BAB VII

1512 Words
-7.1-Pagi itu terasa sangat dingin, Edwin terlelap di tempatnya seraya memeluk tubuhnya sendiri dengan cukup erat. Namun, ketika Edwin mendengar sebuah suara pecahan kaca yang cukup keras pagi itu, ia terperanjat dan akhirnya membuatnya terbangun seraya menoleh menatap Lili yang juga terbangun dengan kedua mata yang membulat karena terkejut. Merasa bahwa ada yang tidak beres, Edwin pun segera bangkit untuk kemudian menyembulkan kepalanya di kaca pembatas lantai itu, yang akhirnya dengan segera ia kembali bersembunyi setelah menyadari bahwa ia baru saja melihat zombie-zombie berhasil menerobos masuk ke dalam kantor tersebut. Kedua matanya segera menoleh menatap Lili serta Dhimas, dan pergerakan yang terburu-buru ia membereskan seluruh barang-barang yang ada di sana lalu segara meraih tangan Lili seraya berucap, “ayo kita pergi! Tempat ini sudah tidak aman lagi” jelas Edwin kepadanya yang kini segera berkemas dan menganggukkan kepalanya. Keduanya berlari dengan perlahan-lahan menaiki anak tangga di ujung sana, namun ketika sebuah geraman keras terdengar, keduanya menoleh menatap salah satu zombie yang berada cukup jauh dari posisi keduanya saat itu menyadari kehadiran mereka dan akhirnya menatap keduanya dengan cukup tajam, dan hal itu membuat zombie-zombie yang lainnya ikut menoleh dan kini melesat ke arah mereka berdua. “Lari!!” seru Edwin kepada Lili, keduanya segera berlari menuju atap bangunan tersebut. “hah… hah… hah… “ deru nafas Edwin terdengar begitu jelas oleh dirinya sendiri. Setibanya mereka di atap, dengan segera Edwin menghalangi pintu dengan gagang sapu yang ia selipkan di antara knop pintu, ia berharap bahwa itu berguna untuk setidaknya menahan mereka masuk untuk sementara waktu. Dengan perlahan, Edwin melangkah mundur untuk mendekati Lili yang memeluk anaknya dengan raut takut. BRAAKKK!!! “AAAAHH!!” Lili menjerit terkejut karena pintu tersebut di dobrak dari dalam, dan hal itu membuat Edwin segera menoleh ke arah sekitar dan mendapati gedung lainnya yang jaraknya cukup dekat dari bangunan yang mereka pijaki. “kak! Kita harus segera pergi dari gedung ini, ayo ikuti aku!” seru Edwin, ia berlari menuju arah kanan gedung, dan hal itu membuat Lili berlari mengikuti langkah kaki Edwin yang berlari menuju ujung gedung tersebut. “kita mau kemana??” tanya Lili setelah melihat Edwin memanjat tembok pembatas dan mengulurkan tangannya ke arah Lili, meminta Lili untuk menggenggam tangannya dengan kuat. Namun hal itu tidak dilakukan oleh Lili yang tidak yakin dengan hal itu dan kini kembali bertanya kepadanya, “kita harus melompat!” jawab Edwin kepada Lili yang kini tampak terkejut, dan hal itu terlihat dari kedua matanya yang terbelalak serta mulutnya yang menganga tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Edwin saat itu. “kau gila?! aku tidak bisa lompat!!” ucap Lili berseru kepadanya, meski Edwin tau akan hal itu. Namun tak ada jalan lainnya selain mencoba untuk melompati gedung itu agar mereka bisa lolos dari kejaran zombie, hingga Edwin hanya menoleh menatapnya seraya berucap, “semua akan baik-baik aja, aku bisa membantumu kak!” ucap Edwin meyakinkan Lili agar ia meraih tangannya, kedua pandang Edwin kembali menoleh menatap pintu yang kini di dobrak semakin kencang, hingga ia menggoyangkan tangannya yang terulur seraya berucap, “ayo!” ajaknya kepada Lili. Seolah tahu bahwa Edwin tidak akan sanggup untuk membantunya, Lili pun akhirnya menyerahkan Dhimas dengan segera kepada Edwin yang kini nampak terkejut dengan apa yang telah Lili lakukan. Dengan menangis Lili berucap, “tolong jaga dia untukku, karena aku tahu kau adalah orang yang baik” ucap Lili kepadanya, dan bersamaan dengan itu pintu terbuka dengan lebar hingga akhirnya zombie-zombie pun masuk dan mengejar mereka berdua, dan hal itu membuat Edwin segera melompat setelah ia berucap maaf padanya. Suara jeritan kesakitan terdengar di sana, namun Edwin tidak sedikitpun ingin berbalik atau menyaksikan hal mengerikan yang tengah terjadi di sana. Tangannya bergetar dengan kencang seraya memeluk bayi Dhimas yang masih terlelap di pelukannya, ia menangis atas apa yang telah terjadi, dan ia merasa menyesal karena tidak bisa melakukan apa pun di sana. Kedua kakinya tidak bisa menopang beban tubuhnya, hingga ia jatuh terduduk dan bersembunyi di balik pembatas gedung itu, bersembunyi dari mereka yang terdengar menggeram dari sebrang gedung lainnya. … Langit pagi kini telah berganti menjadi siang, Edwin melamun di sana. Ia melamun dan memikirkan bagaimana kelanjutan dari semuanya? Apakah ia bertahan, atau memilih untuk menyerahkan hidupnya kepada para zombie di sana? Namun ketika bayi Dhimas mengeliatkan tubuhnya merasa tidak nyaman di sana, ia teringat bahwa ia harus tetap hidup demi bayi ini. Karena beberapa saat yang lalu, sang ibu yang lain dan bukan adalah Lili, menitipkan bayi Dhimas kepadanya. Ya … setelah teringat dengan hal itu, tujuan Edwin kembali seperti semula, ia bertekad untuk membawa bayi Edwin pergi ke Bandung bersama dengannya. Kedua mata Edwin kini menoleh menatap langit yang biru, dan ia pun berdiri untuk kemudian kembali pergi dari sana menuju kota Bandung. Diliriknya bayi Dhimas yang masih terlelap di sana, “tenanglah … bersama-sama kita akan pergi dari kota ini dan akan kujamin bahwa kau akan hidup dengan nyaman di sana, Dhimas” bisik Edwin kepada bayi Dhimas yang saat itu masih terlelap di dalam gendongannya. Tanpa banyak membuang waktu lagi, Edwin berdiri dari sana dan segera berlari untuk menjauhi gedung tersebut. Ia bahkan tidak segan untuk melompat dari gedung ke gedung lainnya dengan membawa seorang bayi kecil yang ada di dalam gendongannya, ia sangat profesional dalam hal lompat melompat gedung-gedung tinggi, oleh sebab itu ia tidak mempermasalahkan atau mengkhawatirkan yang lainnya. Bagaikan memiliki dua sayap yang kokoh di punggungnya, ia selalu berhasil melompat dan memijaki gedung-gedung di sana dengan sempurna. Dalam hatinya saat ini ia merasa sangat beruntung karena ia menguasai Parkour dan bela diri, pikirannya melayang ketika pertama kali ia belajar Parkour, entah berapa kali ia mendapatkan cedera, dari intensitas cedera yang ringan hingga yang begitu berat. Namun, ia tidak pernah menyerah sampai ia berada di titik di mana saat ia dapat mengandalkan Parkour seperti hari ini.   “Edwin!!” sebuah suara yang muncul begitu saja di dalam pikirannya pun akhirnya menariknya kembali ke masa ketika ia menginjak usia 17 tahun, ketika ia bersama dengan beberapa teman lainnya berlatih parkour bersama di taman kota. Kedua pandangannya kini menoleh menatap Rangga, sahabat karibnya yang baru saja memanggil ia yang kini jatuh terduduk di atas rumput yang basah karena hujan sore itu, “kamu gak apa-apa??” tanyanya kepada Edwin, kedua tangannya pun terulur kedepan untuk meraih dan kemudian menarik sang sahabat berdiri dari tempatnya terjatuh. Melihat hal itu membuat Edwin meraih kedua tangannya dan bangkit dibantu oleh tarikan dari Rangga, Edwin pun mengangguk mengiakan pertanyaan sang sahabat yang kini menepuk bahunya dan kembali berlari di sana. Hujan deras sore hari itu tidak menjadi penghalang mereka-mereka yang tengah berlatih, lagi-lagi Edwin berlari dan melompat, namun ia kembali terjatuh dengan dengan kerasnya ke atas tanah yang mengakibatkan ia mengaduh pelan di sana. Tidak merasa kapok, ia kembali berdiri dari jatuhnya dan kembali berlari dan melompat. Tindakan itu ia lakukan berulang-ulang hingga akhirnya ia benar-benar bisa mendarat dengan sempurna dan berhasil menaklukan tantangan awalnya. Masih segar di dalam ingatan Edwin ketika ia berseru dengan begitu gembira, ia berhasil menaklukan tantangan yang belum pernah ia capai sebelumnya. Hal itu pun diberi apresiasi oleh teman-temannya dan termasuk dengan Rangga, orang yang mengajaknya untuk ikut dalam perkumpulan seperti ini. Kali ini, hal yang sama pun harus ia lalui, rintangan yang belum pernah ia capai sebelumnya adalah melompati gedung-gedung yang ada di hadapannya saat ini. Langkah Edwin terhenti ketika ia menyadari bahwa jarak dari gedung ke gedung selanjutnya terlalu jauh untuk ia taklukan di sana dan bahkan bayi Dhimas pun menjadi pertimbangannya untuk melompat saat ini. Kedua pandang Edwin kini menoleh menatap bayi Dhimas yang digendong olehnya, yang menyadarkannya dari lamunannya beberapa waktu yang lalu. Buntu, ia tidak tahu harus melakukan apa lagi dan kemana ia harus pergi … ia merasa bahwa ia ragu dan tidak yakin untuk bisa melompati gedung tersebut, ia takut dengan resiko yang akan ia terima nantinya jika ia melakukannya dengan nekat dan akhirnya gagal untuk mendarat. “Edwin!! kamu pasti bisa!!” Namun, ketika sebuah ingatan kembali muncul kepadanya, dan secara otomatis ia seperti mendengar sebuah suara yang hadir di sekitarnya, membuat Edwin kembali terlontar ketika mereka-mereka para sahabatnya menyoraki Edwin untuk bisa melompat dari sana. Meski sempat memiliki perasaan takut dan ragu, namun Edwin mampu untuk melakukan pendaratan dengan mulus, dan hal itu membuat mereka semua bangga serta kagum kepadanya. Dan perasaan percaya diri dari Edwin kembali terulang di sana, setelah ia mengingat memori itu, dengan tatapan yang terfokus, ia membayangkan seolah teman-temannya berada di sebrang sana tengah menyoraki dirinya. Dihelakan nafas Edwin dengan dalam, ia pun tidak ragu ketika mengambil sebuah ancang-ancang yang cukup jauh, untuk akhirnya ia kemudian berlari dengan cukup kencang dan melompati gedung itu. Ia melompat dengan penuh rasa percaya diri dan akhirnya pada akhirnya ia pun bisa melakukannya dan mendarat dengan sempurna di sebrang gedung itu. Dengan perasaan tidak percaya, serta bangga atas hal yang baru saja ia capai hari itu, membuatnya tersenyum dengan senang dan ia melompat-lompat dengan riang karenanya, ia pun tersenyum ketika bayi Dhimas ikut tertawa di dalam pelukannya, Edwin merasa bahwa bayi Dhimas pun gembira atas pencapaian yang didapatkan olehnya hari itu.   to be continue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD