Sepasang kaki yang telah mendapatkan waktu istirahat dengan menumpang pada mobil Herman, kini mengajak Bayu untuk kembali melangkah. Ia menunggu hingga mobil yang dikendarai oleh kawan barunya tersebut, menghilang dari pandangannya. Bukan tanpa sebab ia melakukan hal itu. Rasa takutnya muncul, mengingat beberapa kali orang-orang yang baru saja mengenalnya malah mendapatkan kesialan. Pria itu berharap, apa yang terjadi pada Tian serta korban-korban lainnya di masa lalu, tak lagi mengukir cerita baru.
Jarak menuju rumahnya kini semakin dekat. Bahkan dia sudah bisa melihat gapura bertuliskan selamat datang di area perbatasan kampung. Senyumnya sedikit demi sedikit mulai berkembang sekarang. Tepat ketika ia berdiri di bawah tiang, matanya terpejam, mencoba menghirup aroma segar dari oksigen bersih yang dirindukan. Meski sekarang, pastilah sudah ada banyak perubahan, serta udara yang mulai tercemar. Oksigen yang dihirupnya di sini, pastilah lebih baik daripada apa yang ia hirup dari balik jeruji besi.
Tak begitu jauh dari gapura selamat datang, ada warung kopi yang masih buka. Padahal jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Empat orang pemuda warga sekitar masih asyik tertawa dengan gelas kopi yang sudah kosong di atas meja, serta kulit kacang yang bertebaran di sekitarnya.
Satu dari empat pemuda itu sempat tertegun melihat sosok Bayu yang melintas begitu saja. Tanpa menoleh, apalagi permisi. Keadaan yang gelap dan minim cahaya membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Apalagi mengenali Bayu.
"Ssuutt, Jar ... Fajar!"
Pemuda bernama Fajar itu menoleh, setelah beberapa saat tercengang dengan kehadiran Bayu.
"Hah? Iya kenapa?" tanya Fajar.
"Kamu kenapa bengong. Ndak kesambet kan?" tanya kawan dari Fajar itu.
Fajar kembali menoleh, tapi sosok yang mencuri perhatian itu telah berjalan lebih jauh lagi.
"Tadi ku lihat, ada orang yang lewat di sana!" kata Fajar seraya menunjuk ke seberang warung yang kebetulan adalah area kebun dengan pepohonan dan sangat gelap. Satu satunya penerangan hanyalah lampu dari warung kopi tersebut. Sedangkan lampu-lampu jalan yang tinggi itu, tidak cukup banyak membantu.
"Hah di mana? Kok aku ndak sadar. Orang yang lewat itu pasti sudah lihat kitakan? Tapi kenapa dia ndak menyapa, atau minta izin buat lewat!" gerutu salah satu pemuda yang mendengar jawaban Fajar.
"Apa ndak sebaiknya kita kejar? Maksudku kalau dia orang jahat bagaimana?"
"Iya. Kalau dia mau menganggu ketenangan warga bagaimana?"
Semua orang mulai saling membuat rencana untuk menyusul Bayu. Akan tetapi, perasaan Fajar sendiri berkata lain. Dia tidak yakin kalau orang yang baru saja lewat dalam kegelapan itu memiliki niat jahat.
"Sudahlah. Aku yakin dia itu bukan orang jahat. Mungkin dia cuma pejalan kaki yang ndak sengaja numpang lewat!" kata Fajar.
"Pejalan kaki macam mana yang mau lewat di kampung sepi kaya gini, Jar?" sanggah kawannya lagi.
"Ckkk, udahlah. Percaya sama aku. Dia bisa ada di sini, berarti tahu jalan dan tujuan. Seperti katamu barusan. Pejalan kaki mana yang mau lewat di kampung sepi seperti ini, kecuali kalau dia memang warga sini?" jelas Fajar.
Semua pemuda itu mengangguk, mengiyakan penjelasan dari Fajar yang ada benarnya juga. Padahal, Fajar mengatakan itu semua, hanya sebuah respon dari karangan dalam otaknya selama beberapa detik. Tapi itu memang benar, instingnya mengatakan kalau orang yang tengah mereka bicarakan ini, bukanlah orang berbahaya.
"Aku balek dulu lah. Bisa ngamuk-ngamuk ini Ibuku kalau sebelum subuh aku belum pulang!" Fajar berpamitan, lalu meninggalkan kawan-kawannya yang masih betah nongkrong.
***
Jarak antara rumah satu dengan rumah lainnya cukup renggang di kampung ini. Hampir seluruh warga memiliki pelataran atau halaman yang cukup luas di bagian depan. Suasana juga masih sunyi. Bayu belum bertemu dengan Bapak-bapak yang biasanya sedang ronda malam. Padahal sepanjang perjalanan, ia sudah menyiapkan jawaban kalau-kalau ada perihal yang akan ditanyakan jika ia bertemu dengan warga lain.
Jalannya kian melamban, begitu rumah dengan cat berwarna putih yang menjadi tujuannya sudah mulai nampak. Jantungnya berdebar tak karuan. Peristiwa beberapa tahun silam membuat dadanya terasa sesak.
Hatinya sakit, pikirannya kalut, tubuhnya melemas tatkala mengingat betapa ia tak berdaya saat polisi datang menangkapnya. Lalu sang Ibu menangis, bersujud, memohon pada polisi beserta orang-orang yang menyaksikan agar Bayu dibebaskan, agar anak sulungnya tidak dibawa pergi.
Namun, semua orang juga tidak ada yang berani melawan. Bahkan dalam hati, mereka juga pasti merasa puas karena salah satu sumber keresahan serta penjahat macam Bayu ini bisa tertangkap. Hanya ada satu kalimat yang membuat sang Ibu bertahan begitu pula dengan Bayu. Dari dalam mobil Polisi, Bayu sempat berucap pada Ibunya.
"Bapak selalu mengajarkan aku untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Tolong ikhlaskan Bayu untuk menjalani hukuman di dunia ya, Bu. Supaya kita bisa bertemu di syurga nanti."
Hati siapa yang tidak tersentuh, orang tua mana yang akan tega membiarkan anaknya pergi. Tapi kembali lagi pada cerita awal, Bayu tidak bisa berbuat apa-apa.
Air mata pria itu menetes begitu kaki itu melewati gerbang kecil yang terbuat dari bambu. Ia merasa ketakukan, akankah kehadirannya di sini dapat diterima. Dan lagi-lagi ia berhenti. Ia memandangi rumahnya yang saat ini tak memiliki perubahan berarti, selain menjadi lebih kotor.
Namanya sudah tercoreng. Semua orang hanya mengenalnya sebagai Bayu, si otak jahat yang membuat segalanya jadi mungkin. Siapapun tak akan menyangka kalau semua hal bejad itu adalah perbuatan Bayu.
Dan sepertinya, Bayu tak sanggup. Ia lebih takut lagi bertemu dengan keluarganya daripada bertarung dan penuh darah. Karena itu Bayu berbalik dan bermaksud untuk kembali. Ia tak jadi untuk kembali ke rumah impiannya. Ia tidak sanggup melepas rindu dengan semua keluarga yang menangisi kepergiannya.
Namun apa yang didapatinya setelah berbalik, berhasil membuatnya tercengang begitu saja.
Semilir angin malam menjelang pagi menembus kulit dua orang laki-laki beda usia yang saat ini saling bertatap dalam diam. Sepasang mata Bayu yang resah, bertemu dengan tatapan pria yang saat ini begitu tajam. Bibir keduanya seakan terkunci untuk dapat berucap. Hingga anak laki-laki di depan Bayu mengawali segalanya dengan berkata.
"Pengecut!" lirihnya hampir tak terdengar.
Bayu bisa mendengarnya meski samar. Anak laki-laki itu memandangnya dengan tajam, tapi juga penuh dengan mata yang berkaca-kaca.
"Untuk apa kau ke sini, jika hanya untuk pergi lagi hah!" teriak anak laki-laki itu. Seorang remaja yang saat ini masih menginjak pendidikan di bangku SMA. Seorang bocah yang selama ini merindukan sosok Bayu yang telah lama menghilang.
"Fajar ... kamu sudah besar sekarang, De?" Tangan Bayu terulur. Bermaksud menyentuh bocah yang telah bertahun-tahun ditinggalkannya. Namun, belum sempat tangannya sampai, bocah itu telah menepisnya dengan kasar.
Ya, bocah itu adalah Fajar. Pemuda yang melihat kedatangan Bayu di perbatasan. Fajar pulang terlebih dahulu untuk menyusul Bayu. Dialah adik bungsu dari Bayu yang saat ini malah tampak kecewa karena Bayu justru hendak kembali pergi.
Disaat semua orang berpikir kalau Bayu adalah pendatang yang berniat jahat, hanya Fajar yang memiliki firasat kalau ia mengenal pria itu. Ikatan keduanya begitu kuat. Padahal Fajar sendiri tak menduga, kalau pria yang diikutinya itu, adalah Kakaknya sendiri.
"Kau! Tidak diterima lagi di sini!" Tangannya terkepal, tubuhnya bergetar. Bukan itu yang ingin keluar dari mulut bocah itu. Bayu tidak tahu, betapa sebenarnya Fajar ingin langsung memeluk Kakaknya. Tapi kenapa yang terucap justru sebaliknya dari apa yang dia inginkan?