Adzan subuh baru saja berkumandang. Sebuah pemandangan yang jarang sekali terlihat akan terjadi di rumah itu. Entah sejak berapa lama, terakhir kali ada aktifitas shalat berjamaah untuk keluarga Bayu. Kala itu masih ada sang Ayah yang menjadi pemimpin keluarga. Dan setelah beliau pergi, mungkin seharusnya Bayu yang menggantikan. Tapi saat dirinya terhalang oleh jeruji besi, maka jangankan untuk memimpin keluarga. Alasan dia bisa berada di sana, salah satunya tentu karena ia tak bisa menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri.
"Allahuakbar," ucap Bayu, yang diikuti oleh tiga orang makmum di belakangnya.
Fajar juga Darminah dengan senang hati dan amat terharu di saat untuk pertama kalinya ada seorang laki-laki atau lebih tepatnya, anak pertama di keluarga itu tengah menjadi imam. Meski Fajar dan Darminah jelas tau kalau Bayu ini mantan narapidana. Akan tetapi mereka yakin, tidak selamanya orang yang tengah memimpin shalat di hadapan mereka ini menjadi orang jahat.
Namun, lain halnya dengan Rani yang saat ini hampir setengah-setengah untuk menjalankan ibadah. Gadis cantik itu sama sekali belum bicara sejak melihat kedatangan Kakak sulungnya. Hatinya panas, ada rasa benci di dalam dirinya yang tertahan dan membuatnya enggan menyapa. Bahkan jika bukan karena Darminah yang membujuk, Rani tidak akan mungkin keluar dari kamar.
"Assalamualaikum warahmatullahi," kata Bayu sembari menoleh ke kiri, diikuti tiga orang makmum di belakangnya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi," sekali lagi Bayu berucap saat menoleh ke kanan.
Satu keluarga itu mengusap wajah setelah selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah. Bayu, Fajar dan Darminah masih duduk dan berdoa, sedangkan Rani justru terburu-buru untuk kembali ke kamarnya.
Setelah menutup pintu dan melepaskan mukena yang ia kenakan, gadis itu menarik selimut berlindung di bawahnya. Entahlah, ada rasa tak siap yang belum mampu ia tunjukkan di hadapan orang lain. Kehadiran Bayu seolah mengorek luka lama yang pernah hilang akan tetapi masih berbekas.
Gadis cantik itu teringat, saat belum lama Bayu dibawa oleh polisi. Meski tidak secara langsung, hampir seluruh warga berbisik sana-sini menyebarkan kabar burung yang kira-kira bunyinya semacam ini.
"Buah jatuh, tak jauh dari pohonnya."
"Jika satu sudah rusak, maka yang lainpun sama saja."
"Pantas kau lulus dengan nilai terbaik, pasti ada main antara kau dengan guru atau kepala sekolah."
"Kakaknya saja di penjara, buat apa ramah tamah. Entah sudah berapa banyak nyawa yang dikorbankan oleh anak itu."
"Pantas cepat kaya. Memang tidak wajar, hanya dalam beberapa tahun pergi ke Ibu Kota, Bayu sudah seperti juragan Desa."
Dan masih banyak penuturan hal-hal lain yang saat itu masih terngiang-ngiang di telinga Rani. Rasanya menyakitkan saat semua orang mengucilkanmu, atas apa yang tidak pernah kamu lakukan.
Sering gadis itu tak sengaja mendengar bisikan tetangga saat dia pergi ke warung atau sekedar lewat. Di depan Rani para warga itu tersenyum, seolah ingin menunjukkan keprihatinan atas apa yang menimpa pada keluarga mereka. Tapi di belakang, hanya cemoohan saja yang ia dapat.
Apalagi sebagai anak perempuan satu-satunya. Rani kerap kali mendengar untaian kata rendahan yang tersemat dari para pemuda sekitar.
"Cihhh, Kakaknya saja macam begitu. Adiknyapun pasti pernah dijualnya. Wong cantik begitu kok, ndak mungkin dianggurin. Apalagi di Jakarta."
Otak Rania sebenernya amat mendidih. Setiap kali ia pulang dan mengadu pada Darminah, beliau hanya bisa mengusap punggung anaknya, memberitahu agar anak itu sabar dan ikhlas atas hidup yang mereka jalani.
Hingga semua cibiran itu, hilang dengan sendirinya. Ia tak lagi mendengar makian halus dari orang-orang, atau bisik-bisik tetangga yang memilukan soal ketidak becusan Darminah dalam mendidik anak.
Namun, kali ini setelah ia melihat Bayu lagi, ketakutan itu kembali muncul. Orang-orang yang telah mulai lupa dengan insiden penangkapan itu, pastilah akan mulai kembali mengingat segalanya.
"Seharusnya dia mati saja di dalam penjara. Belum cukupkah dia membuat aku, Ibu dan Fajar sengsara!" lirih Rani dalam sesal.
Sementara itu setelah Bayu selesai, ia berbalik lalu mencium punggung tangan Darminah. Pria itu sadar jumlah makmum yang tadinya ada tiga orang, kini hanya tinggal dua. Tapi mengerti, kalau semuanya tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.
"Rani, pasti belum bisa menerima kehadiranku lagi," gumam Bayu dalam hati.
Fajar menguap, menggeliat dan mulai mengantuk karena dia tidak tidur semalaman.
"Bu, Fajar tidur dulu ya. Hari ini kan masuk siang. Nanti bangunin Fajar kalau sudah waktunya sekolah," kata Fajar seraya berdiri dan kembali beberapa kali menguap.
Darminah menggelengkan kepalanya pada kelakuan Fajar. Anak itu sering sekali keluar malam dan kembali menjelang subuh. Darminah sudah amat kenyang mengingatkan Fajar, kalau begadang itu bukan hal yang baik. Tapi anak itu, sudah besar dan punya pemikiran sendiri.
Selain itu, meski Fajar bahkan jarang terlihat belajar di rumah, nilai-nilai dan peringkat sekolahnya selalu saja mendapatkan hasil yang lebih dari sekedar baik.
Kini hanya tersisa Bayu dan Darminah. Bayu tersenyum, tatkala bisa memandang wajah Ibunya yang masih tampak cantik dan awet muda. Bayangan wajah sang Ibu masih sama seperti terakhir kali ia melihat.
"Ibu masih cantik. Sama seperti dulu, ndak ada yang berubah," kata Bayu.
"Jadi itu yang kamu dapatkan selama di sana? Belajar punya mulut yang manis?" ujar Darminah mengejek.
"Ndak, Bu. Ini sungguhan, Bayu masih ingat saat terakhir kali, wajah Ibu masih seperti ini dulu," jawab Bayu bersikeras.
"Bu, maafkan Bayu!" tambahnya lagi.
Darminah meraih kepala anak sulungnya itu, mengusapnya pelan dengan penuh kasih sayang. Keduanya seolah bermimpi saja, bisa saling kembali bertemu.
"Seorang Ibu akan selalu memaafkan apapun kesalahan anaknya. Selagi anak itu mau bertobat," seru Darminah.
"Bu, Bayu pulangpun ndak bawa apa-apa. Hanya badan dan baju yang tadi dipakai," ucap Bayu dalam rasa sesal. Di usianya yang kini semakin dewasa, seharusnya dia bisa membahagiakan sang Ibu. Tapi yang ia lakukan, malah sebaliknya.
"Cukup kamu ada di sini dulu sekarang. Ibu sudah tenang. Kamu istirahat ya! Pasti anak Ibu ini capek sekali. Ibu yakin kamu tadi jalan kaki." Darminah sudah hafal betul, di jam-jam tadi Bayu pulang, pasti sudah tidak ada kendaraan yang lewat. Biasanya setelah subuh, baru ada kendaraan umum atau kendaraan bermotor untuk mengantar orang-orang pergi ke pasar. Maka anak itu bisa sampai ke rumah, tentu saja apalagi jika bukan dengan berjalan kaki.
"Bayu, mau tidur dipangkuan Ibu saja boleh?" tanya Bayu meminta izin.
Itu adalah permintaan pertama dari sang anak yang baru saja pulang, bagaimana mungkin Darminah bisa menolak. Wanita itu lalu mengangguk. Darminah dan Bayu beralih ke atas tempat tidur di kamar Bayu. Kamar yang hampir tak pernah disentuh setelah sekian lama. Hatinya terasa damai, saat bisa tidur di atas pangkuan sang Ibu. Tapi otaknya tak bisa setenang itu.
Harus ada segala sesuatu yang dibayar, di balik ketenangan pasti akan ada sesuatu yang menunggu. Apalagi, saat ia mengingat para preman yang mengejarnya. Kelompok penjahat yang dulunya adalah kawan, saat ini pasti akan menjadi lawan.