BAB VIII

1449 Words
-8.1- Setengah hari Edwin berlari dan melompat dari atap ke atap lainnya, dan kali ini tangisan dari bayi Dhimas lah yang akhirnya membuat Edwin tidak bisa berkonsentrasi dan depresi. Kenapa dengannya?? apakah dia poop?? ataukah dia lapar?? itulah yang ada di dalam benak Edwin saat ini, maklumi saja ... ia tidak pernah mengurus seorang bayi sebelumnya. Ia juga cukup takut dengan banyak hal ketika ia membawa bayi tersebut seperti saat ini. Namun, ia juga bukanlah seseorang yang tega, yang dengan begitu saja meletakan bayi titipan seorang wanita muda padanya di sebuah tempat yang terpencil atau apa pun itu namanya. Ia tidak tega melakukan hal semacam itu.   “oaaaaa!!! oaaaaaaakkkk!!” rengek bayi Dhimas di sana, ia terus seperti itu hingga Edwin merasa tidak tega karenanya. Bagaimana tidak? Wajahnya kini memerah padam karena berteriak dan menangis dengan cukup kencang, hingga Edwin berkali-kali mengayunkannya dengan pelan seraya berucap, “ssst ... iya, iya ... Dhimas laper ya?? bentar yaa ... kakak cariin makan, cup ... cup ... jangan nangis yaa ... nanti zombienya denger” itulah kata yang diucapkan oleh Edwin kepada bayi Dhimas yang masih menangis. Merasa bodoh karena ia berbicara demikian kepada bayi yang belum paham mengenai zombie, membuat Edwin menghela nafasnya seraya menggelengkan kepala menyadari kebodohannya sendiri. Edwin menoleh ke akan dan kiri, sebelum akhirnya ia mendekati ujung bangunan yang ia pijaki dan mendapati sebuah mini market di sana. Ia tersenyum senang setelah meyakini bahwa ia pasti akan menemukan s**u untuk bayi Dhimas di sana, namun ... ia saat ini kebingungan dengan keadaan lainnta yang tengah ia hadapi saat ini. Ia tidak bisa meninggalkan bayi Dhimas begitu saja, dan ia pun tidak mungkin membawa Dhimas untuk berburu s**u ke mini market tersebut, karena akan berbahaya jadinya jika ia membawa bayi Dhimas yang saat ini tengah menangis dengan histeris. Tidak kehabisan akal, ia mendapati sebuah keranjang yang terbuat dari kayu yang sudah tidak terpakai di sana, yang akhirnya menjadikan keranjang tersebut sebagai tempat untuk bayi Dhimas berbaring, setelah sebelumnya ia mengalasi tempat itu dengan jaket miliknya yang lumayan tebal. Ia pun berucap, “ tenang ya … tunggu di sini, kakak ambil dulu s**u buat kamu, okay” bisik Edwin kepada Bayi Dhimas di sana. Meski ia tahu bahwa ucapannya tidak akan membuat bayi Dhimas tenang. Dengan sengaja Edwin menyembunyikan bayi Dhimas di tempat yang ia rasa aman, ia pun mengosongkan ransel miliknya agar ia dapat membawa banyak s**u untuk bayi Dhimas. Entah apa yang ia pikirkan saat ini, namun membawa seorang bayi dalam situasi seperti ini sangatlah sulit. “hufttt!!” dengan kencang ia menghela nafasnya, dan akhirnya ia pun berjalan menuju pembatas atap gedung. Tidak lupa dengan melompat-lompat di tempatnya untuk sekedar pemanasan saja. Gedung itu memiliki tinggi yang cukup, mungkin sekitar sepuluh meter dari atas tanah jadi butuh pemanasan bagi Edwin untuk turun dari gedung itu, belum lagi ia tidak mengetahui kondisi di bawah sana yang bisa saja menjadi sangat berbahaya. Setelah ia merasa bahwa seluruh keberaniannya terkumpul, Edwin sesegera mungkin menuruni gedung tersebut melalui dinding luar gedung. Tanpa tali pengaman dan tanpa alat apa pun lagi yang melindungi dirinya agar tidak terjatuh di sana, namun ia berhasil melakukannya dengan mulus. Suasana saat itu sangatlah sepi, suara tangisan dari bayi Dhimas terdengar namun sayup-sayup, yang membuat Edwin merasa lega karenanya. Setidaknya bayi Dhimas akan aman di atas sana. Edwin turun dengan cepat, namun ia juga melakukannya dengan penuh kehati-hatian. Sesampainya Edwin di bawah, dengan kedua pandang yang sangat was-was, Edwin mengeluarkan pemukul kasti dan berlari dengan perlahan menggunakan jemari kakinya menuju mini market yang letaknya tidak jauh dari sana. Letaknya bersebrangan tepat dengan gedung dimana ia turun saat itu. Sesering mungkin ia menoolehkan pandangnya ke kanan dan ke kiri untuk mengecek keadaan di sekitar dan kemudian dengan sangat pelan ia mendorong pintu mini market tersebut, namun sayang … pintu itu terkunci di sana, yang akhirnya membuat Edwin mau tidak mau harus memecahkan pintu kaca di sana. Ia mengerutkan dahinya dan berpikir sejenak mengenai mendobrak pintu tersebut, ia tidak mungkin memukulnya dengan keras hingga menimbulkan suara keributan di sana yang akhirnya akan memancing para zombie untuk menghampiri dirinya. Tidak, ia tidak bisa melakukan hal senekat itu, namun ia tidak kehabisan akal karenanya, dengan bermodalkan sebuah pisau lipat yang ia raih dari dalam saku celananya, yang kemudian ia congkel pintu tersebut hingga kaca tersebut membuat retakkan yang sangat banyak tanpa menimbulkan suara yang berisik di sana dan akhirnya jalan itulah yang membuat Edwin berhasil untuk masuk dan membobol mini market tersebut. Melihat keberhasilan yang ia lakukan, membuat Edwin tersenyum bangga pada dirinya sendiri, namun kemudian indra pendengarannya pun menangkap sesuatu yang pada akhirnya membuat dirinya masuk dengan segera ke dalam market dan bersembunyi setelah sebelumnya ia yakin bahwa ia telah mendengar sayup-sayup suara geraman dan langkah kaki cepat di sekitarannya. Tangan Edwin bergetar, ia mengeratkan genggamannya pada stik kasti miliknya, ia pun bahkan berjalan mundur dengan perlahan ketika satu sosok zombie masuk ke dalam mini market tersebut. “hh … hhh… hhh …” deruan nafas Edwin terdengar oleh dirinya sendiri, dengan jelas ia pun dapat melihat lelaki dewasa tengah berjalan terpincang-pincang dengan luka yang terbuka di sudut wajahnya, lendir serta darah pun keluar dari dalam mulutnya, dan hal itu membuat Edwin merasa bahwa luka-luka tersebut benar-benar membuat lelaki itu terlihat menyeramkan. “khrrrr…. arghh” erangan dari lelaki zombie tersebut terdengar, Edwin yang merasa bahwa situasi yang ia hadapi sangat berbahaya pun, pada akhirnya memutuskan untuk bersembunyi diantara balik lemari pendingin yang ada di sana. Meski, ia pernah memukul satu zombie, namun ia tidak berani melakukannya lagi karena situasi kali ini bisa saja menjadi lebih berbahaya dibandingkan dengan situasi yang lalu. Beruntunglah, zombie menyeramkan itu tidak menemukan keberadaan Edwin di sana yang pada akhirnya secara naluri sang zombie pun pergi dari mini market itu. Melihat sang zombie pergi dari sana, membuat Edwin merasa sangat lega dan ia pun menjadi leluasa untuk mencari s**u bagi bayi Dhimas yang tengah kelaparan saat ini. Dengan langkah kaki yang cepat dan berjinjit agar tidak terdengar oleh siapa pun, Edwin menghampiri rak stok s**u dan ia pun memasukan semua s**u cair kotak itu ke dalam tas miliknya, ia tahu bahwa ia tidak bisa membawa s**u bubuk, karena itu sangatlah merepotkan baginya. Jadi mau tidak mau, ia dengan terpaksa memberikan bayi Dhimas s**u kotak full cream, serta beberapa biskuit bayi. Setelah sebelumnya ia tahu bahwa Bayi Dhimas berumur 5-6 bulan dan itu cocom dengan biskuit tersebut. Setelah dirasa cukup baginya membawa beberapa buah, ia segera menggendong tas tersebut dan berjalan keluar dari mini market itu. Langkah kakinya pun seketika terhenti ketika mendapati beberapa zombie yang berdiri di samping gedung itu, mereka menatap ke arah atas seraya menggeram menanggapi suara tangisan dari bayi Dhimas yang saat itu terdengar di sana. Merasa bahwa bayi Dhimas dalam bahaya, tanpa pikir panjang ia meraih sebuah ember yang tergeletak di sekitarnya dan dengan kencang ia pukul-pukul untuk mengalihkan perhatian mereka yang saat ini menoleh ketika suara keras itu terdengar di telinganya. Trang!! Trangg!! Trang!! “heii!!! came on!!” teriak Edwin saat itu, ia bahkan segera berlari setlah berucap demikian. Bagaimana tidak? Zombie-zombie di sana segera saja mengejar Edwin setelah mengetahui bahwa ada santapan lezat yang memanggil mereka untuk segera di makan. Menyadari bahwa zombie-zombie itu mengejarnya, Edwin segera berlari dengan kencang di sana. Ia menghindari zombie-zombie itu sebisanya. Dengan langkah kaki yang cukup kencang, Edwin berlari memutari blok bangunan di sana, dan jangan pernah kalian meragukan kecepatannya dalam berlari, karena ia berlari sangat kencang saat ini, hingga ia mampu meninggalkan zombie-zombie yang mengejarnya di belakang. Ia sengaja memutar, agar kemudian ia dapat kembali menuju gedung tempat dimana ia meninggalkan Dhimas sendirian. Tanpa aba-aba, ia mempercepat langkah kakinya dan kemudian melompat dan menaiki dinding gedung tersebut dengan cukup cekatan. Ia beruntung, karena apa yang ia harapkan mengenai zombie yang tidak mampu mengejarnya pun terkabulkan di sana, tak ada satu pun zombie yang ada di belakangnya yang akhirnya membuat Edwin dengan leluasa memanjat gedung tersebut untuk kemuidan menghampiri Bayi Dhimasi yang kelaparan. Dengan perasaan senang, Edwin berlari menghampiri kotak kayu dimana ia meletakan bayi Dhimas sendirian di sana. “Hei… kakak datang, coba tebak … kakak bawain kamu s**u!” jelasnya lagi dengan nada yang dibuat sedemikian rupa agar terdengar ramah oleh bayi Dhimas yang kini menghentikan jeritannya namun masih terisak di sana, dengan segera ia membuka kotak biskuit dan memberikannya kepada bayi Dhimas. Edwin pun terkekeh pelan ketika bayi Dhimas merampas biskuit tersebut dengan cepat dan memasukannya ke dalam mulutnya yang mungil, Edwin juga tidak melupakan s**u yang telah ia bawa sebelumnya, yang akhirnya membuat Edwin harus memindahkan s**u kotak itu ke dalam dot botol milik bayi Dhimas yang sengaja dimasukan oleh Lili sang ibu ke dalam ransel milik Edwin saat itu.  to be continue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD