-5.5-

1402 Words
Sudah lebih dari satu setengah jam mereka berada di jalan, dan Choki memutuskan untuk pergi ke Vila miliknya yang ia rasa aman untuk mereka singgahi saat ini. Dan saat ini Choki kembali memfokuskan dirinya pada jalanan yang sepi saat itu. Tak ada satupun mobil yang lewat di jalan tol itu. Hal itu membuat Choki berspekulasi yang tidak-tidak, bahkan ia merasa bahwa dibalik pohon-pohon yang tumbuh di pinggiran jalan tol itu ada beberapa makhluk (zombie) yang mengawasi mereka, dan tentu hal itu membuyarkan fokus Choki saat ini. Jalanan kala itu sudah terlihat mulai gelap, sore ini awan hitam mulai menyelubungi jalan tol di sana, dan itu membuat suasana semakin memburuk. Terlebih buruk lagi disaat mobil yang mereka kendarai mendadak mati di sana, dan hal itu membuat Raya menoleh menatap Choki yang berusaha untuk menghidupkannya lagi. “apa yang terjadi??” tanya Raya, dan dari cara kedua matanya menatap Choki, seakan ia tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka sebentar lagi. Mendengar pertanyaan itu, Choki segera menoleh menatapnya dan kemudian menggelengkan kepala seraya berucap, “tidak ada apa pun, kurasa kita cuma kehabisan bahan bakar … jadi saya rasa mulai dari sekarang, kita harus berjalan kaki” jawab Choki kepadanya, dan dilihat dari tatapan Raya … terlihat jelas bahwa ia menjadi takut setelah mendengar hal tersebut. Untunglah Choki memahami tatapan itu dan dengan cepat ia berucap, “jangan khawatir, kan ada saya” jawab Choki di sana, dan hal itu membuat Raya menoleh menatapnya yang baru saja berucap kata ‘aku’ di sana. Hal yang jarang diucapkan oleh orang jakarta padanya saat ini, tapi … kata itulah yang setidaknya membuat Raya merasa tenang, hingga akhirnya ia mengangguk mengiakannya. … Kedua mata Choki menoleh ke belakang dan kedepan, ke kanan serta ke kiri, untuk memastikan bahwa kondisi di sana aman bagi mereka untuk keluar dari mobil dan dengan terpaksa berjalan menuju vila Choki yang berada di lembang atas. Setelah ia rasa bahwa kondisi di sana aman, Choki pun menoleh menatap Raya yang tengah mengeratkan genggamannya pada lengan baju miliknya, ia kemudian menganggukkan kepalanya untuk memberi tahukan kepada Raya bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk mereka keluar dari dalam mobil sore itu, Choki pun segera membuka pintu mobil miliknya dan keluar dari sana. Diikuti oleh Raya yang berjalan di sampingnya, Choki mengarahkan revolver miliknya yang ia genggam tepat ke depan, ke arah jalanan yang mereka tuju. Choki tentu yang memimpin perjalanan mereka, kedua langkahnya terlihat begitu hati-hati di sana, dan tak ada yang dapat dilakukan oleh Raya selain berjalan di belakang Choki untuk berlindung padanya. Diliriknya ke kanan dan ke kiri, kedua matanya begitu was-was ketika mereka berjalan di waktu sore yang terasa begitu gelapnya. Suasana yang mencekam yang sama sekali tidak ia inginkan untuk terjadi saat ini.   “berapa lama kita harus berjalan??” tanya Raya berbisik kepada Choki yang kini menolehkan pandangannya sejenak kebalik bahu demi menatap cantiknya wajah Raya yang tengah berjalan tepat di belakang bahunya itu. “saya tidak tahu dengan pasti waktu yang kita butuhkan untuk sampai ke sana, namun butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk kita sampai di sana, jika kita pergi ke sana dengan mobil” jawab Choki kepada Raya, dan dia tahu hal itu pasti membuat Raya merasa sangat gelisah. Terbukti dari kedua tangannya yang menggenggam punggung baju Choki dengan sangat erat. Tak ada hal yang bisa dilakukan oleh Choki saat ini selain melanjutkan perjalanan dengan memfokuskan dirinya ke sekitaran wilayah itu, karena ia rasa bahwa Raya memang harus merasa gelisah, agar dirinya dapat terfokus dengan kegelisahannya sendiri, dan itu dirasa sangat menguntungkan karena ia rasa dengan kegelisahan seperti itu, tentu akan membuat Raya menjadi lebih peka terhadap sesuatu yang mendekati mereka. Karena menurutnya Kegelisahan akan meningkatkan fokus seseorang terhadap apa yang ia gelisahkan. Keduanya terus berjalan menelusuri jalan tol yang begitu sepi, dan nyaris seperti jalanan yang telah mati. Meski seperti itu, tak ada yang bisa mereka lakukan selain berjalan dan terus berjalan di jalan itu, mereka lakukan demikian demi keselamatan mereka sendiri. Berjalan setidaknya akan membuat mereka sampai ke dalam tujuan mereka, dan jika mereka ragu dan berhenti, mungkin saja kematian akan mendekati mereka saat itu juga. Dan ketika sebuah mobil melewati jalanan yang mereka lalui, Choki maupun Raya segera berlari dan melambai-lambaikan tangan mereka untuk setidaknya meminta bantuan kepada pemilik mobil tersebut. “hei!! Heii!!” seru Choki di sana, dan ketika mobil itu berhenti. Raya maupun Choki kini saling beradu pandangan dan berjalan mendekati mobil tersebut. Mereka berdua berhenti tepat di hadapan seorang lelaki yang keluar dan juga menghampiri mereka. “Hei, apa yang sedang kalian lakukan di sini?? kenapa kalian berjalan kaki?? tidakkah itu berbahaya??” tanya lelaki itu seraya mendekati mereka berdua dan hal itu membuat Choki segera menjawab, “kami hendak mencari tempat aman, namun kendaraan yang kami tumpangi kehabisan bahan bakar, dan tak ada cara lain bagi kami untuk sampai ke tempat tujuan kami selain dengan berjalan kaki” jelasnya lagi dan hal itu membuat lelaki yang berada di hadapan mereka pun menoleh sejenak ke belakang, ke arah mobil miliknya sendiri dan kemudian ia kembali menoleh menatap mereka berdua lalu berucap, “kalau begitu ikutlah dengan kami, akan sangat berbahaya jika kalian berjalan di sore yang gelap seperti ini … aku bisa mengantar kalian berdua ke tempat tujuan kalian” ucap lelaki itu seraya mengajak mereka untuk masuk ke dalam mobil mereka, ia pun bahkan menunjuk keduanya dan hal itu membuat Raya merasa senang dan berterima kasih kepada lelaki yang kini tersenyum dan menganggukkan kepala di hadapannya. Ketiganya pun segera melangkah menuju mobil dan kemudian masuk ke dalamnya. Ketika Choki membuka pintu tersebut, ia melihat ada dua anak yang tengah menoleh menatap kepadanya dan Raya saat ini. Satu gadis blasteran yang begitu cantik dan satu lagi adalah anak lelaki yang terlihat begitu serius menatap dirinya dengan kedua tangan yang menggenggam senjata dengan tipe assault rifle di sana, dan hal itu bahkan sempat membuat Choki terkejut karenanya, ia tidak bisa melakukan apa pun hingga ia hanya bisa tersenyum untuk menyapa mereka berdua dengan rasa canggung di sana. Suasana tidak begitu nyaman saat ini, dan hal itu membuat mereka hanya terdiam dengan cukup risih di dalam mobil. Namun, untunglah Choki adalah orang yang bisa setidaknya mau dan berani untuk segera mencairkan suasana dengan menyapa dan berbincang terlebih dahulu, “um … terima kasih atas tumpangannya, saya Choki dan ini adalah teman saya, Raya” ucap CHoki berusaha untuk mencairkan suasana, dan hal itu membuat lelaki yang tengah menyetir di sana pun membalas ucapannya dengan berucap, “aku Haris, dan mereka adalah adik-adikku, Nauval dan Shiren” ucap lelaki itu yang bernama Haris, dan hal itu membuat Choki menganggukkan kepalanya. … Sudah satu jam mereka berada di dalam mobil dan akhirnya mereka pun sampai ke tempat tujuan mereka (vila milik Choki). setibanya mereka di sana, hanya satu kata yang ada di dalam benar Haris, Shiren, Nauval dan Raya saat melihat kondisi vila tersebut, ialah rasa kagum. Hal itu dikarenakan vila milik Choki memiliki ukuran yang cukup besar di sana, dan gerbang yang terpasang pun menggunakan fitur google, jadi mereka tidak perlu membukanya secara manual, ia cukup membuka ponselnya dan memerintahkan google untuk membuka pintu gerbangnya. “i … ini vila milikmu?? atau vila sewaan?” tanya Nauval padanya, dan terlihat jelas dari wajahnya saat ini bahwa Nauval terpukau dengan vila itu. Begitu pula dengan Shiren dan Raya, dan hal itu membuat Haris menggelengkan kepalanya dengan pelan. “ya … ini adalah vila pemberian Ayah Kiki ketika waktu itu Kiki berusia sekitar tujuh belas tahunan lah, dan ini adalah kado terakhir darinya yang dia berikan untuk Kiki” jawab Choki menoleh menatap vila itu, dan ketika mobil sampai tepat di teras vila itu, mereka pun menoleh menatap Choki sebelum akhirnya Haris bertanya, “apakah ada orang lain di sini??” tanyanya dan Choki menggelengkan kepalanya untuk menjawab hal itu, dia menjelaskan bahwa tidak ada siapa pun di vila miliknya ini, dan hal itu membuat mereka merasa lega karenanya. Dan setelah cukup lama mereka berbincang di dalam mobil mengenai apakah aman atau tidak kondisi saat ini, kelimanya keluar dari mobil dengan tenang setelah dirasa bahwa kondisi di sana aman, dan Choki lah … orang yang memimpin mereka untuk berjalan terlebih dahulu di depan mereka semua untuk kemudian menghampiri pintu vila tersebut dan memasukkan sidik jarinya. Setelah pintu vila itu terbuka dengan otomatis, keempatnya pun tidak pernah berhenti untuk tidak terpukau atas kemodernan dari vila milik Choki. …  to be continue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD