Duk! Duk! Duk!
Seluruh pandangan mereka semua yang berada di sana pun kini tertuju dan menatap ke arah pintu yang saat itu diketuk dengan begitu kerasnya dari luar. Hal itu membuat Haris menoleh menatap Choki yang juga terkejut dengan suara ketukan yang tidak pernah berhenti mengetuk dengan kerasnya, hingga pada akhirnya Haris menganggukkan kepala setelah Choki membalas menatapnya yang seolah bertanya apakah kita harus mengeceknya? Dan setelah diberi anggukan kepala, dengan memberanikan dirinya sendiri, ia pun melangkah secara perlahan-lahan mendekati pintu yang terus terketuk di sana.
Langkah demi langkah dilalui oleh Choki yang berjalan begitu pelannya, dan hal itu membuat Shiren segera meraih Revolver milik sang kakak dan mendekati Raya yang saat itu pun mengarahkan Revolver pemberian Choki semalam, meskipun terlihat dari rautnya yang kini menunjukkan bahwa ia merasa takut serta kedua tangannya yang tidak pernah berhenti gemetar, namun Shiren menilai bahwa Raya adalah wanita yang pemberani, karena kini ia menodongkan senjata dan bukan bersembunyi di balik tubuh Shiren atau tubuh dua orang lelaki yang ada di dekatnya.
Beruntunglah pintu tersebut dipasang sebuah lubang kecil untuk melihat siapakah yang datang di sana, yang membuat Choki dengan leluasa bisa memanatau tanpa harus melihatnya dari jendela yang tertutup tirai saat itu.
Duk! Duk! Duk!
Lagi dan lagi pintu itu diketuk dengan kencangnya, dan dengan penuh keberanian, Choki mengintip dari lubang kecil di pintu itu dan setelahnya ia segera menjauhkan dirinya dari pintu tersebut seraya menoleh menatap mereka dan berbisik,
“mereka zombie, ayo segera pergi dari sini!” ucapnya seraya meraih Assault Rifle yang tergeletak di sana, dan mendengar hal itu membuat mereka semua yang tengah menggenggam masing-masing senjata di sana pun segera bangkit dan berlari menjauhi ruangan tersebut. Dengan bersamaan mereka berlari menuju garasi yang terletak di bawah vila. Namun belum sempat mereka mencapai anak tangga yang menurun yang letaknya berada di ujung sana, para zombie berhasil menerobos masuk dari pintu kaca yang terletak di dapur dan itu letaknya bersebrangan dengan tangga yang mereka tuju.
“aaahhh!!!” jerit Raya dan Shiren, mereka histeris karena saat ini para zombie itu berlari menghampiri mereka semuanya. Namun, untunglah Choki dengan Assault riflenya, dan Haris dengan machine gunnya menghalau mereka semua sengan melesatkan peluru-peluru itu ke arah zombie-zombie tersebut, yang akhirnya membuat mereka tergeletak tak berdaya di sana.
DARR!! DARR!!
Suara letupan yang terdengar dengan jelas di vila itu, dan hal tersebut membuat ketiga orang yang ada di sana terkejut karenanya,
“Ayo, cepat!!!” perintah Haris kepada mereka, karena saat ini Shiren, Raya dan Nauval terdiam shock melihat mereka yang tergeletak mengenaskan di sana, dan Haris tahu, bahwa mereka tidak boleh diam seperti ini yang akhirnya membuat Haris memberi perintah seperti itu.
“sialan! Kenapa mereka bisa mengetuk seperti itu, Haris?!!” tanya Choki yang saat itu berlari menuju mobil-mobil yang terparkir di sana, namun hal itu tidak di jawab oleh Haris yang juga berlari menuju mobil mereka. Beruntunglah mereka, karena sebelumnya mereka telah menyiapkan peralatan dan memasukkannya terlebih dahulu kedalam salah satu mobil yang telah mereka pilih untuk melakukan perjalanan, dan mobil yang terpilih adalah Mistubishi Xpander. Mobil berwarna hitam yang memiliki desain yang cukup mewah yang mampu menampung hingga tujuh orang di dalamnya.
Dengan gesit, Choki meraih kunci mobil tersebut dan membukakan pintunya, untuk kemudian mereka semua masuk ke dalam dan segera memakai safety belt dan setelah semuanya masuk, Choki dengan segera menyalakan mobil tersebut dan melajukan mobil itu untuk kemudian keluar dari garasi vilanya, setelah sebelumnya ia mengaktifkan pintu otomatis yang sudah terpasang di dalam mobil itu.
Perkiraan mereka saat itu adalah mereka akan keluar dengan amat mudah dan menghindari para zombie yang kelaparan di sana, namun pada kenyataannya setelah pintu itu terbuka, sekitar lima hingga sepuluh zombie menghalangi jalan mereka dan menyerang mobil mereka.
Dengan kuat mereka memukul-mukul kaca mobil di sana hingga membuat Raya, Shiren dan bahkan Nauval berteriak ketakutan.
“gila, kita harus gimana nih?!” tanya Choki yang saat itu menghentikan laju mobilnya, bersamaan dengan Raya yang berteriak, serta Shiren yang berkali-kali memanggil kakaknya,
“aaaaaa!!!”
“Kakak!! … kakak!!!” jerit Shiren,
“tancap gasnya Ki!!!” bentak Haris kepada Choki, dan mendengar perintah dari Haris, membuat Choki akhirnya menancapkan gas di sana dan dengan terpaksa harus menabrak semua zombie yang menghalangi jalannya dan akhirnya mereka pun lolos dari kepungan zombie-zombie itu, meski sempat ada zombie yang menempel di sisi kanan dan kiri mobil mereka, namun zombie itu terjatuh karena pegangan mereka tidak bisa mengimbangi kencangnya laju mobil yang dikendarai oleh Choki saat itu.
…
“hahh … hahh … hah …” suasana di dalam mobil itu pun sepi, tak ada satupun dari mereka yang berbicara setelah mereka berhasil lolos dari kepungan zombie di vila itu. Kedua pandang Choki kini menoleh menatap Haris yang juga menatapnya, yang pada akhirnya membuat Choki menggelengkan kepala dan kembali menatap jalanan yang tengah mereka lalui. Melihat hal itu, membuat Haris pada akhirnya membuka suara,
“ada apa??” tanyanya kepada Choki, karena saat ini ia tahu bahwa Choki sempat terlihat ingin mengucapkan sesuatu padanya beberapa saat yang lalu,
“apa lu tau, kalau mereka bisa kaya gitu??” tanya Choki kepadanya yang kini mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Choki, dan hal itu membuat Choki kembali menjelaskannya dengan rinci,
“apa lu tau kalau zombie-zombie itu bisa ngetuk dan gedor-gedor pintu kaya gitu?? setahu gue, selama gue nonton film-film tentang zombie, baru kali ini gue liat ada zombie yang bisa ngetuk sama gedor-gedor pintu pake tangannya sendiri! Kalau ada juga, yang gue tau mereka itu gedor-gedor pake jidad!” jelas Choki akhirnya menjelaskan secara rinci kepada Haris, dan bahkan tidak hanya Haris. Raya, Shiren dan bahkan Nauval pun kini mendengarkan ucapan Choki saat itu, yang akhirnya membuat Nauval menganggukkan kepalanya dan ikut masuk ke dalam pembicaraan dengan berucap,
“iya, setahu Nauval juga kaya gitu kak! Emang ada zombie ngetuk pake tangan?” sambungnya di sana.
“ya makannya, tadi itu gue liat kalau mereka itu gedor-gedor pake tangan” jelas Choki kembali menanggapi ucapan Nauval,
Mendengar penjelasan itu, membuat Haris bersandar di kursinya dan menggelengkan kepala dengan pelan seraya berucap, “gak tau … aku gak tau kalau mereka bisa kaya gitu, aku pun gak tau apakah mereka itu sakit, atau udah mati … yang aku tahu, pemerintah cuma bilang kalau ada baiknya kita hindarin mereka-mereka, karena mereka menjadi kanibal dan akan menggila di sana, itulah yang akhirnya membuat aku memutuskan untuk membawa kalian berdua pergi jauh dari sini. Karena lebih baik menghindar dari pada menghadapinya” jelas Haris kepada mereka semua yang pada akhirnya, kesunyianpun kembali menyelimuti mereka berlima.
“jadi, tadi kita menembak orang sakit dong??” tanya Raya seraya menoleh menatap Choki dan kemudian beralih menatap Haris, yang keduanya sama-sama menggelengkan kepala menangkis semua ucapan itu,
“nggak … nggak … jika benar mereka sakit, hal yang kita lakukan adalah bentuk dari perlindungan diri, jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak, oke?” ucap Haris di sana, ia menoleh ke belakang dan menatap Shiren, Raya serta Nauval yang kini akhirnya membuat mereka mengangguk menanggapi ucapan yang dijelaskan oleh Haris di sana.
Subuh itu mereka melanjutkan perjalanan menuju Jakarta, meski perjalanan itu hanya memakan waktu yang singkat, namun tidak dengan saat ini. Karena mobil-mobil terparkir di mana saja dan menutupi jalan yang ada sehingga Choki harus berupaya untuk mengindari mobil-mobil yang terparkir di sana, belum lagi zombie-zombie yang mengganggu membuat Haris harus berkali-kali memerintahkan Choki untuk berbalik arah jika zombie itu terlalu banyak atau tidak, Haris akan memerintahkan Choki untuk menabrak mereka jika jumlah mereka tidaklah banyak.
to be continue.