Tidak ada yang bisa menggambarkan suasana hatiku. Selain kehancuran ....
Mata sudah tak bisa terbuka, membengkak karena terus menerus mengeluarkan air mata.
Tubuhku ... ah ... tidak bisa di gerakan, seolah kehilangan tulangnya.
Aku menangis ... lalu tertawa, lalu menangis lagi saat mengingat, Mas Pati mengikrar janji sehidup semati bukan untuk diri ini, melainkan untuk Kakak kandung terkutukku.
Bajingaaan kalian semua. Setaaan alas. Ahh tidak ... aku rasa ibliss sekali pun tiada sanggup mengkhianati sebangsanya sendiri.
Aku duduk terpaku di depan meja rias, menatap cermin yang menampilkan wajah menyedihkan milikku. Wajah kusam dengan tatapan kosong. Mata cekung dengan garis hitam yang sangat terlihat, pipi yang semakin tirus juga badan yang semakin kering kerontang.
Terlihat suram tak memiliki semangat hidup. Aura kematian terlihat dengan jelas.
Jika mempunyai kesempatan, aku sudah tak ingin ada di Dunia ini.
Suara pintu kamar terbuka terdengar, tak lama suara yang dulu begitu aku rindukan terdengar di telinga. Hatiku kembali memanas melihatnya berdiri di ambang pintu, masih menggunakan jas hitam. Tangannya menggenggam erat peci hitam, tatap matanya masih terlihat sedih memuakan.
Aaisshh ... sangat menjijikan.
"Rin ...."
Langkah kakinya berjalan mendekati.
Mas Pati berjongkok tepat di bawah kakiku, kepalanya mendongkak sorotnya sendu kearahku.
"Se--telah anak itu lahir ..." Mas Pati menghela napas berat, matanya terpejam beberapa saat. "Aku janji akan menceraikannya. Dan ki-ta akan segera menikah. Hem?"
Aku diam, tak bergeming. Bukan karena ingin mendengar suaranya. Hanya saja aku tidak mempunyai energi untuk sekedar bersuara.
"A-ku tidak mencintainya. Aku hanya di jebak ... Aku ...."
Mas Pati menelengkupkan kedua tangan di wajahnya, tubuhnya terlihat bergetar, tak lama suara Isak terdengar dari mulutnya.
Mas Pati menangis? Ciih!
"Erin ... Maaf. Maaf ...."
Baru saja dia ingin meraih tanganku, suara Mamah terdengar marah dari luar pintu.
"Pergi!"
Mas Pati menatap sedih, seolah memohon pada Mamah.
"Jangan buat, Erin semakin menderita!" Ketus Mamah dengan wajah sinisnya.
Mas Pati menarik napas, perlahan bangkit dari tempatnya.
"Sebaiknya, kau bawa Delia tinggal dirumahmu." Mamah berkacak pinggang, sorotnya keluar kamar, terlihat Delia yang masih mengenakan kebaya putih berdiri mematung di ambang pintu.
Napas berat terdengar dari mulut, Adipati. Sebelum akhirnya dia keluar kamar melewati ... aah ... Aku benci mengatakan ini. Tapi yang pasti sekarang Delia sudah resmi menjadi istri, Adipati.
"Kamu mau sesuatu, Erin?" Mamah mengusap ujung rambutku. Aku bergeming tak bergerak.
Mamah mendesah frustasi, memijat pangkal hidungnya.
"Ya Tuhan ..." Mamah menatap iba. Mungkin di matanya, aku tak lebih dari mayat yang masih di beri nyawa.
"Lihat, Delia ... ini karena ulahmu." desis Mamah dengan tatapan tajam kearah, Delia.
"Sungguh tak punya hati! Ck!" lirih Mamah di iringi napas panjang.
Mamah menutup pintu kamar, lalu memelukku dengan tubuh bergetar.
***Ofd.
"Lepaskan Adipati, Erin. Saat ini dia suamiku."
Entah sejak kapan dia datang, tiba-tiba Delia sudah terduduk di sisi ranjangku.
"Aku sama sekali tak menjebaknya. Dia sendiri yang ketagihan ..." bibir tipis itu berjingkat sebelah, menatapku dengan sorot kemenangan.
"Kau masih muda, cantik. Pasti bisa dapat yang lebih--"
"Keluar sialaaan!" geramku dengan rahang yang mengeras.
"Erin ..." Delia terpaku, wajahnya terkejut mendengar aku meninggikan suara.
Delia adalah bentuk manusia tak tahu diri. Sekian hari aku diam, menahan diri ingin mence-kiknya namun dia malah datang dan sangat meremehkan aku.
Kusibak selimut dengan kasar, duduk dengan tegak menatap sorotnya lekat-lekat.
"Aaarggh ..." Delia meringis sakit, saat tangan kananku mencengkram erat pucuk kepalanya. Aku tarik kepala itu hingga mendekati bibirku.
"Bawa pergi bajingaaan itu. Jangan pernah menunjukkan wajahmu di depanku!"
"Le-pas!"
Aku mengeratkan rahang, menangkis tangannya yang ingin melayang kearahku.
Wajah Delia pias, sorot ketakutan tergambar jelas di matanya.
Aku tersenyum sinis, semakin mengeratkan pegangan di kepalanya.
"Aa-hh sakit ...."
Brugg!
Sekali hentak, tubuh sintal itu terpelanting di atas lantai. Mata itu menatap nanar, tanpa kata Delia bangkit dari tempatnya lalu keluar kamar dengan wajah ketakutan.
***Ofd.
Entah siapa yang salah, yang pasti akupun tak luput dari gunjingan masyarakat. Ada yang simpati, tak jarang ada juga yang mencibirku.
Hari-hari terlewati begitu saja. Namun keinginan masih tetap sama.
Ya ... saat ini keinginanku hanya satu. Mati saja, sudah!
"Erina ... Ikut, Bibik pulang ke Bogor yuk. Bibik kesepian, Jojo dan Jasmine sudah dua bulan mondok di pesantren." Bik Umah datang dengan nampan di kedua tangan.
"Mau kan?" Bik Umah tersenyum lembut, menaruh hati-hati mangkuk berisi bubur dan segelas teh hangat di atas nakas. Aku hanya melirik, tak menjawab.
"Yuk di minum, mumpung masih hangat." Bik Umah mendekatkan gelas pada bibirku.
"Enak?" Ia tersenyum melihat aku meneguk minuman yang di bawanya. "Makan ya, Bibik suapin."
Tak menunggu jawabanku, Bik Umah dengan telaten dan hati-hati menyuapiku.
"Terkadang ... hidup memang tidak adil. Tapi dia tetap berjalan, bukan?" Bik Umah kembali tersenyum, tangannya dengan lembut menyeka sudut bibirku dengan tisu.
"Bibik bantu kemas barang-barang kamu ya, Rin." Bik Umah bangkit dari tempatnya, berjalan kearah lemari menarik koper dari dalam.
"Waktu kecil kamu paling senangkan main kerumah, Bibik. Sekarang kebun kangkung milik Pamanmu sudah beralih menjadi kandang sapi." ujarnya begitu ceria. Tangannya dengan gesit memasukkan pakaianku ke dalam koper.
"Yuk kita piknik. Erin pasti suka tinggal di sana." Bibik tersenyum sambil berjalan kearahku.
"Rin ..." Tangan lembut itu menyapu wajahku, bibirnya terus tersenyum lembut menatap penuh kasihan.
Bik Umah memelukku erat, bisa aku rasakan tubuhnya bergetar sambil mengeluarkan Isak.
"Aku salah apa, Bik?" Lirihku serak.
"Mereka jahat sama, Erin ...."
Aku tidak dapat menahan sesak, kembali meraung mengingat pengkhianatan mereka.
Setelah kejadian itu aku selalu bertanya, apa kesalahku pada, Delia hingga dia sanggup menusukku sekeji ini. Sebagai Adik, aku selalu mengalah. Aku selalu berbaik hati padanya, juga pada Hary, anaknya. Segala kebutuhan Hary aku yang menanggung. Aku tak pernah mengeluh atau keberatan, mengingat kami adalah satu keluarga.
Tapi mengapa?
Mengapa, Delia tega merampas kebahagiaanku.
Mengapa harus merayu, Adipati?
Tidak adakah laki-laki lain ... Mengapa harus calon suamiku!
"Ayok kita pergi dari sini ...." Ucap Bik Umah sambil mengangguk dengan tegas.
Pergi dari sini?
Ya ... aku harus pergi. Satu atap dengan makhluk gila seperti mereka, hanya akan membuat aku mati perlahan-lahan.