Bab 8

1075 Words
Menjelang siang, Bayu terbangun dari tidurnya selepas shalat subuh. Akan tetapi bukan dalam keadaan yang baik-baik saja. Sepasang matanya terbuka dengan lebar, tenggorokannya tercekat, nafasnya tersengal-sengal, keringat dingin keluar membasahi sekujur tubuh dan wajahnya. Ia duduk di atas tempat tidur dengan tergesa-gesa, melihat ke sekeliling, memastikan dimana dia sendiri, sedang berada. "Astagfirullah," ucap Bayu sembari mengelus dadanya yang bergetar. Mimpi yang sama untuk ke sekian kalinya. Dimana para korban dan dosa-dosanya datang menuntut balas, menghantui, memintanya untuk turut serta merasakan kepedihan yang telah ia perbuat. Darminah sudah keluar dari kamar itu, sejak Bayu tertidur pulas. Jadi, beliau tidak tahu apa yang tengah di alami oleh anaknya saat ini. Setelah menenangkan diri untuk beberapa saat, Bayu akhirnya berniat untuk mandi saja. Agaknya hanya guyuran air dingin yang bisa mendinginkan kepala dan hatinya untuk saat ini. Saat keluar kamar, ada Fajar yang sedang bersiap-siap untuk pergi sekolah. Seragam putih abu-abu yang sudah agak kusam menempel dengan sempurna pada tubuhnya. Beruntung Fajar memiliki paras yang tak kalah tampan dari Bayu. Sehingga apapun yang dia kenakan, tetap akan ada cahaya yang terpancar. Paras tampan ditambah otaknya yang cemerlang, Fajar adalah sosok cowok idola di sekolah. "Gimana, Mas Bayu belum pernah lihat Fajar pake seragam ini kan?" tanya Fajar dengan bangga. Ia lantas menunjukan logo sekolahnya yang terpasang di kemeja putih usang itu. "SMK Arya Karina Pratama." Bayu membaca tulisan nama Sekolah yang tertera. Seingat Bayu, itu adalah nama SMK favorit di kawasan tempatnya tinggal. Untuk masuk kesana, pendaftar memerlukan seleksi yang cukup ketat. Muridnya pun cukup banyak hingga sekolah membuka kelas pagi dan siang. Setiap tahun ada ribuan pendaftar dari berbagai macam daerah, namun hanya beberapa ratus siswa dan siswi yang akan terpilih. "Hebat kamu, Jar. Bisa masuk sekolah di sana, jadi bintang kelas pula," puji Bayu pada adiknya. Semua itu tulus dari hati, bukan hanya semata-mata untuk menyenangkan Bayu saja. "Ehm ... Rani ke mana?" tanya Bayu. Sejak dia pulang, hanya Rani yang saat ini belum bicara dengannya. "Ndak tahu, Mas. Mungkin di kamarnya," jawab Fajar yang kemudian berdiri menghampiri Bayu, lalu berpamitan untuk berangkat sekolah. "Fajar berangkat dulu. Ibu lagi ke warung. Jadi, jangan dicariin," ucap Fajar lalu bergegas pergi. Bayu melanjutkan niatnya untuk bergegas menuju kamar mandi. Bentuk rumah yang luas dan memanjang, sedangkan kamar mandi ada di bagian belakang, membuat Bayu harus melewati kamar Fajar, Darminah, serta Rani terlebih dahulu untuk sampai di sana. Dan, tepat sekali saat ia melewati kamar Rani, di saat itu pula Rani membuka pintu kamar sehingga mereka saling berpapasan. Rani dengan kilat, kembali menutup pintu kamarnya dengan lumayan keras dan mengeluarkan bunyi yang nyaring. Gadis itu benar-benar menunjukkan ketidak sukaannya pada Bayu dengan sangat jelas. Padahal baru saja, Bayu ingin menyapa. Tapi dengan respon Rani yang demikian, maka Bayu berusaha untuk tetap tenang. Akan lebih baik, jika dia menemui Rani dalam keadaan yang sudah bersih dan tidak menyeramkan seperti ini. Mengikat rambutnya yang gondrong ke belakang, juga mencukur bulu kumis dan janggutnya yang sudah tebal itu, mungkin akan membuat tampilan Bayu berbeda, serta membuat Rani tak takut lagi. Sementara di dalam kamar, Rani tengah bersandar di balik pintu. Memegangi dadanya yang mendadak mau copot karena tak menyangka, akan berpapasan dengan Bayu. Sulit sekali rasanya menghilangkan rasa benci di hatinya. Wajah itu mengingatkan Rani, betapa sakitnya cemoohan orang-orang yang pernah terjadi hanya karena ulah sang Kakak. Setalah agak lama ia diam, dan tak mendengar suara apa-apa lagi. Barulah, gadis itu membuka pintu pelan-pelan. Ia lantas memajukan kepalanya terlebih dahulu. Melihat keadaan sekitar, memastikan kalau Bayu sudah pergi. "Rani, kamu cari siapa?" Darminah yang baru saja pulang dari warung, disuguhkan pemandangan anak gadisnya yang tampak celingukan sembari membuka pintu. "Eh ... Bu. Ndak, anu, ini loh, Rani sedang memastikan Fajar sudah berangkat. Tadi dia jahil, dan membuat Rani jengkel. Jadi ... Rani tunggu Fajar berangkat dulu," jelas Rani. Darminah tampak sama sekali tak curiga. Fajar memang sering menjahili Kakak perempuannya. Jadi, kebohongan Rani untuk kali ini, tergolong masih aman. "Ehm, ya sudah. Ayo ikut Ibu ke dapur," ajak Darminah. Mau tak mau, Rani jadi harus mengikuti langkah kaki Ibunya, padahal tadinya Rani bermaksud untuk pergi keluar. Kening anak gadis itu mengkerut, tatkala Darminah mengeluarkan isi belanjaan yang lumayan banyak tak seperti biasanya. Rani kemudian menghampiri Darminah. "Bu, ini kok tumben Ibu belanja banyak sekali?" tanya Rani agak heran. "Kakakmu itu baru pulang. Ibu yakin selama ini dia nggak pernah makan enak. Makanya hari ini, Ibu mau masak yang banyak," jawab Darminah dengan santai, membuat Rani berdecak sebal. "Buat apa sih, Bu. Capek-capek masak buat Mas Bayu segala. Suruh aja Mas Bayu makan yang ada. Jangan dibeda-bedain!" gerutu Rani. "Loh ... kamu kok seperti itu. Rani ... Bayu itu Kakakmu. Kamu harus mulai belajar hormat sama orang yang lebih dewasa," tutur Darminah. Tapi bukan Rani namanya, jika dia akan mengalah dengan mudah. "Ya tergantung orangnya dulu lah, Bu. Mas Bayu itu cuma sumber masalah. Udah bagus dia pergi, sekarang malah muncul lagi. Bu, keuangan kita ini belum stabil. Waktu panen masih lama, ndak usah Ibu boros-borosin belanjaan buat orang yang ndak peduli sama kita!" cecar Rani terus. "Rani! Ibu ndak pernah mengajarkan kamu untuk berkata seperti itu," sentak Darminah. Akhirnya, emosi wanita itu tersulut juga. Tapi sikap Rani yang cenderung sensitif itu, salah mengartikan sikap Ibunya. "Terserah Ibu saja. Kalau memang masih mau masak untuk Mas Bayu. Ibu, masak saja sendiri!" kata Rani. Gadis itu meninggalkan dapur dengan perasaan kesal. Darminah ingin mencegahnya. Tapi Rani sudah barang pasti, tidak akan mau mendengarkan. Lagipula, bagi Darminah, Rani sudah mulai keterlaluan. Rani, Bayu dan Fajar adalah seorang anak yang tidak mungkin beliau beda-bedakan. Dengan perasaan kesal, Rani keluar rumah. Ia sempat menghentak-hentakan kakinya dengan muka masam. Tujuannya saat ini adalah rumah kawannya yaitu Nita. Ia harus menceritakan rasa kesalnya akan kehadiran Bayu, pada seseorang dan Nita adalah orang yang tepat, karena dia adalah sahabat baik Rani. "Belum satu hari Mas Bayu pulang, tapi sudah membuat masalah!" ucap Rani pada diri sendiri. "Ibu sama Fajar, dengan mudahnya memaafkan kesalahan, Mas Bayu. Tapi aku ... aku ndak selemah itu. Mas Bayu tetap salah! Dia yang sudah memperburuk keadaan kami!" ucap Rani lagi. Namun, di tengah perjalanan gadis itu terhenti. Ia mulai berpikir soal sebab akibat yang akan diterimanya jika bercerita soal Bayu pada Anita. Kehadiran Bayu, agaknya mesti disembunyikan untuk sementara waktu ini. Rani belum siap! gadis itu belum siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tak terduga yang dilontarkan orang lain seputar kembali Bayu. "Sepertinya, aku akan lebih gila lagi, kalau Mas Bayu tinggal selamanya di rumah!" gerutu Rani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD