Chapter 4

1388 Words
“Bawa saja laptop itu. Aku bisa saja memintamu mengerjakan sesuatu di tengah malam. Laptop itu hak milikmu.” Ya Tuhan sesuatu apalagi! Apa Jessica harus begadang dan menanti tugas dadakan dari Alex? “Kalau begitu aku kerjakan sekarang saja tugasnya disini.” Jessica berbalik badan dan menatap Alex dengan cepat. “Tidak.” Lalu apa sebenarnya mau lelaki itu? “Bawa laptop itu. Itu milikmu sekarang. “Jam berapa kau akan mengirimkan tugasnya?” tanya Jessica Jika ia tahu waktunya dengan pasti, setidaknya iya bisa memperkirakan waktu, berapa lama ia akan begadang dan jam berapa dirinya akan tidur. “Tidak. Pulanglah.” Jessica menghela napas dan memilih mengangguk. Ia berbalik menuju mejanya untuk mengambil laptop itu. Jika ia tidak melakukannya, pasti Alex akan mendebatnya hingga Jessica melakukan itu. Jessica lantas membuka pintu dan keluar dari ruangannya. Ah s**t! Jessica belum mencari tempat tinggal yang dekat dengan kantor ini. Jika ia tetap tinggal di rumahnya, perlu waktu empat jam untuk mencapai kantor ini dan jika itu dilakukan setiap hari akan sangat boros waktu dan uang. Sedangkan Jessica juga harus bolak-balik rumah sakit untuk memeriksa keadaan ibu. Jessica melirik kafe tempat kemarin dirinya mengantri. Entah kenapa ia merasa Jessica harus masuk ke dalam sana. Kafe itu tergolong menyediakan minuman dengan harga yang murah. Itu sebabnya Jessica berani masuk ke dalam sana dan berniat memesan minuman kemarin setelah wawancara. Setelah menimang-nimang, Jessica memutuskan untuk pergi ke rumah sakit saja. Sebelumnya ia sudah menaruh beberapa pakaian ganti di rumah sakit. Termasuk pakaian yang bisa digunakan untuk bekerja. Ponselnya menyala dan itu telepon dari Alex. Jessica segera mengangkatnya. “Halo..” “Berbaliklah, dan masuk ke mobilku.” Aku membalikkan diri dan nampak mobil hitam dengan lampunya yang menyorot diriku. “Masuk sekarang” Lalu apa yang harus ia lakukan setelah masuk mobilnya. Kemana Alex akan membawanya pergi? Jika Alex ingin mengantarnya pulang, itu tidak boleh terjadi. Benar-benar tidak boleh terjadi. Alex tidak boleh mengetahui alamat rumahnya. “Tidak perlu. Aku harus segera pulang.” “Aku akan mengantar.” Dear perasaanku. Aku harus tahu diri bahwa Alex memang pria yang baik kepada semua orang, bukan karena Alex masih menyimpan perasaan kepadaku.Bisik Jessica kepada dirinya sendiri. “Tidak, terima kasih.” Jesica mengakhiri panggilan telepon itu dan segera melangkah secepat yang ia bisa. Jessica tahu, secepat apapun dirinya melangkah akan sangat mudah bagi Alex mengejarnya karena ia mengendarai mobil dengan kecepatan super. Suara ban berdecit di sebelahnya menandakan bahwa Alex berhenti, ia keluar dari mobilnya. Jessica semakin mempercepat langkahnya. Jessica tidak mungkin meminta Alex untuk mengantar ke tempat tinggal asli, atau bahkan mengajaknya ke rumah sakit. Jika pun Jessica mengarahkan dia ke alamat yang salah, dirinya tidak tahu alamat daerah sini. Pasti akan sangat kentara jika ia berbohong. “Aku akan mengantarmu ke apartemen.” ujar Alex seraya melangkah di belakang Jessica. “Sekretarisku mendapat fasilitas berupa mobil dan apartemen. Itu wajib digunakan.” Langkah Jessica terhenti sejenak dan ia membalikkan badan. “Apa?” tanyanya terkejut. Kenapa sejak awal Alex tidak memberitahukan hal itu. Kenapa baru sekarang? Dan demi Tuhan saat ini mereka sedang membicarakan hal itu di jalanan. “Aku antar ke apartemen sekarang.” Apa tidak ada lagi waktu selain besok untuk melakukan hal itu. Kenapa juga harus saat ini? Atau kenapa tidak dari tadi. Ah, jika saja mereka tidak lembur di hari pertama Jessica bekerja. “Aku tidak mau besok pagi sekretarisku terlambat lagi. Cepatlah, kau sudah membuang waktuku.” Jessica menghela napas, sepertinya mengalah adalah pilihan terbaik saat ini. Jika diteruskan, pasti akan terjadi perdebatan dengannya. “Baiklah.” Jessica menyerah.   -------   “Aku ingin gajiku dibayarkan sekarang.” Ingin rasanya Jessica melepas wajahnya saat ini juga. Jika harus ditelan bumi juga tidak masalah. Apapun, asalkan tidak bertemu lagi dengan Alex. Keadaan yang mencekik ini membuatnya mengesampingkan rasa gengsi, rasa malu, hingga harga diri mungkin. Ibunya memerlukan obat dengan harga yang lebih mahal dan ia sudah tidak memiliki uang lagi untuk itu. Setidaknya Jessica merasa bersyukur Alex menyediakannya tempat tinggal. Dan sekarang, sumber uang satu-satunya yang bisa Jessica harapkan adalah gajinya dari Alex. “Atas dasar apa kau layak menagih hak, dengan menjalankan kewajiban baru dua hari?” “Ralat, bahkan belum genap dua hari.” Ales menurunkan berkas di tangannya. Menjatuhkan berkas itu di atas meja dan menatap Elisa dengan ekspresi datar. “Karena aku membutuhkannya.” jawab Jessica jujur. Jika harus melakukan perdebatan lebih lama lagi, Jessica pasti akan kalah. Dari segi aturan, ia tidak berhak melakukan ini. Alex bisa saja langsung memecatnya jika dia ingin. “Kenapa kau membutuhkannya? Untuk apa?” “Kurasa kau tidak berhak mengetahui urusan pribadiku, Pak.” “Kalau begitu aku tidak berkewajiban memberimu gaji sekarang.” Alex kembali mengambil berkasnya. Membaca dengan penuh minat dan mengabaikan Jessica. Jessica memejamkan mata sejenak kemudian menatapnya kembali. Sejak tadi Alex tidak menatapnya dan asik membolak-balik berkas di hadapannya. “Temanku sakit dan aku ingin membantunya.” ujar Jessica kemudian. Pria ini memang harus diberi kejujuran, jika tidak egonya akan selalu bertanya. Alex membanting berkasnya ke atas meja dan itu menimbulkan suara yang membuat Jessica merasa terkejut. Ia lantas menatap Jessica dengan tatapan tajamnya. “Apa tidak ada alasan yang lebih bagus lagi?” tanyanya. “Memang itu kebenarannya!” pekik Jessica. Jessica sepertinya sudah lupa caranya bersikap sopan santun untuk saat ini. Alex berdiri dari duduknya kemudian memasukkan celana ke dalam kantong dan melangkah mendekati jendela. Sepertinya dirinya perlu waktu untuk berpikir. Jessica masih bergeming di tempatnya. Sedikit rasa cemas mulai muncul. Bagaimana jika Alex tidak mau memberikan gajinya? Atau bagaimana jika Jessica tiba-tiba dipecat? “Ini.” Alex meletakkan sebuah kartu di atas meja. “Itu tempatmu mengambil gajimu. Untuk bulan ini, kau bisa mengambilnya sekarang.” Demi Tuhan rasa lega seketika menyelimuti hati Jessica. “Terima kasih banyak,” ucapnya tulus menatap Alex penuh senyuman. Sepulangnya dari sini, Jessica harus segera menuju rumah sakit dan menjenguk ibu. Dirinya belum tahu pasti berapa gaji yang akan ia dapatkan, tetapi dirinya berharap itu cukup untuk membiayai pengobatan ibunya selama satu bulan ke depan.   ----   Hari ini Jessica ditraktir makan siang oleh Feli. Satu-satunya teman yang ia dapatkan setelah bekerja hampir dua minggu disini. Feli benar-benar sangat baik dan membuat Jessica merasa nyaman menjadikannya sebagai teman. Feli baru saja dilamar oleh kekasihnya dan ia mengekspresikan rasa senangnya dengan menraktir Jessica. Kami saling mengenal karena ternyata dia memiliki apartemen di lantai yang sama dengan Jessica. Salah satu fakta terbaru lainnya adalah, Alex memiliki apartemen tepat di depan apartemen Jessica. Mereka pun sangat sering pulang bersama. Apartemen itu berada di sebelah gedung kantor. Sangat-sangat dekat. Sehingga Jessica tidak perlu menghabiskan biaya transportasi, meski sudah diberi mobil ia tidak ingin menggunakannya. Perlu uang untuk membeli bahan bakar. Selain itu Jessica lebih suka berjalan kaki. Ia menganggap itu olahraga secara tidak langsung dan juga untuk berhemat. Jessica memasuki ruangannya tanpa mengetuk pintu, mengingat ini adalah ruanganya juga dan mengabaikan fakta jika dirinya berbagi ruangan dengan Alex. Betapa terkejutnya ia karena ternyata Alex sedang kedatangan tamu. “Jessica!” Astaga! Tuhan bantu aku.  Itu adalah nyonya Brigit, mamanya Alex. Nyonya Brigit sangat menyukai Jessica dan sudah merestui jika Jessica menikah dengan Alex. Jessica dulu beberapa kali terpaksa menginap di rumah Alex untuk menemani beliau. Ketika Alex memutuskannya pun, nyonya Brigit sempat menghubungi Jessica dan berharap bahwa suatu saat nanti mereka bisa kembali bersama. Jessica tersenyum kikuk menatap Nyonya Brigit yang kini berdiri menghampirinya. Nyonya Brigit langsung memeluk Jessica dengan senang. Melepaskan semua rasa rindu yang dirasakannya selama ini. Ah, ia rindu sekali dengan gadis ini. Kemudian Nyonya Brigit mencium pipi kanan dan pipi kiri Jessica. “Cantik sekali. Pantas saja Alex sudah tidak pernah pulang ke rumah sekarang.” Jessica menatap Alex dengan canggung. Selama ini, Alex tinggal di apartemen sebelah kantor kan? Alex memasang ekspresi datarnya, sehingga tidak ada yang bisa menebakisi pikirannya. Ya, termasuk Jessica yang tidak pernah bisa menebak isi pikiran Alex ketika mereka berpacaran dulu. Detak jantung Jessica berpacu dengan cepat. Ia berharap nyonya Brigit tidak membahas apapun mengenai hubungannya dengan Alex yang telah usai. Itu pasti akan membuat mereka berdua merasa sangat-sangat canggung. Ah bukan mereka berdua, Alex terlihat biasa saja. Maka Jessica akan canggung sendirian disini dan bingung bersikap seperti apa. “Alex. Kenapa tidak beritahu mama kalau Jessica ada disini?” Nyonya Brigit menoleh kepada Alex. “Dia sekretarisku,” ucap Alex dingin. “Apa?” Nyonya Brigit nampak terkejut.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD