Malam terasa begitu panjang, Nauval yang saat itu tengah terbaring di ruang tengah pun tidak dapat memejamkan matanya barang satu detik pun. Posisi mereka saat ini berkumpul dan tidur bersama di ruang tengah, setelah sebelumnya kedua gadis yang ada di sana menolak untuk tidur di dalam kamar, mereka mengatakan bahwa mereka takut dengan zombie yang bisa saja tiba-tiba datang tanpa mereka ketahui, meski Haris berucap bahwa hal itu tidak mungkin terjadi, namun mereka bersi keras untuk tetap ingin bersama-sama. Yang pada akhirnya membuat mereka mau tidak mau berkumpul dan tidur di ruang tengah dengan menggelar kasur yang telah mereka turunkan dari kamar yang ada di dekatnya.
Nauval, sama sekali tidak bisa tertidur pada malam itu, merasa bahwa ia tidak bisa tidur dengan nyaman, Nauval pun beranjak dari tempatnya dan berjalan dengan perlahan menuju dapur, untuk kemudian menyeduh secangkir coffe hangat di sana. Ia pun terlihat menghela nafasnya berkali-kali, tidak ada yang mengetahui bahwa ia juga merasa panik dan takut dengan adanya virus zombie yang menyerang Negeri ini.
“gak bisa tidur??” sebuah pertanyaan yang terlontar dengan pelan di sana, membuat Nauval menoleh dan mendapati Choki yang berjalan mendekatinya seraya tersenyum, dan hal itu membuat Nauval ikut menyunggingkan senyuman kepadanya yang kemudian mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu.
“ada yang dipikirin??” tanya Choki di sana, dan hal itu membuat Nauval menoleh dengan cepat kepadanya, raut wajahnya seketika terkejut saat mendengar pertanyaannya, melihat itu membuat Choki terkekeh. Pasalnya, tatapan Nauval saat ini seolah bertanya mengenai kenapa bisa Choki mengetahui bahwa dirinya sedang memikirkan sesuatu. Hal itu pun membuat Choki kembali berucap, “karena biasanya kalau orang gak bisa tidur itu berarti mereka sedang memikirkan sesuatu” jelasnya, dan hal itu membuat Nauval menghela nafasnya dan kemudian mengangguk menanggapinya lagi.
“aku hanya sedang merasa khawatir” jelas Nauval, dan hal itu juga terlihat dari raut wajahnya yang kini menampakkan beribu kekhawatiran serta ketidak tenangan yang nampak di sana, dan hal itu membuat Choki menoleh menatapnya dan kembali bertanya,
“perihal apa?? lu bisa cerita kok,gue pasti dengerin” ucap Choki kepadanya yang kini tersenyum mengangguk, merasa berterima kasih karena Choki mau mendengarkan apa yang akan ia ceritakan padanya.
“apa jadinya bila kita tidak dapat bertahan disini?? apa kita juga bakal jadi seperti mereka?” tanya Nauval dan hal itu membuat Choki tertegun ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Nauval kepadanya.
“apa maksudmu?” tanya Choki kepadanya yang kini menggelengkan kepalanya dan kembali berucap,
“aku hanya berfikir saja, karena aku merasa khawatir kalau kita ternyata tidak dapat melakukannya dan tidak dapat menemukan tempat yang aman lagi” jelas Nauval kepadanya yang kini menghela nafasnya lagi, melihat hal itu membuat Choki kini mengusap bahu Nauval guna menenangkan hatinya yang sedang merasa kalut.
“tidak perlu lu pikirkan, Val … semua akan baik-baik saja, dan lu juga akan baik-baik saja” jelas Choki kepadanya yang saat itu tengah menoleh menatapnya dan mengangguk, “kita pasti bisa keluar dari sini, ok?” sambungnya lagi, dan hal itu membuat Nauval menganggukkan kepalanya seraya berucap,
“ok” ucap Nauval dan ia tersenyum bersama dengan Choki di sana, “kaka mau coffe??” tawar Nauval padanya, dan hal itu membuat Choki mengangguk dan membuat Nauval menyeduhkan satu gelas untuknya malam itu. “oya, kak Choki … aku boleh gak gunain senjata-senjata itu, soalnya kak Haris bilang aku harus minta idzin ke kakak dulu” sambungnya lagi, dan hal itu membuat Choki menoleh menatap Nauval dan mengangguk mengiakannya,
“tentu! Pakai aja senjata yang lu bisa!” penjelasan yang dicuapkan oleh Choki pun membuatnya memekik kegirangan, dan hal itu terlihat dari senyumannya yang terkembang, suaranya yang sedikit meninggi serta tangan yang terkepal ia ayunkan dari atas ke bawah, dan tidak lupa dengan ucapan senangnya yang saat itu berucap,
“Yes! Bisa dong … aku bisa gunain semua senjatanya” jelasnya di sana dengan suara yang pelan. Hal itu membuat Choki terkekeh melihat tingkah laku Nauval dan ia hanya bisa menggelengkan kepala dengan pelan, ketika hal yang dilakukan oleh Nauval saat itu mengingatkannya pada Dayan sang sahabat, ketika ia merasa senang jika Choki menyetujui sesuatu hal yang sangat diinginkan olehnya.
“Nauv??” dan ketika panggilan dari Shiren terdengar, membuat keduanya dengan serempak menoleh menatap Shiren yang datang seraya mengusap-usap kedua matanya. Terlihat jelas oleh keduanya bahwa Shiren terbangun dari tidurnya malam itu, hal itu membuat Nauval berjalan menghampirinya dan meraih tangan Shiren untuk kemudian menuntunnya menuju kursi dan kemudian memerintahkan Shiren untuk duduk di kursi sana setelah sebelumnya sang kakak bertanya kepadanya, “kok gak tidur sih?? aku cariin tau!” itulah hal yang di ucapkan olehnya.
“naha atuh kamu bet bangun?? ( terus kenapa kamu harus bangun?)” tanya Nauval di sana dan hal itu membuat Shiren hanya memberenggutkan bibirnya merasa cukup kesal dengan pertanyaan itu,
“ih, aku kan takut kalau kamu kemana-mana! Ntar ilang, akunya nangis nanti…” ucap Shiren dan hal itu membuat Nauval dan Choki segera menoleh menatapnya yang kini mulai menangis di sana, dan hal itu tentu sangat mengejutkan bagi Nauval yang kini berjalan dengan cepat untuk menghampiri Shiren dan mengusap bahunya,
“ih, ko malah nangis sihh! Jangan nangis atuhh… kan Auval juga gak kemana-mana” terang Nauval mengusap-usap punggung Shiren yang terisak dengan pelan di sana. Merasa bahwa sang kakak perempuannya tidak kunjung berhenti terisak, ia pun akhirnya memeluk sang kakak dengan erat, ia berharap pelukan itu bisa menenangkan hati Shiren. Hal itu membuat Shiren kembali memeluk sang adik dengan sangat erat.
Choki yang melihat hal itu pun hanya bisa tersenyum seraya berjalan untuk kemudian mengambil segelas air hangat untuk Shiren yang saat itu masih menangis di sana. Tak ada yang dapat dilakukan oleh Choki selain mengusap bahu Shiren, dan tak ada yang dilakukan oleh Nauval selain memeluk dan berbisik kepada sang kakak bahwa semua akan baik-baik saja.
“udah … udah … Nauval di sini ko Ren, gak ada yang bakal ninggalin kamu” ucap Choki di sana, dan mendengar hal itu membuat Nauval mengangguk mengiakan ucapan Choki dan membalasnya dengan berucap,
“iya, mau kemana lagi atuh … sok?? da aku mah pasti di samping Ren terus!” sambung Nauval dan hal itu membuat Shiren yang menangis pun mengangguk menyetujui hal tersebut, dan tidak lama dari sana … Haris pun datang mendekati ketiganya.
“kenapa?” tanya Haris dengan pelan, dan Nauval hanya menggeleng menjawab pertanyaan tersebut tanpa berucap lebih jauh lagi, dan hal itu membuat Haris mengangguk mengerti dan mengusap kepala Shiren dengan lembut, hingga akhirnya ia tenang dengan sendirinya.
Hari itu tak ada satupun dari mereka yang tidak tertekan karena Virus tersebut, mereka sama-sama terlihat sangat tertekan dan depresi. Namun cara menanggapinya lah yang membedakan mereka semua dari hal itu. Semuanya merasakan hal yang sama, mereka merasa bahwa bertahan hidup saat ini sangatlah sulit, namun mereka harus dan mau tidak mau menjalaninya.
...
to be continue.