Bab 25

1274 Words
"Aku ndak menuduhmu, Tris. Aku hanya bertanya?" ulang Bayu kemudian. Melihat gelagat Trisna, Bayu yakin bukan dia pelakunya. Tapi dapat dipastikan juga kalau Trisna mengetahui sesuatu. Atau jangan-jangan, bisa saja dia memang terlibat. "Ma ... maaf, Mas Bayu. Tadi pagi, Bono juga sempat ke sini. Dia sudah cerita pada saya tentang semuanya. Saya ndak mungkin melakukan hal itu, Mas. Sudah tiga hari ini saya sakit. Dan ikan-ikan itu baru mati tadi malam," jelas Bono kemudian. "Oyah? Bagaimana kamu tahu kalau ikan-ikan itu mati tadi malam?" tanya Bayu meminta penjelasan. Akhirnya ada satu kejanggalan yang Bayu temukan di sini. Trisna memang tampak tak berbohong, jelas kalau pemuda ini sedang tidak sehat. Tapi bagaimana ia bisa tahu, kalau ikan-ikan itu telah mati tadi malam. Trisna mendapatkan info itu pagi hari dari Bono bukan? Bukannya Bono juga baru tahu kalau ikan itu mati tadi pagi, lalu dia langsung melapor pada Darminah. "Itu ... Bono yang memberitahu saya tadi pagi," jawab Trisna. Bayu tidak mendesak Trisna. Pria itu justru mengiyakan apa yang dikatakan pemuda itu. Tidak boleh terburu-buru dalam menangani sebuah kasus. Lebih baik pura-pura bodoh saja, menunggu hingga musuh lengah. Walau tentu saja, Bayu tidak menganggap Trisna sebagai musuh. "Oh, iya. Bono juga bilang pada Ibu, dia tahu ikan-ikan itu mati tadi malam," balas Bayu. Tampak ada guratan rasa lega pada diri Trisna begitu tahu apa yang diceritakannya pada Bayu, sama dengan apa yang diceritakan Bono. "Bagaimana dengan, Fadli. Kamu tahu dia ke mana? Bono bilang, Fadli sudah tidak pulang ke rumahnya beberapa hari yang lalu?" tanya Bayu lagi. "Saya ndak tahu, Mas Bayu. Terakhir kali kami bertemu adalah saat saya masih sehat. Kami sedang sama-sama memberi makan ikan saat itu," jawab Trisna. "Kamu tahu di mana rumahnya?" Trisna mengarahkan pada Bayu di mana letak rumah Fadli, atau orang ke tiga yang bekerja pada Darminah. Setelah cukup lama bercakap-cakap, Bayu akhirnya pamit undur diri pada pemilik rumah. Tak lupa ia juga sempat memberikan sedikit rezeki lebih pada Trisna untuk biaya pemuda itu berobat. Setelah Bayu pergi, Trisna mengambil ponsel yang sejak tadi disembunyikannya di bawah bantal. Ia tidak berani mengeluarkan benda itu selama Bayu ada di kamarnya. Rasa syukur tak lupa ia panjatkan, karena tak ada telpon masuk atau notifikasi bunyi lainnya yang bisa menimbulkan kecurigaan saat Bayu masih ada di sana. Setelah mencari satu nama di antara puluhan nomor yang tersimpan, Trisna menunggu beberapa saat hingga panggilan itu terhubung. "Hallo, Assalamualaikum?" *** Setelah dari rumah Trisna, Bayu kini memutar arah menuju rumah Fadli. Trisna bilang, Fadli adalah anak yatim-piatu yang tinggal sendirian. Bono tahu kalau pemuda itu sudah dua hari tidak pulang dari tetangga di sekitar rumahnya. Kendati begitu, Bayu tetap ingin memastikan sendiri. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada semua kejanggalan ini. "Mas Bayu, Mas!" Di tengah perjalanan menuju rumah Fadli Bayu akhirnya bertemu dengan Bono. Tampak pria itu tengah berlari-lari kecil menghampiri Bayu. "Mas Bayu, mau ke mana?" tanya Bono kemudian. "Aku mau ke rumah, Fadli. Bisa bantu tunjukan rumahnya?" jawab Bayu. Bono seperti tengah berpikir. Ia tampak agak ragu sebelum menjawab iya pada Bayu. Namun, pada akhirnya Bono tetap menemani Bayu. Tak ada banyak perbincangan yang terjadi. Dalam penglihatan Bayu, Bono justru tampak gelisah. Keraguan yang ia tunjukan sebelumnya, muncul kembali. Sejak pernah dijebloskan ke dalam penjara, bahkan oleh komplotannya sendiri, Bayu hampir tidak bisa percaya dengan siapapun lagi dengan mudah. Waspada adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk saat ini. Karena musuh berkedok kawan itu ada di mana-mana. "Mas, itu Fadli Mas!" pekik Bono seraya menunjuk pada pria yang saat ini tengah berdiri di depan pintu sebuah rumah. Pria yang Bono sebut Fadli itu terkejut mendengar teriakan Bono. Kunci rumah dari tangannya relfek terjatuh begitu saja. Dalam sekejap pria itu lari ketakutan. "Hey ... tunggu!" teriak Bayu. Bayu dan Bono berlari mengejar Fadli. Tubuhnya yang kecil dan ramping, seolah membantu gerak pria itu untuk berlari dengan lincah dan cepat, sampai masuk lebih dalam lagi ke perkampungan warga dan sampailah mereka di kebun pisang. Bayu masih berlari dengan stabil, sedangkan Bono sudah mulai kewalahan. Mulanya, Bayu tidak ingin membuat perbedaan yang kentara akan kecepatan larinya dengan manusia biasa. Tapi bagaimanapun juga, jika terus begini, Fadli akan lepas dari kejaran mereka. Maka dengan segenap kekuatan, Bayu berlari mengerahkan kekuatan, mengejar Fadli, mendahului Bono. Bono berhenti berlari, kemudian tercengang mendapati Bayu berlari cepat, jauh meninggalkannya. Tangan Bayu berhasil menahan pundak Fadli kemudian, lalu menariknya kuat-kuat hingga ia jatuh tersungkur ke belakang. "Arkkhhh," ringis Fadli begitu tubuhnya menyentuh tanah. Kini dia sudah tak bisa menghindar lagi. Bayu ada di hadapannya. Pria itu berjongkok di samping wajah Fadli. "Kenapa kau harus lari, huh? Apa aku begitu menakutkan?" tanya Bayu kemudian. Ketakukan pemuda ini, membuktikan dengan jelas kalau dia memang terlibat. "Ahh ... aku ... aku," ujarnya dengan terbata-bata. Sring ...! suara samurai beradu tiba-tiba saja terdengar amat nyaring di belakang Bayu. 3 orang pria mengacungkan dua buah samurai dan satu celurit panjang tepat di leher mantan narapidana itu. "Akhirnya, ada kesempatan juga kami bertemu kau, Bayu!" ucap salah satunya. "Bagaimana? Kau suka kejutan kecil yang kami berikan?" ujar yang lain. "Ha-ha-ha. Hanya perihal ikan kecil berbau busuk. Untuk apa dia harus terkejut," sahut pria berikutnya. Bayu tidak menoleh ke belakang dan malah tersenyum pada Fadli. "Ini alasanmu berlari? Sengaja kamu bawa aku ke sini, huh?" tanya Bayu lagi. Fadli tidak menjawab, dia melihat ke arah tiga orang pria di belakang Bayu. "Jangan banyak bertanya! Berdirilah. Angkat kedua tanganmu," perintah pria dengan samurai panjang di tangannya. Bayu menurut, ia berdiri kemudian mengangkat tangan, meletakan keduanya di samping kepala. "Hey, Bayu. Ku dengar ... kau adalah jawara di kampung ini," tanya mereka. "Heh, berita macam apa itu?" jawab Bayu dengan santai. "Mereka bilang, kau bisa menangkis segala serangan, juga membuat musuhmu bertekuk lutut. Coba sekarang kau buktikan!" Tegas seorang pria dengan dengan rambut gondrong yang dikuncir serta samurai di tangannya. "Wah, rupanya cukup terkenal namaku buat kalian. Tapi maaf, aku sama sekali tidak memiliki kekuatan semacam itu. Jikapun ada, itu hanya kebetulan saja." Tidak ada rasa gentar sedikitpun dalam diri Bayu. Selain ia tahu akan kekuatannya sendiri, pria itu kini selalu percaya bahwa ada Allah yang akan selalu melindungi. "Banyak bicara kau ... hhiiattt!" Pria itu mengangkat Samurainya tinggi-tinggi, mengambil ancang-ancang guna menebas leher Bayu. Bayu langsung berbalik cepat. Dengan mata tertutup ia berhasil menahan tebasan samurai yang nyaris mengenai lehernya, hanya dengan tangan kosong. "Ya Allah, Engkau yang paling tahu dengan keadaanku saat ini. Karena itu, bantulah aku. Bismillahirrahmanirrahim," doa Bayu dalam hati. Bayu membuka sepasang matanya. Ia langsung disuguhkan pada pemandangan sebuah samurai lain dan celurit yang bersiap untuk merobek tubuh juga mengeluarkan isi perut. Bayu menendang satu dari mereka. Sebelah tangan Bayu masih menahan satu samurai lain. Pria itu jatuh, samurai di tangannya terlempar dan ... slleeb. Benda itu menancap langsung pada batang pohon pisang. "Kurang ajar! Kau akan tahu apa akibatnya!" Pria itu maju dengan celurit, menebas tak tentu arah. Bayu melepaskan Samurai yang sempat ditahannya, kemudian menghindar beberapa kali dari serangan. Perkelahian sudah tidak mungkin dielakkan lagi. Bono yang baru saja datang tercengang pada adegan laga di hadapannya. Pemandangan yang hanya biasa ia dengar dari orang lain, kini tersuguh di depan mata. Pertarungan sang jawara kampung itu benar-benar tersuguh dan bisa disaksikan oleh mata telanjang. Ini bukan hoax, jadi Bayu memang sehebat itu. Tak ayal, semua ini justru membuat Bono ketakutan, pria itu urung untuk mendekat, dan malah melangkah mundur perlahan-lahan ke belakang. "Aku harus lari ... Ya, aku harus kabur dari sini!" Bono mengambil ponsel dari saku celananya. Lalu menghubungi satu dari nomor kawannya. "Ha ... Halo. Iya, Wallaikumsalam. Tris, aku harus kabur ... aku harus pergi. Ndak mau aku, mati konyol karena orang-orang itu!" ucap Bono dengan suara bergetar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD