bc

The Antagonis; Akan Aku Hancurkan Pernikahanmu

book_age18+
80
FOLLOW
2.6K
READ
billionaire
revenge
dark
family
HE
friends to lovers
arrogant
heir/heiress
tragedy
bxg
affair
like
intro-logo
Blurb

Di dalam kamar hotel yang temaram, hanya diterangi cahaya redup dari lampu samping tempat tidur, Olivia Falcon bergerak tanpa ragu, liar, dan penuh tekad di atas tubuh seorang pria yang nyaris tak sepenuhnya sadar. Nafas pria itu berat, pandangannya kabur, terjebak dalam efek obat yang dengan sengaja diberikan oleh Olivia.

Dan pria itu… adalah suami sahabatnya sendiri.

“Ka—kau… aku akan membunuhmu!” geram pria itu, suaranya parau, dipenuhi amarah yang tak mampu ia kendalikan sepenuhnya.

Olivia justru tersenyum. Senyum dingin, nyaris tanpa emosi. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya, lalu menghentakkan tubuhnya lebih keras seolah menegaskan kendali yang ia miliki saat ini.

“Kau akan menjadi milikku, Christ,” bisiknya pelan, namun penuh ancaman. “Aku akan merebutmu… darinya.”

Gila.

Mungkin itulah satu-satunya kata yang pantas menggambarkan apa yang sedang ia lakukan. Tapi bagi Olivia, kewarasan sudah lama kehilangan arti.

Semua ini… adalah balas dendam.

Demi ambisi, demi status, demi seorang pria kaya, Florence, sahabat yang dulu ia percaya sepenuh hati telah mengkhianatinya. Lebih dari itu… wanita itu telah merenggut nyawa kakaknya. Pria yang selama ini diam-diam mencintainya… dibunuh tanpa ampun, hanya demi membuka jalan bagi ambisi Florence.

Sejak hari itu, sesuatu dalam diri Olivia mati.

Dan yang tersisa… hanyalah kebencian.

Ia bersumpah, satu per satu, akan ia hancurkan semua yang dimiliki Florence. Kebahagiaannya. Kehormatannya. Bahkan pria yang kini ia genggam erat di bawah kendalinya.

Meski pria itu berbahaya. Meski dia adalah penguasa yang bisa menghancurkan siapa pun yang mengusiknya.

Olivia tidak peduli.

Nyawanya? Sudah lama ia pertaruhkan.

“Kakak…” bisiknya lirih dalam hati, matanya sekilas berkilat oleh luka yang belum sembuh. “Aku pasti akan membalas kematianmu.”

Nafasnya bergetar, namun tekadnya tak goyah.

“Dan mereka… akan membayar mahal.”

Namun di balik semua rencana yang tersusun rapi, ada satu hal yang tak pernah bisa ia pastikan,

Apakah dendam ini benar-benar akan berjalan sesuai keinginannya?

Atau justru… akan menghancurkannya lebih dulu?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Awal Balas Dendam
Lampu kamar hotel itu redup, hanya menyisakan semburat cahaya keemasan yang memantul di dinding marmer. Suasana begitu sunyi. Namun, di balik kesunyian itu, sesuatu yang gelap sedang terjadi. Olivia Falcon berdiri di tepi ranjang, menatap sosok pria yang terbaring lemah di atasnya. Christoper Maxton, pria yang dia tarik paksa beberapa menit yang lalu ke dalam kamar itu setelah berhasil diberi obat per*ngs*ng. Dia melewati penjagaan yang ketat dan malam ini, Dewi Fortuna sedang berada di pihaknya, membantunya melancarkan aksi bejatnya. Pria itu tampak setengah sadar. Nafasnya berat, dadanya naik turun tak beraturan. Kancing kemejanya terbuka berantakan, rambutnya sedikit basah oleh keringat. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi semuanya terasa begitu berat. Untuk pertama kali dalam hidup seorang Christopher, ini kali pertama dia tidak berdaya di depan seorang wanita. “Kau … apa yang… kau lakukan…” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Tatapannya kabur, rupa yang tampak tak asing Olivia tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyumannya dingin, seperti seseorang yang telah memenangkan sesuatu. Perlahan, ia naik ke atas ranjang. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah pria itu. “Menjauh dariku!” suara pria itu dingin, “Aku tidak akan mengampunimu jika kau berani menyentuhku!” Ancamannya terdengar mengerikan. Tapi tidak membuat Olivia gentar sama sekali. Tangannya bergerak perlahan, menyentuh d**a Christ, dengan perlahan menelusuri otot dadanya yang menggoda. Tidak heran, semua orang tahu siapa pria itu dan hampir semua wanita menginginkannya. Tapi sayangnya pria sehebat Christopher, justru terjerat dengan seorang wanita iblis. “Sebaiknya jangan melawan,” Ia berbisik pelan. “Hanya akan membuang tenagamu sia-sia karena Itu tidak akan berhasil.” “Aku peringatkan sekali lagi,” pria itu kembali menggeram, “Menyingkir dari tubuhku!” Christ kembali mengangkat tangannya, mencoba mendorongnya menjauh, tapi tenaga itu tak cukup. Tubuhnya tak dapat lagi dia kendalikan akibat pengaruh obat yang begitu kuat. Olivia terkekeh pelan. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa inci. “Tenang saja,” jawabnya tenang. “Aku masih perawan, dan akan aku berikan padamu.” “Kau gila!” Teriak Christ murka. “Ya, aku memang gila!” Olivia melepaskan gaunnya, dan menel*nj*ngi pria itu tanpa ragu. Gagah, dan terlihat begitu perkasa. Dan malam ini, akan dia nikmati baik-baik. Tanpa ragu, Olivia mengambil alih sepenuhnya kendali atas situasi itu. Sekalipun Christ mengumpat dan memaki, tak menghentikan kegilaannya. Semua itu demi sebuah tujuan besar, bukan sekedar untuk memenuhi hasrat. Christ mengerang, antara sadar dan tidak, antara marah dan tak berdaya. Namun, permainan gila itu mulai membakarnya. Setiap sentuhan tangan Olivia, gerakan bibirnya di atas otot tubuhnya, membangkitkan gairah yang seolah sudah lama mati. “Aku akan… membunuhmu…” Ancaman itu kembali dia lontarkan, namun terdengar lemah. Olivia justru tersenyum. “Kau tidak akan melakukannya,” katanya pelan. “Karena mulai malam ini… kau akan menjadi milikku.” Ia menatap mata pria itu dalam-dalam, menyentuh garis wajahnya yang tegas, “Aku akan merebutmu dari Florence. Aku bersumpah akan melakukannya.” Ketika menyebut nama itu, membuat sesuatu di dalam diri Olivia bergetar. Ada api yang menyala dari tatapan matanya. Florence, adalah sahabat baiknya. Sahabat yang selalu berbagi dalam suka dan duka. Tapi kini, dia tidak lebih dari seorang pengkhianat. Wanita iblis jahat yang ingin dia kutuk sampai mati. Olivia naik ke atas tubuh Christopher. Dia menjerit sakit saat keperkasaan pria itu merobek selaput tipis yang dia jaga dengan baik. Dan di tengah rasa sakit, ingatan itu datang tanpa diundang. Bau menyengat rumah sakit. Cahaya putih yang menusuk mata. Suara langkah kaki yang tergesa. Dan tubuh yang dipenuhi luka itu, terbaring kaku di atas ranjang dingin. Tak bergerak lagi, dan tak lagi bernyawa. “Kak…” suara Olivia saat itu nyaris pecah. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah pucat pria di hadapannya. Tidak ada jawaban. Tidak ada lagi senyuman hangat seperti yang biasanya dia lihat. Tidak ada lagi sosok hangat yang selalu melindunginya. Yang terbaring hanyalah tubuh kaku yang tak lagi bernyawa. “Kakak… bangun…” bisiknya putus asa. “Ini tidak lucu… jangan menakuti aku seperti ini. Bukankah kau berjanji akan mengajakku pergi memancing?” Tapi, tak ada lagi bisikan lembut. Tidak ada lagi usapan tangan hangat yang ia dapatkan. Dunianya seolah terhenti saat itu juga. Satu-satunya keluarga yang dia miliki, sudah tidak ada lagi. Seorang perawat datang, wajahnya penuh simpati. “Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. ” Olivia mundur selangkah. Air mata membasahi wajahnya. Kepalanya terasa kosong, tak dapat berpikir dengan jernih. “Siapa…” suaranya bergetar. “Siapa yang melakukan ini?” Perawat itu hanya menggeleng, dia tidak tahu apa-apa. Tapi sahabat baik kakaknya berdiri di sisi ruangan, terlihat sedih dan menyesali sesuatu. “Kenapa tidak ada yang mau mengatakan padaku?” teriaknya, “Siapa yang melakukan hal ini pada kakakku?” “Aku lebih suka kau tidak mengetahuinya, Olivia,” ucap sahabat baik kakaknya. “Kenapa?” Olivia menatap tajam, “Kenapa aku tidak boleh tahu?” “Karena yang melakukannya—” ucapannya terhenti, terlihat keraguan dari ekspresi wajahnya. “Katakan siapa yang melakukannya!” teriak Olivia histeris. “Florence.” Saat nama itu disebut, dunia Olivia terasa runtuh. Langkahnya goyah, dia berpegangan kuat pada sisi ranjang. “Florence…” nama itu disebut, “Kenapa?” Air mata kembali mengalir. Hatinya hancur. “Salah, pasti ada yang salah. Tidak mungkin Florence yang melakukannya.” “Aku tahu ini sulit diterima olehmu. Tapi pelaku utamanya Florence, meski tak ada bukti yang akurat, tapi dialah yang membayar orang-orang itu untuk membunuh kakakmu.” “Kenapa?” air mata semakin deras. Padahal Florence adalah sahabat paling baiknya. Seseorang yang sangat dia percaya. Tapi kenapa justru dia yang telah membunuh kakaknya? Memang selama ini Florence tidak mengenal kakaknya. Akibat perceraian kedua orang tua, dia dibawa pergi oleh ayahnya, dan kakaknya mengikuti Ibu mereka. Dia pun tidak pernah tahu kalau selama ini Florence dan kakaknya saling mengenal. Dia tidak ingin mempercayainya tapi apa yang dikatakan oleh sahabat baik kakaknya itu menjadi bukti yang tak bisa dia bantah. Sejak hari itu Florence adalah musuh yang harus dia singkirkan, tapi dia tahu tidak begitu mudah. Sebab itu dia akan merebut apapun yang dimiliki Florence. Dan akan dia hancurkan pernikahannya, pernikahan yang telah merenggut nyawa kakaknya. Ingatan itu membuatnya semakin agresif. Bergerak semakin cepat di atas tubuh Christopher. Pria itu miliknya, akan dia pastikan menjadi miliknya. “Kakak,” bisiknya lirih dalam hati, “Aku pasti akan membalas kematianmu!” Malam itu baru awal dari pembalasan dendamnya. Dan dia akan menghancurkan Florence dengan perlahan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
752.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
985.1K
bc

A Warrior's Second Chance

read
363.1K
bc

Not just, the Beta

read
350.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook