Chapter 6

1031 Words
Hari sabtu seharusnya menjadi hari libur untuk Jessica. Hanya saja itu tidak berlaku bagi Jessica mengingat jabatannya saat ini adalah sekretaris CEO. Ada beberapa hal yang harus Alex pastikan dengan baik sehingga dirinya akan datang setiap hari sabtu ke kantor. Hanya beberapa waktu, memeriksa hal yang Jessica tidak ketahui jelas apa. Untuk itu, Jessica juga diminta datang kemari. Setidaknya Alex sudah mengatakan bahwa mereka akan hanya akan di kantor selama dua jam saja. Pukul sepuluh pagi kegiatannya di kantor ini akan segera usai. Jessica tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa Alex terlihat sangat tampan ketika menatap berkasnya dengan serius. Ah. Raut wajah pria itu tegas dan dingin, namun justru terkesan seksi di mata Jessica. Ia sebenarnya tidak paham apa tugasnya selama berada disini. Semenjak dirinya datang kemari, Alex sudah berkutat dengan berkasnya dan hanya meminta Jessica membuatkannya kopi. Awalnya Jessica menolak karena ini terlalu pagi bagi laki-laki itu menikmati secangkir kopi. Akan tetapi Alex bersikeras dan Jessica juga tetap tidak mengalah dengan datang membawakan secangkir teh hangat. Setidaknya laki-laki itu tidak mendebat dan memilih melanjutkan fokusnya. Ketika mengetahui bahwa Alex tetap menyesap teh buatannya, membuat Jessica tersenyum. Selain permintaan membuat kopi, Alex tidak mengatakan apapun bahkan ketika Jessica menanyakan tugas yang bisa dilakukan disini selain memandangi si tampan itu. “Jessica..” Alex tiba-tiba mendongak dan membuat Jessica cukup terkejut karena tatapan mata mereka berserobok. Jessica segera berdehem. “Iya?” “Kemarilah.” Selesai mengucapkan itu, Alex kembali tertunduk menatap berkas di hadapannya. Jessica melangkah kemudian duduk di kursi depan meja Alex. Tempat dulu ia duduk pertama kali ketika diwawancara. “Kau benar ada yang janggal dengan laporan ini. Aku tidak pernah menyadarinya.” Jessica tahu betul bahwa Alex adalah lelaki yang perfeksionis. Akan tetapi akan ada saat-saat dimana dirinya tidak teliti akan hal-hal kecil. “Ada apa sayang?” “Kau tidak mengabariku sejak pagi. Ini hari sabtu dan aku tahu kau tidak ada jadwal.” Alex menghela napas gusar kemudian mempersilakan Jessica untuk duduk di sebelahnya. Dirinya tidak memeriksa ponsel karena ia sedang fokus mengerjakan tugasnya. Tugas berisi sederetan angka dan rumus yang cukup menyebalkan. Alex harus menyelesaikannya sebelum malam ini. Meski tugas itu seharusnya di kumpulkan hari senin. Ia ingin menghabiskan hari minggunya bersama Jessicca. Dan malam nanti yang tersisa akan Alex isi dengan mengerjakan tugas lainnya. Sekali lagi, ia ingin bisa menikmati hari minggu dengan Jessica tanpa adanya tugas yang belum terselesaikan. Rupanya gadis itu sudah gusar dan menghampirinya kemari. Ke kafe miliknya yang ia rintis sejak awal memasuki perkuliahan. Hanya iseng, pikirnya. Menghabiskan uang jajan yang selalu diberi lebih oleh sang ayah. “Kau tahu aku disini?” tanya Alex. “Pegawaimu mengangkat teleponku dan memberi tahu.” “Jadi apa yang membuatmu mengabaikanku?” tanya Jessica kemudian. “Tugas angka ini. Aku sudah mengikuti instruksinya dengan benar namun hasilnya tidak sesuai dengan yang seharusnya.” Alex menunjukkan laptopnya kepada Jessica. Layarnya dipenuhi tabel excel dengan banyak sekali angka disana. “Aku yakin kau paham. Jurusan kita sama walau pun beda kampus.” Jessica menganggukkan kepalanya. Kemudian mengambil laptop milik Alex untuk memeriksanya. Laptop itu ia letakkan di atas pangkuannya. Alex mendekat kemudian memeluk Jessica dan menjatuhkan kepalanya di atas bahu perempuan itu. “Alex..” Jessica ingin memperingatkan bahwa tubuh lelaki itu cukup berat bila harus ditopang oleh dirinya. “Sebentar saja. Aku lelah. Ku mohon.” Jessica memilih tidak membalas lagi dan memperhatikan angka-angka itu. Sementara Alex memejamkan mata berusaha merilekskan pikiran dan tubuhnya. Sangat nyaman sekali berada di posisi ini. “Kau hanya salah memasukkan satu angka saja. Dasar tidak teliti. Seperti biasa.” Alex tersenyum lantas membuka matanya. Ia menatap layar yang ditunjukkan Jessica. Ah, akhirnya jawaban itu sesuai dengan yang seharusnya. Alex menatap Jessica dan senyumnya semakin melebar. Ia mengecup pipi Jessica secepat kilat. “Ah terima kasih banyak. Akhirnya aku selesai dengan angjka-angka s****n itu.”   “Apa yang sedang kau pikrikan?” Mata Jessica mengerjap dengan terkejut. Ia mengumpat dalam hati ketika kenangan lama itu seketika muncul dalam pemikirannya. Ia berdehem dan menatap Alex. “Apa kau sudah memeriksa laporan-laporan sebelumnya?” Jessica paham bahwa itu adalah laporan bulanan dari salah satu divisi di perusahaan ini. Ia hanya berharap bahwa kejanggalan itu hanya untuk satu bulan ini saja. “Sudah. Dan aku baru menyadari bahwa selama ini laporan dari divisi itu benar-benar tidak masuk akal. Aku heran kenapa dulu Lenna tidak menyadari itu semua. Bahkan aku juga bodoh tidak memeriksanya sejeli itu.” Lenna adalah sekretaris Alex sebelumnya. Jessica hanya diam saja. Ia yakin bahwa sekretaris Alex yang sebelumnya tidak memeriksa laporan yang masuk dengan benar. Jika saja diperiksa dengan teliti, pasti akan langsung menyadari keanehan nominal dan barang-barang yang dibeli. “Aku rasa ada penggelapan uang.” “Perusahaanku bersih dan aku selalu memastikannya.” “Nyatanya ada laporan yang janggal seperti itu.” Jessica menatap Alex dengan sorot menantang. Alex menjatuhkan berkasnya kemudian memijat keningnya dan memejamkan mata. Ia menyandarkan kepala pada kursinya. Aktivitas itu tidak luput dari tatapan Jessica. “Aku akan memeriksa kepala divisinya senin ini.” Alex membuka matanya kemudian menatap Jessica. “Lain kali jika kau menemukan hal seperti ini, segera beritahu aku.” “Baik, Pak.” Jessica menganggukkan tugasnya. Bukankah memang tugasnya seperti itu. “Baiklah. Sekarang kita pergi. Kau tidak lupa tugasmu setiap hari sabtu, kan?” Alex bangkit dari tempat duduknya dan menyimpan berkas itu di lacinya. Tentu saja Jessica tidak lupa. Tadinya ia ingin mengambil bunga di toko bunganya saja. Lumayan bukan membeli dari tokonya sendiri. Sayangnya, ia tidak tahu kalau setiap hari sabtu dia harus tetap datang ke kantor. Rencananya untuk mengunjungi rumah dan toko bunganya menjadi batal. “Kau ikut membeli bunga?” tanya Jessica. Mereka melangkah bersama menuju lift setelah keluar dari ruangan Alex. “Ya. Kau hanya bertugas memasuki toko bunga lalu membelinya dan aku akan menunggu di mobil. Setelah itu kita pergi.” Jessica tidak ingat kapan ia mengobrol sesantai ini dengan Alex. Biasanya mereka akan mengobrol seperlunya. Atau obrolan panjang mereka hanya sebatas formalitas mengenai pekerjaan. Rasanya menyenangkan dengan sikap hangat Alex yang begini. “Pergi kemana?” Mereka memasuki lift dan Alex menekan tombol lantai terbawah yang langsung menuju basement. “Membawakan bunga itu ke perempuan yang ku cintai.”                                            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD