bab 6 - Gambar menyakitkan.

915 Words
Lagi-lagi sorot kami bertemu, wajah itu terlihat dingin cenderung tak bereaksi sama sekali. "Ayah ... Sini atuh ihhh!" Rengek Aqila, melihat yang di panggil hanya diam di tempat. "Eh si Om. Nyari Aqila ya?" Bik Umah tersenyum berjalan mendekati laki-laki itu. "Iya." sahutnya singkat dengan senyum sesaat. "Mau stroberi, Om?" tawar Bibik. "Makasih." sahutnya lagi. "Ayo, Qila. Oma dari tadi nyariin tuh." ajak dia pada anak kecil itu. "Mari, Bik." Ia menganggukkan kepala sebelum akhirnya berlalu sambil menuntun Aqila. "Dia Duda ..." ujar Bik Umah dengan suara berbisik. "Ganteng ya ..." sambungnya sambil cengengesan. "Kaya Pamanmu masih muda." kali ini Bik Umah terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri. Aku hanya diam, lalu kembali meneruskan langkah sambil mengamati rimbunan daun teh yang luas membentang. Suara sholawat Nabi dari Mushola terdengar, membuat kami segera menyudahi aktivitas dan masuk ke dalam rumah. Berkeluh kesah pada sang pencipta adalah yang terbaik. Aku bersimpuh memohon pengampunan dan memohon di beri kekuatan. Sungguh aku hanya seorang hamba yang kerdil, kecil dan penuh dosa di hadapannya. Berkali-kali aku menyerukan kekuatan, agar bisa melewati semua dengan lapang dadaa. Meski aku sendiri tidaklah yakin, bisa atau tidak menjalani semua setelah apa yang sudah terjadi. "Rin ..." suara Bik Umah terdengar, diiringi dengan ketukan pintu. "Iya, Bik?" Aku melepas mungkena seraya menoleh. "Mamah nelpon, Bibik. Katanya hape kamu masih mati ya?" ujar Bik Umah sambil mendorong pintu masuk ke dalam kamar. "Hapenya lowbet, Bik. Belum sempat ngecas." jawabku sambil melipat mungkena lalu menaruhnya di atas ranjang. "Di cas atuh. Si Mamah khawatir belum dengar suara kamu." sahut Bik Umah. "Iya, Bik." Aku mengangguk pelan. "Bibik keluar sebentar ya, mau beli gas sama telur. Ternyata sudah habis semua. Pamanmu paling besok sore sampai di rumah, jadi stok makanan harus ada. Dia makannya banyak." kekeh Bik Umah. "Eh ... anu ..." Kepala celingukan mencari keberadaan tas kecilku. "Ini buat tambahan belanja, Bik." Aku membuka dompet dengan cepat, menarik dua lembar pecahan uang berwarna merah. "Ga usahlah, Rin. Kamu tamu disini ..." ujar Bik Umah dengan wajah sungkan. "Tidak apa. Erin lama disini." aku memaksa, menarik tangan dan menaruh uang di telapak tangannya. "Huh ... Bibik jadi tidak enak atuh ah." Sahutnya. Aku hanya senyum, menganggukkan kepala. "Eh ehh ... Sudah bisa senyum." Goda Bik Umah. Seketika senyumku memudar di buatnya. "Lah ... kenapa murung lagi? Ikut Bibik saja ke warung yuk." ajaknya. "Tidak apa. Aku mau beres-beres." sahutku. "Ya sudah ... kamu mau makan apa?" "Apa saja." jawabku. Bik Umah keluar kamar setelah mengucap salam. Segera mencanger handphone, mata mengedar ke sudut ruangan hingga berhenti di laci tempat berjejer nya buku-buku. Kamar ini milik Jasmine banyak sekali komik kartun ternama di dalam laci. "Assalamualaikum ..." Samar, aku mendengar seseorang mengucap salam. Aku mencoba untuk tidak menggubris, namun salam itu terus saja terdengar. "Iya." Aku beranjak dari ranjang, menaruh komik di atas bantal dan berjalan keluar kamar. "Eh ada tamu ya?" Perempuan setengah bawa berdiri di depan pintu. "Iya." Aku mengangguk sambil tersenyum kecil. "Bik Umah nya ada?" Tanyanya. "Eh itu, Bibik ke warung." Aku menjawab. "Ohh ..." Seketika bibir itu membulat. "Ini ada opor ayam. Tadi Oma bikin banyak, titip untuk Bik Umah ya." Ujarnya seraya menyodorkan nampan yang terdapat mangkuk besar berisi kuah kental berwarna kuning s**u. "Iya." Aku menyambut ukuran tangannya. "Oma ..." Bik Umah datang dengan langkah lebar mendekati perempuan yang dia panggil Oma. "Ada apa, Oma?" Bik Umah melirik mangkuk yang baru saja berpindah di tanganku. "Cobain masakan, Oma." Sahut Oma dengan senyum lebar. "Ish... Si Oma. Tau saja kalau saya tidak masak." Bik Umah menepuk manja pundak perempuan itu. "Masuk dulu, Oma. Ini kebetulan banget aku beli cilok kuah di Bik Asma. Ini asli enak kuahnya kental banyak gajinya." Bik Umah membawa masuk, Oma. Meninggalkan aku sendiri di depan pintu. "Eh ... Tolong ambilin mangkuk tiga ya, Rin. Kita makan cilok sama-sama." Titah Bik Umah. "Sini, Erina. Ini kenalin Oma nya Aqila." Bik Umah melambaikan tangan saat aku baru saja keluar dari dapur. "Ini keponakan?" Tebak Oma. "Iya, Oma. Lagi pingin piknik dia jadi main kesini." Jawab Bibik. "Oma ..." Aku menyalim dan mencium tangannya. "Cantik ihh ... Tak sangka kamu punya keponakan cantik begini." Ujar Oma sambil tersenyum melihatku. "Kuliah?" Tanyanya. "Kerja, Oma." Jawabku. "Kirain masih kuliah. Wajahnya masih imut-imut gitu." Kekeh Oma. Aku hanya tersenyum. Bik Umah menaruh tiga plastik ke dalam masing-masing mangkuk lalu menyodorkan kearah Oma dan aku. "Ngemil, Rin. Nanti habis isya baru makan nasi." Kekeh Bik Umah seraya menyeruput kuah pedas tersebut. "Duuhh mantap banget kuah cilok bikinan Bik Asma." Puji Bik Umah seraya mengecap lidah. Sejujurnya aku tak napsu melihat makanan, namun karna tak enak dengan Bik Umah juga tamunya mau tak mau aku ikut makan juga. Bik Umah dan Oma berbincang hangat, sesekali tawa mereka terdengar. Hingga suara adzan berkumandang aku pamit untuk sholat sementara keduanya masih melanjutkan obrolan. Selesai mengerjakan kewajiban sebagai umat, aku menghidupkan ponsel. Suara notifikasi seketika langsung bersahut-sahutan, jantung berdentam ngilu saat menyadari layar ponsel yang masih bergambar kebersamaanku dengan Pati. Emosi langsung memuncak, mata memanas melihat senyum di bibirnya. Tak ingin sakit hati lagi setelah menghirup napas dalam-dalam aku segera menyentuh gambar galery di dalam ponsel berniat mengubah tampilan layar tersebut. Namun lagi-lagi napasku di buat sesak saat melihat puluhan gambar foto yang memperlihatkan gambar aku dan Pati yang sedang melakukan prawedding. Tubuh ini bergetar hebat, sambil mengeratkan rahang aku melempar ponsel ke sembarang tempat. "Ssssttt ... Astagfirullah!" Sambil mengerang aku menjambak rambut sendiri. Berharap rasa sakit yang menjalar hati hilang berganti dengan rasa sakit yang berdenyut di kepala. ***ofd
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD