Chapter 21

1044 Words

Jessica belum mampu mengendalikan dirinya bahkan saat Alex sudah melangkah semakin dekat. Ia menahan napas, diam dan merasa kikuk. Seolah terhipnotis dengan pesona Alex, dirinya pun hanya diam saja. Ah, udara. Dimana pasokan oksigen yang biasanya melimpah. Jessica justru stok udara di sekitarnya terasa menipis. “Kau tidak bilang jika pergi.” Otak Jessica masih berusaha mencerna perkataan Alex. Fokusnya terasa hilang entah kemana. Ia benar-benar tidak tahu. Rasanya lidahnya kelu untuk berbicara. Bahkan kepalanya terasa tidak bisa memproses jawaban yang tepat untuk ucapan Alex barusan. Otot perut kekar dan pundak yang sangat bidang itu, berada sangat dekat dengan Jessica. Cobaan apa ini!. “Kau sedang tidur.” “Seharusnya bisa menitip pesan kepada Tuan Barker.” “Aku sudah menitip pesan.”

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD