Chapter 8

1038 Words
Jessica sudah mempersiapkan diri untuk bertemu Nyonya Brigit malam ini.Ia tidak peduli jika nantinya Alex tahu dan akan marah. Mengingat tatapan pilu dari Alex ketika di pemakaman tadi membuat Jessica ingin memastikan bahwa Nyonya Brigit tidak merasa sedih karena penolakannya. Selain Alex, pasti Nyonya Brigit pasti sama terpukulnya dengan Alex. Jessica sudah memastikan dirinya tidak ada jadwal begitu juga Alex. Karena jika Alex ada jadwalnya bisa saja laki-laki itu meminta Jessica untuk ikut. Ibunya juga sudah baik-baik saja dan bibi Mary merawatnya dengan baik. Uang bonus pemberian Alex terkait tugas non formal yang dikerjakan Jessica sudah lebih dari cukup untuknya bisa bertahan hidup selama sebulan ini. Saat ini, Jessica merasa hidupnya baik-baik saja. Ia keluar dari pintu apartemennya kemudian sedikit terkejut ketika mendapati Alex juga sedang keluar dari apartemennya. Mereka berpandangan sebentar sebelum akhirnya Jessica meneliti penampilan Alex. Terlihat sangat rapi dan formal. Tunggu, apa itu untuk urusan kantor? “Mau kemana?” tanya Jessica. “Bukan urusanmu.” Jawaban ketus itu untuk saat ini tidak membuat Jessica merasa tersinggung. Dirinya harus memastikan tidak ada yang akan mengganggu jadwal pertemuannya dengan Nyonya Brigit saat ini. Ah, atau jangan-jangan Alex ingin pergi ke rumahnya? Akan tetapi Nyonya Brigit meyakinkan bahwa Alex tidak mengabarinya akan datang. Bisa saja kan Alex tiba-tiba ke rumahnya tanpa mengabari. “Aku hanya memastikan aku tidak salah memeriksa jadwalmu.” Alex sudah hendak melangkah pergi namun ia menghela napas dan menoleh ke Jessica. “Kepergianku bukan karena urusan pekerjaan.” “Lalu kemana?” “Sekali lagi ku katakan, bukan urusanmu.” Alex kemudian pergi meninggalkannya. Jessica menatap Alex hingga pria itu membalikkan badan setelah memasuki lift. Mereka bertatapan hingga pintu lift tertutup dan membawa laki-laki itu pergi. Jessica kemudian melangkah menuju lift seraya menunggu pintu lift itu terbuka. Harusnya tadi ia masuk bersama laki-laki itu saja. Baiklah tidak apa-apa. Awalnya Jessica berpikir untuk menggunakan mobil pemberian kantor. Hanya saja mengingat kepergiannya adalah untuk urusan pribadi saat ini dan sama sekali tidak ada urusannya dengan kantor, Jessica mengurungkan niat. Jessica akan naik taksi menuju rumah Alex. Untuk saat ini ia akan merelakan sedikit uangnya membayar ongkos taksi. Tidak papa. Ia lebih merasa cemas jika mengingat Nyonya Brigit.     ------   Jantungnya semakin berdebar setelah memasuki pekarangan rumah ini. Ah, tepatnya mansion. Rupanya satpam yang berjaga di dekat pintu gerbang masih sama dengan yang dulu. Laki-laki berperawakan seram dengan wajah ketus.Pemandangan di taman mansion ini juga tidak terlalu berubah banyak. Ada beberapa pohon yang telah tumbuh besar dan ada beberapa jenis bunga baru yang dilihatnya. Itu wajar. Pasti akan selalu ada perubahan setelah beberapa waktu. Entah itu penghuni rumah ini atau pun elemen-elemen kecil yang ada disini. Jessica menghela napas setelah turun dari taksi. Ia menatap pintu besar yang ada disana. Pintu utama mansion ini. Dan itu tertutup. Kenangan beberapa tahun lalu berpendar di ingatannya. Biasanya Kak Chelsea akan menyambutnya penuh semangat dari pintu itu. Atau kadang Nyonya Brigit. Alex juga sering membukakan pintu itu untuknya. Ah, semua itu tinggal kenangan bukan. Mungkin hanya Nyonya Brigit yang akan menyambut Jessica untuk saat ini. Jessica melangkah mendekat kemudian mengetuk pintu. Entah siapa yang akan membukakan pintu untuknya kali ini. Kali pertama setelah bertahun-tahun Jessica tidak datang berkunjung. Setelah bertahun-tahun dirinya tidak menginjakkan kaki disini. Pintu terbuka dan nampak seorang pelayan. “Nona Jessica.” “Bibi..” Jessica tersenyum ramah. Itu Bibi Shira. Kepala pelayan disini. Ah, rupanya bibi itu masih bekerja. “Mari masuk, Nona. Nyonya sudah menanti di meja makan.” Jessica menganggukkan kepala kemudian memasuki ruangan tamu. Ah, tidak ada yang berubah. Pandangannya terhenti pada pigura besar yang terpajang di dinding. Napasnya tercekat. Foto keluarga Daniel yang masih lengkap. Ia menahan gemuruh kesedihan yang kini bersarang di hatinya. Ia juga merasa ikut sedih. Setelah menatap itu sebentar, Jessica segera melangkah menuju ruang makan ditemani Bi Shira. Isi rumah ini masih sama dengan dulu. Tidak ada yang berubah. Rasanya baru kemarin Jessica kemari. Tiga tahun benar-benar tidaklah terasa. “Jessica..” Nyonya Brigit yang awalnya sedang duduk di meja makan pun bangkit dan segera menghampiri Jessica yang melangkah menuju kesana. Nyonya Brigit langsung memeluk Jessica. “Akhirnya kau datang.” Bi Shira pamit undur diri dan meninggalkan kedua perempuan itu. Tidak ingin mengganggu mereka. “Ayo kita makan malam dulu. Aku terlalu sering makan malam sendirian.” Ekspresi Jessica berubah. Ia teringat Alex. Jika tahu kondisinya seperti ini, mengapa Alex justru tinggal di apartemen. Apa hanya karena agar jaraknya lebih dekat? Akan tetapi Jessica paham bagaimana sibuknya Alex meski laki-laki itu adalah seorang bos. Ia memiliki beberapa perusahaan dan pasti sekarang Alex menghandle semuanya sendiri. Ah, Jessica benar-benar bersedih melihat keadaan Nyonya Brigit. Sebenarnya Jessica merasa tidak enak langsung menikmati makan malam disini. Hanya saja melihat wajah antusias Nyonya Brigit, dirinya jadi tidak tega untuk menolak. “Ayo Jessica. Mari kita makan. Ada banyak makanan enak disini. Aku sengaja meminta pelayan memasak porsi yang lebih banyak karena kau akan kesini.” Jessica terkekeh. Ah, sikap mantan calon mertuanya ini masih hangat seperti dulu. Apa Nyonya Brigit tahu pengkhiatan yang dilakukan Jessica kepada putranya? Sepertinya tidak tahu. Jika tidak, Jessica yakin Nyonya Brigit tidak mungkin masih bersikap sebaik ini. Pasti beliau sudah bersikap dingin seperti yang dilakukan Alex kepadanya. Ya, sepertinya Nyonya Brigit tidak tahu. “Sebaiknya kita juga mengajak Bi Shira, Tante.” Jessica agak ragu menyebut Nyonya Brigit bagaimana. Dulu ia sering menyebutnya mommy karena sesuai permintaan beliau dan Alex. Hanya saja saat ini keadaannya berbeda bukan. “Bi Shira sudah makan duluan sayangnya. Semua pelayan juga telah makan malam.” Jessica diam-diam melirik jam tangannya dan merasa tidak enak karena datang terlambat. Ini sudah lewat dari jam makan malam dan ia membuat Nyonya Brigit menunggu lebih lama. “Maafkan aku,” cicit Jessica dengan sangat tidak enak. Nyonya Brigit menggelengkan kepala dengan cepat. “Tidak masalah sayang. Pasti jalanan macet.” “Ah, dan kenapa memanggil tante? Meski kau putus dengan Alex, aku tetap menganggap kau putri keduaku.” Jessica dapat melihat raut kesedihan di mata Nyonya Brigit ketika mengatakan hal itu. “Baiklah, Mom.” Jessica tersenyum. Baiklah untuk kali ini ia benar-benar melewati batasannya. Tidak papa. Ia tidak ingin membuat wanita itu bersedih. Semoga saja setelah ini Alex tidak memecatnya. Atau minimal jika ia dipecat, Jessica bisa segera mendapatkan pekerjaan kembali dengan cepat.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD