Chapter 5

1118 Words
“Dia sekretarisku,” ucap Alex dingin. “Apa?” Nyonya Brigit nampak terkejut. “Selamat siang, nyonya. Maaf mengganggu waktunya. Kalau begitu saya akan pamit keluar.” Jessica tersenyum. Sungguh akalnya entah kemana sehingga ia bingung harus mengatakan apa saat ini. Semuanya terasa begitu canggung. Ia mulai merasa menyesal terburu-buru masuk kesini tadi. “Tidak, Jessica. Tetaplah disini sekarang.” pinta Nyonya Brigit. “Jadi bagaimana hubungan kalian sekarang?” tanya nyonya Brigit. Jessica dapat merasakan bahwa nyonya Brigit menuntut jawaban dari Alex. “Seperti yang ku bilang, Mom. Dia sekretarisku.” Telepon Alex berdering dan ia pun mengangkatnya dan hanya menganggukkan kepala kemudian sambungan telepon berakhir. “Jes. Kita harus segera ke tempat rapat.” Alex bangkit dari duduknya. “Permisi, nyonya.” Jessica tersenyum manis. Ia berusaha menahan diri untuk bersikap layaknya seorang sekretaris kepada ornag tua bos. Menganggap bahwa mereka tidak pernah mengenal dan berada dalam hubungan yang begitu dekat. Jessica melangkah menuju mejaku untuk mengambil berkas yang sudah ku siapkan sebelum makan siang. “Jessica. Lain kali kita harus bertemu lagi untuk mengobrol.” “Mom. I’m sorry. Aku sudah bilang sebelumnya aku ada rapat.” Alex mendekati ibunya dan memeluk sebentar. “It’s okay.” Setelah mereka selesai bercipika-cipiki, nyonya Brigit menghampiri Jessica. “Aku akan menelpon untuk membuat janji temu. Banyak yang harus kita bicarakan. Oh, Jes.” Nyonya Brigit mencubit ringan pipi Jessica. “Aku sangat merindukanmu.” ujarnya kemudian. “Jessica.” Alex sudah membuka pintu dan tidak sabaran menunggu. Jessica akhirnya pamit dari nyonya Brigit untuk menyusul Alex. Dirinya tadi hanya diam saja tanpa membalas ucapan Nyonya Brigit karena benar-benar bingung bagaimana seharusnya dirinya bersikap. Setelah pintu ruangan Alex tertutup mereka berdua melangkah menuju lift. Rapat kali ini diadakan di luar kantor, yaitu di sebuah restoran yang berjarak dua puluh menit dari kantor. Seharusnya Jessica dan Alex bisa saja sekalian menghabiskan waktu makan siang disana. Hanya saja tadi Alex mengatakan bahwa kami akan berangkat setelah makan siang, jadi ya sudah. Pintu lift tertutup dan disusul oleh keheningan antara mereka berdua. “Jangan pernah ganggu ibuku.” Alex memperingatkan. Napas Jessica seketika tercekat. Bagaimana bisa Alex mengatakan hal itu padahal Jessica baru tadi bertemu dengan Nyonya Jessica. Ia juga tidak memiliki niatan sedikit pun untuk mengganggu Nyonya Brigit. Juga berharap untuk tidak berhubungan dengan wanita itu lagi, Jessica merasa bersalah kepada wanita itu karena telah mengkhianati putranya. “Tidak, tenang saja.” Jessica sebisa mungkin akan menghindar dari nyonya Brigit. Ia tidak ingin sikap baik nyonya Brigit membuatnya berharap untuk memiliki Alex lagi. Terutama Jessica tahu bahwa Alex sangat menyayangi ibunya dan sangat mendengarkan perintah ibunya. Jika saja Jessica licik, ia bisa saja memanfaatkan nyonya Brigit untuk mendapatkan Alex kembali. Hanya saja, Jessica idak berminat melakukan hal itu. Terperangkap dalam hubungan bersama Alex dalam keadaan Alex penuh keterpaksaan sama saja bunuh diri baginya. Jessica hanya akan menyiksa diri dalam keadaan seperti itu. Ia tidak akan bahagia jika Alex terpaksa. Apa yang kau pikirkan, Jess? Jessica terkekeh dalam hatinya. Seolah ia benar-benar mengharapkan Alex dan kembali dengan lelaki itu. “Aku hanya ingin menekankan, aku dan kau hanya sebatas CEO dan sekretaris. Tidak ada apapun selain itu yang pernah terjadi di antara kita.” Jessica menganggukkan kepalanya. Ucapan Alex itu seolah memberitahu Jessica bahwa Alex masih mengingat segala hal tentang masa lalu mereka. Entah itu kenangan pahit, menyakitkan ataupun kenangan manis yang terlalu indah untuk dilupakan. Meski sebenarnya hingga kini Jessica masih penasaran siapa sosok perempuan yang berhasil menggantikan posisinya di hati Alex, tetapi ia tidak akan mencari tau. Jessica tidak akan mencari tahu kebenaran yang akan membuatnya merasa sakit karena Jessica yakin diirnya akan sakit bila aku telah mengetahui siapa perempuan yang beruntung itu. Jessica tidak akan melakukan hal tersebut. Ah s**l! Mengapa Jessica harus mengingat kenangan-kenangan indahnya lagi bersama Alex. Semua itu hanyalah masa lalu yang seharusnya segera dilupakan. Lagipula, Jessica tidak seharusnya mengharapkan hal yang macam-macam. Kembali menjalin hubungan dengan Alex misalnya. “Kita memang hanya CEO dan sekretaris, Pak.” Jessica sangat sadar bahwa dirinya sudah menggoreskan luka yang sangat dalam pada Alex. Jessica tahu betapa dulu Alex sangat mencintainya dan selalu berusaha memenuhi apapun yang Jessica minta. Bahkan Alex sudah membeli sebuah rumah dengan sertifikat atas nama Jessica. Sekarang Jessica tidak tahu apakah rumah itu masih ada atau sudah berganti nama. Atau bahkan sudah dijual mungkin. Jessica mengakui bahwa ketika dulu saat itu dirinya masih sangat labil dan egois. Jika saja, jika saja dahulu Jessica tidak melakukan kecerobohan itu mungkin sekarang aku sudah menikah dengan Alex dan hidup bahagia. Karena Alex sudah mengatakan akan segera melamarnya setelah Jessica wisuda. Ya, Jessica benar-benar bodoh.   -----   Tidak ada yang lebih gila dari rencana Alex. Mereka harus pergi ke sebuah pulau terpencil selama dua minggu. Hanya untuk riset bahan baku kosmetik terbaru yang akan diluncurkan perusahaan Alex. Sekaligus riset ide desain produk terbaru perusahaan Alex yang lainnya. Jessica masih belum bisa menerima hal ini meskipun Alex sudah menjelaskan sejelas-jelasnya mengapa mereka harus pergi ke pulau itu. Program ini dilakukan bersama beberapa orang di bidangnya masing-masing. Di pulau terpencil itu ada sebuah rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka. Jika saja Jessica bisa menolak, pasti sudah ku lakukan. Sayangnya ia wajib untuk mendampingi Alex pergi kesana, dan itu sangat menyebalkan. Program itu dilaksanakan dua minggu lagi. Selain karena malas menjalankan hal membosankan bersama Ale seperti mengawasi kinerja anak buahnya, Jessica merasa cemas jika pergi terlalu jauh dari ibu. Apalagi selama dua minggu. Jessica takut jika sesuatu yang buruk tiba-tiba terjadi dan dirinya tidak bisa berbuat apapun karena berada jauh dari ibu. Panggilan masuk ke ponsel Jessica dan itu dari sebuah nomor asing. “Halo?” “Jessica. Ini aku, Ibu Alex.” Jessica merasakan bagai disambar petir ketika mengetahui fakta bahwa nyonya Brigit mendapatkan kontaknya dan wanita iu kini tengah menelponnya. “Ya ada apa nyonya?” “Aku ingin kita bertemu besok. Bagaimana jika kau berkunjung ke rumah. Kumohon Jessica. Jessica menggigit bibirnya dan memejamkan mata. Alex sudah memperingatkan dirinyanya untuk tidak mengganggu Nyonya Brigit. “Alex-” “Tidak usah beritahu dia. Kumohon. Chelsea sudah meninggal, aku sangat kesepian.” Mata Jessica membulat dengan cepat. Kak Chelsea sudah tiada?  Chelsea adalah perempuan yang sangat baik dan Jessica benar-benar tidak tahu jika ia meninggal. Tidak mungkin. Tiba-tiba saja air mata jatuh di pipi Jessica. Dia juga ikut merasa sedih mengingat kenangannya cukup banyak dengan kakak Alex itu. Jessica segera menutup mulutnya untuk menahan isak tangis yang akan terdengar. “Baiklah, nyonya. Aku akan kosongkan jadwalku besok.” “Terima kasih sayang. Alamatnya akan ku kirim, meski ku harap kau tidak melupakan alamat rumah kami. Selamat malam, see you.” Telepon berakhir dan Jessica seketika terbayang akan segala kenangan bersama Kak Chelsea. Dia terlalu baik.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD