POV Darius.
"Belum tidur, Yus?" Suara perempuan yang melahirkan aku terdengar seiring dengan pintu yang terbuka.
Aku yang sedang duduk di ruang tamu sepintas menoleh, lalu kembali menekuri layar.
"Lagi lihat pembukuan, Oma." Aku menjawab. Sejak Aqila lahir, aku terbiasa memanggilnya dengan sebutan, Oma agar Aqila juga ikut terbiasa dengan sebutan tersebut.
"Sudah malam masih sibuk saja." cicit Oma sambil menggelengkan kepalanya. Aku tak menggubris, masih terpaku melihat layar 14inci di depanku.
"Kasihan si Erin ..." Oma bernapas panjang, menjatuhkan bobot di atas sofa tepat di sebrangku. "Sudah mau ijab qobul, tapi calon suaminya malah ketahuan menghamili Kakaknya sendiri." Sambung Oma dengan wajah prihatin.
Aku yang tengah sibuk dengan deretan huruf di layar laptop menghentikan aktivitas, ucapan Oma sedikit menarik perhatian.
"Erin yang dirumah Bik Umah?" Tanyaku memastikan.
"Iya." Oma mengangguk. "Kalau tidak salah ingat, Kakak nya itu si Delia dia janda anak satu." Jelas Oma.
Bibirku membulat dengan kepala manggut-manggut.
Dikhianati Kakak sendiri?
Ya ampun. Mereka benar-benar kejam!
"Dih ... Tega banget ya si Lia. Oma kenal loh sama dia. Dulu masih kecil setiap main kerumah Bik Umah kan juga sering main di halaman rumah kita, mereka itu selalu main sama-sama tidak pernah ribut apa lagi berantem." Oma berdecak kesal, wajahnya terlihat sedih.
Ingatanku tertuju pada kejadian siang hari, dimana Bik Umah minta tolong untuk membantu saudaranya yang pingsan di dalam mobil.
Rupanya itu Erin. Sudah sangat besar rupanya!
"Kamu juga, Yus. Cepatlah menikah lagi, kasihankan Aqila butuh kasih sayang seorang Ibu."
Aku meringis, ucapan Oma yang selalu menyuruhku mencari pasangan sering kali terdengar.
"Move on dong. Sudah waktunya kamu itu cari pasangan. Oma sudah tua. Kalau Oma mati siapa yang--"
"Ibu apaan sih." Dengan cepat aku memotong ucapannya.
"Anak, Ibu cuma kamu sama Rangga saja, Yus. Rangga sibuk dengan bisnisnya di luar kota, kamu sibuk dengan ladang teh. Ibu kepengin lihat kamu bahagia sama pasanganmu." Ujarnya sendu.
Aku menarik napas melihatnya menyusut hidung, mata itu terlihat sayu dan sedih.
"Oma istirahat ya. Ini sudah malam." Aku bangkit dari sofa berjalan mendekati orangtuaku satu-satunya.
"Hhhh ... Kamu selalu begitu." Oma bernapas panjang, lalu mengulurkan tangan saat aku membantunya bangun dari tempatnya.
"Yus ...."
"Iya?"
"Setidaknya kasih Adik buat Aqila."
"Hah?" Aku terperangah mendengar ucapan konyol Oma.
"Menikahlah, Yus ..." Oma menggenggam erat lenganku, saat aku mendudukinya di pembaringan.
"Menikah tidak semudah itukan Oma ..." Aku tersenyum tipis, duduk di sampingnya.
"Mudah kok!" Tegas suara Oma. "Asal kamu mau buka hati." Sambungnya dengan tatapan lekat.
"Lupakan Mamihnya, Aqila. Please ..." Mata itu terlihat mengembun dengan sorot memancarkan permohonan.
"Hana sudah menikah dengan Fairuz. Dan sedikit pun dia tidak pernah menanyakan kabar Aqila. Apa lagi yang kamu harapkan dari dia?" Kini suara itu bergetar, pipinya telah basah oleh air mata.
"Oma tidak ikhlas, Yus. Para pengkhianat itu sudah bahagia, sementara kamu masih saja terjebak di masalalu ..." Oma terisak pilu. Aku hanya bisa diam, tak tahu harus melakukan apa.
"Tolong, Yus ... Oma tersiksa setiap kali kamu memandang gambar perempuan itu." Mata itu terlihat sendu, bulir bening bercucuran di pipinya.
"Iya." Aku menganggukkan kepala setelah menghirup oksigen sedalam-dalamnya.
"Nanti kalau ada yang tepat, langsung Iyus nikahin." Aku bergurau berusaha menenangkannya.
"Beneran?" Mata itu menatap dalam sorot mataku.
"Hem." Aku mengangguk saja.
"Kalau sama Erin, gimana?"
Alisku menaut mendengar kalimatnya.
"Erin perempuan baik-baik. Latar belakangnya pun baik. Oma rasa kalian cocok jika bersanding."
Aku meringis, bingung hendak menjawab apa.
"Dia juga cantik. Iyakan?" Ucapnya lagi.
"Eh ... anu ... Entah." Aku mendadak bingung.
"Dekati dia, Yus. Siapa tahu cocok. Kamu mengerti sakitnya di khianati, jadi ... Oma rasa kamu tahu cara mengobati sakitnya Erin."
"Eh ... Hehe." Aku menggaruk rambut kepala yang tiba-tiba menjadi gatal.
"Iyakan?" Sorot itu menatap lekat.
Aku bergeming sesaat, lalu mengalihkan pandangan kearah lain.
"Duh laper ..." Ujarku refleks mendengar suara tek-tek di depan rumah.
"Oma mau makan mie kuah?" Tawarku kali ini mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Huhh ... kamu saja, Yus." Ucap Oma seraya menghela napas panjang. Aku meringis melihatnya menarik selimut dan merebahkan badan di sisi ranjang.
"Beneran tidak mau, Bu?"
"Hem ..." Oma menggeleng pelan, matanya mulai tertutup rapat. Aku tersenyum kecut, menyadari reaksi Oma yang mungkin sedikit kesal padaku.
Sejujurnya aku tidak terlalu laper, namun karna sudah terlanjur akhirnya aku memanggil si Mamang penjual mie tek-tek yang kebetulan berada di samping rumah.
Sorotku tertegun sesaat, melihat sosok yang tadi sempat kami ributkan berdiri tegak di samping si Mamang.
"Nanti kesini ya, Mang." Ujarku.
"Iya." sahut si Mamang seraya menoleh.
Aku bersandar di sisi tembok, entah mengapa pandanganku tertuju pada perempuan manis yang sibuk menatap si Mamang dengan serius. Tiba-tiba ucapan Oma terlintas di kepala, membuat hatiku sedikit terenyuh.
Hhhh ....
Aku rasa dia lebih tegar dariku. Lihatlah dia ... setelah di selingkuhi, bahkan masih bisa memesan makanan.
Sementara aku?
Ahhh ....
Rasanya menyedihkan mengingat kejadian mengenaskan itu. Aku ... yang bahkan hampir gila karna pengkhianatan yang di torehkan Hana dan Fairuz.
"Makan bareng sini, Om."
Ajakan Bik Umah membuat aku sedikit tersentak, di tambah Erin yang sontak menoleh kearahku.
"Eh, Iya." Aku mengangguk, dengan cepat berbalik arah berjalan menuju teras rumah.
Aahh ... sial. Semoga saja perempuan itu tak menyadari bahwa sejak tadi aku sedang menatapnya.
***ofd.
"Yeyey cantik ... yeyey cantik." Suara gaduh dari luar kamar terdengar, tak lama pipi terasa ada yang menepuk-nepuk.
"Ayah lihat, baguskan?"
Aku berusaha mengerjapkan mata, saat Aqila terus mengguncang badanku.
"Ya ..." sahutku dengan suara serak.
"Cantikkan, Yah?"
Sosok imut berlenggak-lenggok sambil memainkan rambut panjangnya yang sudah rapih terikat-ikat.
"Anteu yang bikin." Ujarnya begitu saja.
"Ini namanya di kepang kelabang, Yah. Ayah sama Oma mana bisa." Bibir itu melengkung dengan sempurna lalu berlari kecil kearah lemari empat pintu yang salah satunya memiliki cermin panjang dan lebar. Bocah lima tahun itu memutar badan dengan riang, memainkan rambut kepangnya dengan mata berbinar-binar.
"Duh di cariin rupanya ada disini." Oma masuk ke dalam kamarku.
"Sudah bangun, Yus?" Oma menoleh kearahku yang sedang mengucak mata.
"Ya." Aku menjawab.
"Qila ayo sarapan dulu. Pagi-pagi sudah kabur ke rumah orang." Cicit Oma sambil berjalan kearah anakku.
"Baguskan Oma?" ujar Qila mengabaikan ucapan Omanya.
"Iya bagus. Siapa yang buat?" Oma memegang rambut panjang Qila yang sudah terkepang.
"Anteu yang ada dirumah Bik Umah." jawab Qila begitu semangat.
"Oh ... Aqila sudah tahu?"
"Tahu apa, Oma?" Bocah polos itu menoleh.
"Anteu itu calon Mamah barunya Qila ya?" Sahut Oma sambil melirik kearahku.
Aqila tertegun, tak lama menatap aku dan Oma bergantian.
"Beneran, Yah?"
"Hah ...."
***ofd.
Lanjut yuk ...