Saat memutuskan memilih seseorang menjadi bagian dari hidup, aku berkomitmen untuk membahagiakannya. Jangankan menyerahkan waktu dan tenaga, harta yang paling berharga sekali pun pasti aku berikan.
Dan kini ... Aku menyesalinya!
Hidup memang sekeras itu pada sebagian orang yang kurang beruntung, dan aku mungkin salah satu dari mereka.
***Ofd.
"Ada apa, Erin?" Bik Umah menerobos masuk ke dalam kamar, di belakangnya ada Oma mengikuti.
"Ti-dak ..." Aku menggeleng pelan.
"Tadi Bibik dengar ada suara benda jatuh, sama suara kesakitan." Cecar Bik Umah.
"Kamu sakit?" Bik Umah berjalan mendekat.
"Tidak, Bik ..." Aku kembali menggeleng kali ini di sertai senyum tipis.
"Yuk makan bareng. Pasti sudah laparkan?"
"Mmm a nu ... Duluan saja." Aku menjawab dengan kepala menunduk menyembunyikan mata yang memanas.
"Ya sudah. Bibik keluar ya, nanti kalau laper makan saja, lauk ada di laci piring." Jelas Bik Umah.
"Iya, Bik." Aku menjawab. Bik Umah keluar dari kamar dan menutup pintu.
"Hhhh ...."
Aaiish siaall. Gara-gara manusia keparaat itu aku jadi seperti ini. Mereka ... Sedang apa mereka berdua setelah status berganti menjadi pasangan suami istri?
Siaall!
Kenapa selalu bayang-bayang mereka yang ada di otakku!
Benar-benar bo-doh!
Aku atur napas secara perlahan, sorot mengedar mencari keberadaan ponsel yang tadi entah aku lempar kemana. Menuruni ranjang, mencari pada kolong-kolong meja rias dan samping lemari, napas terhembus panjang saat melihatnya ada di balik pintu.
"Ciih!" Aku berdecih melihat benda pipih ini, layar retak dan mungkin saja sudah tidak bisa di hidupkan lagi. Aku coba menekan tombol on off di samping layar, tak lama benda pipih itu mengeluarkan suara dan cahaya.
Memandang dengan miris gawai yang sudah tidak jelas bentuknya, tiba-tiba senyum miring tercipta di bibirku.
Gawai ini ... sudah lama sekali aku memakainya, terhitung sudah lima tahun mungkin lebih. Gawai yang sudah penuh memori internalnya dan sudah ketinggalan zaman. Aku bahkan begitu sayang membeli barang untuk diri sendiri. Semua gajiku hampir habis untuk membiayai kuliah laki-laki siaalan itu. Entah mengapa jika untuk kebutuhannya aku tidak pernah berpikir dua kali untuk membelikannya.
Besok ... Aku harus memanjakan diriku. Membeli apapun yang aku mau memakai uangku sendiri. Aku yang begitu bo-doh, mau mau saja di tololin sama dia dengan iming-iming hidup bahagia di masa depan.
Dasar parasit!
Getar pada gawai membuat lamunan seketika buyar, nama Mamah tertera di dalam layar. Aku langsung menggeser tombol hijau, lalu menekan speaker kecil di dalam layar.
"Erina ... Assalamualaikum." Suara salam Mamah langsung terdengar.
"Salam ..." Aku menjawab.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Kamu baik-baik disana ya. Banyakin jalan-jalan ya sayang ..." Cicit Mamah dengan suara khas cerewetnya.
"Heum." Aku mengangguk.
Terdengar Hela napas panjang di balik telepon, tak lama suara tangis perempuan yang sudah melahirkan aku ikut terdengar.
"Ma-af Erin ... Maaf." Mamah terdengar sesak, mataku terpejam seiring dengan napas panjang.
"Mamah selalu berdoa agar kamu dapat jodoh yang lebih baik dari dia ..." Lirih Mamah disela Isak tangisnya. Aku hanya diam tak merespon.
"Tadi, Puspita sama Gea kerumah. Dia nanyain kamu. Mamah bilang kamu lagi istirahat dirumah Bibik." Ujar Mamah diiringi susutan hidung. "Mereka khawatir sama keadaan kamu." Sambung Mamah.
"Ya ..." Jawabku pelan. Tak tahu harus berkata apa.
"Jangan telat makan ya, Erin. Mamah selalu berdoa buat kamu." Mamah menangis lagi.
"Ya." Aku mengangguk mengusap sudut mata yang mulai memanas.
"Mamah tutup ya. Bapak minta kerokin. Masuk angin katanya." Mamah menutup sambungan setelah mengucap salam.
Baru saja menjauhkan gawai dari telinga, gawai kembali bergetar nama Gea si bawel memenuhi layar.
Aku tak menjawab panggilannya, karena tak ingin berbicara pada siapapun.
Drett ....
Gae mengirim pesan. Jari refleks membuka pesan darinya.
"Lu baik-baik saja kan, Rin?"
"Ya." Aku membalas pesannya.
"Sip. Met istirahat Erin." Gea mengirim pesan balasan. Aku hanya mengirim stiker jempol untuknya.
Sepi ....
Aku memilih menonaktifkan gawai, tak ingin ribet membalas pesan yang menumpuk di aplikasi.
Mata melirik pada jam dinding yang menunjukan pukul 21:20. Perut berasa perih keroncongan, dengan langkah berat aku menuruni ranjang keluar kamar menuju dapur mencari makanan yang bisa di makan.
Membuka satu demi satu laci pada rak dapur, napas berhembus panjang melihat semangkuk opor ayam.
Ck! Padahal perut laper, tapi kenapa aku tidak berselera makan makanan berkuah santan ini?
"Mau makan?"
"Eh!" Aku terlonjak, Bik Umah tiba-tiba ada di belakangku.
"Bibik hangatkan dulu ya. Biar lebih enak makannya." Tawar Bik Umah, tanpa diminta dia langsung meraih mangkuk dan mendekati kompor.
"Bik ada mie goreng gak?" Tanyaku.
"Duh ... Tadi Bibik cuma beli mie kuah soto, mau?" Bik Umah membuka laci, terlihat dua bungkus mie kuah di dalamnya.
Trek Tek Tek ....
"Nah itu tukang mie Tek tek. Tunggu Bibik panggilin ya." Dengan tergesa Bik Umah berjalan melewatiku, langkahnya lebar menuju pintu utama.
"Rin, ambilin piring." Suara teriakan Bik Umah yang berada di luar terdengar hingga ke dapur. Aku langsung mengambil dua piring lalu berjalan keluar rumah.
"Pedes ga?" Tanya Bik Umah dengan senyum mengembang, di hadapannya sudah ada Mamang tukang mie tek-tek yang memikul gerobak mini dan mulai sibuk di depan kompor dan wajan.
"Sedang saja." Aku menjawab sambil menyodorkan piring.
"Eh satu saja, Bibik sudah kenyang. Tadi makan nasi, belum lagi makan cilok kuah." Ujar Bik Umah sambil menyerahkan satu piring kearahku.
"Mang nanti kesini ya." Aku menoleh, Ayah Aqila berdiri di depan pagar rumahnya.
"Belum tidur Om?" Bik Umah menyapa.
"Belum." Laki-laki itu menjawab. Sekilas terlihat dia melirik kearahku, lalu mengalihkan pandangan pada Mamang kang mie tek-tek.
"Duduk, Rin." Bik Umah menjatuhkan bobot di kursi kayu yang berada di teras rumah.
Aroma khas bumbu bawang putih menguar saat si Mamang memulai aksinya. Aku tak beranjak, netra tak lepas dari aksi si Mamang yang sibuk memasukan bahan makanan ke dalam wajan.
Perut seketika berbunyi, aroma masakan ini sepertinya mampu membuat cacing di dalam perut meronta meminta diisi.
"Silahkan, Neng ..." Tak menunggu lama, satu piring mie kuah yang terlihat menggugah itu tersedia di depan mata.
"Aww ..." Refleks aku merintih saat memegang bawah piring.
"Panas ya. Biar Mamang saja yang bawa ke meja." Kang mie langsung bangkit dari tempatnya berjalan menuju teras.
"Waduh ... Kok kaya enak sih." Bik Umah mengecap saat mie kuah pedas itu di letakan di depannya.
"Barengan saja, Bik." Tawarku.
"Ahh ... Tidak, Rin. Bibik mau diet loh." cicit Bik Umah sambil tertawa.
"Besok saja dietnya. Lagi pula ini banyak, Erin tidak akan habis makan sendirian." jawabku. "Bagi dua ya." Tanpa menunggu persetujuan, aku langsung membagi dua makanan tersebut di dalam piring.
"Makan disini saja, Om."
"Eh ...."
Aku refleks menoleh, terlihat Ayah Aqila salah tingkah saat aku menatapnya.
"Mari, Bik ..." Ayah Aqila langsung terburu-buru memasuki halaman rumahnya.
"Dari tadi, Bibik lihat si Om merhatiin kamu terus loh, Rin." Ujar Bik Umah dengan mata menyipit.
"Semoga saja ada kabar baik ya." Sambungnya dengan senyum lepas, membuat kening menaut kencang saat Bik Umah menarik turunkan alisnya.
***Ofd.