang beberapa kali mencoba mengajaknya berbicara. Suara dering dari ponsel Reynard terdengar, memecahkan keheningan. Setelah melihat nama yang tertera di layar, ia segera menerima panggilan masuk. “Halo, ada apa Bu?” tanya Reynard begitu ia mendengar sapaan dari si penelepon. Begitu orang di seberang sana menjawab, Reynard berkali-kali menyahut sambil menganggukkan kepala. Percakapan antara Reynard dengan si penelepon tidak berlangsung lama. Setelah memutuskan sambungan telepon, ia segera berbicara dengan pengemudi taksi. “Pak, kita ganti tujuan, ya.” “Ya, Pak. Kita mau ke mana?” tanya si pengemudi. “Kita Yayasan Hope,” jawab Reynard cepat. “Yang di jalan Cemara, Pak?” Pengemudi taksi bertanya untuk memastikan. “Betul, Pak,” sahut Reynard sambil menganggukkan kepala. Si pengemudi taksi berbalik arah menuju alamat yang baru saja dikatakan Reynard. Arah yang berbeda, membuat perjalanan menjadi sedikit lebih lama. Sesampainya di Yayasan Hope, Reynard meminta pengemudi taksi untuk menunggu sampai urusannya selesai. Reynard disambut oleh seorang penjaga keamanan yang segera mengantarnya ke kantor ketua yayasan. Ia berdiri dan mengetuk pintu yang dilengkapi papan nama. Nama Anna Magdalena tertera di papan tersebut. Ia adalah pemimpin yayasan Hope, tempat Reynard menjadi donatur selama beberapa tahun belakangan. “Selamat sore, Bu,” sapa Reynard setelah ia mendorong pintu kantor itu. “Selamat sore, Nak Rey,” sahut Anna. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Reynard yang masih berdiri di pintu. “Silakan duduk,” ucap wanita paruh baya itu. Reynard duduk berhadapan dengan Anna. Setelah sedikit berbasa-basi, Reynard segera bertanya, “Ada yang bisa saya bantu, Bu?” “Iya, Rey. Beberapa hari lalu ada seorang gadis yang datang untuk meminta donasi. Ibunya terkena kanker p******a dan sedang membutuhkan dana untuk biaya operasi dan kemoterapi,” lapor Anna. “Boleh saya lihat dulu profilnya, Bu?” tanya Reynard lagi. “Ya, tentu saja, Nak Rey. Ini file-nya sudah Ibu siapkan.” Anna menyerahkan sebuah map biru kepada Reynard. Reynard membuka map tersebut dan langsung membukanya. Map itu berisi identitas pasien berikut semua salinan hasil pemeriksaan dari rumah sakit. “Jadi, Bu Tina ini seorang janda, Bu?” tanya Reynard sambil menutup map biru dan mengembalikannya kepada Anna. “Statusnya belum sah menjadi janda, karena suaminya pergi begitu saja tanpa ada kabar. Anaknya ada tiga, dua perempuan dan satu laki-laki. Anaknya yang pertama dan kedua sudah bekerja, tetapi berpenghasilan rendah. Anaknya yang ketiga masih sekolah,” jawab Anna. Reynard mengangguk paham. Setelah beberapa saat diam dan berpikir, ia menjawab, “Baik, Bu. Saya akan memberikan donasi untuk Bu Tina.” Anna tersenyum senang. Ia terharu mendengar jawaban Reynard. “Terima kasih, Nak Rey. Beberapa orang sudah saya hubungi, tetapi saat ini mereka belum bisa menolong.” “Ya, Bu, saya ingin berbagi kepada orang yang benar-benar membutuhkan. Besok, saya akan utus asisten saya untuk membawakan cek ke sini,” sahut Reynard. “Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu, Nak.” Anna memegang tangan Reynard erat. “Terima kasih untuk doanya, Bu.” Reynard menjawab lalu tersenyum. Beberapa saat kemudian, ia mengucapkan salam perpisahan kepada Anna dan meninggalkan tempat itu dengan taksi yang tadi membawanya. *** Sesampainya di rumah, Reynard langsung berteriak memanggil Mike. Asistennya itu biasanya mampir ke rumah Reynard, sebelum pulang ke rumahnya sendiri. Benar saja, Mike sedang menonton TV berukuran raksasa yang menempel di dinding ruang santai. “Oh, jadi kamu di sini asyik nonton ya?” Reynard memukul pelan pundak Mike. Terkejut, Mike menurunkan kedua kaki dari meja. Ia berdiri menghadap bosnya. “Sudah pulang, Bos?” sambut Mike. “Aku nungguin kamu di tempat syuting, kamu malah pulang duluan.” Reynard yang kesal menghempaskan tubuhnya di sofa. “Waduh.” Mike menepuk dahinya. “Aku lupa, Rey,” lanjutnya. Reynard melipat kedua tangannya. Wajahnya masih tak enak dilihat. “Rey, aku punya kabar bagus nih.” Mike mencoba mengalihkan perhatian Reynard. Ia duduk di lantai, sementara bosnya duduk selonjoran di sofa. “Apa?” tanya Reynard malas. “Tadi aku restoran, tapi sudah tutup. Lalu aku ketemu sama Mita dan temannya itu. Jadi, aku antar mereka pulang,” jawab Mike. “Oh, jadi kamu lupa jemput karena gadis-gadis itu? Gara-gara kamu telat, aku digodain sama Carla yang centil itu.” Reynard semakin kesal mendengar laporan Mike, terlebih lagi karena mengingat perlakuan Carla padanya. Mike tak putus asa untuk membujuk bosnya. “Rey, aku minta maaf ya. Lain kali aku ngga akan lupa untuk jemput.” Mike berjanji sambil mengacungkan jadi telunjuk dan tengahnya secara bersamaan. “Ponsel jangan lupa di-charge.” “Siap, Bos,” sahut Mike. “Bos, ternyata temannya Mita namanya Miranda,” lapor Mike lagi. Ia berharap laporannya itu bisa membuat kekesalan Reynard berakhir. “Si gadis berambut ikal itu maksudmu?” Reynard mengubah posisinya, dari berbaring menjadi duduk tegak menghadap Mike. Dalam hati, Mike bersyukur karena kabar yang dibawanya bisa memancing reaksi positif dari bosnya. “Benar, Bos. Namanya cantik seperti orangnya ‘kan, Bos?” pancing Mike sambil tersenyum iseng. Reynard sedikit tersenyum lalu menggumamkan nama Miranda.”Ya, namanya bagus,” jawabnya. “Lain kali, aku ikut ke restoran.” Mike tertawa keras mendengar permintaan Reynard. “Baik, Bos,” sahutnya. Reynard segera mengontrol dirinya. Ia tak mau kekagumannya kepada Miranda terlihat mencolok. “Mike, besok kamu ada tugas penting,” ucap Reynard untuk mengalihkan perhatian Mike. Ia tahu bahwa Mike ingin bicara lebih banyak mengenai Miranda. “Tugas apa, Rey?” tanya Mike. “Ada pasien kanker p******a yang butuh biaya operasi dan kemoterapi. Aku akan menjadi donatur untuknya.” Reynard bercerita. “Kamu kenal orangnya, Rey?” tanya Mike. “Ngga, Mike, tapi tadi aku sudah lihat profilnya. Ibu itu sudah lama ditinggal pergi sama suaminya, kasihan sekali.” Reynard menarik napasnya dalam dan mengembuskannya perlahan. “Semoga bantuanmu bisa menyelamatkan ibu itu, Rey,” harap Mike. Seketika, ia juga ikut merasa kasihan kepada pasien yang sama sekali tak dikenalnya itu. Reynard dan Mike sempat mengobrol sebentar sebelum akhirnya Mike pulang ke rumahnya. Sepulang Mike, Reynard segera masuk ke kamarnya. Ia kemudian membuka brankas yang ada di balik lemari pakaian dan mengambil dua tumpuk uang pecahan seratus ribuan yang akan dibawa Mike ke yayasan Hope.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD