Perjalanan menuju kampung halaman Bayu tinggal melewati beberapa Desa lagi. Perkebunan karet itu adalah salah satu patokan di mana perjalanan Bayu hampir menemukan titik terang. Dalam pekatnya malam, berkawan sepi dan serangga liar, pria itu berjalan menyusuri sisi kiri jalan. Hanya tampak sesekali kendaraan yang melintas. Mereka yang berani melintas adalah orang-orang dengan keberanian super. Atau mungkin tidak tahu kalau ada bahaya yang sedang menunggu.
Hingga pada akhirnya, setelah cukup lama berjalan, tampak dari kejauhan mobil pick up berwarna hitam akan melintas. Bayu buru-buru mengangkat tangan, memberikan tanda agar kendaraan itu berhenti. Dan usaha Bayu, membuahkan hasil. Bayu langsung berlari memutar untuk menghampiri si supir.
"Mau ke mana Mas?" tanya sang supir setelah menurunkan kaca jendela.
"Cipari, Pak. Saya bisa ikut?" balas Bayu dengan pertanyaan lain pula.
"Bisa, tapi aku juga ndak sampai Cipari? Bagaimana?" tawar sang supir. Tentu saja Bayu tak menolak. Paling tidak jarak yang ditempuhnya dengan berjalan kaki akan lebih ringan nantinya. Setelah mengangguk dengan cepat, Bayu lantas kembali berputar untuk naik dan duduk di sisi kiri.
Supir itu kemudian menyalakan lagu dangdut dari radio dan kembali melajukan mobil dengan santai.
"Nama, Masya siapa? Biar aku enak manggilnya," tanya supir tersebut pada Bayu.
"Oh, saya Bayu. Kalau, Bapak?"
"Aku Herman. Panggil Herman saja. Aku tidak setua itu untuk dipanggil Bapak, ha-ha-ha." Suara tawa yang nyaring nan besar dari pria yang menyebut dirinya sendiri Herman itu, membuat Bayu agak terhenyak.
"Baik, Pak Herman. Eh ... maksud saya Herman," jawab Bayu. Ia berusaha agar tidak terlalu canggung. Karena pada kenyataannya, Herman yang saat ini tengah mengemudikan mobil tampak memiliki usia dua kali lipat lebih banyak daripada Bayu.
"Tempat kamu menghentikan mobilku itu, sebenarnya rawan kejahatan. Teman-temanku banyak yang jadi korban." Herman tiba-tiba saja berujar, membuat Bayu menoleh.
"Ada yang hanya luka-luka ringan seperti lecet. Ada yang mendadak jadi pincang, ada juga yang menjadi cacat di bagian lain. Tapi yang paling parah, ada juga yang hanya tinggal menyisakan nama," jelas Herman lagi.
Cerita ini bukanlah hal asing bagi Bayu. Oleh karena itu, tak nampak eskpresi terkejut atau heran pada wajahnya.
"Lalu kenapa, Pak Herman ... maksud saya, kenapa kamu membiarkan saya menumpang. Bagaimana kalau salah satu sumber kejahatan itu adalah saya?" tanya Bayu.
"Entahlah, ku rasa kamu ndak punya keahlian untuk itu. Aku percaya untuk memilih orang dengan perasaan. Perasaanku bilang, kamu hanya pejalan kaki yang butuh tumpangan," ujar Herman.
Bayu mengerutkan kening. Di jaman sekarang, masih saja ada orang yang mengandalkan insting untuk kelangsungan hidup. Untung saja saat ini hanya Bayu yang menghentikan mobil Herman. Di masa lalu, jika Bayu menghentikan mobil yang tengah melintas di jalan itu, akan lain lagi ceritanya.
Atau bahkan, mungkin kawan-kawan yang baru saja diceritakan oleh Herman adalah salah satu dari sekian banyak korban kebrutalan dari Bayu di masa lalu.
Bayu kemudian menutup mata. Serpihan memori kecil akan kejahatan membuat nafasnya terasa sesak.
"Tapi akhir-akhir ini. Aku jarang mendengar ada korban lagi di daerah ini. Entah para begal itu sudah inysaf, atau mereka sedang menunggu waktu yang tepat. Karena sekarang, sudah makin banyak orang yang waspada," seru Herman.
"Sepertinya memang begitu," balas Bayu sekenanya. Sejujurnya, dia merasa amat tak nyaman dengan cerita yang dikemukakan oleh Herman. Terlebih, Bayu adalah salah satu pemeran utama yang tidak disadari oleh Herman dalam ceritanya. Tapi tentu saja demi kepentingan bersama, Bayu harus menutupi masa lalu yang kelam itu.
Cukup lama Bayu dan Herman bertukar pikiran. Ada banyak hal dan pengalaman luas yang sejujurnya sudah sering kali dirasakan oleh Bayu. Tapi Bayu tidak mungkin menceritakan apapun. Ia lebih banyak menjadi pendengar selama di dalam mobil.
Rasa kantuk dan lelah datang menyerang, tapi demi menghormati Herman yang telah memberinya tumpangan, maka Bayu berusaha sekuat mungkin untuk menahan rasa lelahnya.
Bisa dibayangkan betapa sialnya nasib Bayu hari ini. Dikejar preman jalanan, mengalami kecelakaan Bus, kehilangan nyawa seorang gadis yang pertama kali dikenalnya sejak keluar penjara, dan kembali dihadang oleh para penjahat.
Sampai di persimpangan jalan, Herman menghentikan laju kendaraanya. Di sinilah titik pertemuan terakhir kedua orang ini.
"Saya cuma bisa mengantar sampai di sini. Karena sekarang, saya harus belok. Ndak masalahkan?"
Bayu mengangguk sembari tersenyum. Ini sudah merupakan sebuah keberuntungan yang cukup. Tidak baik baginya untuk meminta hal lebih lagi.
"Iya, segini saja sudah cukup. Terimakasih, Pak Herman," ucap Bayu seraya membuka pintu.
"Sudahku bilang, panggil Herman saja!" protes Herman.
"Iya, Herman. Terima kasih."
Bayu melambaikan tangannya beberapa saat. Menatap kepergian seorang Bapak-bapak baik hati, yang menolak untuk dituakan. Tinggal sedikit lagi, pria itu akan sampai ke rumahnya. Rumah yang sangat dirindukan.
"Ibu, tunggu sebentar lagi ya! Anakmu ini akan pulang. Bismillahirrahmanirrahim," gumam Bayu dalam hati.
***
"Ampun, Bos! Kami sudah berusaha. Tapi setelah bebas dari penjara, Bayu justru semakin lincah dan lihai, Bos!"
"Iya, Bos. Kami ... tidak bisa melakukan perlawanan."
Seorang pria dengan gulungan nikotin yang terselip di antara jari-jarinya duduk sembari tumpang kaki pada kursi putar dan tengah mendengarkan cerita. Ia membelakangi 3 orang anak buahnya dengan wajah babak belur.
Sama sekali tak ada yang bisa menggambarkan reaksi dari orang yang biasa dipanggil Bos itu. Asap yang terus saja mengepul tanpa henti dan membuat sesak, adalah satu-satunya tontonan yang bisa dinikmati untuk saat ini.
"Dasar! Manusia-manusia tidak berguna. Mengatasi satu orang bocah ingusan saja tidak becus!" ucap si Bos.
Beberapa saat kemudian, suara dering ponsel pertanda adanya pesan masuk memecah suasana. Pria itu memutar kursi untuk menghadap pada meja lalu mengambil sumber suara yang tergeletak di atasnya. Dalam posisi ini, barulah ke tiga orang preman itu bisa melihat wajah datar si bos yang tak bisa ditebak apa maunya. Tapi yang jelas, mereka bertiga yakin tidak akan bisa kabur dari masalah.
Bos itu membaca pesan yang dikirimkan salah satu dari anak buahnya di dalam hati.
"Bos, aku hanya ingin memberitahu. Seseorang dengan nama Bayu Aji sudah kembali."
Tak lama kemudian, pesan berisikan foto anak buah lain dengan luka lebam yang cukup parah juga terkirim. Dengan satu kali gerakan, ia melemparkan ponsel itu dari genggamannya. Tiga orang anak buah yang masih berdiri di hadapannya tampak terkejut lalu mulai saling berbisik.
"Seharusnya, aku membuatmu mati di penjara! Atau setidaknya membusuk di sana. Baru satu hari dia bebas, tapi sudah membuat ulah! Aku terlalu meremehkan anak ini. Atau mungkin, dia lupa sedang berhadapan dengan siapa?" ucap Bos itu pada diri sendiri.
"Kalian bertiga keluar dari sini! Aku sedang malas membunuh orang. Cepat sebelum aku berubah pikiran!"
Ketiga orang itu lari tunggang langgang meninggalkan bos mereka. Pintu tertutup dan hanya menyisakan pria itu sendiri dengan pikirannya yang kian dilanda rasa cemas. Nama Bayu Aji sangatlah berpengaruh dalam membentuk moodnya.
"Bayu Aji, jika aku tidak bisa menyentuhmu. Maka jangan harap kamu bisa hidup dengan tenang!" ancam pria itu.