Bab 6 : Rewind Music

1021 Words
*Regina’s POV* Setelah aku berbelanja di toko kosmetik. Aku pun kembali teringat dengan tujuan awalku ke sini. Aku berniat mencoba makanan khas dari Korea Selatan yang bernama mandu. Terbuat dari tepung dan isiannya pun lumayan bervariasi. Meskipun lebih banyak daging ayam dan daun bawang. Sekitar lima menit dari toko kosmetik barusan. Aku telah berdiri di depan restoran mandu yang terkenal. Aroma sedap sudah tercium dari luar ruangan. Aku tersenyum dan menekan tombol di pintu sehingga terbuka sempurna. Lalu, memilih meja di paling pojok. Restoran bernama Gwangju ini merupakan restoran keluarga yang telah berdiri sejak dulu. Asal dari pemilik restoran adalah daerah Gwangju. Itulah asal dari nama restoran ini. Aku percaya kalau setiap tempat usaha yang diwariskan secara turun menurun merupakan restoran yang tepat. Karena memiliki cita rasa berbeda dari restoran lainnya. Itulah alasan masih bertahan sampai sekarang. Aku baru saja ingin mengangkat tanganku. Sampai mendengar sebuah lagu yang membuyarkan kesadaranku. Bagaikan sebuah kaset yang berputar di dalam ingatan. Lagu ini merupakan lagu kesukaan kami. Tentang sepasang kekasih yang jatuh cinta. Aku masih heran dengan hari-hari yang kulalui di Korea Selatan. Setiap tempat mempunyai cerita. Bahkan, lagu-lagu yang kembali berputar memenuhi hariku. Hampir semua lagu yang berputar di dalam restoran kuketahui. Sebuah ingatan tentang Seo Hyun pun berputar di dalam kepalaku. Bagaimana indah senyuman itu dengan mata yang menyipit. Atau, suara berat itu menyadarkanku kalau pagi sudah menjelang. Kami pernah melewati hari-hari bersama. Yang mengherankan adalah karena Seo Hyun melupakannya secepat itu. “Annyeonghaseyo, maaf anda ingin memesan apa?” Suara dari pelayan menyadarkanku. Kemudian, aku tersenyum simpul sebelum menunjuk pada sebuah gambar di menu. Aku memesan sup mandu dengan tambahan daun bawang. Karena aku sangat menyukainya. Selain aromanya yang begitu khas. Aku menyukai rasa dari daun bawang yang membuat makanan menjadi lebih kaya rasa. Pernah suatu ketika Seo Hyun menanyakan alasanku menyukai daun bawang. Aku hanya tersenyum dan menikmati santapanku. Jujur saja aku lelah. Setiap hal yang kulakukan selalu saja mengingatkanku terhadap Seo Hyun. Termasuk setiap mendengar lagu tentangnya. Otomatis hal itu akan mempengaruhi perasaanku. Salah satunya adalah lagu dari penyanyi Lee Hi. Aku memperhatikan keadaan restoran yang ramai. Banyak sekali pengunjung datang bersama keluarga ke sini. Hanya beberapa kulihat pasangan. Bahkan, aku satu-satunya yang datang sendirian. Beberapa dari mereka menatapku, namun aku berusaha cuek dengan melihat-lihat menu di meja. Siapa tau saja aku berminat untuk menambah menu. Penempatan meja yang cukup berdekatan membuat kami secara tidak sengaja dapat mendengar percakapan yang terjadi. Atau, aroma makanan dari meja lain dapat tercium sampai di tempatku. Untungnya saja pengunjung tidak diijinkan merokok. Karena dengan begitu suasana di dalam restoran hanya sebatas aroma makanan yang menguar. Membuat perutku terasa lapar. Sekitar tiga puluh menit berlalu. Pelayan datang bersama dengan semangkok sup mandu pesanananku. Wanita muda itu tersenyum, lalu meletakkan makanan di hadapanku. Kemudian, membungkuk memberikan salam sebelum pergi. Di hari yang begitu dingin seperti sekarang. Yang aku butuhkan adalah semangkok kehangatan dari sup mandu. Aku memang belum benar-benar bisa melupakan Seo Hyun di waktu luangku. Setidaknya aku berusaha untuk membiarkan kenangan itu tetap hidup. Kalau mungkin saja suatu saat kami akan bertemu. Pada waktu dan tempat yang tidak terduga. Namun di balik itu semua aku berharap kehadiran Seo Hyun di sini. Melengkapi hari-hariku yang terasa kosong. Bagaikan puzzle yang kehilangan potongan terakhir di hidupku. .+.+.+.+. Sore hari datang lebih cepat. Aku pun telah puas berjalan-jalan seharian ini. Rasa sakit di kepalaku sudah tidak terasa lagi. Langkah kakiku telah sampai di depan pintu masuk dengan warna emas. Seorang penjaga membukakan pintu dan tersenyum ramah. Aku pun membalas senyuman itu lalu memasuki lobi hotel. Di tanganku membawa tas berisi kosmetik yang tadi kubeli. Serta sebuah tas plastik berwarna hitam berisi mandu goreng yang tadi kupesan sebelum pulang. Sekarang aku menunggu di depan lift. Lalu, memencet tombol dan menunggu sekitar lima menit. Aku masuk dengan perasaan yang tidak menentu. Masih tidak percaya kalau aku memilih jalan ini. Untuk tetap datang ke Korea Selatan dan menjalani hari-hariku tanpa kehadiran Seo Hyun. Dulu kami selalu bercanda di dalam lift. Terkadang saling berpegangan tangan seakan-akan tidak pernah terlepas. Walaupun pada kenyataannya hal itu tidak berlaku sekarang. Aku tetap kehilangan Seo Hyun. Berapa kali pun aku berusaha untuk mencoba menggenggam tangannya. Ia justru yang melepaskan pegangan tangan kami. Denting suara lift yang telah sampai di lantai tiga belas menyadarkanku. Pintu terbuka lebar. Lalu, aku melangkah menuju kamarku. Tentunya setelah berbelok ke kiri aku melihat pintu kamarku bernomor 1315. Setelah menempelkan kartu pada pintu. Suara pintu yang terbuka menyadarkan lamunanku. Kemudian, aku masuk dan menaruh kartu di tempat yang sudah disediakan. Hingga lampu-lampu pun menyala dan penghangat ruangan berderu pelan memecahkan kesunyian kamar. Aku mengambil remote dan menyalakan televisi. Bukannya berniat untuk menikmati siaran yang ada. Melainkan membuat ruangan ini cukup ramai. Karena aku merasa sedikit takut jika harus mandi dengan suara yang minim. Aku tersenyum kecut mengingat saat kami bersama dulu. Biasanya Seo Hyun akan menunggu di tempat tidur sambil menyalakan televisi. Ia akan mengeluh karena aku mandi cukup lama. Belum lagi harus berdandan sekitar satu jam. Walaupun begitu, ia akan memelukku dari belakang dan mengatakan sangay mencintaiku. Aku berharap bisa melakukan hal tersebut. Membuat hari-hari penuh kasih sayang tersebut menjadi milikku. Hanya saja semuanya tidak mungkin dan mustahil mengulangnya kembali. Aku berjalan menuju meja rias dan mengambil ponselku. Mengetikkan kata rindu pada pesan singkat dan mengirimkannya kepada Seo Hyun. Aku tahu hal itu sia-sia. Namun tetap saja kulakukan. Setidaknya aku harus berusaha semampuku. Karena tidak ada jalan lain yang bisa kulakukan untuk mendapatkan hatinya. Setelah pesan terkirim. Aku menyalakan musik klasik untuk menenangkan pikiranku. Mengecilkan volume televisi sehingga suara musik mendominasi. Lalu, berjalan menuju kamar mandi. Saat ini yang kubutuhkan adalah berendam di air hangat. Melupakan sejenak kerisauanku tentang Seo Hyun. Sambil memikirkan beberapa kemungkinan yang menyebabkan hubungan kami berakhir. Selama ini kami tidak pernah bertengkar. Namun anehnya justru karena pertengkaran kecil hubungan kami harus berakhir. Bahkan, aku menyayangkan sikap Seo Hyun yang kekanakan memblokir kontakku. Aku jadi tidak bisa memantau aktifitasnya sekarang. Dari sekian banyak hal yang kumiliki. Seo Hyun adalah salah satunya harta yang kumiliki dalam hidup. Aku bertahan pun karena kehadirannya di hidupku. Satu hal pasti adalah aku akan berjuang untuknya. Sampai kapanpun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD