Chapter 11

1019 Words
Tadinya Jessica benar-benar berniat menyewa gaun hingga akhirnya Feli mengetahui bahwa tetangganya itu akan menghadiri sebuah pesta. Ia memiliki banyak koleksi gaun sehingga meminjamkannya dengan senang hati untuk Jessica. “Kau cantik sekali.” “Terima kasih banyak, Feli.” Feli menganggukkan kepalanya dengan semangat. Jessica sebenarnya merasa tidak enak terlebih saat Feli begitu bersemangat mendandaninya untuk pergi ke pesta. “Aku suka sekali mendandani orang, Jess. Jika kau akan pergi ke pesta lagi, jangan lupa selalu beritahu aku oke?” Jessica hanya menganggukkan kepala. “Baiklah aku akan kembali ke apartemenku.. Selamat bersenang-senang.” Feli lantas pamit dan meninggalkan apartemen Jessica. Sementara Jessica masih terpaku menatap pantulan dirinya di cermin. Terlihat begitu menakjubkan. Ia kemudian menghela napas. Menghadiri pesta ini berdua saja bersama Alex terasa berbeda. Entahlah. Mereka seperti sepasang kekasih saja. Jessica jadi tersenyum lebar. Ia mendengar suara bel. Itu pasti Alex. Dengan segera ia menyemprotkan kembali parfumnya kemudian mengambil tas yang sudah ia siapkan. Keluar dari apartemen ia menahan napas. Gaun merah maroonnya nampak serasi dengan dasi merah maroon yang Alex kenakan. Mereka sama sekali tidak jadian. Alex menatapnya dari atas hingga bawah. Kemudian segera berlalu dan melangkah menuju lift. Jessica bergegas mengikutinya. Rasanya mendebarkan sekali.   -------   Mereka tiba di ballroom hotel tempat pesta itu diadakan. Tidak ada yang bicara selama perjalanan. Mereka saling berdiam diri dengan pikiran masing-masing. Keduanya melangkah dengan jarak yang terpampang nyata. Jessica mengikuti kemana pun langkah Alex sementara Alex terlihat mengabaikan keberadaannya. “William..” panggil Alex kepada seorang pria. Jessica berusaha mengingat sepupu Alex yang bernama William. Akan tetapi sayangnya ia tidak berhasil mengingat apapun. Sepertinya dulu Alex jarang menceritakannya. Atau memang Jessica yang tidak terlalu ingin mengingat mengenai pria itu. Pria tampan dengan senyuman manis segera mendekati Alex. Baiklah, di mata Jessica itu terlihat sangat manis hanya saja Alex lebih menawan meski tanpa senyum. “Wah.. Sudah lama tidak bertemu.” William melirik Alex kemudian melirik gadis di sebelahnya yang berdiri canggung. Ia mengernyitkan keningnya kemudian menatap mereka berdua dengan tatapan menyelidik. “Jessica Fransisca, sekretarisku.” ucap Alex memperkenalkan. “Jess, ini William Daniel. Sepupuku.” ujarnya juga mengenalkan William kepada Jessica. Jessica tersenyum kemudian mengulurkan tangannya. William menerima uluran tangan tersebut kemudian tersenyum. “Jessica” “William” Ujar keduanya bersamaan. William menatapnya lekat, dan itu membuat Jessica sedikit kikuk. “Apa ayah ibumu datang?” tanya Alex kemudian. Membuat atensi William kepada Jessica menjadi teralihkan. Ia baru sadar masih menggenggam tangan Jessica, kemudian melepasnya. Menatap Alex dan kemudian menjawab, “tidak. Seperti biasanya, ada banyak urusan.” “Baiklah. Selamat atas pencapainmu. Kita akan mengobrol lagi nanti. Jess, ayo.” Alec memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kemudian melangkah pergi. “Selamat menikmati pestanya,” ucap William kepada mereka berdua. Jessica menganggukkan kepala sementara Alex berlalu begitu saja. Jessica melangkah mengikuti Alex seraya menatap orang-orang yang ada disini. Lebih banyak laki-laki, hanya ada beberapa perempuan yang hadir. Dan, lebih banyak pria tua. Kolega-kolega bisnis Alex pasti adalah pria-pria berumur yang sudah lama mengelola bisnis. Jessica lantas menatap Alex, menyadari bahwa Alex sudah mengelola perusahaannya sejak muda. Bahkan menjadi CEO di usia yang cukup muda. “Tuan Bruce,” sapa Alex. Pria botak berkumis itu pun tersenyum dan menyambut Alex. “Wah wah. Siapa perempuan cantik ini?” tanyanya dengan menatap tubuh Jessica secara intens. “Sekretarisku.” sahut Alex singkat. “Cantik..” gumam Tuan Bruce lagi. “Dan seksi,” bisiknya kemudian. Membuat Jessica bergidik ngeri. Alex menatapnya dingin, berusaha tenang menghadapi sikap tua bangka di depanya ini. “Bagaimana dengan tawaran Anda beberapa waktu lalu? Mengenai suplai bahan baku parfum?” tanya Alex. Nampaknya Tuan Bruce begitu tertarik untuk menatap Jessica lama-lama. Membuat Alex tidak nyaman karena si lawan bicara tidak memperhatikannya. Alex lantas berdehem. “Jessica.. Silahkan nikmati pestanya. Aku akan membicarakan beberapa hal serius dengan Tuan Bruce.” Ucapan itu terdengar seperti perintah dan membuat Jessica serta Tuan Bruce merasa terkejut. Jessica yang sudah tidak nyaman sejak tadi dipandang dengan cara begitu menjijikan pun diam-diam menghela napas lega. Akan tetapi dirinya bingung harus melakukan apa. Jessica menganggukkan kepala kemudian pamit dan melangkah pergi. Ia menatap sekeliling dan berusaha mencari tempat sebagai tujuannya. Jessica tidak mengenal siapa pun disini, kecuali. Ah, William. Laki-laki itu sedang sibuk berbincang-bincang dengan para tamunya. Jessica mengedarkan kepalanya lagi. Melihat-lihat sambil melangkah. Ia lantas menemukan sebuah kursi yang cukup sepi dan kosong. Jessica kemudian melangkah kesana. Kemarin Alex mengajaknya agar ia tahu kolega-kolega bisnis Alex bukan? Sayang sekali orang pertama yang Alex perkenalkan cukup menyebalkan. Bukan William, tapi pria berkumis itu. Cara menatapnya sangatlah tidak sopan. “Apa kau tidak menikmati pestanya?” Jessica mendongak dan menemukan William yang menghampirinya. Jessica tersenyum kemudian menggeleng, “tidak , Mr. Daniel.” “Panggil William saja.” “Baiklah.” “Jadi kenapa kau disini, Alex meninggalkanmu?” Jessica mengalihkan pandangan kepada Alex. Laki-laki itu sepertinya tengah membicarakan hal yang serius dengan Tuan bruce, terlihat dari raut wajahnya. “Dia sedang membicarakan suplai bahan baku.” “Dan kenapa kau disini?” “Alex yang memintanya.” William kini yang menatap Alex. “Kau pasti tidak mengenal siapa pun disini. Baiklah akan ku temani sebentar sampai Alex menyusul lagi. Aku tidak enak melihat tamuku berdiam sendirian.” Jessica hanya melemparkan senyum ketika William duduk di sebelahnya. “Jadi kau sekretaris barunya Alex?” tanya William. “Iya, baru satu minggu.” “Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa seperti sudah pernah melihatmu.” Jessica terdiam. Seingatnya ia tidak pernah bertemu dengan sepupu Alex ketika mereka berpacaran. Alex juga tidak pernah menunjukkan bagaimana wajah sepupu-sepupunya. Semoga saja Alex juga tidak pernah memperkenalkan dirinya dulu kepada keluarganya yang lain. Dengan yakin ia lantas menggeleng. “Ini pertama kalinya kita bertemu.” William menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menatap Jessica lekat. “Jadi, apa kau memiliki kekasih?” Jessica menatapnya dengan terkejut. Pertanyaan macam apa itu? Terlalu personal bukan untuk ukuran mereka yang baru mengenal beberapa menit lalu. Ah bukan mengenal, hanya sebatas mengetahui nama. William menggaruk tengkuknya canggung. “Maaf, sebenarnya aku bingung mencari topik jika mengobrol dengan gadis. Aku lebih sering mengobrol dengan pria-pria tua dan membicarakan bisnis.”            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD