-6.5-

1009 Words
Choki terdiam menatap ketiga orang itu, menyadari bahwa Raya tidak bergabung di ruang dapur saat ini, membuat Choki akhirnya meninggalkan dapur dan berjalan menuju ruang tengah dan mendapati ternyata Raya pun tidak tertidur malam itu. Ia terduduk di atas kasur, dengan selimut yang menutupi bagian pinggang hingga ke kakinya yang sengaja ia lipat kedepan agar ia bisa memeluk kedua kaki tersebut, raut yang ditampakkannya pun saat itu menggambarkan kesedihan, dan hal itu membuat Choki berjalan mendekatinya seraya berucap, “kurasa kita semua memang tidak bisa tertidur dengan lelap ya” itulah kata yang diucapkan oleh Choki, ia pun mengambil duduk tepat di samping ranjang tempat Raya terduduk di sana. Kepalanya kini menoleh menatap Raya yang terkekeh dan menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan Choki, “gak mungkin ada manusia yang bisa tidur dengan nyenyak sih … lagian masa iya ada yang bisa tidur nyenyak, kalau ada zombie di luar sana … kiki aja nggak bisa tidur kan!” ucap Raya seraya menunjuk ke arah Choki yang saat itu terkekeh dan menganggukkan kepalanya, ia menyetujui apa yang baru saja diucapkan oleh Raya. Tidak ada yang bisa tidur nyenyak ketika virus yang berbahaya datang dan menghantui, mereka pasti akan was-was terhadap manusia yang terjangkit oleh virus tersebut.  “iya, yang Aya ucapin bener kok … gak ada yang bisa tidur” jelas Choki, ia mengangguk menanggapi ucapan Raya mengenai manusia yang tidak akan bisa tidur dengan nyenyak jika dirinya berada dalam situasi yang seperti ini. Kedua mata Choki kini mendapati Raya yang melihat kearah sekitarnya, yang akhirnya membuat Choki penasaran dan akhirnya bertanya, “ada apa Ya?” tanya Choki, jemari Raya kini menunjuk ke sekitar seraya bertanya, “mereka kemana??” tanya Raya, dan hal itu membuat Choki terkekeh pelan di hadapan Raya, dan hal itu membuat Raya mengerutkan dahinya bingung dengan reaksi yang ditunjukkan Choki yang kini terkekeh di sana seraya berucap, “seperti yang Aya bilang beberapa saat yang lalu, mereka tidak bisa tidur sama seperti kita” jelas Choki, dan hal itu membuat Raya membelalakan matanya seolah bertanya ‘benarkah?’ dan ketika Choki mengangguk menanggapi raut tersebut, Raya pun tertawa dengan pelan yang diikuti dengan tawa Choki di sana, Choki tertawa karena menyadari bahwa ternyata Raya berbicara dengan asal, sedangkan Raya tertawa karena terkejut bahwa ucapannya yang asal itu adalah fakta dan benar adanya. “kamu pasti nggak nyangka bahwa hal yang Aya katakan itu benarkan??” tanya Choki seraya menunjuk ke arah Raya yang kini terkekeh dan mengangguk mengiakannya, sejenak … ketika Choki melihat tawa dari Raya, ia pun menyadari bahwa gadis yang satu itu sangatlah manis dan cantik. Hanya untuk beberapa saat ia tertegun karena kagum, namun ketika ia tersadar dengan siluet dari Kania yang muncul begitu saja di hadapannya, membuat Choki segera tersadar dari lamunannya dan kembali tersenyum untuk menanggapi tawa Raya malam itu. …   Melihat tawa Raya beberapa saat yang lalu mengingatkannya akan gadis pujaan hati, ia menjadi lebih khawatir saat ini. Pikirannya terus melayang dan bertanya-tanya mengenai kabar dari mantan kekasih yang masih ia cintai sampai saat itu. Apakah ia baik-baik saja di Jakarta?? apakah dia sehat?? dan lain sebagainya, ia terus memikirkan itu hingga tidak ada ujungnya. “eih … lama kelamaan gue bisa gila karenanya” rutuk Choki, ia terbaring di atas sofa. Dan ia menjadi satu-satunya orang yang masih terbangun di sana, setelah sebelumnya satu persatu dari mereka pun tertidur karena lelah dan membutuhkan hal itu demi mengembalikan tenaganya untuk esok hari. Tidak dengan Choki, pikirannya terus tertuju dan mengkhawatirkan Kania, mantan kekasihnya yang tinggal di Jakarta. Choki tertegun menatap atap langit dari vilanya, dengan satu tangan kanan yang terlipat dan ia jadikan sebagai bantal tambahan di sana, dan satu tangan kirinya ia letakan tepat di atas perutnya sendiri. Kedua pandangannya kosong, menerawang ke dalam hal-hal yang tidak jelas mengenai keadaan dari sang mantan kekasih, yang akhirnya menimbulkan rasa cemas serta khawatir yang berlebihan terhadap orang yang ia pikirkan saat ini. Dan hal itulah yang akhirnya membuat Choki segera meraih ponsel miliknya yang masih ia sakui di kantong celananya, dengan jari jemari yang ia tabrakkan ke atas layar itu, dan setelah berulang kali membaca dan mengecek isi dari pesan itu, pada akhirnya ia mengirim pesan singkat kepada Kania. Cukup dengan pertanyaan, ‘apakah kau baik disana?’ saja sudah membuat Choki menghela nafasnya dengan dalam, ia menekan tombol send seraya berdo’a bahwa ia mendapatkan jawaban yang baik dari Kania secepatnya. Diketuk-ketuknya berkali-kali layar ponsel miliknya, berharap bahwa Kania membalas pesannya di sana. Menunggu, menunggu dan menunggu … namun sudah lebih dari satu hingga dua jam ia menunggu, harapan itu pun sirna begitu saja. Karena sudah selama itu dia tidak mendapat jawaban apa pun dari Kania. Meskipun seperti itu, Choki berusaha untuk tetap berpikiran positif dan ia menganggap bahwa Kania pasti tengah berada di dalam rumah, bersama dengan Kai, yang lain dan bukan adalah Anjing peliharaannya dan saat ini mereka tengah menonton netflix dengan kondisi mereka baik-baik saja. Setelah ia memikirkan hal yang positif, secara otomatis Choki merasa lebih tenang dari yang sebelumnya. Ya … itu merupakan pengendalian mindset yang selalu ia gunakan dan itu selalu berhasil padanya. Seperti saat ini, ia sudah tidak lagi mengkhawatirkan sang mantan yang berada jauh di sana dan kembali memfokuskan diri terhadap kondisi yang tengah ia dan orang-orang yang ada di dekatnya hadapi sekarang. Kedua mata Choki kini dengan spontan tertuju pada Raya yang tertidur pulas tepat di atas ranjang itu, bersama dengan Shiren. Posisi mereka saat ini adalah kasur yang diapit oleh tiga sofa panjang, yang di masing-masing sofanya dijadikan kasur oleh ketiga lelaki yang ada di sana, dan kedua gadis itu tertidur di ranjang empuk yang mereka kelilingi saat ini. Dipandangnya Raya yang tengah terlelap dengan seksama, hingga ia tersadar bahwa ia terlalu lama memandanginya, yang akhirnya membuat Choki segera menggelengkan kepala dan berbaring terlentang untuk kemudian menatap langit-langit vilanya. Duk! Duk! Duk! Sebuah suara ketukan keras pun akhirnya membuat Choki yang baru saja hendak terlelap kini terperanjat dan terbangun dari posisinya untuk kemudian menoleh menatap ke arah pintu yang baru saja terketuk dengan cukup kencang.  ...  to be continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD