-6.7-

1111 Words
Melihat kediaman Chaki saat itu membuat Haris mengerti, ia mengerti akan kediaman dan kebungkaman Choki saat itu, yang akhirnya membuat Haris berucap, “sorry” kepadanya. “it’s ok, lagian kita juga gak tau apa yang akan terjadi kedepannya, kali aja saya yang akan terjangkit dan kali aja yang ada di sini adalah Dayan … saya rasa takdir bisa saja seperti itu” jelas Choki, dan mendengar hal itu membuat Haris menganggukkan kepalanya, “yaudah, ayo! Kita harus bawa ini semua ke atas” sambung Haris seraya membawa sebagian senjata itu dari sana, dan hal itu juga yang dilakukan oleh Choki, ia membawa beberapa senjata ke atas untuk kemudiam mereka perlihatkan kepada yang lainnya. “apakah kita akan membutuhkan semua senjata ini??” tanya Choki seraya berjalan ke atas membuntuti Haris yang berjalan terlebih dahulu di sana, dan ketika ia melihat kearah Haris yang mengangguk mengiakannya, akhirnya membuat Choki pun tidak merasa menyesal karena telah memperlihatkan senjata-senjata ini padanya. … Sesampainya mereka berdua di atas, kedua mata Choki mendapati Raya dan Shiren telah berganti pakaian dan tengah menyiapkan beberapa makanan serta obat-obatan yang mereka temui di sana, “kalian menemukan kotak obatnya?” tanya Choki, mendengar pertanyaan itu membuat Raya menoleh dan mengangguk, namun kemudian dahinya berkerut setelah menyadari apa yang dibawa oleh keduanya dari sana, “eh, kenapa ada senjata di sini??” tanya Raya, dan hal itu membuat Shiren yang juga menatap mereka mengangguk, sedangkan Nauval yang tengah menoleh menatap ke luar jendela pun segera menoleh menatap keduanya yang berada di sana. “woahh!! dari mana ini semuaa?!!” tanya Nauval dengan antusias, dia berlari mendekati kedua lelaki yang tengah meletakan senjata-senjata itu di atas meja, dan setelahnya ia pun mengambil salah satu granat yang ada di sana, hal itu membuat Haris segera merebutnya dan mengatakan bahwa itu bukanlah mainan, “oke, okee… tau kok” ucap Nauval membela dirinya sendiri, “yah, ini barang yang akan kita bawa untuk besok … apakah perlengkapan yang lainnya sudah kalian siapkan, Shiren?” tanya Haris kepada Shiren yang menganggukkan kepalanya, “semuanya udah siap, tinggal di masukkan ke dalam tas … tapi kita gak nemu tas di sini, yakan kak Raya?” ucap Shiren seraya menoleh menatap Raya yang kini menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang diucapkan oleh Shiren, mendengar hal itu membuat Haris menoleh menatap Choki yang kemudian ia menganggukkan kepala seraya berucap, “tas?? oh, oke … aku simpen itu di loteng, biar aku aja yang ambil ya!” ucap Choki kepada mereka, dan dengan santainya ia pergi dari sana menuju loteng setelah sebelumnya yang lain mengangguk menyetujui hal itu. Kedua mata Haris kini kembali menoleh menatap Raya dan Shiren dan akhirnya ia pun berucap, “kalian udah mandi?” tanya Haris kepada mereka berdua, dan mendengar pertanyaan itu membuat SHiren menganggukkan kepalanya, dan kemudian pandangan Haris pun teralihkan menatap Nauval yang masih terkagum-kagum dengan senjata yang ada di sana, yang akhirnya membuat Haris berucap, “Val, kamu mandi gih! Biar kakak yang jaga di sini, jadi nanti kita gantian jaga” jelas Haris kepadanya, mendengar perintah dari sang kakak, sesegera mungkin Nauval menoleh menatapnya dengan cukup terkejut, “sendiri??!” tanyanya dengan suara yang cukup sumbang, mendengar suara yang sumbang itu membuat Haris mengerutkan dahinya seraya berucap, “iyalah, emangnya kamu mau aku mandiin gitu??” tanya Haris kepadanya yang kini menggelengkan kepala seraya menggoyangkan kedua telapak tangannya untuk menyangkal ucapan sang kakak dan segera membenarkan maksud dari ucapannya, “maksud aku, gak ada yang mau anter gitu?? kan aku juga takut, kalau harus jalan sendirian ke kamat mandi, mana gelap, ada zombie di luar lagi, meski iya vila ini teh keren banget, tapi ya jaga-jaga kan lebih baik di bandingkan bunuh diri!” jelas Nauval panjang lebar, ia melontarkan seribu alasannya agar Haris mau mengantarnya untuk mandi, namun ketika Nauval melihat bahwa Haris tidak sedikit pun berkutik, akhirnya ia hanya menghela nafas dengan kesal di sana, “kenapa?? mau di temani? Ayo! Saya temani” mendengar sebuah suara, membuat Nauval menoleh menatap Choki yang baru saja datang membawa beberapa ransel di sana, dan itu membuat Nauval menghela nafasnya dengan lega seraya berucap, “seriusann kan?? gak akan di tinggal?” tanyanya kepada Choki yang kini menganggukkan kepalanya untuk menjawab hal itu, dan karenanya Nauval pun mengangguk menanggapi dan kemudian berucap, “ayo kak!” ajaknya kepada Choki yang terkekeh dan berjalan mengikuti langkah Nauval untuk pergi ke kamar mandi. Melihat tingkah kekanakan yang ditunjukkan oleh Nauval membuat Haris menggelengkan kepalanya, ia belum pernah melihat sifat itu lagi dan itulah sebabnya Haris menggelengkan kepalanya karena tidak percaya bahwa sifat kekanakan dari Nauval kembali terlihat olehnya. Pandangan Haris saat ini tertuju pada Shiren dan Raya yang mulai mengemas barang-barang di sana untuk kemudian di masukkan ke dalam tas-tas yang baru saja dibawa oleh Choki beberapa waktu yang lalu. “kak, bagaimana dengan semua geranat ini?? apakah ini juga di masukkan ke dalam tas? Atau di pisahkan?” tanya SHiren seraya menoleh menatapnya yang kini berjalan menghampiri mereka berdua, “kakak rasa, lebih baik jika kita membaginya secara rata, satu ransel satu senjata dan pelurunya” jelas Haris seraya menunjuk ke arah senjata-senjata itu, “jadi, kalau bom ini teh satu ransel satu bom gitu??” tanya Raya seraya menggenggam salah satu flash bang di sana, dan hal itu diberi anggukan oleh Haris, “terus, kan aku teh gak bisa nembak … tapi tetep harus bawa gitu??” tanya Raya, dan hal itu membuat Shiren menoleh seraya menepuk bahu Raya sebelum akhirnya ia berucap, “tenang, nanti aku ajarin teteh cara pakainya, oke?” ucap Shiren seraya tersenyum kepadanya, mendengar hal itu membuat Raya menoleh menatap senjata-senjata yang ada di sana dan akhirnya meraih sebuah revolver itu lalu berucap, “abdi mah nu ieu we nya?? (saya yang ini saja ya??)” pinta Raya kepada SHiren yang kini mengerutkan dahinya melihat itu, “kenapa cuma yang kecil?? kita belajarnya pakai semuanya juga atuh, biar teteh juga bisa pakenya kalau-kalau pistol ini habis peluru” jelas Shiren di sana dan hal itu membuat Raya menghelakan nafasnya dan kembali berucap, “da yang lain mah keliatannya teh beurat pisan! kan susah atuh mawana (yang lain kelihatannya sangat berat! Kan susah dong bawanya)” ucapan yang dilontarkan oleh Raya membuat Shiren dan Haris tertawa mendengarnya, “nggak, gak akan berat ko!” ucap Haris menimpalinya, dan hal itu membuat Shiren mengangguk menyetujui ucapan dari sang kakak kepada Raya yang kini ikut mengangguk karenanya, “yaudah atuh … ajarin teteh ya, nanti” pinta Raya kepada Shiren yang tersenyum lalu kembali mengangguk dan mengajak Raya untuk kembali mengemasi semua peralatan dan makanan yang mereka butuhkan untuk nanti.  to be continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD