bc

Balas Dendam Petarung Jalanan

book_age18+
162
FOLLOW
1K
READ
revenge
others
BE
tragedy
lighthearted
icy
lucky dog
special ability
crime
slice of life
like
intro-logo
Blurb

"Cih ...!" Bayu berdecak. Apa yang diduganya ternyata benar.

"Jadi kalian semua memiliki benda itu?" tangan Bayu yang tidak memegang pistol menunjuk ke arah tato kecil bergambar ular cobra dengan inisial huruf D. Mereka semua mengangguk. Bayu memalingkan wajahnya. Tidak salah lagi. Hanya ada satu gerombolan penjahat yang memiliki logo dan inisial itu.

"Heh ... rupanya hanya sekumpulan kecoa busuk. Mereka menggantungkan hidup pada orang yang salah."

Bayu melemparkan kembali pistol itu ke arah mereka. Mereka tetap tidak berani melawan sekalipun pistol sudah kembali di tangan mereka, karena apa yang baru saja terjadi membuat mereka cukup tahu kalau Bayu bukanlah orang biasa.

"Bilang sama Bos kalian, Bayu Aji Pangestu, belum mati! Dan untuk kematian kalian. Biar Allah yang memutuskan."

Bayu kemudian berbalik. Tanpa rasa takut akan adanya yang menikam apalagi menembak dari belakang, ia tetap melangkah. Perjalanannya masih amat jauh, dan sangat-sangat jauh. Ini akan menjadi malam yang panjang. Kenang-kenangan di dalam kebun pohon karet, akan ia ingat sepanjang masa.

Inisial D. Suatu nama penuh luka, satu nama penuh cerita. Sebuah dendam yang muncul setelah sekian lama pernah terkubur. Bayu Aji, kini telah kembali.

chap-preview
Free preview
Bab 1
Nafasnya mulai tersengal-sengal. Dengan menjadikan lutut sebagai tumpuan, Langkahnya terhenti begitu saja. Peluhnya mengucur deras diringi tatapan yang kian buram. Tak ada lagi tempat untuknya bersembunyi. Berdiri diantara tiga orang preman jalanan, Bayu mengambil posisi kuda-kuda. Mengerahkan tenaga yang tersisa setelah berlari tanpa tujuan menghindari preman jalanan itu. Tangan sebelahnya terangkat, sembari menatap mereka satu persatu, sementara tangan lainnya, bertumpu pada paha. Sungguh bertarung bukanlah pilihan bijak yang ingin ia ambil. Pria itu telah bosan, berkawan dengan kekerasan selama bertahun-tahun. Seorang pria bertangan kosong, kini akan melawan tiga orang preman jalanan, dengan samurai, pisau dan kayu sebesar tongkat kasti. Sangat tak imbang jika bagi mereka yang tahu fakta. Bahwa, ketiga preman itu salah memilih lawan. Tapi disini anggaplah mereka sial, lagipula dunia ini memang hampir tak pernah adil. Bayu menutup kedua matanya untuk beberapa detik, sempat terdengar ejekan kematian melewati gendang telinganya. Tapi ia tetap terdiam sembari berucap, "Bismillah ..." Pandangannya terbuka dan berhasil menangkis sebilah pisau yang hampir tepat menikam ke arah perutnya. Dengan sekali gerakan diputarnya tangan pria itu, hingga ia berteriak kesakitan. Tak tinggal diam, dua lawan mainnya ikut maju, samurai panjang yang dengan sekali tebas bisa membuat tangan terpotong mengayun cepat. Bayu menghindar setelah mendorong pria yang diputar tangannya. Kakinya terangkat tinggi, lalu jatuh menghantam kepala si jago samurai beserta pemegang kayu kasti bersamaan. Nampak mereka bertiga terkapar tak tentu arah, dengan kesadaran yang hampir hilang. Sayang sekali tak ada perlawanan yang berarti, namun Bayu sudah selesai. Pria ini tak pandai berkelahi, ia bahkan tak pernah berguru pada siapapun. Hanya saja keberuntungan amat berpihak padanya sejak beberapa tahun yang lalu. Disaat untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa setiap gerakan orang orang yang berniat jahat padanya, akan melambat dalam pandangannya. *** Petang menjelang hampir datang. Di tengah sibuknya aktifitas terminal, pria itu duduk meluruskan kaki pada teras Masjid yang berada di tengah-tengah tempat itu. Tak ayal pandangannya berkeliling, menapaki suasan yang ia rindukan beberapa tahun yang lalu. Ada rasa haru berbaur sedih di dalamnya. Ia merogoh sebongkah tas gendong yang sejak tadi berada di punggungnya. Mengambil satu buah kemeja koko beserta sarung kotak-kotak yang menemaninya selama ia hampir meregang nyawa. Sebentar lagi, benda itu akan menggantikan kaus putihnya yang lusuh dan celana jeansnya yang sudah belel. Perjalanannya masih amat jauh. Sembari menunggu adzan maghrib berkumandang. Pandangannya tak lepas dari seorang gadis cilik. Dengan pakaian lusuh dan kebesaran, menatap nyalang pada pemuda tersebut. Pria itu mengangkat tangannya. Melambai, memberikan isyarat agar gadis itu segera menghampirinya. Dengan langkah kecil nan lucu, gadis itu tertatih menghampiri Bayu, rupanya kaki kanannya sedikit pincang. "Dimana orang tuamu?" tanya Bayu dengan hati-hati. Gadis itu menunjuk pada d**a kecilnya, dengan senyum yang memilukan. "Kata Abang, mereka ada disini!" suaranya cempreng. Khas anak kecil pada umumnya. Bayu paham betul apa maksud gadis kecil ini. "Sekarang Abangmu dimana?" tanya Bayu lagi. "Di lampu merah. Sedang mengamen." Bayu mengusap kepala gadis kecil itu. Di rogohnya saku celana jeans belel yang ia kenakan. Beberapa lembar uang recehan ia sematkan pada gadis itu. Gadis itu terdiam, tak buru-buru pergi atau menyakui uang dalam genggamannya. Membuat Bayu agak heran. "Kenapa? Uangnya kurang banyak? Aku hanya memiliki itu di dalam kantung celana. Sisanya, mau ku gunakan untuk ongkos pulang," jelas Bayu. Dia berkata seperti pada orang dewasa saja. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Membuat rambut ekor kudanya bergoyang. Kemudian ia menyodorkan kembali uang yang diberikan Bayu. "Kata Abang, saya tidak boleh mengemis." Hati Bayu tersentuh. Abang dari anak itu mengajarkan sesuatu yang benar, sekalipun mereka hidup dalam kekurangan. Bayu kemudian mengusap kembali kepala gadis kecil itu, dengan senyum pilu. "Gadis sekecil ini, sudah diajarkan untuk menjadi dewasa sebelum waktunya." Gumam Bayu dalam hati. "Ini bukan karena kamu mengemis. Bilang sama abangmu, uang ini kamu dapat dari teman baru. Dia tidak akan marah." "Benarkah?" Bayu mengangguk. Gadis kecil itu tersenyum senang. Ia berbalik kemudian berlari dengan kakinya yang pincang, di seperempat jalan gadis kecil itu sempat menoleh dengan gembira, mengucapkan terima kasih dengan mulut yang mungil. Selang beberapa saat, azan maghrib berkumandang. Bayu beranjak lalu masuk ke dalam kamar mandi masjid. Mengganti pakaian kumalnya dengan dengan baju koko terbaik yang dimilikinya. Kita menghabiskan begitu banyak uang untuk bertemu dengan para pejabat, menyiapkan oleh-oleh bahkan jamuan terbaik jika hendak bertemu orang penting. Tapi melupakan sang Pencipta yang seharusnya menjadi fokus utama. Tetes demi tetes air suci mengalir pada wajahnya. Bersamaan dengan hamba Allah lainnya, dia menunggu imam memulai ibadah. "Allah hu Akbar." Keheningan mulai tercipta. Hanya ada suara Imam yang memimpin Shalat. Saat ini semua orang memiliki kedudukan yang. Berserah diri, dengan tujuan yang berbeda-beda. Tidak ada orang yang sempurna, juga tak mungkin ada orang yang suci. Yang iya tahu. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Dan Bayu yakin. Masih ada kesempatan kedua baginya. *** "Aqua, aqua, aqua," "Mizone, mizone, mizone," "Cangcimen, cangcimen, cangcimen, kacang kuaci permen." "Comro haneut ..." Pedagang asongan masuk bergantian, menjajakan setitik harapan, untuk kehidupannya sendiri atau untuk keluarganya di rumah. Bayu duduk pada jajaran dua bangku di dalam bis dan berada pada pinggir dekat dengan jendela. Pandangannya setengah kabur karena mengantuk. Namun jiwanya masih terjaga. Memeluk tas butut yang sama sekali tidak menjadi incaran copet. Bayu bersandar pada kursi. Memperhatikan setiap gerak gerik orang yang hendak menjadi penumpang. Sampai pada akhirnya bis mulai penuh, dan tidak menyisakan tempat lagi. Seorang gadis berjalan tergopoh gopoh, dengan tas besar menabrak orang-orang di sekitarnya. Matanya tertuju pada satu-satunya bangku kosong yang yang bisa saja, sudah menjadi incaran penumpang lain. Ia membetulkan kaca matanya, lalu bergegas menghampiri. Perjalanan yang lumayan jauh, membuatnya harus berpikir ulang untuk mengalah. Berdiri sepanjang perjalanan, tentu adalah pilihan buruk. "Ini kosong kan?" Bayu menoleh, begitu mendengar suara halus nan lembut mengalun ke telinganya. Ia mendapati seorang wanita dengan tas besar yang tampak rusuh dan kerepotan. Bayu mengangguk perlahan. Kemudian kembali melihat ke luar jendela. Gadis itu, meletakan barangnya pada rak di atas tempat kursinya lalu ikut duduk di sebelah Bayu. Bis sudah mulai penuh. Kondektur sudah mulai memberi aba-aba agar Pak supir segera tancap gas. Tak ada lagi tempat untuk duduk. Mereka yang ingin naik, harus rela berdiri berdesak desakan. Gadis di samping Bayu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya beserta head set dan memasangnya pada telinga. Bayu yang semula memandang jalanan di balik jendela bus, kini mengalihkan perhatiannya kepada para pria yang tengah berdiri dengan satu tangan terangkat, untuk menahan keseimbangan agar tidak jatuh. Setitik penglihatan membawanya pada pemandangan masa lalu yang pernah dia sesali. Tangan jahil meraba kesana kemari, mencari mangsa. Entah demi sesuap nasi, ataukah demi sebuah hasrat nafsu belaka. Bayu berpikir, apa yang harus di lakukannya, untuk menyelamatkan si pemilik dompet tanpa harus, membuat keributan di antara penumpang yang saling himpit. "Kamu pernah melihat copet yang mati di hajar masa?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.1K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.8K
bc

Rise from the Darkness

read
8.7K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

Scandal Para Ipar

read
708.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook