Chapter 10

990 Words
Pintu di hadapannya diketuk dengan pelan sebelum Jessica masuk. Hari ini mereka memiliki agenda rapat di ruang rapat A. Alex sedang berdiri di belakangnya dan sibuk menatap layar ponsel. Mereka terlembat karena Alex sedang mengurusi sesuatu hal dan ia meminta Jessica datang ke runag rapat hanya jika Alex sudah selesai dengan urusannya. Pintu terbuka dan Jessica menggumamkan terima kasih.  Jessica masuk dan menggumamkan ucapan maaf karena datang terlambat. Semua para peserta yang sudah duduk pun berdiri dan memberi hormat kepada Alex yang memasuki ruangan. Jessica tidak tahu apa agenda rapat kali ini karena Alex memintanya untuk menghubungi setiap kepala divisi untuk hadir di ruang rapat A pada pukul sembilan pagi. Sayangnya sekarang sudah pukul sebelas dan Jessica merasa tidak enak kepada setiap orang yang telah ia hubungi. Jessica yakin mereka semua telah datang tepat waktu sementara ia dan Alex justru datang terlambat setengah jam. Apapun agenda rapat yang tidak diberitahu Alex, Jessica yakin itu berhubungan dengan laporan janggal yang beberapa hari lalu mereka bicarakan. “Dimana yang lain?” tanya Alex saat sadar susunan pimpinan perusahaan yang berada di ruangan ini tidak semuanya hadir. “Maaf, Pak. Mereka telah keluar sepuluh menit lalu karena tidak percaya ada rapat. Nona Jessica juga tidak memberitahu agenda rapat dengan jelas.” jawab seseorang. Alex melirik Jessica. Memang benar ia tidak memberitahu agenda rapat dadakan kali ini setelah tadi pagi ia meminta Jessica menghubungi semua pimpinan. Ia juga telah sengaja membuat para pimpinan itu menunggu setengah jam hanya untuk memastikan siapa yang tetap bertahan. Bosan memantau gerak-gerik mereka melalui kamera cctv yang tersambung ke tabletnya, Alex pun segera menuju ruang rapat A. “Mereka tidak percaya dengan sekretarisku?” Alex lantas terkekeh. Jessica diam saja dan mulai menyalakan laptopnya. Ia harus bersiap untuk notulensi bukan. Selain itu dirinya juga perlu menyiapkan power poin yang tadi diberikan oleh Alex. Jessica dapat merasakan jika Alex sedang marah saat ini. Semenjak bertemu tadi pagi, wajah Alex benar-benar dingin. Apa laki-laki itu masih marah karena Jessica datang ke mansionnya dua hari lalu? Wajah Alex benar-benar tidak bersahabat pagi ini. “Aku ingin memecat orang hari ini.” Bukan hanya jantung Jessica saja yang terasa hampir melompat dari tempatnya. Ia yakin semua orang di ruangan ini kecuali Alex juga merasakan keterkejutan yang sama.   -------   Mereka hanya saling terdiam setelah keluar dari ruang rapat. Tidak ada yang membuka suara hingga akhirnya Alex meminta Jessica untuk menemaninya makan siang. Jessica sebenarnya masih shock melihat kemarahan Alex saat di runag rapat. Ada anak buahnya yang melakukan korupsi dan itu sudah terjadi selama dua tahun. Alex benar-benar murka tadi di ruang rapat. Bukan murka dalam artian dia mengamuk hingga ada kursi terbang. Kemurkaan Alex ditunjukkan dengan ucapan-ucapan dingin nan menyakitkan yang membuat siapapun mendengarnya jadi bergidik ngeri. Jessica sudah pernah melihat kemurkaan Alex, saat Alex tahu dirinya berkhianat dulu. Sikap dan ucapan Alex di ruang rapat tadi tidak seberapa saat mereka dalam situati itu dulu. Ucapan Alex jauh lebih menyakitkan dan Jessica bisa melewatinya dengan tangisan dan rasa penyesalan. Jadi ketika melihat Alex bertindak seperti tadi di ruang rapat, Jessica satu-satunya manusia yang masih bisa bersikap tenang dan melakukan notulensi seolah itu rapat biasa. Padahal keadaan di dalam sana sangatlah mencekam karena Alex mengeluarkan ancaman-ancamang yang mengerikan. Aku benci pengkhianat Itu udalah ucapan Alex di ruangan rapat yang terngiang di telinga Jessica hingga sekarang. Ucapan itu membuat Jessica tanpa sadar merasa tidak enak. Dirinya juga pernah mengkhianati cinta Alex dan Jessica cukup paham seberapa Alex membenci dirinya. Mereka menuju restoran yang ada di lantai lima kantor. Jessica cukup sering makan siang disana. Hanya saja terkadang ia juga membawa bekal yang ia masak sendiri. Ia baru bekerja satu minggu dan sudah pernah makan siang dua kali bersama Alex. Pria itu pula yang membayarinya. Hal yang tidak Jessica suka karena harus memiliki hutang dengan Alex meski Alex mengatakan bahwa ia sudah sering mentraktir sekretarisnya makan siang seperti ini. Mereka duduk di meja tempat biasanya. Meja itu khusus Alex. Tidak ada yang diperbolehkan duduk disana mengingat padatnya manusia saat jam makan siang disini. Jadi jika Alex datang, ia ingin kebagian tempat itu sebabnya Alex sudah menyiapkan tempat khusus untuk dirinya sendiri. Entah dia akan datang atau tidak ketika makan siang ke restoran ini. Tempat itu tetap tidak boleh ditempati. Salah satu kemudahan lainnya adalah pesanan Alex akan datang begitu dirinya tiba disana. Alex sudah memiliki pesanan yang selalu ia pesan. Kadang jika ingin mengganti menu dirinya cukup mengirim pesan kepada chef. Dan khusus hari ini, Alex sudah memesan dua menu yang sama untuk dirinya dan Jessica. Ini adalah menu pesanan yang Jessica makan saat mereka makan siang bersama untuk kedua kali. “Besok malam kita akan menghadiri pesta sepupuku.” Jessica mendongakkan kepalanya. Sepupu Alex? Yang mana? Ah, Jessica hanya mengingat yang bernama Justin. Saat berpacaran dulu, Alex sering menceritakan sepupu-sepupunya, Hanya saja Jessica belum pernah berkesempatan untuk bertemu dengan mereka. “Acara apa? Aku ikut?” tanya Jessica. Jika ini acara keluarga mereka, kenapa Jessica harus ikut? Pertanyaan yang sebenarnya membuat sisi hati Jessica merasa senang. Jika saja boleh berharap, apakah Alex tidak sebenci itu kepadanya? Alex masih mau mengobrol, menatap Jessica dan makan siang bersama. Bukankah itu, membuat Jessica senang? “Launching mobil seri terbaru. Hanya acara simbolis. Kau harus ikut karena perlu mengetahui kolega bisnisku.” Jessica lantas menganggukkan kepalanya. Jadi urusan pekerjaan. Baiklah. Jessica baru ingat ia tidak memiliki stok baju yang bagus untuk menghadiri sebuah pesta. Mungkin ia akan menyewa. Yah, khusus untuk besok malam saja. Ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dan juga tidak ingin membuat Alex malu dengan penampilannya besok. Minimal ia harus tampil dengan pakaian yang baik dan sopan. “Mengenai ibuku. Aku masih tetap memintamu tidak mengganggunya.” “Aku minta maaf soal itu. Tapi ibumu benar-benar kesepian.” Alex kini menatap Jessica. Selama ini Mommny itu terlihat baik-baik saja bukan. Kesepian bagaimana? Mommynya cukup banyak kegiatan, begitu juga Alex yang sibuk dengan pekerjaannya. “Kau terlalu sibuk bekerja hingga lupa memperhatikan ibumu. Jangan seperti itu.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD