Bab 5 : Namdaemun Market

1063 Words
*Regina’s POV* Hal yang paling kubenci bukanlah menunggu seseorang. Melainkan terperangkap di dalam ingatan masa lalu. Menyadarkanku kalau mungkin saja sebuah pertemuan itu hanyalah anganku belaka. Tidak ada cara untuk meraihnya kembali. Sebesar apapun usahaku. Tidak akan pernah bisa mewujudkan impianku. Pernah suatu ketika aku akan menangis di kamar hotel. Sambil mengingat memori lalu. Aku merasa pasti ada cara untuk meluluhkan hatinya. Walaupun bukan sekarang. Setelah menghabiskan waktu selama satu jam di dalam restoran kimchi jiggae. Aku mencoba untuk berjalan-jalan lagi. Tujuanku kali ini adalah pasar tradisional bernama Namdaemun Market. Aku pernah membicarakan hal ini dengan Seo Hyun. Kami dulu berbicara mengenai dumpling yang terkenal di sana. Atau, minuman sikhye yang terkenal menyegarkan. Aku masih menaiki tangga menuju pintu keluar dari subway station. Mencoba mengatur napasku karena menaiki puluhan tangga yang curam. Dulu aku selalu berolahraga di Bali. Hanya saja semenjak berada di sini kondisiku jauh lebih buruk. Bukan hanya karena tidak berolahraga. Melainkan karena terus-menerus memikirkan Seo Hyun sampai pagi. Aku bahkan heran dengan segala macam pemikiran yang kumiliki untuknya. Terutama mengenai waktu yang sampai kapan tidak mungkin terulang. Aku masih saja berpikir kalau ada cara untuk kembali. Pemikiran tidak masuk akal itu selalu berputar di pikiran. Kira-kira hal apa yang bisa kulakukan untuk menarik perhatiannya? Apakah dengan mengunjungi kantornya dapat membuatnya untuk menemuiku? Terkadang pemikiranku yang tidak masuk akal itulah yang membuatku terjaga sampai pagi. Hal itulah yang kubenci sekarang. Aku telah sampai pada tangga terakhir. Banyak yang menyapa penglihatanku. Salah satunya adalah sepasang kekasih yang berpelukan di tengah jalan. Kurasa mereka pasti baru saja bertemu. Karena raut wajah yang begitu berseri memandang satu sama lain. Pemandangan semacam ini tidak jarang kutemukan di Korea Selatan. Mereka mengekspresikan perasaannya secara bebas. Contohnya saja pasangan barusan. Terkadang aku iri dengan setiap pasangan yang ada di sini. Mereka memiliki kesempatan untuk memeluk kekasihnya. Sedangkan aku mengetahui kabarnya pun tidak. Yang dapat kulakukan adalah mengunjungi tempat-tempat yang ingin dikunjungi kami dulu. Menyedihkan memang. Tapi, hanya itu yang bisa dilakukan untuk membangkitkan setiap memori tentangnya. Aku enggan melupakannya. Bahkan, tidak akan pernah melakukannya. Aku berjalan di antara banyaknya toko yang berjualan. Ada beberapa toko menjual pernak-pernik, kosmetik, bahkan, boneka yang belum pernah kulihat di Bali. Aku menghampiri sebuah toko yang memajang boneka beruang rilakkuma. Sebuah boneka yang sangat terkenal di antara teman-temanku. Karena salah satu personil boyband menyukai boneka ini. Beberapa pengunjung datang untuk melihat-lihat boneka di sini. Aku tersenyum mengingat kalau Seo Hyun mengoleksi boneka rilakkuma di rumahnya. Ia memberikan alasan kalau mengumpulkan boneka itu karena ingin memberikannya kepadaku pada saat aku datang. Entahlah. Kembali mengingat kenangan tersebut membuatku merasakan sedih. Seandainya kami tidak berpisah pasti akan lebih baik. “Annyeonghaseyo,” ucapku menyapa pemilik toko. “Annyeonghaseyo, Ahgassi ingin membeli boneka yang mana?” tanya Ahjumma itu tersenyum ramah. Sebenarnya tadi aku hanya ingin melihat-lihat boneka. Tapi, karena menyadari ada boneka rillakuma dijual di sini, aku jadi berpikir untuk membelinya. Sekadar teman untukku selama di kamar. Aku tahu rasanya mustahil untuk mengharapkan Seo Hyun memberikan boneka ini untukku. Itulah alasannya aku membelinya. Setidaknya untuk menyenangkan diriku sendiri. “Saya ingin membeli boneka rillakuma ini. Berapa harganya?” “Karena Ahgassi mengingatkanku kepada cucuku. Harganya hanya sepuluh ribu won,” ucap Ahjumma itu kembali tersenyum lalu memberikan boneka berukuran sedang padaku. “Ah, saya jadi tidak enak,” ucapku sedikit enggan. “Sungguh. Jangan merasa sungkan,” ucap Ahjumma itu dengan tersenyum hingga kedua matanya menyipit. “Terima kasih,” ucapku pada akhirnya sambil membungkuk. Tidak biasanya penduduk asli korea ramah terhadap orang asing. Namun, pemilik toko ini berbeda. Aku jadi merasa senang untuk melanjutkan jalan-jalan pagi ini. Setelah membayar dan mengucapkan salam. Aku pun memeluk boneka rillakuma itu dan berjalan menuju tempat lain. Hari ini kurasa merupakan hari berbahagia untukku. Karena aku mendapatkan boneka beruang dengan harga yang bisa dibilang lebih murah dari biasanya. Aku bukan tipe wanita yang terpukau dengan hal-hal feminim seperti boneka. Tetapi pengecualian karena hal itu berhubungan dengan Seo Hyun. Aku ingin mengumpulkan banyak memori tentang mantan kekasihku dan membiarkan perasaan itu tetap hidup. Kali ini aku berniat untuk mencari kosmetik. Karena bedak yang kugunakan sudah habis. Aku pun memasuki toko kosmetik dengan label hijau besar bernama Glam You. Aku terkagum dengan penempatan kosmetik pada rak yang disusun rapi. Terdapat banyak sekali merk terkenal sampai harga yang cukup murah. Berbeda dengan kosmetik yang ada di Indonesia. Di sini bisa tiga kali lipat lebih murah. Seorang wanita muda dengan rambut cokelat pendek dan make up yang minimalis datang menghampiriku. Lalu, tersenyum ramah sebelum menyerahkan sebuah flyer kosmetik. “Annyeonghaseyo, Unni. Kebetulan kosmetik yang ada di selebaran sedang diskon. Boleh saya tahu tipe kulit Unni? Jadi, nanti biar dicarikan yang sesuai,” ucap wanita muda ini dengan tersenyum ramah. “Tipe kulit saya berminyak. Kebetulan saya ingin mencari bedak yang tahan lama dipakai seharian.” Wanita muda tadi terlihat mencari-cari di rak penuh kosmetik. Kemudian menyodorkannya kepadaku untuk dicoba. Aku mengambilnya dengan senang hati. Lalu, memandang ke arah cermin dan memakai bedak tadi. Hanya sedikit untuk memastikan bedak yang disarankan memang cocok untuk kulitku. Aku tersenyum melihat hasilnya yang menutup sempurna bekas jerawatku. Selain karena wajahku terlihat menjadi lebih cerah. Aku dulu sempat heran mengapa orang-orang berbondong untuk datang ke Korea Selatan dan memborong kosmetik yang ada di sini. Sekarang aku benar-benar paham alasannya. Selain karena harganya yang terbilang murah. Kosmetik di sini cukup bagus menutupi kekurangan di wajah. Selain itu ada efek mencerahkan yang k****a pada kemasan bedak barusan. “Bagaimana Unni? Apakah tertarik untuk membeli bedak ini?” “Baiklah saya akan membeli. Tambahannya adalah dua liptint ini,” ucapku mengambil dua liptint berwarna merah terang dan merah muda. “Saya mengerti. Silahkan pembayarannya di kasir,” ucap wanita itu mengarahkanku untuk pembayaran. Aku mengambil tas belanja berwarna hijau dan tersenyum sumringah setelah tahu mereka memberikan sampel cukup banyak dan face mask dari brand terkenal. Kurasa toko ini memiliki pelayanan yang baik. Selain mendapatkan beberapa sampel gratis. Para pelayan toko pun bersikap ramah. Setelah keluar dari toko. Aku tersenyum tipis. Setidaknya hari-hariku bukan hanya tentang Seo Hyun yang membuat hatiku merasa sedih. Aku pun harus memikirkan tujuan awalku ke sini. Selain karena ingin mengingat kenangan lalu dan berusaha merebut hati Seo Hyun kembali, aku ingin menikmati waktu selama ini. Dengan mencicipi makanan atau berbelanja kosmetik yang kusukai. Untuk menghilangkan rasa kecewa karena diputuskan secara sepihak. Setidaknya aku berusaha untuk bersikap baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD