Bukan Mimpi Belaka

1258 Words
Reynard sudah terbiasa hidup seorang diri di rumahnya. Untuk urusan bersih-bersih, ia menyewa seorang asisten rumah tangga yang hanya datang di akhir pekan. Ia sengaja melakukan hal tersebut karena ia benar-benar jarang berada di rumah. Jam berbentuk lingkaran yang ada di dinding kamar Reynard sudah menunjuk pukul 6 pagi. Reynard segera bangun dan membersihkan diri. Setelah itu, ia menelepon Mike dan menyuruhnya untuk membeli nasi ayam Hainan dari restoran Gracia. Suara klakson mobil terdengar di halaman rumah Reynard. Reynard yang sedang menonton berita di layar kaca segera bangkit dari duduknya. Ia berlari kecil menuju ke pintu dan membukanya. Ia menunggu Mike yang sedang berjalan meninggalkan mobil. “Kamu datang tepat waktu, Mike. Aku sangat lapar,” ujar Reynard sambil mengambil paper bag yang ada di tangan asistennya itu. Mike geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. “Rey … Rey, bukannya aku yang disambut,” gumamnya sambil mengikuti langkah Reynard dari belakang. Reynard tak merespon gumaman Mike. Ia malah langsung melenggang ke dapur. Setelah meletakkan box makanan di meja makan, ia segera melahap makanan kesukaannya tersebut. Mike pun tak mau kalah. Ia mengambil box yang tersisa dan ikut melahapnya. Kedua pria dewasa itu tak saling bicara, hanya menikmati makanan mereka saja. “Menu sarapan dari restoran Gracia memang yang paling enak,” ujar Mike sambil menyeka ujung bibirnya dengan kertas tisu. “Bener banget kamu, Mike,” sahut Reynard setuju. “Hari ini masih syuting di tempat kemarin, Rey?” tanya Mike sambil menyandarkan tubuhnya di kursi makan. “Iya. Nanti habis antar aku, kamu ke Yayasan Hope untuk ketemu Bu Anna. Aku ada titipan buatnya.” Reynard memberitahu tugas apa yang harus dilakukan Mike. “Siap, Bos,” jawab Mike. Setelah Reynard selesai bersiap-siap, keduanya pun meninggalkan rumah besar bergaya Victoria dengan d******i warna putih itu. Dengan mobil hitam milik Reynard, Mike mengantarkan bosnya itu menuju lokasi syuting yang berada di tengah kota. Dalam perjalanan, Mike diberitahu beberapa hal penting yang nantinya harus disampaikan kepada Anna selaku ketua Yayasan Hope. *** Miranda sedang sibuk memasak di dapur restoran Gracia ketika ia dipanggil bosnya. Ia pun meninggalkan dapur setelah menitipkan masakannya kepada Mita. “Pak, ada apa memanggil saya?” tanya Miranda. “Duduk dulu, Mir,” sahut bosnya yang berwajah oriental itu. Miranda menurut. Ia menarik kursi lalu duduk di hadapan sang bos dengan kedua tangan tertaut di atas pangkuannya. “Ada apa ya, Pak?” tanya Miranda. Ia agak cemas karena tak biasanya pemilik restoran itu memanggilnya. “Kamu jangan cemas seperti itu,” ujar sang bos sambil memasang senyuman untuk mengurangi kecemasan Miranda. “Tadi ada telepon dari Anna, katanya dia telepon kamu sejak tadi, tapi ngga diangkat.” “Oh, iya, Pak. Ponsel saya ada di loker,” sahut Miranda. Rasa groginya kian bertambah setelah mendengar bahwa pihak yayasan mencarinya. “Kamu saya kasih izin hari ini. Setelah selesai memasak, kamu boleh ke yayasan itu. Katanya ada hal penting yang mau disampaikan.” Sang bos menjelaskan. Miranda terdiam sejenak lalu menjawab, “Ba-baik, Pak.” Sejak bertemu dengan bosnya, Miranda menjadi serba salah. Ia tak lagi bisa fokus dalam melakukan pekerjaannya. Beruntung, Mita bisa memahami dan mau membantunya. Tepat jam 10 pagi ketika Miranda keluar dari restoran Gracia. Ia menyetop angkutan kota yang melintas di pinggir jalan. Sepanjang jalan, gadis itu berharap agar mendapatkan kabar baik dari Anna, ketua Yayasan Hope. “Stop di sini, Pak,” ucap Miranda kepada pengemudi angkutan kota sambil memegang pundak pria berkulit gelap itu. Begitu angkutan kota yang ditumpanginya berhenti, Miranda segera turun. Ia melangkah pelan sambil merapikan rambut ikalnya yang masih tergerai. Rasa antusias dan gugup bercampur jadi satu. “Aduh!” Miranda hampir terjatuh ketika tanpa sengaja kakinya yang satu menginjak kakinya yang lain. Tali sepatunya pun terlepas. Berjongkok, Miranda mengikat kembali tali sepatunya. Seorang pria yang baru saja keluar dari kantor Anna memerhatikan Miranda. Rambut gadis itu tergerai menutupi wajahnya, sehingga pria itu menjadi penasaran. Ia melangkah mendekat, lalu menegur Miranda. “Maaf, apakah Anda adalah Miranda?” tanya pria itu sambil menunduk. Merasa ada yang memanggilnya, Miranda mendongak. Ia menarik rambutnya dan menyelipkannya ke belakang telinga. “Mike?” ujar Miranda sambil tersenyum. Perlahan, ia bangkit berdiri, berhadapan dengan Mike. “Hai, Mir,” sapa Mike ramah. “Kamu ngapain di sini?” Mike dan Miranda bertanya secara bersamaan. Keduanya kemudian tertawa. “Kamu duluan,” ucap Mike. “Ok, aku ada urusan sama Bu Anna. Kamu sendiri ngapain di sini?” tanya Miranda. Ia sama sekali tak menduga bisa bertemu dengan Mike di tempat itu. “Sama, aku ada urusan dengan Bu Anna,” jawab Mike. “Urusan apa, Mike?” tanya Miranda. “Wah, ini misi rahasia, aku ngga boleh kasih tau kamu.” Reynard memang tak mau urusan donasi yang ia berikan diketahui orang lain. “Oh, iya deh. Kalau begitu, aku langsung ke kantor Bu Anna ya, Mike,” pamit Miranda. “Iya, Mir.” Mike menganggukkan kepalanya. Baru beberapa langkah Miranda berjalan, Mike memanggilnya. Spontan, Miranda berbalik dan melihat pria berambut cepak itu. “Ada apa, Mike?” tanyanya. Mike tersenyum simpul. Malu-malu ia berkata, “Titip salam buat Mita.” Miranda tertawa kecil lalu menyahut, “Siap. Kalau mau ketemu Mita, datang aja ke restoran.” Ia melambaikan tangan kepada Mike dan meninggalkannya yang masih tersipu malu. Langkah Miranda terhenti di depan pintu kantor Anna. Setelah mengetuk pintu, ia kemudian masuk ke kantor. Anna menyambutnya dengan raut bahagia. Wanita paruh baya itu berjalan meninggalkan kursinya dan menghampiri Miranda. “Miranda, Ibu punya kabar baik untukmu,” ujar Anna sambil menarik lengan Miranda dan mengajaknya duduk di sofa berukuran sedang. “Kabar apa, Bu?” sahut Miranda. “Kita mendapatkan donatur untuk pengobatan mamamu, Mir,” lapor Anna dengan mata yang berbinar. “Apa, Bu?” tanya Miranda. “Ada donatur untuk pengobatan Bu Tina, Mir.” Anna mengulangi kalimatnya. Miranda terkejut. Matanya membulat dan mulutnya menganga. “Be-benar, Bu?” tanya Miranda. Ia segera menitikkan air mata ketika Anna mengangguk. “Terima kasih, Tuhan,” ucap Miranda. Ia memeluk Anna erat. “Sebentar.” Anna melepaskan pelukan Miranda lalu melangkah ke mejanya. Ia membuka laci dan mengambil sebuah amplop coklat dan memberikannya kepada Miranda. “Ambil ini, Mir.” Miranda mengambil amplop itu dari Anna dan membukanya. “I-ini apa, Bu?” tanyanya. “Mir, orang itu menitipkan uang ini untuk pegangan selama Bu Tina rawat jalan,” jelas Anna. Miranda mengerjapkan matanya agar air tak lagi mengalir. “Jadi, untuk operasi dan tindakan lainnya bagaimana, Bu?” tanya Miranda. “Kamu tenang saja. Orang itu akan transfer biaya keseluruhan pengobatan Bu Tina langsung ke rumah sakit yang menangani.” Miranda memeluk Anna erat, air matanya mengalir deras. Anna juga ikut terharu. Ia mengelus punggung Miranda lembut. “Bu, siapa malaikat penolong itu?” tanya Miranda setelah ia melepaskan pelukannya dari Anna. “Itu rahasia, Mir. Orangnya tidak mau diekspos,” jawab Anna sambil menggenggam erat kedua tangan Miranda. “Lalu, bagaimana aku bisa berterima kasih kepadanya, Bu?” tanya Miranda lagi. “Ibu akan menyampaikannya. Orang itu memang sudah sering memberikan donasi melalui yayasan kami.” Anna menjelaskan. “Baik, Bu,” sahut Miranda. Ia menyeka matanya dengan kertas tisu yang tersedia di meja. “Mir, kamu segera bawa Bu Tina ke dokter. Segera kabari Ibu berapa biaya yang diperlukan. Ibu akan menyampaikannya kepada orang baik itu.” “Iya, Bu. Aku … aku harus pulang sekarang. Aku harus beri tahu mama kabar baik ini.” Senyuman di wajah Miranda mulai terbit. Ia mencubit pahanya sendiri untuk memastikan bahwa apa yang sedang terjadi adalah nyata, bukan mimpi belaka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD