Tidak ada yang dapat Edwin lakukan selain menatapi bayi Dhimas yang tengah menyantap biskuit di sana, setelah cukup lama ia memandanginya, ia pun menjadi merasa lapar dan akhirnya bersama dengan bayi Dhimas ia menyantap roti bungkus miliknya di sana. Ia berpikir bahwa ia juga harus mendapatkan energi agar ia bisa kembali berlari dan melompat dengan membawa Dhimas di dalam gendongannya. “Dhimas tau gak?? tadi ada lelaki yang seremm banget … sampai sampai kakak merasa takut sama dia, kakak juga sembunyi di belakang lemari es” ucap Edwin kepada Dhimas, meskipun ia tahu bahwa bayi Dhimas tidak akan menanggapinya dan malah menatap Edwin dengan tatapan bingung seperti saat ini, tapi setidaknya Edwin merasa ada seorang teman saat ini dan itu saja sudah membuatnya bersyukur, “kakak juga sebene

