Gadis itu menoleh pada Bayu. Telinga sebelah kirinya mendengar dengan baik, karena head set hanya terpasang pada telinga kanannya. Kedua alisnya tertaut, menandakan ia tak mengerti. Sementara pandangan Bayu justru terarah pada sosok pria dengan setelan kemeja rapi yang juga membalas tatapannya.
"Ehmmm ... maaf?" tanya gadis itu dengan penuh penekanan. Sangat jelas dia heran dan bingung dengan maksud Bayu. Bayu masih menatap si copet tadi. Sampai akhirnya pria itu mungkin menyerah.
"Kiri kiri,"
Belum sepuluh menit Bis berjalan, sudah ada yang meminta untuk berhenti. Tentu saja ini menimbulkan pertanyaan bagi setiap orang. Bayu mengalihkan pandangannya. Ia menoleh pada kaca jendela dan melihat ke bawah dimana pria itu menatapnya. Dua orang dengan pakaian hampir serupa kini muncul berdiri di samping copet yang menatapnya dengan kelam. Salah seorang menepuk punggungnya. Mereka tertawa dalam seringai yang serupa.
"Sekarang mereka tak ada bedanya dengan tikus berdasi. Hanya gajih saja yang membedakan." Batin Bayu.
Bayu tahu bahwa dia mungkin sudah menambah musuh baru. Tapi biarlah, menyelamatkan satu orang dari tangan nakal, masih belum cukup untuk menebus kesalahannya di masa kelam.
Gadis di sebelah Bayu masih menatapnya dengan heran. Ia bingung dengan tingkah seorang lelaki yang tak biasa ini. Tapi gadis itu lebih memilih tak perduli. Jadi dia kembali mendengarkan musik dengan mata setengah terpejam. Bayu juga kembali bersandar pada kursi sembari memeluk tas lusuh di depannya. Kedua matanya tertutup dengan sempurna, butuh waktu yang lumayan panjang untuk perjalan dari Jakarta menuju Cilacap.
Alam bawah sadar Bayu mulai bermain. Padahal baru beberapa menit dia mulai tertidur. Sedangkan gadis itu justru terbangun. Berada dalam keramaian membuatnya sulit untuk terpejam. Rasa mual yang sedari tadi di tahannya mulai menghampiri.
Ia menoleh pada pria di sampingnya. Dan bersyukur saat mendapati matanya tertutup. Setidaknya ia tidak perlu merasa canggung atau tak enak hati karena sejak tadi terus mengeluarkan suara, meski ia telah berusaha meredamnya.
Ada pemandangan tak biasa yang di lihatnya saat ini. Dahi pria di sampingnya mengkerut. Dengan mata yang terpejam tapi beberapa kali mengerjap.
"Laki-laki ini kayanya lagi banyak pikiran," serunya dalam hati. Gadis itu meraih sesuatu dari dalam tas kecil yang melintang pada d**a nya. Sebotol kecil minyak kayu putih berisi harapan agar rasa mualnya segera mereda.
Yang tidak di ketahui gadis itu adalah, Bayu tengah bertempur dengan alam mimpinya. Ia sedang melawan rasa takut melalui sosok-sosok di masa lalu yang kini berkumpul menjadi satu. Sekelebat orang yang pernah di sakitinya, baik dalam bentuk lahir maupun batin. Terutama bagi mereka yang dengan sengaja maupun tak sengaja meregang nyawa di tangan pria itu.
Berlari dari kejaran rasa bersalah yang merantainya, menariknya masuk pada jurang yang dalam. Bayu tidak bisa mengelak lagi saat tubuhnya terjerumus. Dan saat sudah sadar matanya kembali terbuka. Tubuhnya tegak, pandangannya lurus ke depan. Nafasnya terengah engah. Keringat dingin mengucur dari pelipis dahinya. Pandangannya buram, ia menyugar rambutnya dengan gusar.
Tanpa disadarinya, gadis itu memperhatikan sikap si pria yang aneh. Ia meraih botol air mineral yang masih tersegel dan diselipkan diantara kursi penumpang di hadapannya. Gadis itu melepas head set di telinganya, sembari menyodorkannya pada Bayu tepat di depan wajahnya.
"Butuh air?"
Bayu menoleh, wajah ayu gadis keturunan Jawa yang sama sepertinya, tertangkap oleh penglihatannya. Gadis itu mengerdikkan bahu. Tanpa pikir panjang Bayu mengambil botol air mineral dari tangan gadis itu. Dibukanya dalam sekali putaran, lalu meneguknya tanpa perasaan, hingga tersisa setengah.
"Wah bener-bener kehausan ni orang," lirihnya. Bayu kemudian melirik pada gadis itu. Gadis itu tidak tahu kalau suara kecilnya itu tertangkap oleh pendengaran Bayu yang lumayan tajam.
"Iya, saya memang haus. Terima kasih."
Gadis itu baru saja menyadari kalau lirihannya didengar. Ia merasa agak kikuk sekarang. Bayu tersenyum tipis, sembari menyodorkan kembali sisa setengah air tersebut.
"Nggak papa, buatmu saja."
Bayu menarik kembali tangannya. Ia menyelipkan botol itu lagi di tengah-tengah sekat bangku penumpang.
"Saya Tia," kata gadis itu tiba-tiba. Bayu tampak memandangnya dengan agak bingung. Akan tetapi beberapa saat kemudian Bayu terpancing juga untuk memperkenalkan diri.
"Saya Bayu," katanya dengan datar. Gadis bernama Tia itu mengangguk angguk.
"Kamu mau ke Cilacap juga?" tanya Tia.
Bayu hanya mengangguk.
"Cilacapnya mana ya?" tanya Tia lagi.
"Di Cigatel," jawab Bayu lagi.
"Oohhhh," balas Tia kembali. Dan kali ini mungkin itulah terakhir kalinya ia bertanya. Baru kali ini, ia bertemu dengan orang yang sangat nampak tidak antusias untuk di ajak bicara. Ia kembali memasang head set di telingannya. Mencoba untuk tidak memperdulikan pria di sampingnya. Bayu juga kembali melihat ke arah kaca jendela bus.
Pandangannya kosong, seiring dengan hutan belantara yang nampak tertinggal di belakang penglihatannya. Hampir tidak ada penerangan. Selain lampu jalan remang-remang dan cahaya dari bus. Nyaris tidak ada kendaraan apapun yang lewat. Jalanan sangat sepi dan hening.
Sebagian penumpang yang duduk sudah mulai tertidur disaat Bayu baru saja bangun. Lalu sebagian penumpang yang berdiri sedang berusaha menahan kantuk agar tidak terjatuh.
Semerbak bau rem dan mesin dari Bus membuat Tia semakin mual. Lain halnya dengan Bayu yang justru menyukainya. Ia memejamkan mata menghirup aromanya dengan tenang hingga akhirnya terdengar bunyi
Dduuaarrr ...
Semua penumpang terkejut begitupun Bayu dan Tia. Suara tembakan disertai ledakan mengiri perjalanan yang mulai goyang.
"Astagfirullah,"
"Allah hu Akbar,"
"Ya Allah, kenapa ini,"
"Berenti Pak Supir berenti,"
Suara-suara kepanikan mulai terdengar. Dari balik spion, sang supir melihat beberapa orang dengan pakaian serba hitam mengejarnya menggunakan motor. Keselamatan semua penumpang bergantung padanya. Ia tetap menginjak gas dengan yakin. Meliuk liukan setir sebisa mungkin. Dengan segenap rasa takut tak dipedulikannya permintan penumpang untuk berhenti.
Duuuaaarrr!
Tembakan kedua bersamaan dengan ledakan ban berikutnya terjadi. Dan kali ini si supir tidak bisa berbuat apa -apa lagi. Bus tergelincir.
Tia mengaitkan tangannya pada lengan Bayu dengan ketakutan saat terjadi guncangan hebat. Semua orang berteriak ketakutan. Bayu bertakbir sekuat kuatnya
"Allah Hu Akbar. Allah Hu Akbar!"
Bus yang dikendarai Bayu terperosok masuk ke dalam jurang.
***
Sunyi ... tak ada lagi suara teriakan, tak ada lagi rasa takut, hilang sudah tujuan penumpang. Semua mata kini terpejam, tak lagi ada pergerakan, cahaya lampu dari Bus lenyap berikut kehidupan di dalamnya. Menambah gelap yang kian mencengkam, diantara remukan pembatas jalan dan pohom yang di terjang ketika kendaraan antar kota itu jatuh terperosok.
Dalam keheningan malam, diantara mayat mayat yang kini saling terhimpit, seonggok daging menggeliat, merasakan kepala yang pening akibat benturan hebat, bersamaan dengan darah segar yang juga mengalir diantara kepalanya. Nafasnya sesak, dadanya sakit. Matanya yang semula terpejam bersama kawannya yang lain kini sedikit demi sedikit terbuka.