"Dia sudah kembali ke tempat asalnya. Seharusnya, kau tidak perlu khawatir lagi!"
Pria yang baru saja berucap itu mengambil sebilah pisau lipat dari dalam saku celananya. Memainkan benda tajam itu perlahan-lahan dengan ujung jarinya, lalu dalam sekali lemparan.
Sleb ...
Benda itu menancap pada kusen kayu jendela yang saat ini terbuka, tepat di samping salah satu anak buah yang nyaris saja mati karena jantungan. Meleset satu sentimeter saja, benda itu akan mengenai wajahnya.
"Anak itu, sudah tahu terlalu banyak. Kita, tidak boleh mengambil resiko!"
"Kau khawatir pada bocah ingusan yang dengan mudah masuk perangkap? Heh ... Malulah sedikit pada uban yang memutih itu!"
Ingatan pria itu kembali pada titik balik beberapa tahun silam. Sebuah jebakan yang sudah diatur dengan sedemikian rupa cantik, berhasil menyeret nama Bayu Aji dalam surat penangkapan atas tuduhan penyalahgunaan obat-obatan terlarang juga pembunuhan berencana. Meski tuduhan itu benar adanya, tapi masih ada kaki tangan dan orang lain di balik insiden penangkapan tersebut.
Ada nama lain yang terlindungi, yang seharusnya ikut mendekam di dalam penjara. Pria itu bahkan tak menyangka kalau Bayu malah bisa keluar lebih cepat dari kurungan itu. Apalagi setelah, berulang kali ia mencoba untuk menghilangkan jejak serta, membunuh anak itu di dalam sel tahanan.
Koneksinya dengan pihak keamanan tidak bisa diragukan lagi. Bisnis ilegalnya yang berjalan lancar, tentu saja berkat dukungan dari berbagai macam relasi yang salah satunya adalah aparat negara.
"Sekarang, sudah terlalu banyak orang-orang jujur! Tikus-tikus keamanan yang berpihak pada kita, telah banyak yang pensiun. Kau tahu betul, kalau merekrut orang-orang baru itu tidaklah mudah. Dan Bayu ...! Dia juga ancaman yang saat ini sedang mengawasi kita."
"Bukan kita ... tapi Kau. Aku masih berpikir kalau dia hanya bocah ingusan!"
Pria bernama Damar Dirgantara itu meremang. Sejak nama Bayu Aji kembali, firasat buruk agaknya sudah mulai merambah ke dalam dan pikirannya.
Dialah seorang pria dengan inisial D. Pemimpin komplotan penjahat kelas kakap, yang namanya sudah di akui oleh seluruh pelosok negeri. Dia adalah pria dengan usia yang seharusnya mulai sepuh, akan tetapi tetap bersahaja. Belum pernah ada yang bisa mengalahkannya. Bahkan polisi saja kesulitan untuk menangkap orang ini.
Pria ini lihai dalam bersilat lidah, pandai dalam membuat staregi, berhati-hati dalam merencanakan sesuatu, juga bermain cantik pada setiap kesempatan. Pun orang-orang yang menjadi anak buah dan kaki tangannya, tidak ada yang sembarangan. Itulah kenapa dia menjuluki dirinya sendiri sebagai ular kobra. Flexibel, beracun, dan mematikan.
"Jika dia tidak bisa mati di tanganmu, maka buat dia kembali di sisimu. Itu satu-satunya pilihan yang aman." Dan yang baru saja berbicara adalah Hendri. Salah seorang kawan dari Damar dalam berbuat onar. Berbeda dengan Damar, Hendri adalah orang yang cenderung lebih santai dalam menghadapi sesuatu. Usianya hanya sedikit lebih muda dari Damar.
"Caranya?" tanya Damar.
"Hahaha, kau ini kenapa Damar. Aku heran padamu. Ada masalah apa antara kau dan si Bayu ini hah? Aku yakin ini bukan hanya sekedar urusan bisnis. Pasti ada rahasia di balik semua ini. Katakan Damar, katakan! Kau tidak mungkin seantusias ini hanya untuk menangani bocah ingus bernyawa sembilan," tutur Hendrik sembari terus tertawa.
Damar tak bergeming dan malah menatap tajam pada kawannya tersebut. Menyadari itu, Hendri perlahan-lahan berhenti tertawa.
"Baiklah-baiklah. Aku tidak akan bercanda lagi. Ini serius dan mudah. Tidak mungkin kalau semua ini tidak sempat berada di dalam otakmu. Jika tidak bisa menyentuh fisiknya, maka kau sentuh hati nuraninya!" ucap Hendri.
"Kau ingin aku menyentuh hati seorang bocah laki-laki?"
"Ya ... sentuh dia, lewat orang-orang yang menjadi alasan untuknya bertahan!"
Damar membenarkan perkataan Hendri. Orang-orang yang menjadi alasan untuk Bayu. Siapa lagi jika bukan keluarganya. Damar bisa mulai dari hal-hal kecil yang seharusnya sangat mudah. Apa yang bisa Bayu lakukan, jika Damar mulai bermain-main dengan keluarganya. Ini akan jadi lebih menarik, dari yang pernah Damar bayangkan.
***
Menjelang maghrib Rani baru saja pulang ke rumahnya. Saat membuka pintu, kedatangannya sudah di sambut oleh Bayu yang saat itu tengah duduk di kursi. Rani memalingkan wajahnya, enggan membalas tatapan Bayu.
Meski begitu, Rani telah melihat sekilas perubahan dari Bayu yang rupanya cukup kentara. Wajah Bayu kini lebih bersih. Tidak ada kumis atau Jenggot yang menjadi hutan belantara di sana, rambutnya yang semula panjang, rupanya telah dipotong. Tubuhnya lebih segar, dan penampilannya kali ini, tampak lebih manusiawi daripada saat pertama datang. Rani harus mengakui, kalau ia memiliki seorang Kakak laki-laki dengan aura super star.
"Kamu dari mana, Ran? Seharian ini ndak ada di rumah?" tanya Bayu hati-hati. Akan tetapi yang ditanya sama sekali tak menggubris. Gadis itu meleos pergi melewati Bayu begitu saja.
"Rani, Mas harus bicara sama kamu!" sentak Bayu.
Rani berhenti melangkah, kemudian berbalik. Bayu berdiri mendekat, menghampiri Rani dengan perasaan tak enak hati karena baru saja bicara cukup keras padanya.
"Baru satu hari, Mas Bayu sudah merasa punya hak yang sama untuk tinggal di sini?" ujar Rani. Penuturan gadis itu mau tak mau membuat batin Bayu tertohok juga.
Bayu mengambil nafas yang panjang sebelum membalas perkataan Rani.
"Mas ndak maksud buat nyentak kamu. Mas cuma mau tanya kamu dari mana. Ini sudah mau Maghrib, tapi kamu baru pulang?"
"Kemanapun aku pergi, ndak ada urusannya sama Mas Bayu. Daripada repot-repot memikirkan Rani, lebih baik Mas Bayu mikir cara buat bantu Ibu. Pikirkan bagaimana caranya, untuk bantu ibu menekan pengeluaran buat para pekerja atau biaya kami sehari-hari. Buatlah kepulangan Mas Bayu yang ndak diharapkan ini jadi berguna!" jelas Rani panjang lebar, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar.
"Jangan di dengerin, Mas." Fajar tiba-tiba saja keluar dari kamarnya. Anak laki-laki itu sudah menggenakan sarung, baju koko serta peci hitam. Dia bermaksud untuk pergi melaksanakan shalat Magrib di mesjid.
"Mbak Rani sudah lama seperti itu. Ketus, sensitif, seperti wanita yang sedang datang bulan setiap hari," kata Fajar menghampiri Bayu.
"Ya ... Mas akan berusaha untuk terbiasa. Wajar kalau Rani masih marah. Apa yang kalian hadapi selama Mas ndak ada, pasti sangat berat," balas Bayu.
"Ya sudah, daripada Mas Bayu pusing sama Mbak Rani, lebih baik Mas Bayu ikut Fajar shalat ke masjid," tawar Fajar.
"Ke masjid, Jar?"
"Iya, ke Masjid, Mas," jawab Fajar lagi.
Bayu tampak agak ragu. Ia bukan alergi pada masjidnya, ataupun enggan beribadah . Tapi ia hanya belum siap dengan tatapan semua orang nantinya. Sejauh ini, Bayu rasa belum ada orang yang tahu, kalau dirinya sudah kembali.
Pintu kamar Rani kemudian kembali terbuka. Gadis itu keluar dengan tatapan sinis. Senyumnya yang manis itu tampak jelas sedang mengejek pada Bayu.
"Salah besar kau, Jar. Mana ada penjahat yang mau masuk ke masjid," celetuk Rani.
"Mbak Rani jangan keterluan!" balas Fajar.
"Bagian mana yang salah dari kata-kata Mbakmu ini, Jar. Sekarang coba kau lihat wajah Mas Bayu yang malah jadi pias setelah kamu ajak ke masjid. Saat ini dia pasti sedang ketakutan. Dia takut bertemu dengan orang-orang, iya kan, Mas?" ejek Rani pada Bayu.
"Mbak Rani tuh ...!" Bayu menepuk pundak Fajar yang sudah mulai geram. Rani kembali masuk ke kamar setelah berhasil membuat mood Kakak dan Adiknya memburuk.
"Udah-udah, kamu ndak boleh melawan sama Mbakmu."
"Ya tapi Mbak Rani ini emang sudah keterlaluan, Mas. Tapi ya udahlah ayo kita berangkat. Aku tungguin Mas Bayu ganti baju di sini," kata Fajar kemudian. Tapi Bayu belum bergerak. Apa yang dikatakan oleh Rani sesungguhnya benar. Bayu takut dan belum siap untuk muncul di hadapan warga. Terutama di hadapan orang-orang yang pernah menjadi korbannya.
"Mas, ndak terpengaruh dengan kata-kata Mbak Rani-kan? Mas Bayu ndak bisa diam di rumah atau sembunyi terus. Mau sekarang atau besok, hasilnya akan tetep sama. Bedanya kalau sekarang, Mas bakal lebih cepat tenang karena ndak perlu pura-pura ndak ada di rumah lagi," jelas Fajar panjang lebar.
Bayu tersenyum seraya mengacak rambut adik laki-lakinya. Benar-benar ada begitu banyak waktu yang ia lewatkan. Bayu menyesal tak bisa ikut menemani pertumbuhan Fajar yang semakin dewasa. Tapi segala hal, sudah ada dalam rencana takdir. Semua terjadi, juga adalah hasil dari pilihannya sendiri.
"Ya sudah, kamu tunggu sebentar." Bayu pergi ke kamarnya untuk mengganti baju koko dan sarung. Fajar benar, ia tidak bisa terus bersembunyi. Bagaimanapun juga, Bayu Aji sudah kembali. Dan insyallah, Bayu yang ini adalah reinkarnasi manusia yang akan menjadi lebih baik.
Setelah itu, Bayu dan Fajar sampai di Masjid, tepat saat Adzan berkumandang. Para kaum laki-laki mulai dari anak-anak sampai orang dewasa mulai berdatangan. Sejauh ini, belum ada yang sadar dengan kehadiran Bayu. Semua hanya menjalankan rutinitas seperti biasa, tanpa tahu ada seorang mantan penjahat yang kini hadir di tengah-tengah mereka.
Tapi beberapa saat kemudian, mulai ada perbedaan dari tatapan orang-orang pada Bayu dan Fajar. Ada yang mulai berbisik-bisik, ada yang sempat menunjuk ke arah Bayu, hingga yang terasa paling kentara saat Bayu berdiri paling belakang bersama Fajar, untuk membuat barisan shalat, orang-orang justru menjauh darinya.
Fajar dan Bayu saling adu lirik. Bayu sangat menyayangkan karena telah membuat Fajar terseret dalam tatapan aneh semua orang, yang seharusnya hanya tertuju pada dirinya seorang.
"Itu yang dibelakang, kenapa malah pada jauh-jauhan. Ayo cepat merapat, kita mulai shalat."
Seorang Ustadz yang akan menjadi Imam, meminta agar semua orang merapatkan barisan. Mulanya mereka tampak enggan mendekat pada Bayu, akan tetapi karena beliau terus mendesak, semua orang akhirnya menurut juga. Bayu tak ingin banyak berkomentar, tapi kemudian Fajar berbisik di telinga Sang Kakak.
"Niat baik, pasti akan dipermudah sama Allah. Mas Bayu tenang aja," ujar Fajar seraya mengacungkan jempol. Lalu suasana mulai hening saat Imam mulai menyerukan ...
"Allahu Akbar."