“Chelsea kecelakaan ketika akan menjemput Alex di bandara.”
Napas Jessica tercekat. Ia mengelus tangan Nyonya Brigit yang kini tengah menggenggam tangannya.
“Alex merasa sangat bersalah dan sering menyibukkan diri agar tidak bersedih.”
Jessica menghela napasnya. Ia yakin pria itu benar-benar merasa terluka. Akan tetapi apa Alex tidak menyadari bahwa Nyonya Brigit benar-benar kesepian. Alex terlalu sibuk mengalihkan rasa sedihnya hingga ia lupa bahwa tidak ada yang bisa dilakukan Nyonya Brigit saat ini. Beliau kesepian di mansion sebesar ini. Meski memiliki harta berlimpah, sayangnya harta sebanyak itu tidak bisa membeli kebahagian akan hangatnya sebuah keluarga bukan?
Nyonya Brigit menangis. Jessica pun membiarkannya. Ia mengusap punggung wanita itu. Bermaksud menenangkan.
“Aku tidak tahu harus menjalani hidup bagaimana. Ini sudah setahun tapi rasanya masih sama menyakitkan, Jessica.”
“Waktu memang bisa menyembuhkan luka, Mom. Meskipun lama.”
“Aku biasanya menghabiskan waktu untuk datang ke panti asuhan untuk menyumbangkan dana. Bertemu dengan anak-anak. Tadinya aku ingin mengadopsi anak, hanya saja setelah dipikir-pikir akan jauh lebih baik jika Alex segera menikah.”
Nyonya Brigit lantas menatap Jessica.
“Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di kantor Alex. Anak itu tidak mengatakan apapun.”
Jessica tersenyum canggung. Memangnya apa yang perlu Alex katakan kepada ibunya perihal Jessica? Hubungan mereka sudah berakhir dan sekarang keduanya seolah orang asing. Alex bahkan melarang Jessica untuk mengganggu kehidupan ibunya. Alex melarang Jessica untuk menyentuh hidupnya lagi. Membatasi Jessica agar tidak bersinggungan dengan hal apapun dalam hidup Alex. Akan tetapi jika Nyonya Brigit membutuhkan seorang teman, tentu Jessica tidak enak untuk menolak.
“Jadi bagaimana kabar ibumu?”
Nyonya Brigit mengalihkan pembicaraan. Ia yakin bahwa membahas mengenai Alex hanya akan membuat Jessica merasa canggung.
“Ibu baik-baik saja.”
Untuk saat ini sedang baik-baik saja. Jessica tidak ingin mengabarkan perihal ibunya yang sakit. Saat berhubungan dulu, Nyonya Brigit memang belum sempat bertemu dengan ibunya. Alex sempat bertemu beberapa kali tapi tidak seintens Jessica yang bertemu Nyonya Brigit.
“Baguslah. Aku ingin bertemu dengannya jika ibumu ada waktu.”
Jessica tersenyum masam.
“Semoga ada. Aku akan mengabari ibu.”
“Ngomong-ngomong, siapa kekasihmu saat ini?”
Baiklah untuk pertanyaan seperti ini, Jessica tidak siap bila yang menanyakannya adalah Nyonya Brigit.
“Tidak ada, Mom.”
“Mom,”
Suara bariton membuat Jessica dan Nyonya Brigit menoleh dengan cepat. Mereka sama terkejutnya mendapati Alex yang melangkah menuju ruang keluarga.
“Alex.. Kau tidak bilang datang kemari.” Nyonya Brigit sama terkejutnya. Jessica menggigit bibir bawahnya ketika menyadari tatapan Alex yang tajam. Bagus, sepertinya laki-laki itu benar marah.
“Kenapa kau disini?” tanya Alex ketus kepada Jessica.
“Aku sudah bilang-”
“Alex, Mommy yang memintanya kemari. Dia datang atas undangan yang Mommy berikan.”
Alex menatap ibunya.
“Mom tidak memberitahuku.”
“Mommy juga biasanya tidak memberitahu jika mengundang teman-teman yang lainnya kemari.”
Jessica hanya diam saja saat Alex menatapnya dengan penuh amarah. Ia tahu dirinya salah dan seharusnya curiga jika melihat kepergian Alex tadi. Dugaannya benar jika lelaki itu datang ke rumahnya. Meskipun tadi mereka berangkat bersama, Jessica tidak ingin tahu kemana pria itu pergi dulu sehingga baru tiba disini sekarang.
“Baiklah. Aku akan ke ruang kerja.”
Alex berlalu begitu saja setelah sempat melirik Jessica dengan sinis.
“Kau lihat, Jessica? Putraku itu kadang datang kemari tapi hanya menghabiskan waktu di ruang kerja. Selalu begitu.” adu Nyonya Brigit.
Jessica yakin Alex masih belum bisa menerima kenyataan apapun yang tengah menimpanya. Saat ia sendiri belum menyembuhkan rasa sakit hatinya, ia pasti tidak akan memahami situati yang dihadapi oleh Nyonya Brigit. Alex tidak sadar jika ibunya itu kesepian.
“Ayo kita lanjutkan, sayang. Selain berkunjung ke panti asuhan. Mommy juga memiliki sebuah butik. Yah, biasanya sering datang kesana untuk mengisi waktu. Kadang juga mencoba beberapa resep masakan di rumah.”
“Ah, kapan-kapan jika kau kosong bagaimana jika kita memasak bersama? Sudah lama sekali kita tidak melakukan hal itu.”
Jessica bingung harus bersikap bagaimana. Sungguh, benar-benar bingung. Ia tidak enak untuk menolak ajakan Nyonya Brigit tapi setelah kedatangan Alex tadi, Jessica tidak berani lagi untuk melakukan lebih. Tidak akan ada yang tau apa yang dilakukan Alex setelah Jessica pergi dari sini. Yang jelas laki-laki itu pasti akan semakin membencinya bukan.
Hatinya merasa sedih. Satu-satunya cara agar Nyonya Brigit tidak bersedih, Jessica harus memberikan ide agar Nyonya Brigit bisa menghabiskan waktunya tanpa merasakan kesepian. Nyonya Brigit butuh teman bicara bukan? Kualifikasi teman bicaranya tentu harus yang memahami Nyonya Brigit, dan itu hanya ditemukan pada diri Jessica. Jadi Jessica harus segera menemukan teman baru bagi Nyonya Brigit.
“Semoga aku ada waktu, Mom.”
“Alex sangat sibuk karena memegang banyak perusahaan. Semoga kau juga tidak sesibuk itu oleh dia.”
-------
Alex menghembuskan napas lelahnya setelah menutup berkas terakhir yang harus ia periksa. Kepalanya terasa akan segera pecah jika begini terus. Jika saja dia memiliki saudara atau siapa pun yang bisa ia percayai untuk menjabat sebagai CEO perusahannya, pasti sudah ia lakukan. Setelah ia meminta tolong William untuk menjadi CEO di perusahaan mesinnya, meminta Kevin menjadi CEO di perusahaan asuransinya, meminta Justin sebagai CEO perusahaan perhiasannya dan meminta Angela sebagai CEO perusahaan agensi entertainmentnya, sudah tidak ada lagi sepupu yang bisa ia mintai tolong. Alhasil ia menjabat CEO di tiga perusahaan sisanya, perusahaan yang bergerak di bidang kosmetik, perusahaan di bidang kuliner, dan perusahaan kayu.
Ia sepertinya akn menjadi gila sebentar lagi. Hingga kini ia belum menemukan tiga orang terpercaya untuk mengisi posisi CEO. Dirinya ingin berhenti dari segala hal memuakkan ini. Kekayaannya tidak akan habis meski ia turun jabatan dari CEO. Pemegang saham terbesar di setiap perusahaan masih dirinya jadi meski ia pengangguran sedikit pun, uangnya tidak akan berkurang bahkan akan terus bertambah.
Pikirannya kembali teringat pada Jessica yang sedang mengobrol dengan ibunya di ruang keluarga. Ia menatap pintu ruang kerjanya. Ini sudah dua jam semenjak dirinya masuk dan mengurusi berkas-berkas s****n yang ada di mejanya. Ia masih memilih-milih sosok terdekatnya untuk menjadi CEO perusahaan kuliner. Akhir-akhir ini perusahaan itu kurang terurus karena dirinya fokus di perusahaan kosmetik.
Sudah pukul setengah sebelas. Apa perempuan itu masih ada. Merasa penasaran, Alex pun keluar. Ia hanya ingin memastikan bahwa gadis itu masih tahu diri untuk tidak berada disini hingga tengah malam.
“Jessica sudah pulang. Baru saja.”
Ketika keluar dari ruang kerja, suara ibunya terdengar begitu jelas.
“Apa putraku sudah selesai bekerja?” tanya ibunya kemudian.
Alex menghela napas.
“Jangan marahi Jessica. Dan jangan melarang Mommy untuk bertemu dengan dia. Mommy tidak pernah mengganggu urusanmu jadi jangan melarang apa yang membuat Mommy merasa bahagia.”