-5.4-

1254 Words
(beberapa jam sebelumnya) Keheningan terjadi di dalam mobil yang tengah dikendarai oleh Choki sore itu, setelah kekacauan yang sempat terjadi di jalanan beberapa saat yang lalu, Choki pun akhirnya memutuskan untuk menghindari daerah perkotaan dan masuk ke dalam jalan tol yang ternyata kondisi di jalanan saat itu pun terlihat sepi. Sore itu Mereka tengah berjalan menuju ke Lembang atas, di daerah itu terdapat vila milik Choki. Berkali-kali Choki melirik Raya yang masih senantiasa terdiam duduk di sampingnya, dan hal itu membuat Choki berdehem seraya berucap, “anda baik-baik aja?” tanya Choki seraya menoleh singkat kepadanya yang kini masih tertunduk di sana, mendengar pertanyaan dari Choki membuat Raya menoleh dengan kesal padanya. Dan dari tatapan yang disorotkan oleh kedua matanya ia seperti mengharapkan sesuatu dari Choki saat ini. Hal itu membuat Choki menepikan mobilnya dan terdiam menatap Raya yang kini mulai menangis di hadapannya. Dengan ragu, Choki mengusap bahu Raya dengan lembut, ya … ia tahu, saat ini gadis cantik yang ada di hadapannya ini tengah terpukul. Ia tahu bahwa gadis ini merasa sedih karena harus melihat kejadian mengerikan yang menimpa teman-temannya saat itu. Namun ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi seseorang yang tengah menangis, apalagi seorang gadis cantik sepertinya, hal itulah yang membuat Choki terdiam dan berusaha untuk menenangkan Shiren sebisanya. “kenapa kamu harus selamatin aku?!” sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut Raya membuat Choki mengerutkan dahinya setelah mendengar pertanyaan tersebut. Raya terisak dengan begitu kencang dan ia kembali berucap, “kenapa kamu gak ninggalin aku aja di sana, sama teman-teman aku?!! kenapa kamu harus selamatin akuu?!!” isaknya di sana, dan hal itu membuat Choki terkejut setelah mendengarnya, “jadi anda pikir saya akan setega itu, melihat anda yang menjerit-jerit ketakutan dimangsa oleh teman anda sendiri?! nggak! Saya bukan orang yang seperti itu” ucap Choki padanya, dan terlihat dari raut Choki, ia tidak sepemikiran dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Raya, “bunuh diri di saat seperti ini bukanlah jalan yang baik! saya mungkin gak tahu apa yang tengah anda rasakan saat ini. Tapi anda juga gak tau sedepresi apa saya, ketika saya harus membunuh teman saya sendiri yang sudah berubah menjadi zombie saat itu!” jelas Choki, ia menatap Raya dengan tatapan yang benar-benar tajam … ia berusaha untuk membuat Raya mengerti, bahwa putus asa seperti itu tidak akan menyelesaikan masalahnya, dan hal itu membuat Raya menatapnya dan berusaha untuk menenangkan dirinya yang masih terisak di sana. “maaf … aku cuma takut, kalau kita tidak akan bisa bertahan di sini dan kita akan mati cepat atau lambat, aku takut itu akan terjadi” ucap Raya dengan pelan, dan hal itu membuat Choki menganggukkan kepalanya dan merangkul tubuh Raya untuk kemudian ia membawa tubuh mungil tersebut ke dalam pelukannya, berusaha untuk membuat gadis cantik itu merasa nyaman dan tenang di dalam pelukannya. “jangan takut … tenang aja ya, karena selama saya masih berada di sini, saya gakkan biarin mereka mendekat apalagi ngenggigit kamu” bisik Choki di sana, dan hal itu membuat Raya mengangguk pelan di dalam pelukannya, dan perlahan ia pun membalas pelukan tersebut dengan cukup erat, seolah ia berterima kasih kepada Choki di sana. … Setengah jam sudah berlalu, dan kini mobil pun sudah dijalankan kembali oleh Choki setelah beberapa saat yang lalu Raya sudah terlihat lebih tenang dari yang sebelumnya. “oya, kita belum kenalan ya??” pertanyaan Choki membuat Raya menolehkan kepalanya dan mengangguk pelan di sana. “saya Choki, panggil aja Ki, tapi jangan panggil gue Oki, apalagi Aki!” ucap Choki mengenalkan dirinya sendiri pada Raya yang saat ini tertawa pelan setelah mendengar candaan yang sengaja dibuat oleh Choki tadi, dan hal itu membuat Choki juga ikut tertawa karenanya. “aku Raya … kamu bebas mau panggil aku Ray, Aya atau Ya … terserah Kiki aja” terang Raya di sana, ia tersenyum kepada Choki yang kini mengerutkan dahinya setelah mendengar nama sebutan baru untuknya dari Raya, “Kiki??” tanya Choki, dan Raya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan itu seraya menjelaskan, “Habis kagok  (tanggung), kalau saya harus panggil Kiki dengan sebutan Ki … jadi di kali dua aja ya, nama Ki nya … jadi Kiki” terang Raya, dan hal itu membuat Choki tertawa dan mengangguk dan berucap, “boleh tuh boleh!”ucapnya. Mereka tertawa bersama di dalam mobil itu, dan itu adalah satu-satunya cara yang berhasil untuk mencairkan suasana yang mencekam saat ini. “eum, jadi … kita teh mau kemana??” tanya Shiren menatap Choki yang kini mengerutkan dahinya berpikir, namun beberapa detik kemudian ia pun berucap, “zona aman, setau saya di wilayah bandung juga ada zona aman … jadi kita ke situ aja yah!” jawab Choki, dan mendengar itu Raya pun hanya bisa menganggukkan kepalanya dan mengikuti kemana Choki pergi, meskipun tadi mereka sempat kerepotan dengan suasana jalanan yang begitu ricuh, namun kali ini Raya bisa mengendalikan ketakutannya. Hanya membutuhkan waktu satu jam untuk mereka yang pada akhirnya sampai ke tempay yang dikatakan zona aman. Dengan tenang Choki memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang terlihat sepi itu, “seriusan ini teh tempatnya??” tanya Raya kepada Choki yang kini menoleh ke kanan dan ke kiri lalu kemudian ia mengangguk dan melepaskan safety beltnya, “yang di katain di medsos sih, ya ini tempatnya” jelas Choki kepada Raya, dan ketika ia hendak membuka pintu mobilnya, kedua tangan Raya pun menghentikan pergerakannya dan menahannya untuk tidak keluar dari sana dengan berucap, “ih jangan ih! Kumaha mun boong?! (gimana kalau bohong)” kata yang diucapkan oleh Raya saat itu pun membuat Choki tertegun dan kemudian menoleh menatapnya dengan bingung, ia pun akhirnya bertanya, “maksudnya?? maaf, tapi saya nggak begitu ngerti bahasa sunda” ucap Choki mengungkapkan kepada Raya bahwa ia tidak paham dengan apa yang dimaksudkan dengan Raya saat itu, dan hal itu membuat Raya kembali menegaskan, “gimana kalau lokasi ini teh bukan lokasi yang aman?? gimana kalau itu bohong, Ki! Kan serem kalau kita keluar dan ternyata gak ada siapa-siapa selain zombie yang ada di sekitaran sini” ucap Raya memaparkan kekhawatiranya, yang saat itu membuat Choki terkekeh dan menggelengkan kepala, “nggak mungkin lah” elak Choki kepada Raya yang kini kembali menyahutnya dengan berucap, “kenapa bisa gak mungkin, hayoh??? kalau ternyata teh mungkin, Kiki mau gimana??” dan selaan dari Raya saat itu membuat Choki pun tertegun dan kembali berpikir, ya … bagaimana kalau ternyata yang diucapkan Raya itu benar?? bagaimana jika di luar ternyata tidak ada siapa pun selain zombie?? itulah pikiran-pikiran yang kini mengelilingi otak Choki, “Ki …. Kiki …” panggilan Raya dengan sengaja ia hiraukan, ia masih berkutat dengan pikirannya mengenai hal itu, namun ketika Raya memukul lengannya dan kembali memanggil nama Choki dengan jeritan, “KIKI!!” dan jeritan dari Raya membuat Choki segera menoleh menatap ke arahnya yang kini terlihat terperanjat ketika menatap ke arah depan, dan hal itu membuat Choki pun menoleh dan ikut terkejut ketika satusan Zombie kini berlari dari kejauhan sana menuju ke arah mereka, “Sialan!!” pekik Choki, dengan segera ia menyalakan mobilnya dan menjalankan mobilnya mundur, untuk menghindari mereka dan kemudian ia banting setir untuk berputar dan kemudian menancap gasnya untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Hari itu Choki memiliki satu nilai tambah, mengenai insting seorang wanita, tidak boleh diragukan. Karena mungkin saja mereka lebih peka dari insting seorang lelaki dalam mempertahankan diri. Dan hari itu pun ia menyadari bahwa tidak semua kabar yang ia dapat adalah kabar yang benar, dengan bukti bahwa zona aman tidaklah aman sama sekali.   …  to be continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD