Jessica memastikan bahwa dirinya tetap rapi dengan menatap pantulan diri di cermin toilet. Setelah berbincang cukup lama dengan William, ia merasa ingin buang air kecil kemudian pamit ke toilet. Alex terlihat asik berbincang dengan orang-orang dan Jessica bingung bagaimana caranya menghampiri laki-laki itu. Alex bilang ingin memperkenalkannya kepada kolega-kolega bisnis. Jessica yakin Alex sedang membicarakan mengenai pekerjaan dengan orang-orang yang ia temui dan seharusnya Jessica turut serta agar mengetahuinya. Hanya saja sesuai perintah Alex, ia harus menikmati pestanya. Setelah dirasa puas menghabiskan waktu di toilet, Jessica keluar.
Matanya membulat ketika melihat Tuan Bruce yang berkumis menyeringai.
“Ttu..Tuan,” cicit Jessica terkejut. Pria itu memasuki toilet wanita. s**l sekali.
Lengannya ditarik dan dirinya didorong ke dinding kemudian Tuan Bruce memerangkapnya.
“Puaskan aku malam ini, Nona. Katakan saja berapa uang yang harus ku bayar.”
Jessica membulatkan matanya dan mulai panik. Pria ini pikir dirinya jalang apa. Kedua tangannya ditahan.
“Maaf, Tuan. Saya harus kembali ke dalam.”
“Ayolah. Kau seksi sekali.” bisiknya mendekati wajah Jessica.
Jessica merinding takut. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Sekuat tenaga ia ingin mendorong pria ini namun sepertinya tenaganya tidak sekuat itu.
“Lepaskan aku, Tuan!!” pekik Jessica. Tidak ada gunanya berujar sopan kepada pria yang lancag ini.
“Wah wah.. Sepertinya perlu dijinakkan.”
“Katakan, berapa biasanya Alex membayarmu? Kau pasti sudah sering memuaskan dia kan?” ujarnya kemudian terkekeh.
Sialan!
Jessica masih perawan. Dan kalau sampai pria tua ini memperkosanya maka habislah hidupnya saat ini juga.
“Pantas saja Tuan Perald bisa tergoda olehmu.” Jessica membulatkan matanya. s****n, pria ini mengetahui skandal itu. Apa semua orang di pesta tadi juga mengenalnya. Jessica kembali apda pikiran bahwa dirinya sedang dilecehkan disini.
“Tolong!!!” pekik Jessica panik.
“Siapapun tolong aku!” pekiknya lagi. Membuat Tuan Bruce terkekeh.
“Berteriaklah, Nona. Tidak akan ada yang mendengarmu.”
Satu tangan Tuan Bruce memegang d**a Jessica begitu saja membuat Jessica kembali mencoba membrontak. Sayangnya meski sudah tua, tenaga pria b******n ini kuat sekali. Bayangan saat Tuan Perald hampir memperkosanya pun kembali berpendar di ingatan Jessica. Hari yang sama menyeramkannya dengan hari ini. Hanya saja, saat itu Perald tidak memiliki cukup tenaga yang besar agar dapat menahan Jessica.
“Sangat besar.” gumamnya membuat Jessica kemudian meludahi pria itu karena geram.
“Kau!”
Jessica berhasil menyulut emosi pria itu yang berakibat Tuan Bruce benar-benar marah dan merobek atasan gaunnya.
Jessica menitikkan air mata ketika gaunnya sobek dan menampakkan dadanya. Menyebabkan Tuan Bruce dengan brutal menyentuh tubuh gadis itu. Ia memejamkan mata dan menangis sambil terus berteriak meminta pertolongan. Tuan Bruce mendekat dan hampir mendaratkan mulut di atas bibir Jessica namun Jessica dapat merasakan tubuh pria itu menjauh dan terdengar suara pukulan.
“Bajingan.”
Jessica membuka matanya kemudian melihat Alex sedang memukul pria itu.
“Alex..”
Jessica menutupi dadanya dengan tangan karena gaunnya benar-benar tidak tertolong. Melihat Alex yang begitu brutal, Jessica takut Alex bisa membunuh pria itu.
“Alex, cukup. Kau bisa membunuhnya.” pekik Jessica. Ia tidak ingin Alex sampai membunuh dan itu bisa menyebabkan masalah. Kasihan Nyonya Brigit kalau sampai terjadi apa-apa karena kasus ini.
Alex menghentikan kegiatannya. Napasnya terengah kemudian ia bangun dari posisi menduduki pria itu yang terkapar di lantai. Wajahnya sudah hampir hancur karena tonjokkan Alex. Hidung dan mulutnya tidak berhenti mengeluarkan darah tapi Tuan Bruce masih sadar.
“Kau.” Alex menunjuknya dengan sangat marah.
“Aku akan membuat perusahaanmu hancur.” desis Alex kemudian menghampiri Jessica. Ia menatap gadis itu. Pipinya basah karena ia menangis dan pakaiannya berantakan. Alex segera melapas jasnya kemudian memasangkannya pada tubuh Jessica sehingga menutup tubuh bagian depan gadis itu.
“Kita pulang,” ujarnya kemudian menarik tangan Jessica untuk pergi dari sana.
-------
Mereka benar-benar pulang padahal pestanya belum dimulai. Alex hanya diam saja semenjak tadi. Sementara Jessica mati-matian berusaha menahan tangis jika mengingat hal menjijikan itu. Jessica merasa tidak enak membuat Alex meninggalkan acara sepupunya bahkan padahal belum dimulai.
“Maaf,” cicit Jessica. Jessica tidak tahu jika pria itu membuntutinya ke toilet dan berani-beraninya memasuki toilet wanita. Seharusnya ia mengajak orang lain untuk mengantarnya ke toielt. Hanya saja, dia tidak mengenal siapa pun disana kan? Meminta tolong Alex tidak mungkin karena laki-laki itu sedang sibuk berbincang. Dan, meminta tolong William juga tidak mungkin. Jessica hanya mengenal dua pria itu dan tidak mungkin meminta mereka yang mengantar. Ah, baiklah. Hal itu sudah terjadi bukan.
“Katakan padaku, dimana saja b******n itu menyentuhmu?” tanya Alex dengan suaranya yang datar. Pandangannya masih fokus ke arah jalanan. Jessica menelan ludah dengan kesulitan. Ia memejamkan matanya. Ia merasa takut jika mengingat hal itu lagi.
“Katakan kepadaku, Jess!” Alex memekik.
“Hanya d**a,” sahut Jessica dengan gemetar.
“s****n!” maki Alex.
“Wajah dan leher?” tanya Alex dengan menoleh ke arah Jessica. Merasakan Alex kini tengah menatapnya, Jessica pun menundukkan wajah kemudian menggelengkan kepala.
“Pria tua bangka itu harus diberi pelajaran.”
Jessica hanya diam saja. Terlebih dari kejadian tadi. Mengapa Alex begitu marah dengan pria itu. Apakah hal itu tidak berlebihan. Jessica menggigit bibir bawahnya.
Mereka tiba di basement apartemen. Kemudian Alex keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Jessica yang masih mematung. Menyadari itu Jessica lantas segera turun dan Alex pun menarik pinggangnya kemudian melangkah. Jessica hanya diam saja karena ia masih terkejut dengan apapun yang terjadi. Kejadian di toilet, Alex yang begitu marah dan sekarang laki-laki itu merangkul pinggangnya sambil melangkah menuju apartemen mereka. Jessica tidak ingin melakukan apapun lagi selain segera menuju kamarnya untuk menangis sepuasanya. Ia juga ingin segera membersihkan tubuhnya dari bekas sentuhan pria menyebalkan itu. Atau melakukan apapun untuk menghilangkan rasa tidak nyamannya saat ini.
Tangan itu terus bertengger di pinggangnya sampai mereka tiba di depan apartemen Jessica. Alex mengantarnya sampai depan pintu.
“Masuklah..”
“Terima kasih banyak dan maaf,” ujar Jessica.
“Jika besok kau merasa baik, datanglah ke kantor. Jika tidak, tidak apa-apa. Kau bebas untuk masuk atau tidak khusus untuk besok.”
Jessica menganggukkan kepala kemudian menggumamkan terima kasih.
“Jasmu,” ujar Jessica.
Alex menatap jasnya kemudian menatap Jessica tepat di matanya.
“Bawa saja. Masuklah dan beristirahat.”
Jessica menggumamkan terima kasih sekali lagi kemudian memasuki apartemennya. Alex masih berdiri disana dan menghela napas ketika pintu itu tertutup.
“Maaf tadi tidak bisa menjagamu.”