-7.4-

1814 Words
Perjalanan yang mereka tempuh seharusnya mencapai enam jam dua puluh tujuh menit, namun karena banyaknya hambatan berupa mobil dan motor yang berserakan di mana-mana dan menutupi jalanan yang mereka lalui membuat perjalanan mereka semakin panjang. Sesekali Choki dan Nauval harus turun dari dalam mobil untuk menyingkirkan kendaraan-kendaraan yang berserakan itu. Dan jangan katakan bahwa melakukannya sangatlah mudah, karena hal itu tidaklah mudah sama sekali. Terlebih mereka mengetahui bahwa saat ini di luar sana mungkin saja ada zombie yang mengintai. Dan benar saja, jika Haris tidak cekatan, mungkin keduanya sudah termakan oleh zombie-zombie yang berlari menghampiri keduanya, mereka berlari dari jauh sana. Namun, itu semua berhasil ditaklukan oleh bidikan senjata berjenis machine gun yang digunakan oleh Haris yang saat itu menyembulkan setengah badannya ke luar dari jendela mobil dan mulai menembaki mereka dengan tepat sasaran, ia menembak para zombie tepat di kepala mereka. Sudah empat jam mereka lewati, namun mereka masih berada di jalan Ciranjang. Lokasi mereka saat itu belum setengah dari perjalanan yang mereka lalui, “apakah kita salah jalur? Kita sudah empat jam di jalan, tapi belum juga sampai di Jakarta” ucap Nauval mengeluh di sana, bagaimana tidak? Tubuhnya sudah sangat pegal, dan bahkan ia meregangkan seluruh tubuhnya berkali-kali di sana. Mendengar ucapan sang adik, membuat Haris menghelakan nafasnya dan kembali memfokuskan diri untuk menyetir. Mendengar helaan itu membuat Choki kemudian menawarinya untuk bergantian dengan berucap, “mau gantian gak?” tawarnya kepada Haris, dan mendengar tawaran yang di tawarkan padanya itu membuat Haris menggelengkan kepalanya seraya berucap, “nggak, aku masih bisa … paling dua jam dari sini baru gantian” jelas Haris kepadanya yang kini menganggukkan kepala dan menoleh ke belakang untuk mendapati Raya yang saat itu tengah menoleh ke arah jendela dan menatap pemandangan yang ada di sana. “Ray” panggil Choki lagi, dan hal itu membuatnya menoleh menatap Choki yang kini kembali bertanya, “lagi apa?” tanyanya kepada Raya dan hal itu membuat Raya menunjuk ke arah luar seraya bertanya, “kenapa sepi ya?? perasaan beberapa jam yang lalu banyak yang keluyuran” jelas Raya di sana, dan hal itu membuat Choki pun akhirnya menoleh dan menatap sekitar sana, ya … sama seperti hari pertama mereka kabur dari kejaran para zombie. Saat ini pun tidak ada satu pun zombie yang terlihat atau pun keluyuran seperti yang dikatakan oleh Raya, tak ada satupun zombie yang terlihat oleh mereka semua di sana sore itu. “apakah tidak sebaiknya kita cek saja? Karena kemarin pun di waktu seperti ini, mereka tidak terlihat. Bukankah itu merupakan hal yang aneh??” tanya Nauval yang saat itu pun menoleh menatap ke arah jendela luar, yang akhirnya membuat Haris serta Choki menganggukkan kepala dengan serempak, ya … mereka merasa ada hal yang ganjal di sana. Apakah para zombie itu tertidur di waktu sore? Waktu yang menunjukkan sekitar pukul empat hingga enam. “apakah kita harus mengeceknya?” tanya Haris dengan ragu, meski ia penasaran terhadap apa yang terjadi saat itu, namun ia juga tidak bisa memungkiri bahwa hal itu bisa saja menjadi sebuah petaka yang besar jika tidak ditanggapi dengan serius dan dengan langkah yang hati-hati. Pada dasarnya, ia tidak mau gegabah dalam hal ini. Yang nantinya siapa tahu merugikan dan melukai salah satu dari mereka yang ada di dalam mobil ini. “kurasa akan buruk jika kita mengeceknya, tapi kita juga tidak akan tahu apa yang terjadi jika kita tidak mengeceknya” jelas Choki seraya menoleh dengan singkat menatap Haris dan kemudian pandangannya kembali memantau keadaan diluar sana. Mendengar hal itu membuat Haris akhirnya menepikan mobilnya dan berhenti di sana. Tindakannya saat itu tentu membuat mereka-mereka menoleh menatapnya dengan penasaran, dan ketika Haris berucap dengan segera Shiren menolaknya. “kurasa ada baiknya jika kita mengecek keadaan yang terjadi saat ini” jelas Haris seraya membuka safety belt miliknya, mendengar hal itu membuat Shiren sesegera mungkin menggelengkan kepalanya dan berucap, “tidak tidak tidak, jadi kakak mau keluar dan melihat-lihat keadaan sana?! nggak kak, itu bahaya! Kita gak tau kemana mereka saat ini. Kali aja mereka bersembunyi!” itulah yang diucapkan oleh Shiren, kedua tangannya bahkan meraih jaket yang dikenakan oleh sang kakak dengan cukup erat utnuk menahan pergerakan sang kakak di sana, dan hal itu membuat Haris menghela nafasnya dengan pelan dan kembali berucap, “kita gak akan tahu apa yang terjadi, kali aja mereka sadar dan menjadi manusia biasa … atau mungkin mereka tengah kesakitan dan membutuhkan pertolongan dari kita Ren! Informasi seperti ini harus kita dapatkan, supaya kita tahu. apakah mereka sudah menjadi zombie seutuhnya, ataukah ada jam tertentu yang memicu mereka untuk menjadi zombie-zombie itu. Jadi kakak perlu untuk mengeceknya, Ren” jelas Haris dengan panjang lebar, ia berusaha memberi pengertian kepada Shiren untuk mengindzinkannya pergi dari sana, “tapi … aku takut kak” ucap Shiren yang pada akhirnya merengek di sana, mendengar hal itu membuat Nauval menepuk bahu Shiren dengan pelan seraya berucap, “tenang, kan aku ada di sini” jelas Nauval kepada Shiren yang kini menolehkan kepalanya menatap Nauval, dan hal itu diberi anggukan setuju oleh Haris di sana. Melihat hal itu, membuat Raya yang memahami sikap dari Nauval pun akhirnya setuju dengan alasan kenapa ia selalu memperlakukan Shiren seperti anak kecil. Karena Shiren masih membutuhkan kakak yang lainnya untuk menenangkan dirinya ketika ia merasa khawatir seperti saat ini. “jangan khawatir, biarkan kakakmu pergi bersamaku … kamu tenang aja, karena ada Nauval dan Raya yang jagain. Oke?” kali ini ucapan yang dilontarkan oleh Choki pun membuat Shiren menganggukkan kepala untuk menyetujuinya, dan itulah yang membuat Haris kemudian mengangguk dan mengajak Choki untuk turun dan mengecek keadaan di daerah sana yang terbilang sepi. Jangan tanyakan apakah di dalam mobil aman atau tidak saat ini, karena saat ini Nauval menggenggam sebuah senjata bertipe Assault rifle dan Raya pun menggenggam shootgun berjenis Revolver untuk berjaga-jaga di sana. Meskipun Nauval belum mahir menggunakan senapan itu, namun setidaknya ia pernah bermain game dengan menggunakan senapan asli, jadi terpujilah pada mereka yang membuat game itu tampak seperti nyata, karena saat ini skill menembak sangat diperlukan. Dan jangan tanya kenapa Raya pun menggenggam shootgun, itu adalah revolver yang diberikan Choki kepadanya malam itu. Meski ia baru belajar cara menggunakannya semalam bersama dengan Choki, namun ketika menggenggam shootgun itu setidaknya ia merasa lebih tenang dari sebelumnya. Ketiga orang di sana melihat kepergian Choki dan Haris yang saat itu berjalan menjauhi mobil dan mendekati beberapa rumah yang ada di sana. Dengan perlahan mereka melangkah dengan pasti untuk mendekati rumah-rumah tersebut. “hallo?!” panggil Choki dengan cukup kencang, namun tak ada yang menjawab di sana yang akhirnya membuat Choki kembali berucap, “apakah ada orang di sini?!!” tanyanya lagi dengan suara yang lebih kencang dari yang awal. Kedua pandangan Choki kini menoleh menatap Haris yang mendenguskan nafasnya di sana, ia kembali menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang ataupun sesuatu yang hidup, namun … mereka tidak mendapati siapa pun di sana. “apakah mereka sudah pergi??” tanya Choki dan hal itu membuat kening Haris mengkerut, mereka berdua pun memutuskan untuk berbalik ke mobil setelah sebelumnya memastikan bahwa tidak ada siapa pun di sana, “jika benar mereka pergi, pergi kemana mereka?? apakah ada camp penampungan yang disiapkan pemerintahan untuk kita?” sambung Haris di sana dan hal itu membuat Haris mengerutkan dahinya dan menggeleng mengingat bahwa tidak ada kabar mengenai camp pengungsian sebelumnya dari pemerintahan yang akhirnya membuat ia menjawab, “setahu aku, pemerintahan tidak mengabarkan kami mengenai camp itu” jelas Haris kepadanya yang kini mengangguk dan kembali menanggapi Choki dengan berucap, “tapi mungkin saja itu terjadi, mungkin saja mereka membuat sebuah camp mendadak bukan?” timpal Choki yang akhirnya membuat haris menganggukkan kepala setuju dengan apa yang diucapkan olehnya dan baru saja mereka berbincang seperti itu, keduanya mendengar suara berisik dari arah mobil, dan itu adalah suara dari Nauval, Raya dan Shiren yang mengatakan bahwa mereka harus segera menjauh dari sana. “kak!! lari kak!!!” “KIKI lari ki!!!” “belakang kaliaaaannn!!!!”  Awal keributan dari mereka-mereka yang ada di sana membuat keduanya tidak dapat menangkap pesan mereka, namun setelah mendengar dengan jelas mengenai ucapan Nauval, membuat keduanya menoleh ke arah belakang dan mendapati banyak sekali zombie yang berlarian menghampiri keduanya di sana, mereka berlari seperti berebut sesuatu yang mereka cari selama ini, yang akhirnya membuat Haris dan Choki segera berlari menuju mobil yang berada cukup jauh dari posisi mereka saat ini. Haris berlari dengan cepatnya, maklum ... ia adalah seorang Tentara Negara Indonesia. Berlari kencang sudah seperti sarapan pagi baginya, ia juga bahkan pernah memenangi lari marathon hanya dengan membutuhkan waktu yang singkat, jadi baginya untuk berlari ke arah mobil yang posisinya tiga puluh meter dari tempatnya, bukanlah suatu masalah yang besar. Dan bahkan saat ini dirinya sudah masuk ke dalam mobil, berbeda dengan Haris ... Choki tidak pernah berlari cepat, meski ia memiliki otot, namun ia hanya terfokus pada pembentukannya saja, yang akhirnya membuat ia merasa kewalahan di sana. “Arrrghhh!!” geram Choki berlari dengan kencang, sesuai dengan limitnya di sana, “kiki!! cepet lariii!!” teriak Raya di sana, pintu mobil bagian belakang sengaja dibuka lebar oleh Raya dan Nauval, Choki nyaris saja ditarik oleh salah satu zombie yang ada di sana, namun bersyukurlah … berkal Nauval yang membidik zombie tersebut, ia akhirnya lolos darinya dan segera masuk ke dalam mobil untuk menyusul Haris yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam sana. Setelah Choki berhasil masuk ke dalam mobil, tanpa menunggu lagi Haris segera menancap gas dan pergi dari sana. “hah … hah… Nauval!!” panggil Choki dengan nafas yang memburu, Nauval segera menolehkan kepalanya menatap Choki yang berada di kursi tengah yang kala itu sengaja dibuka oleh Nauval agar Choki bisa masuk dengan segera, “terima kasihh….” ucapnya seraya menepuk bahu Nauval yang saat itu pun terlihat shock di sana, ia bahkan hanya bisa mengangguk menanggapi ucapan tersebut tanpa berkata apa pun lagi. Beruntunglah mereka karena Haris memiliki keahlian yang luar biasa dalam mengemudi, saat ini ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan bahkan ketika mereka menghadapi tikungan yang cukup tajam, Haris dapat menaklukannya dengan skill Drifting yang ia miliki, dan tentu hal itu cukup membuat Choki terkesan di sela rasa adrenalinnya yang semakin meninggi, karena ia baru saja lolos dari maut dan sekarang ia harus menghadapi cepatnya laju mobil yang dikemudikan oleh Haris saat ini.   “aku pikir tidak ada siapa pun di sana!! bagaimana bisa kita tidak mengetahui keberadaan mereka?!” ucap Haris dengan cukup kencang, tentu ia mengatakannya dengan kencang karena ia masih merasakan adrenalin yang baru saja ia rasakan beberapa saat yang lalu, “sudah kukatakan, mereka pasti bersembunyi!” ucap Shiren kepada Haris, mendengarkan apa yang diucapkan oleh sang adik membuat Haris menganggukkan kepalanya setuju. Dan peristiwa sore itu pun akhirnya membuat Haris dan Choki sepakat, bahwa mereka tidak akan pernah mengecek apa pun itu jika tidak ada yang meminta pertolongan kepada mereka terlebih dahulu.  to be continue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD