BAB VI

1238 Words
-6.1-Kedua kaki Edwin berjalan menuruni tangga tersebut secara perlahan-lahan. Langkahnya begitu hati-hati sama seperti kedua matanya yang menatap ke kanan dan kiri untuk melihat situasi di sekitarnya. Bangunan itu sangatlah sepi, dan bahkan Edwin yakin bahwa tidak ada siapa pun atau orang sehat mana pun yang tinggal di sini, meski bangunan tersebut terlihat bersih. Namun karena kebersihan itulah yang menjadi kecurigaan bagi Edwin, bahwa tidak ada siapa pun di dalam sana. Edwin tersenyum dengan lega, dan ia hendak beranjak kembali menuju atap untuk melanjutkan perjalanannya, namun ketika ia mendengar suara tangisan anak kecil, kedua langkahnya pun spontan berhenti di sana. Dengan cepat ia menoleh ke arah tepat di mana suara tangisan anak bayi itu muncul.   Edwin membalikkan tubuhnya, dengan perlahan langkah kaki itu mulai berjalan mendekati sumber suara, namun kedua langkahnya kembali terhenti ketika mendengar suara “sstt… jangan berisi sayang, mama kasih ko susunya… sabar yaaa … mamah harus cari makan dulu” suara itu bagaikan bisikan yang lembut di telinga Edwin, dan hal itu membuat langkahnya yang sempat terhenti pun kembali melangkah dan ia timbulkan kepalanya dari balik salah satu tikungan di sana untuk kemudian mendapati seorang wanita yang tengah berusaha menenangkan anak bayinya yang tengah menangis dengan cukup kencang, karena merasa kelaparan saat itu. Dengan penuh keberanian, Edwin berjalan perlahan mendekati sang wanita, dan ketika wanita itu mengetahuinya, sesegera mungkin wanita itu menodongkan sebuah pisau yang cukup tajam kepadanya yang karenanya membuat Edwin dengan segera merentangkan kedua tangan ke atas dan berucap dengan pelan, “hei … hei … tenanglah, s … saya adalah orang yang sama seperti anda” jelas Edwin dengan suara yang pelan, dan hal itu membuat wanita tersebut mengerutkan dahinya ketika menyadari ada seseorang yang ia temui di sana, “dari mana kau masuk?! apakah kau membobol pintunya?!!” tanya wanita itu dengan nada yang kencang, ia juga menghiraukan bayinya yang tengah menangis karena lapar, karena saat ini ia lebih mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua dari lelaki yang baru saja datang mendekatinya, dan terlihat dari raut nya saat ini, wanita itu juga terlihat amat khawatir terhadap apa yang ia tanyakan kepada Edwin saat itu, dan melihat itu Edwin segera menggelengkan kepalanya dan kembali berucap, “nggak … nggak! Saya lewat atap, tapi tenang aja … gak ada zombie di atap itu” ujar Edwin membalas pertanyaan sang wanita yang kini menatap Edwin dengan tatapan bingungnya dan ia pun kembali bertanya, “bagaimana kau bisa berada di atap sana??” tanya wanita itu, ya … pasalnya atap bangunan itu memiliki lantai berjumlah tujuh, dan menurut sang wanita, itu merupakan hal yang mustahil bagi pemuda seperti Edwin, untuk bisa berada di atas sana, namun pertanyaan darinya tidak di hiraukan oleh Edwin yang kini menoleh menatap sang bayi yang terus menangis, dan hal itu membuat Wanita tersebut tersadar dengan bayinya yang masih kelaparan, hingga akhirnya ia mengayun-ayun sang anak dengan sayang, berharap bahwa itu dapat menenangkan dirinya. Namun percuma, sang bayi sangat lapar hingga diayunkan oleh sang ibu pun tidak berfungsi baginya. Melihat hal itu, membuat Edwin segera mengeluarkan beberapa bungkusan roti dari dalam ransel miliknya dan segera memberikan itu semua kepada sang wanita, yang kini menoleh menatap Edwin dengan bingung, “makanlah, agar anak anda bisa mendapatkan s**u darinya” jelas Edwin kepadanya yang kini menoleh menatapnya dengan haru, dianggukannya kepala Edwin padanya yang kini berterima kasih dan meraih bungkusan roti itu. Disantapnya roti itu dengan begitu rakus, dan dari sana Edwin menyadari bahwa wanita itu juga begitu kelaparan saat ini. “terima kasih atas makanannya” ucap wanita itu kepada Edwin yang kini menganggukkan kepalanya, sang bayi pun sudah terlelap setelah sebelumnya mendapatkan asi yang cukup banyak untuk dirinya. Edwin merasa bersyukur, karena ia masih bisa membantu seseorang meski situasinya seperti saat ini. Edwin terduduk tepat di samping wanita itu, yang kini tersenyum menatapnya. “kenapa kakak bisa berada di sini?” tanya Edwin kepadanya, karena jujur saja … ia cukup penasaran dengan wanita ini, gedung itu sangatlah sepi dan bersih, dan satu hal yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa wanita dan bayinya itu bisa sampai berada di sini dengan banyak bungkusan makanan yang sudah habis di sampingnya. “sebenarnya, gedung ini adalah gedung milik suami saya yang belum sempat dibuka ...dua hari kemarin kami memutuskan untuk kemari dan berlindung dari virus itu, saya tidak tahu kenapa suami saya mengajak saya untuk berlindung kemari, tapi saya ikuti saja apa katanya” jelas wanita itu kepada Edwin yang kini menganggukkan kepalanya mendengarkan semua penjelasan dari wanita tersebut, “eum … lalu, kemana suami kaka??” pertanyaan yang muncul dalam benak Edwin pun sengaja ia lontarkan kepadanya yang kini merubah seketika raut wajahnya, raut itu menandakan sebuah kesedihan yang sengaja ia sembunyikan dengan senyum yang dipaksa terpasang di sana, wanita itu menoleh menatap Edwin seraya menggelengkan kepala dan berucap, “semalam suami saya keluar dari sini, karena kita kehabisan makanan … karena saya merasa sangat lapar, tapi sampai saat ini dia belum datang kemari, dan saya juga tidak berani untuk pergi keluar setelah mendengar beberapa suara yang menyeramkan yang datang dari luar gedung ini” jawab Wanita itu seraya menoleh menatap Edwin, dan terlihat dia tahu betul apa yang telah terjadi pada suaminya, hal itu membuat Edwin tidak bisa berkata apa pun lagi, maupun membahas yang lainnya, karena ia merasa bersalah karena telah menanyakan demikian kepadanya. “tapi syukurlah, aku bertemu dengan anda … kebetulan juga anda membawa roti-roti ini, terima kasih banyak ya” ucap Wanita itu kepadanya seraya tersenyum dengan lembut dan hal itu membuat Edwin mengangguk mengiakannya. “tadi saya lupa, namanya siapa?” tanya Wanita itu kepada Edwin yang kini berucap, “saya Edwin, senang juga saya bisa bertemu dengan anda” ucap Edwin seraya memperkenalkan dirinya kepada Wanita itu, dan hal itu membuat sang wanita berucap, “Edwin??” dianggukannya kepala Edwin untuk menjawab pertanyaan dari wanita yang kini kembali berucap, “ saya lili, dan ini adalah anak saya … Dhimas prabu” sambungnya lagi dan hal itu membuat Edwin tersenyum dan menoleh menatap sang bayi yang tengah terlelap di pangkuan ibunya. “jadi, sebenarnya Edwin mau pergi kemana??” pertanyaan yang ditanyakan oleh Lili saat itu membuat Edwin menoleh dan akhirnya menjawab pertanyaan tersebut, “sebenarnya saya mau pergi ke Bandung, karena saya yakin kalau di Bandung masih aman …. soalnya kalau kita lihat dari daerahnya, Bandung itu cukup jauh dari laut” jelas Edwin dan hal itu membuat Lili menganggukkan kepalanya, dan terlihat dari tatapan yang dipasang oleh Lili, Edwin tau bahwa ia juga ingin ikut pergi ke tempat yang lebih aman dibandingkan dengan di sini. Melihat hal itu, membuat Edwin bertanya kepadanya, “apakah anda ingin ikut bersama dengan saya untuk pergi ke sana?” tanya Edwin, meski begitu ia juga mengetahui bahwa hal itu akan sulit dilakukan, mengingat jalan yang ditempuh oleh Edwin adalah melompat dari gedung ke gedung lainnya dan sebisa mungkin untuk tidak menginjakkan kakinya di atas tanah selama masih ada bangunan di sekitarnya. Dan ketika Lili menganggukkan kepalanya untuk menerima ajakan itu, Edwin harus kembali memutar otak agar ia dan Lili bisa pergi dari gedung itu dengan selamat, tanpa ada zombie dan tanpa menyusahkan sang Wanita tersebut. “baiklah, kita akan pergi besok pagi … jadi untuk malam ini, kurasa kita beristirahat lagi di sini” ucap Edwin dan hal itu membuat Lili menganggukkan kepalanya dan tersenyum sebelum akhirnya berucap, “terima kasih lagi ya, Edwin” ucapan itulah yang membuat Edwin tersenyum dan mengangguk mengiakannya. …  to be continue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD