-7.3-

1592 Words
Mentari saat ini mulai menyinari bumi, tak ada yang bisa dilakukan oleh Raya selain menoleh menatap jalanan sepi yang kini mereka lewati, setelah sebelumnya mereka berhasil masuk ke dalam jalan tol. Menghela nafas dan kembali terdiam, membiarkan bahu kirinya menjadi sandaran kepala bagi Shiren yang saat ini tertidur tepat di sampingnya. Kedua matanya sesekali menatap ke arah depan, dimana Choki yang kini sudah berganti tempat dengan Haris yang kini mengemudikan mobil tersebut. Diantara mereka berdua pun tidak ada satu kata untuk setidaknya mencairkan suasana, mereka sibuk dengan jalanan yang tengah dilalui saat itu, yang akhirnya membuat Raya memutuskan untuk tidak mengganggu konsentrasi dari keduanya. Tak ada hal yang bisa Raya lakukan saat ini, sehingga ia membiarkan pikirannya melayang-layang untuk kemudian menemukan sebuah memori yang membuatnya merasa rindu kepada teman-temannya. Memori yang tiba-tiba saja muncul di dalam pikirannya saat itu adalah memori ketika pertama kalinya ia masuk ke dalam sanggar tari, dan saat itu usia Raya adalah sepuluh tahun. Ia sengaja dikirim oleh kedua orang tuanya setelah mereka melihat bakat tari yang muncul dari Raya sejak kecil, kedua orang tuanya bahkan rela menabung agar Raya bisa pergi ke sanggar yang sudah mereka tetapkan beberapa tahun sebelumnya.   …   Saat itu Raya merasa sangat malu dan belum berani untuk berbicara terlebih dahulu, ia belum bisa menyesuaikan diri saat itu. “nami abdi Raya (nama saya Raya)” ucap Raya dengan perasaan malunya, saat itu ia berdiri di hadapan mereka semua, anak-anak sanggar yang sudah terlebih dahulu ada di sana. Ia berdiri tepat dihadapan dua puluh anak yang kala itu memiliki usia yang sama dan mungkin beberapa dari mereka memiliki umur di bawahnya. Pandangan Raya menatap mereka cukup singkat, sebelum akhirnya ia pun memilih untuk kembali menatap ke arah lantai, ia juga merasa tidak nyaman dengan suasana itu. “ooohhh, namina teh Raya nya?? abdi Bagas, Raya teh hoyong disebut naon?? (ohhh, namanya itu Raya ya?? Aku Bagas, Raya mau dipanggil apa?) ” sebuah pertanyaan yang terlontar dari seorang anak lelaki kurus, dengan satu gigi depan yang saat itu terlihat ompong pun membuat Raya yang hendak menjawab, kini menahan tawanya dan memilih untuk mengatupkan kedua bibirnya dan sana dan kemudian mengangguk seraya berucap, “Raya weh (Raya saja)” jawabnya di sana, dan hal itu membuat Bagas menganggukkan kepala seraya ber’o’ ria. Melihat hal itu membuat Raya tersenyum dengan manis di sana, mengetahui bahwa ternyata mereka tidak seperti apa yang ia duga, mereka adalah orang yang baik dan seru. Dan bahkan ketika ia duduk, banyak sekali anak-anak gadis yang datang menghampirinya dan berkenalan dengannya begitu ramah, yang akhirnya membuat Raya merasa nyaman berada di sana. “hei, Raya …” panggil seseorang dari belakang sana, yang akhirnya membuat Raya menoleh ke arah belakang untuk kemudian mendapati seorang anak perempuan yang diuntun dua dan perawakan rupa yang manis yang kini tersenyum ke arahnya seraya mengulurkan tangannya di sana dan kembali berucap, “nami abdi Laras” ucapnya memperkenalkan diri pada Raya di sana, dan hal itu membuat Raya menjabat tangannya yang kini tertawa senang. Baru satu hari Raya datang ke sanggar tari, namun ia sudah memiliki banyak sekali teman, dan hal itu membuatnya begitu bersyukur. Ekspetasi buruk yang ia pikirkan selama perjalanan menuju sanggar, ternyata berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di dalam Sanggar hari itu. … Sejenak Raya tersenyum di dalam lamunannya setelah mengingat moment tersebut, namun detik kemudian senyuman itu menghilang seiringan dengan kesadaran Raya terhadap situasi yang telah terjadi saat ini. Ia mengetahui bahwa teman-temannya sudah tidak ada lagi disini, dan hal itu membuat Raya sangat sedih hingga berusaha untuk menahan air matanya yang ingin keluar dari sana. Jujur, ia merasa ketakutan dan merasa kesepian saat ini, tidak ada yang dia kenal diantara mereka dan lagi ia adalah gadis penakut. Banyak pikiran-pikiran buruk yang menakutkan yang muncul begitu saja di dalam benak Raya, hingga ia yakin bahwa mereka tidak akan selamat di sana.   “Ray” sebuah panggilan dari Choki saat itu pun pada akhirnya menyadarkan Raya dari lamunannya mengenai memori masa lalunya dan pemikiran buruknya saat itu, dengan cepat ia mengusap air matanya yang jatuh ke pipinya dan kedua pandang Raya pun kini menoleh menatap Choki yang baru saja memanggilnya, dan ternyata Choki memanggilnya untuk memberikan sebotol air mineral pada Raya yang kemudian ia raih botol tersebut dari tangan Choki. “kamu baik?” tanya Choki kepada Raya yang kini menaikkan kedua alisnya tidak mengerti dengan apa yang ia tanyakan, dan hal itu membuat Choki menunjuk Raya seraya berucap, “kamu pucat, kalau pusing atau merasa gak enak badan, kasih tau ya” jelas Choki lagi, dan hal itu membuat Raya memengan pipinya dan kemudian mengangguk menanggapi hal itu. “kakak pusing??” kedua pandang Raya kini beralih menatap Shiren yang bangun di sana dan menoleh menatap Raya, mendengar pertanyaan itu membuat Raya menggelengkan kepalanya, namun kedua pandang Raya kini teralihkan menatap bungkusan roti yang diberikan oleh Nauval di belakang kursi sana dan hal itu membuat Raya menoleh menatap Nauval di sana yang saat ini tersenyum seraya berucap, “makan kak, biar nggak pusing!” ucap Nauval di sana, melihat kekhawatiran serta perlakuan manis yang diperlihatkan oleh mereka-mereka padanya saat itupun lah yang akhirnya membuat Shiren merasa semakin sedih dan akhirnya menangis. Hal itutentu membuat Nauval dan Shiren terkejut, serta Choki segera menoleh menatap Raya yang terisak di bangku belakang kemudi. Tak ada pertanyaan yang mereka lontarkan saat itu, selain Shiren yang mengusap bahu Raya dengan pelan. Mereka membiarkan Raya menangis sepuasnya, karena mereka tahu bahwa ia membutuhkan hal itu saat ini. Dan bahkan Haris pun tidak berkomentar saat ini, ia juga secara sengaja mengencangkan lagu di dalam mobil tersebut agar Raya bisa dengan puas menjerit sesukanya di sana. Kedua pandang Choki kini menoleh menatap Haris yang baru saja mengencangkan volume pemutar lagu di sana, merasa dilirik oleh orang di sampingnya membuat Haris membalas tatapannya dan mengangguk untuk memberitahu bahwa itulah yang baik yang dilakukan untuknya saat ini, dan secara bersamaan keduanya menoleh menatap Raya yang kini memeluk Shiren, masih dengan tangisan yang cukup kencang di sana. Merasa tidak tega melihatnya menangis seperti itu, Choki meraih tangan kanannya dan mengusapnya dengan pelan, ia berharap bahwa gadis cantik itu bisa tenang karenanya.   …   “maaf, Raya teh cengeng ke kalian” ucap Raya, keadaan Raya saat ini sudah membaik setelah sebelumnya ia menangis hampir setengah jam lamanya. Mendengar hal itu membuat Shiren, Nauval, Choki dan Haris menggelengkan kepalanya dan Haris segera berucap, “gak masalah kok! Lagian nangis di saat kaya gini tuh bagus malahan, setelahnya kamu bisa merasa tenang, yakan?” ucapnya di sana, dan Choki segera mengangguk menanggapi ucapan dari Haris di sana. Mendengarnya membuat Raya merasa lega, ia tersenyum dan mengangguk mengiakan ucapan itu dan hal itu membuat Shiren ikut tersenyum dan kini mengusap dengan pelan bahu Raya yang saat itu duduk tepat di sampingnya. “nah, sekarang gimana?? kakak laper gak?” tanya Nauval, medengar pertanyaan itu membuat Raya menganggukkan kepalanya pelan untuk menjawab pertanyaan Nauval yang kini tertawa dan memberikan satu bungkus roti coklat di sana, “nih … makan ya, biar tenaganya pulih lagi!” ucap Nauval di sana, sebenarnya Raya itu lebih tua dua tahun dari Nauval, namun sifat yang diperlihatkan Nauval kepada Raya berbanding terbalik. Nauval seperti orang yang lebih tua dua tahun darinya. Atau mungkin karena Nauval sudah biasa memperlakukan wanita seperti seorang adik kecil yang manis, jangankan pada Raya, pada Shiren pun terkadang Nauval melakukan hal tersebut. Memperlakukannya seperti seorang adik kecil. Melihat perlakuan Nauval padanya, membuat Raya menoleh dan kemudian bertanya, “kamu teh berapa tahun??” tanyanya kepada Nauval yang saat itu terkejut dan menoleh menatapnya seraya mengangkat kedua alisnya, “ciga bapa ih! (kaya seorang papah)” sambung Raya lagi kepadanya, dan hal itu membuat Shiren, dan Haris tertawa, Nauval yang tersenyum malu serta Choki yang bertanya kepada Haris mengenai artian yang diucapkan oleh Raya saat itu. “biarin atuh ah, gak apa-apa ciga bapak oge, da nanti ge jadi bapa. abdi teh atuhh… (gak apa-apa kaya papah juga, nanti juga saya jadi seorang ayah)“ jelas Nauval di sana membela dirinya, hal itu membuat mereka semakin tertawa di sana dan Choki pun ikut tertawa setelah Haris mentranslatekan kata-kata itu untuknya. Raya menganggukkan kepala menyetujuinya, namun ia juga menambahi di sana dengan berucap, “enya, sok wae … ngan da anjeun teh ngora keneh apanan …, bisi abdi nga bapakeun anjeun, pan era oge anjeun kanu sejen (iya, silahkan saja … tapi kan kamu itu masih muda…, nanti aku ngeayahkan kamu, kan kamu juga merasa malu ke yang lainnya) ” terang Raya di sana, dan hal itu membuat Nauval mengangguk mengiakan dengan wajah yang memerah karena malu. “hahaha, makannya … jangan kaya gitu deh ke kakak perempuanmu, jadikan di bilangnya kaya gitu sama Raya!” sambung Haris di sana, dan hal itu membuat Shiren mengangguk seraya menoleh menatap Nauval dan berucap, “iya ih! Makanya jangan sok tua atuh … kan aku teh kaka kamu!” timpal Shiren seraya tertawa di sana dan hal itu membuat Nauval memprotes keduanya, sedangkan Raya menoleh menatap Shiren dan bertanya mengenai kebenarannya dan hal itu pun diberi anggukkan setuju dari Shiren, “iya teh! Dia tuh gak pernah sopan ke aku, malahan dia teh suka bersikap seolah dia teh kakak aku geura, kan ihhh… sebell” jelasnya lagi kepada Raya, dan Raya menoleh menatap Nauval yang hanya memberenggut kesal di sana. Meski begitu, setidaknya suasana di dalam mobil mencair dan terasa hangat. Perjalanan mereka menuju Jakarta pun dipenuhi oleh canda dan tawa, meski mereka tahu bahwa di luar sana akan sangat berbahaya.  to be continue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD