Bab 3

1178 Words
Pandangannya agak kabur. Bayu mengerang, meresapi setiap otot-otot tubuhhnya yang dilanda rasa nyeri. Tangannya bergerak meraba-raba apapun yang ada di sekitarnya. Ia tersadar saat tubuhnya berada dalam posisi miring. Ia menjauhkan tubuh Tia dengan menggesernya. Tubuh gadis itu lunglai, menurut saat Bayu melakukan apapun. Dalam beberapa saat, penglihatannya kembali. Nampak jelas pemandangan menyedihkan kini tersuguh tepat di sekelilingnya. Semua mayat-mayat yang terkapar saling tumpang tindih, seolah berteriak di telinga Bayu Rasa bingung dan takut kini menjelma menjadi nyata. Tangan kirinya memegang kepala. Dengan langkah yang lemah, ia menyusuri bis, memilah-milah langkahnya agar tak berpijak pada mayat tersebut. Rasa nyeri menyaksikan semua hal ini tak lagi bisa tertahan. "Kenapa ini terjadi lagi?" ucapnya dalam kalimat tercekat. Ia pernah melihat mayat berserakan. Tapi tak pernah ia sangka bahwa ia akan mendapati hal serupa lagi hari ini. Perlahan lahan ia keluar dari dalam Bis. Hanya ada kegelapan sejauh mata memandang. Di antara pepohonan rindang, ia menatap jalan raya sunyi nan sepi yang berada beberapa meter di atasnya. Ia harus kembali ke atas bagaimanapun caranya. Perhatiannya beralih pada bangkai Bus, yang mungkin beritanya akan masuk koran besok. Bus jurusan Jakarta Cilacap terperosok masuk jurang, menewaskan seluruh penumpang beserta Supir dan kondekturnya. Koran tidak akan memuat nama Bayu sebagai satu-satunya penumpang yang selamat. Karena sebelum Wartawan dan Polisi datang, Bayu pastilah sudah pergi dari tempat itu. Ia teringat pada gadis bernama Tia, yang baru saja di kenalnya. Dalam hitungan jam, gadis itu meregang nyawa di sampingnya tadi. Pria itu mengelilingkan pandangannya, Jurang dihadapannya tidaklah terlalu curam. Sebenarnya, ini adalah perkebunan pohon karet yang di bangun di bawah jalan raya. Memang sangat sepi saat malam. Bahkan tempat ini sering kali menjadi sasaran yang empuk untuk para begal. Bayu tahu, karena ia juga pernah melakukannya. Tempat ini hampir tak asing lagi. Dengan bantuan sinar bulan, ia dengan mudah mencari pijakan untuk naik ke atas. Tenaganya sudah kembali pulih. Bayu memiliki kemampuan untuk sembuh dengan cepat, baik itu luka luar maupun luka dalam. Kecuali luka hati tentunya. Semua kemampuan yang dimilikinya berasal dari sesuatu yang Bayu sendiri pun masih berusaha untuk menemukannya. Ia hanya memiliki satu kelemahan selain kehendak dari Sang Pencipta. Tangannya mengcengkram apapun yang bisa diraihnya. Sementara kakinya, terus berpindah-pindah guna mencari pijakan yang pas. "Aku harus sampai di atas. Harus bisa, jalanmu masih panjang Bayu. Ingatlah pada orang-orang yang kini sedang menunggumu di sana," Beberapa kali, kakinya tergelincir. Tangannyapun sudah berulang kali salah memegang sesuatu yang membuatnya hampir berguling dan kembali masuk dalam jurang. Tapi usaha, tidak akan pernah mengkhianati hasil. Dengan susah payah pria itu naik ke atas. Kembali ke jalan raya. Keringat dan rasa lelah kini berkawan dengan tubuhnya. Pakaian lusuhnya semakin kumal ditambah banyaknya tanah yang menempel saat ia berusaha naik tadi. Ia menarik nafas panjang, saat berhasil sampai kembali. "Allhamdulillah," syukurnya dalam hati. Ia meluruskan kaki, sembari menatap pada langit yang gelap ditemani pantulan sinar bulan. Dalam hati, ia berdoa. Melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran sebisanya, untuk mereka yang kini telah tiada. Ia memandang ke arah lain. Saat tak sengaja menemukan tiga orang pria berbapakaian serba hitam. Pemandangan ini nampak tak asing. Mengingatkannya pada orang-orang yang beberapa waktu lalu mengejar Bus, dan menembakkan peluru beberapa kali hingga bannya meledak. Satu di antara mereka, membuka penutup wajah. Bayu menyipitkan mata dan wajah orang itu semakin jelas. Dengan seksama ia memperhatikan mereka. Seorang copet yang di tegurnya beberapa waktu lalu. Pria yang sedari tadi membuat nya dalam masalah dan hampir saja kehilangan nyawa adalah dia. Bayu mengepalkan tangan. Ia geram dengan tingkah laku pria itu. Mereka tertawa terbahak-bahak setelah berhasil membuat seluruh isi Bus mati. Bayu bukanlah orang yang suci. Entah sudah berapa banyak noda tercipta dari hasil tangan yang ia gunakan untuk membunuh. Akan tetapi tak pernah sekalipun ia berani menertawakan nyawa mereka. Maka kali ini, kesabarannya sudah habis. Bayu dengan pakaian lusuhnya melangkah perlahan mendekati tiga orang biang keladi atas tragedi ini. Mereka bertiga masih sibuk berbincang tanpa menyadari kehadiran Bayu yang semakin tak berjarak. Duaaghh .... "Arrrkkhhh ..." Satu tendangan tiba-tiba, berhasil melayang, mengenai pria dengan suara tawa paling keras dan lebar. Dialah si copet yang bernasib sial di dalam bus tadi. Tubuhnya tersungkur ke belakang menghantam tanah. "Ku ... kurang ajar!" Kedua kawannya kini ikut membuka penutup wajah. Masing-masing dari mereka mendampingi si copet. Membantunya untuk berdiri, dari sisi kiri dan kanan. "Dia orangnya!" Telunjuknya mengarah pada Bayu. Sementara tangannya yang lain memegangi perutnya yang sakit akibat tendangan tadi. Bayu sama sekali tidak menampakan rasa takut saat ketiga pria itu menatapnya dengan sadis. Berbeda dengan si copet yang memiliki perawakan standar. Kedua kawannya berbadan besar, dengan otot menonjol pada pakaiannya nya yang entah sengaja atau tidak, terlihat super ketat. "Seharusnya kau sudah mati di dalam sana." Salah satu dari mereka, mengelurkan pistol lalu ... Dorrr ... Tembakan mengarah tepat pada daada Bayu. Tapi sayangnya mereka masih terlalu dini untuk menyadari kalau Bayu bukanlah tandingannya. Peluru itu bergerak amat perlahan dalam pandangan Bayu. Sepersekian detik benda itu meleset dengan mudahnya. Sementara Bayu maju, mengambil pistol di tangan pria itu. Dengan satu kali lompatan, kakinya kembali menendang tiga orang pria satu-satu persatu hingga mereka terjatuh. Dengan cepat Bayu menodongkan pistol. Tatapan tajamnya tak bisa dielakkan lagi. Rasa kesal dan kemarahannya memuncak. "Kau hanya memiliki masalah denganku," ucap Bayu dengan tegas. "Tapi kenapa kau melibatkan mereka semua! Orang-orang yang tidak bersalah itu mati. Bukan aku! Sayang sekali, selanjutnya kalian yang akan mati!" Mereka sadar, bahwa nyawa mereka kini terancam. Bayu bukan orang sembarangan. Dan mereka telah mencari masalah dengan pria ini. Pandangan Bayu masih dengan tajam, menatap ke arah mereka. Jari-jari bersiap untuk menarik peletuk, akan tetapi ada sesuatu yang membuat perhatiannya beralih. "Ampun Bang. Ampun! Kami mengaku salah Bang! Ampuni kami." "Iya Bang. Tolong jangan bunuh kami." Bayu tidak perduli pada permohonan mereka. Fokusnya justu beralih pada bagian tubuh salah seorang dari mereka. Kancing kemeja bagian atas yang sedikit terbuka menyembulkan sesuatu yang amat tak asing. "Kau! Singkap kemejamu ... Sekarang!" Pinta Bayu masih sembari menodongkan pistol. Bagai kerbau di cocok hidung, pria itu melepaskan kemejanya. "Cih ...!" Bayu berdecak. Apa yang diduganya ternyata benar. "Jadi kalian semua memiliki benda itu?" tangan Bayu yang tidak memegang pistol menunjuk ke arah tato kecil bergambar ular cobra dengan inisial huruf D. Mereka semua mengangguk. Bayu memalingkan wajahnya. Tidak salah lagi. Hanya ada satu gerombolan penjahat yang memiliki logo dan inisial itu. "Heh ... rupanya hanya sekumpulan kecoa busuk. Mereka menggantungkan hidup pada orang yang salah." Bayu melemparkan kembali pistol itu ke arah mereka. Mereka tetap tidak berani melawan sekalipun pistol sudah kembali di tangan mereka, karena apa yang baru saja terjadi membuat mereka cukup tahu kalau Bayu bukanlah orang biasa. "Bilang sama Bos kalian, Bayu Aji Pangestu, belum mati! Dan untuk kematian kalian. Biar Allah yang memutuskan." Bayu kemudian berbalik. Tanpa rasa takut akan adanya yang menikam apalagi menembak dari belakang, ia tetap melangkah. Perjalanannya masih amat jauh, dan sangat-sangat jauh. Ini akan menjadi malam yang panjang. Kenang-kenangan di dalam kebun pohon karet, akan ia ingat sepanjang masa. Inisial D. Suatu nama penuh luka, satu nama penuh cerita. Sebuah dendam yang muncul setelah sekian lama pernah terkubur. Bayu Aji, kini telah kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD