Bab 1. Awal Balas Dendam
Lampu kamar hotel itu redup, hanya menyisakan semburat cahaya keemasan yang memantul di dinding marmer.
Suasana begitu sunyi. Namun, di balik kesunyian itu, sesuatu yang gelap sedang terjadi.
Olivia Falcon berdiri di tepi ranjang, menatap sosok pria yang terbaring lemah di atasnya.
Christoper Maxton, pria yang dia tarik paksa beberapa menit yang lalu ke dalam kamar itu setelah berhasil diberi obat per*ngs*ng.
Dia melewati penjagaan yang ketat dan malam ini, Dewi Fortuna sedang berada di pihaknya, membantunya melancarkan aksi bejatnya.
Pria itu tampak setengah sadar. Nafasnya berat, dadanya naik turun tak beraturan. Kancing kemejanya terbuka berantakan, rambutnya sedikit basah oleh keringat. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi semuanya terasa begitu berat.
Untuk pertama kali dalam hidup seorang Christopher, ini kali pertama dia tidak berdaya di depan seorang wanita.
“Kau … apa yang… kau lakukan…” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Tatapannya kabur, rupa yang tampak tak asing
Olivia tidak langsung menjawab.
Ia hanya tersenyum. Senyumannya dingin, seperti seseorang yang telah memenangkan sesuatu.
Perlahan, ia naik ke atas ranjang. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah pria itu.
“Menjauh dariku!” suara pria itu dingin, “Aku tidak akan mengampunimu jika kau berani menyentuhku!”
Ancamannya terdengar mengerikan. Tapi tidak membuat Olivia gentar sama sekali.
Tangannya bergerak perlahan, menyentuh d**a Christ, dengan perlahan menelusuri otot dadanya yang menggoda. Tidak heran, semua orang tahu siapa pria itu dan hampir semua wanita menginginkannya. Tapi sayangnya pria sehebat Christopher, justru terjerat dengan seorang wanita iblis.
“Sebaiknya jangan melawan,” Ia berbisik pelan. “Hanya akan membuang tenagamu sia-sia karena
Itu tidak akan berhasil.”
“Aku peringatkan sekali lagi,” pria itu kembali menggeram, “Menyingkir dari tubuhku!” Christ kembali mengangkat tangannya, mencoba mendorongnya menjauh, tapi tenaga itu tak cukup.
Tubuhnya tak dapat lagi dia kendalikan akibat pengaruh obat yang begitu kuat.
Olivia terkekeh pelan. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa inci.
“Tenang saja,” jawabnya tenang. “Aku masih perawan, dan akan aku berikan padamu.”
“Kau gila!” Teriak Christ murka.
“Ya, aku memang gila!” Olivia melepaskan gaunnya, dan menel*nj*ngi pria itu tanpa ragu.
Gagah, dan terlihat begitu perkasa. Dan malam ini, akan dia nikmati baik-baik. Tanpa ragu, Olivia mengambil alih sepenuhnya kendali atas situasi itu.
Sekalipun Christ mengumpat dan memaki, tak menghentikan kegilaannya. Semua itu demi sebuah tujuan besar, bukan sekedar untuk memenuhi hasrat.
Christ mengerang, antara sadar dan tidak, antara marah dan tak berdaya. Namun, permainan gila itu mulai membakarnya. Setiap sentuhan tangan Olivia, gerakan bibirnya di atas otot tubuhnya, membangkitkan gairah yang seolah sudah lama mati.
“Aku akan… membunuhmu…”
Ancaman itu kembali dia lontarkan, namun terdengar lemah.
Olivia justru tersenyum.
“Kau tidak akan melakukannya,” katanya pelan. “Karena mulai malam ini… kau akan menjadi milikku.”
Ia menatap mata pria itu dalam-dalam, menyentuh garis wajahnya yang tegas, “Aku akan merebutmu dari Florence. Aku bersumpah akan melakukannya.”
Ketika menyebut nama itu, membuat sesuatu di dalam diri Olivia bergetar. Ada api yang menyala dari tatapan matanya.
Florence, adalah sahabat baiknya. Sahabat yang selalu berbagi dalam suka dan duka. Tapi kini, dia tidak lebih dari seorang pengkhianat. Wanita iblis jahat yang ingin dia kutuk sampai mati.
Olivia naik ke atas tubuh Christopher. Dia menjerit sakit saat keperkasaan pria itu merobek selaput tipis yang dia jaga dengan baik.
Dan di tengah rasa sakit, ingatan itu datang tanpa diundang.
Bau menyengat rumah sakit. Cahaya putih yang menusuk mata. Suara langkah kaki yang tergesa.
Dan tubuh yang dipenuhi luka itu, terbaring kaku di atas ranjang dingin. Tak bergerak lagi, dan tak lagi bernyawa.
“Kak…” suara Olivia saat itu nyaris pecah. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah pucat pria di hadapannya.
Tidak ada jawaban. Tidak ada lagi senyuman hangat seperti yang biasanya dia lihat.
Tidak ada lagi sosok hangat yang selalu melindunginya. Yang terbaring hanyalah tubuh kaku yang tak lagi bernyawa.
“Kakak… bangun…” bisiknya putus asa. “Ini tidak lucu… jangan menakuti aku seperti ini. Bukankah kau berjanji akan mengajakku pergi memancing?”
Tapi, tak ada lagi bisikan lembut. Tidak ada lagi usapan tangan hangat yang ia dapatkan. Dunianya seolah terhenti saat itu juga. Satu-satunya keluarga yang dia miliki, sudah tidak ada lagi.
Seorang perawat datang, wajahnya penuh simpati. “Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. ”
Olivia mundur selangkah. Air mata membasahi wajahnya. Kepalanya terasa kosong, tak dapat berpikir dengan jernih.
“Siapa…” suaranya bergetar. “Siapa yang melakukan ini?”
Perawat itu hanya menggeleng, dia tidak tahu apa-apa. Tapi sahabat baik kakaknya berdiri di sisi ruangan, terlihat sedih dan menyesali sesuatu.
“Kenapa tidak ada yang mau mengatakan padaku?” teriaknya, “Siapa yang melakukan hal ini pada kakakku?”
“Aku lebih suka kau tidak mengetahuinya, Olivia,” ucap sahabat baik kakaknya.
“Kenapa?” Olivia menatap tajam, “Kenapa aku tidak boleh tahu?”
“Karena yang melakukannya—” ucapannya terhenti, terlihat keraguan dari ekspresi wajahnya.
“Katakan siapa yang melakukannya!” teriak Olivia histeris.
“Florence.”
Saat nama itu disebut, dunia Olivia terasa runtuh. Langkahnya goyah, dia berpegangan kuat pada sisi ranjang.
“Florence…” nama itu disebut, “Kenapa?”
Air mata kembali mengalir. Hatinya hancur.
“Salah, pasti ada yang salah. Tidak mungkin Florence yang melakukannya.”
“Aku tahu ini sulit diterima olehmu. Tapi pelaku utamanya Florence, meski tak ada bukti yang akurat, tapi dialah yang membayar orang-orang itu untuk membunuh kakakmu.”
“Kenapa?” air mata semakin deras.
Padahal Florence adalah sahabat paling baiknya. Seseorang yang sangat dia percaya. Tapi kenapa justru dia yang telah membunuh kakaknya?
Memang selama ini Florence tidak mengenal kakaknya. Akibat perceraian kedua orang tua, dia dibawa pergi oleh ayahnya, dan kakaknya mengikuti Ibu mereka.
Dia pun tidak pernah tahu kalau selama ini Florence dan kakaknya saling mengenal.
Dia tidak ingin mempercayainya tapi apa yang dikatakan oleh sahabat baik kakaknya itu menjadi bukti yang tak bisa dia bantah.
Sejak hari itu Florence adalah musuh yang harus dia singkirkan, tapi dia tahu tidak begitu mudah.
Sebab itu dia akan merebut apapun yang dimiliki Florence. Dan akan dia hancurkan pernikahannya, pernikahan yang telah merenggut nyawa kakaknya.
Ingatan itu membuatnya semakin agresif. Bergerak semakin cepat di atas tubuh Christopher. Pria itu miliknya, akan dia pastikan menjadi miliknya.
“Kakak,” bisiknya lirih dalam hati, “Aku pasti akan membalas kematianmu!”
Malam itu baru awal dari pembalasan dendamnya. Dan dia akan menghancurkan Florence dengan perlahan.