Bayu memang tidak menangis, tapi apa yang dikatakan oleh Fajar bukanlah perkara mudah. Pertama kali ia menginjakkan kaki lagi di kampung halaman, dan di detik itu juga penolakan yang amat menyakitkan harus diterimanya.
"Baik, Mas akan pergi. Adikku yang dulu biasa jadi ekor dan ikut ke mana-mana, sekarang sudah pandai membela diri pastinya. Ibu dan Mbakmu pasti aman dan tenang," ujar Bayu. Pria itu lantas tersenyum, ia kembali mengangkat tangan, bermaksud untuk menepuk bahu adiknya. Tapi lagi-lagi Fajar menepisnya. Seolah-olah, sentuhan Bayu itu sangat menjijikan.
Namun, Bayu tidak marah. Dia sudah lebih dari siap untuk menerima penolakan seperti ini. Karena itu Bayu memilih untuk pergi, melewati Fajar yang saat ini diam terpaku.
Satu langkah sang Kakak di belakang Fajar, tak ada yang terjadi. Hanya ada angin yang dinginnya justru kian menusuk. Dua langkah, tiga langkah, empat langkah Bayu berjalan, mulai membuat perasaan Fajar tak tentu arah. Lima langkah, enam langkah, hingga langkah-langkah berikutnya Fajar tak lagi bisa berdamai dengan egonya. Jauh di lubuk hati, Bayu adalah sosok yang amat berpengaruh dan penting dalam hidup Fajar.
Karena itu Fajar lantas berbalik, berlari kemudian memeluk Bayu dari belakang. Sontak saja Bayu dibuat terkejut atas perlakuan Fajar yang tiba-tiba ini.
"Mas Bayu jahat! Kenapa ndak lawan Fajar saja. Kenapa diam saja saat Fajar marah? Kenapa Mas Bayu ndak menjelaskan keadaan Mas Bayu yang sekarang. Supaya Fajar ndak salah paham! Kenapa, Mas Bayu baru datang sekarang. Kenapa, Mas, kenapa?" Fajar mulai mencecar Bayu dengan berbagai macam pertanyaan yang didasari dengan kata mengapa.
Pertahanan Bayu akhirnya pecah juga. Ia melepaskan pelukan adiknya dari belakang itu, kemudian berbalik. Fajar berdiri tegak sembari menunduk. Dadanya naik turun, mengstabilkan nafas yang tersengal-sengal karena sedang menahan tangis.
"Kamu baik-baik saja? Jadi juara berapa kamu di sekolah?" tanya Bayu dengan suara yang bergetar.
Kala itu, Fajar berjanji pada Kakaknya. Saat mobil polisi mulai melaju, bocah laki-laki itu berteriak dengan lantang dan disaksikan banyak orang.
"Mas Bayu jangan khawatir! Fajar akan jaga Ibu dan Mbak Rani. Fajar akan jadi juara di Sekolah. Fajar juga ndak akan berantem lagi."
Kala itu, Bayu tak bisa menjawab. Toh jikapun ikut berteriak, tak akan ada yang bisa mendengarnya, selain kawanan polisi yang mengawalnya di dalam mobil. Ia hanya bisa berbalik dan melihat adik laki-laki, perempuan, juga sang Ibu yang saat itu menitihkan air mata dari dalam mobil.
"Fajar juara dua di sekolah Mas. Ada satu murid cewek yang susah sekali Fajar kalahkan!" jawab Fajar. Bayu mengusap kepala sang Adik yang tingginya sudah hampir sejajar dengan dirinya sendiri.
"Ayo kita pulang, Mas. Kita masuk ke rumah. Ibu pasti sudah bangun. Setiap malam, Ibu selalu berdoa supaya Mas Bayu pulang. Dan sekarang, Ibu juga pasti lagi shalat atau ngaji. Ayo kejutkan Ibu, Mas. Ibu pasti senang saat tahu doanya dikabulkan. Mas Bayu sekarang ada di sini," pinta Fajar.
Entahlah, Bayu bukannya tak ingin pulang. Bukan pula tidak ingin melepas rindu. Tapi sekarang ia jadi takut. Takut akan mendapat penolakan serupa seperti Fajar tadi.
"Mas, ayo! Mas Bayu sudah ada di sini. Mas Bayu mau pulang kan?" tanya Fajar lagi.
Melihat raut wajah Fajar yang begitu meyakinkan, Bayu tersentuh.
"Iya. Ayo kita masuk," ajak Bayu seraya merangkul bahu Adik laki-lakinya.
***
Di dalam sebuah kamar yang tak seberapa luas, tampak seorang wanita paruh baya yang saat ini tengah duduk bersimpuh di atas sajadah. Tubuhnya terbalut mukena atau pakaian beribadah umat muslim bagi kaum perempuan berwarna putih. Tanganya tengah menggenggam sebuah kitab suci Al-Quran yang terbuka. Bibirnya bergerak membaca ayat demi ayat yang tertulis di sana.
Hari ini Darminah bangun lebih awal dari biasanya. Hati dan perasaannya hari ini sedang baik. Jika biasanya, wanita itu berdoa dalam rasa cemas dan tangis. Hari ini, beliau merasa tenang dan damai. Seolah akan ada hal baik yang terjadi.
Darminah adalah Ibu dari Bayu, Fajar dan Rani. Usianya sudah lebih dari setengah abad, tapi wajah dan tubuhnya belum menunjukan tanda-tanda penuaan yang berarti selain rambutnya yang mulai memutih dan tertutup jilbab setiap harinya.
Darminah dan Bayu memiliki kemiripan di bagian mata yang sama-sama bulat, dan bibir yang tipis, hidung yang cenderung mancung serta rambut yang lurus. Berbeda dengan Fajar dan Rani yang memiliki rambut agak ikal sepertinya almarhum Ayahnya.
Satu-satunya gen yang diwariskan oleh Ayahnya, mungkin hanya postur tubuh yang kuat, serta garis rahang wajah tirus yang membuat Bayu memiliki paras tak kalah dengan model. Asal pria itu sudah menemukan fashion yang tepat, maka semua wanita tidak akan mengira kalau dia berasal dari keluarga sederhana di dalam kampung terpencil.
Darminah masih serius membaca untaian ayat suci dengan bibirnya, saat terdengar suara pintu kamarnya terbuka. Wanita itu tidak berhenti ataupun merasa terganggu. Biasanya, Fajar yang membuka pintu kamar Darminah di jam-jam segini setelah pulang berkumpul dengan kawan-kawan. Biasalah, anak muda.
Namun, beberapa saat kemudian ada suara langkah kaki lain yang terdengar samar di telinga wanita itu. Langkah yang berat dan jarang sekali ada tapi bukan berarti tidak pernah ada.
"Shadaqallahul ‘Adzim" ucap Darminah sambil menutup Al-Qur'an di tangannya.
"Fajar, itu kamu nak. Jangan tidur lagi, tanggung, sebentar lagi subuh," ucap Darminah setengah berteriak.
"Ibu," panggil Bayu.
Seketika itu juga, Darminah termenung untuk sesaat. Jantungnya berdetak hebat. Sepasang matanya melebar tatkala ada suara lain yang memanggilnya dengan sebutan Ibu.
"Ibu ... ini Bayu, Bu," ucap Bayu lagi.
Darminah perlahan-lahan bangkit dari posisi duduknya, kemudian berbalik. Sepasang Ibu dan anak itu saling melempar pandangan tanpa berkedip.
"Bu, Mas Bayu pulang, Bu." Kini giliran Fajar yang berucap.
Bayu berjalan menghampiri sang ibu dan berhenti tepat dihadapannya. Pria itu meraih tangan Darminah yang terasa begitu hangat dan meletakan anggota tubuh itu pada pipinya yang dingin. Ia memejamkan mata, seraya meresapi sentuhan hangat dari seorang wanita yang begitu ia rindukan.
"Maafkan Bayu, Bu. Maafkan karena Bayu jadi anak yang ndak berguna dan hanya membuat malu keluarga," suara Bayu bergetar.
Darminah mulai menitihkan air mata. Beliau lantas meraih tubuh anak sulungnya itu, memeluknya dengan erat. Dalam suara tangisan yang semakin keras, Darminah dan Bayu saling melepaskan rindu.
Wanita itu pikir, Bayu tidak akan kembali. Darminah berpikir, Bayu pastilah merasa kecewa karena dia tidak bisa melakukan apa-apa saat anaknya dengan terpaksa harus hidup di balik jeruji besi.
Rani yang saat itu tengah tidur pulas tersentak kaget mendengar suara tangis Darminah, gadis cantik yang menjadi kembang Desa itu berlari ke arah kamar Ibunya dengan tergesa-gesa.
Ia melihat Fajar sedang berdiri di ambang pintu. Gadis itu menghampiri Fajar dengan panik sebelum berniat untuk menerobos dan masuk ke kamar.
"Fajar, ibu kenapa, Jar? Tadi Mbak dengar Ibu teriak-teriak nangis, Ibu kenapa, De. Ibu kena ..." Rani berhenti panik dan mencecar adiknya dengan banyak pertanyaan begitu melihat ke arah telunjuk Fajar yang saat ini menunjuk pada Bayu dan Darminah yang saling berpelukan.
"Mas Bayu," lirih gadis itu.
"Iya Mbak. Mas Bayu pulang. Kakak kita udah pulang, Mbak!" kata Fajar lagi.
Berbeda dengan Darminah dan Fajar. Rani justru berjalan mundur beberapa langkah, seolah ia terkejut dan tidak terima dengan kehadiran Bayu.
"Mbak Rani kenapa?" tanya Fajar. Tapi yang ditanya justru pergi. Rani berlari dan kembali masuk ke dalam kamarnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun.